
"Widih...motor baru Rin?" tanya Dian saat Arinda baru tiba di parkiran.
"Iya mbak. Motor yang waktu itu sudah tidak bisa dibenari lagi. Jadi Mas Dante beliin motor bekas yang layak ini. Seneng banget aku mbak." Jawab Arinda dengan senyum semringah.
"Kelihatan sekali dia itu suka sama kamu Rin," ujar Mia.
Deg
Arinda jadi teringat adegan ciuman yang dilakukan Dante padanya kemarin. Dan hari ini adalah hari pertama dia tidak melihat pria itu.
"Apa yang kalian curigai itu memang benar mbak. Mas Dante memang suka sama aku," ujar Arinda.
"Apa???" Mia dan Dian terkejut bersamaan.
"Dia nembak kamu? kapan?" tanya Mia.
"Kemarin." Jawab Arinda.
"Kemarin? bukannya kemarin kamu nggak masuk kerja? kami pikir kamu sakit," tanya Mia.
"Iya Rin. Jadi kalau kamu nggak kerja, jadi kamu kemana kemarin?" tanya Dian.
"Jangan bilang kamu jalan sama dia?" tanya Mia.
"Mas Dante sakit. Aku ndak tega karena selama ini dia sudah baik sama aku. Jadi aku merawat dia di rumahnya. Kemarin dia mengungkapkan perasaannya, bahkan dia...."
"Dia kenapa?" tanya Mia penasaran.
"Di-Dia menciumku." Jawab Arinda dengan pipi merona.
"Apa???" lagi-lagi Mia dan Dian berteriak bersamaan.
"Kalian berciuman? berapa lama?" tanya Mia.
"Ckk...pertanyaanmu kenapa jadi ngawur Mi? kamu seolah mendukung perbuatannya," ujar Dian.
"Bukan ciuman mbak, tapi dia yang menciumku. Aku sudah menolaknya. Aku juga sudah bilang sama dia, kalau dia tidak usah menemuiku lagi." Jawab Arinda.
"Kok gitu?" tanya Mia.
__ADS_1
"Apanya yang kok gitu? tentu saja aku harus melakukan itu mbak. Aku ini wanita yang sudah bersuami. Pria lain yang muncul diantara aku dan mas Adit, tentu aja itu cobaan dalam rumah tangga. Lagipula aku masih sadar prilaku baik dan buruk." Jawab Arinda.
"Padahal itu bisa jadi kesempatanmu buat lepas dari Aditia," ujar Mia.
"Dia memang menawarkan kebebasan untukku. Tapi bukan kebebasan dengan cara yang salah yang aku mau. Aku ndak bisa mbak, saat aku berdua dalam kamarnya aja, aku langsung keingat wajah anak-anakku," ujar Arinda.
"Bagus Rin. Mbak setuju kalau kamu punya martabat begitu. Bukannya mbak ndak setuju kamu sama Dante, tapi caranya harus benar. Minimal kamu harus bercerai dulu dari Aditia," ujar Dian.
"Yo yes lah...sudah hampir masuk kerja. Saat istirahat nanti, kita akan sambung lagi gosipnya," ujar Arinda.
Arinda, Dian dan Mia kembali menjalankan rutunitasnya seperti biasa. Namun sepanjang bekerja, Arinda selalu teringat akan sosok Dante.
"Apa mas Dante sudah sembuh? dia pasti akan baik-baik saja kan? ckk...kenapa aku selalu memikirkannya? aku sudah membuat perjanjian dengannya, bahwa kemarin adalah hari pertemuan kami yang terakhir. Aku tidak boleh goyah, dan akan merusak harga diriku," batin Arinda
Sementara di tempat berbeda, Dante meringkuk di dalam selimut. Pria itu masih demam, dan memutuskan tidak masuk kerja hari ini.
"Arin...." pria itu tampak mengigau menyebut nama Arinda.
"Uggghh...kenapa perasaanku tidak enak dan gelisah. Apa terjadi sesuatu dengan mas Dante? Hah...kenapa semuanya jadi aku hubungkan dengan mas Dante? aku pasti sudah mulai tidak waras," batin Arinda.
"Kamu kenapa Rin?" tanya Mia.
"Kamu cinta sama dia?" tanya Mia sembari terus mengatur telapak sepatu agar di seret oleh mesin.
"Eh? sampeyan iku ngomong apa sih mbak? aku sudah bilang, aku ndak menerima perasaannya," ujar Arinda.
"Ndak menerima perasaannya tapi bukan berarti kamu ndak cinta sama dia kan? soal perasaan ndak bisa di bohongi," ujar Mia.
"Sampeyan sendiri...."
Teng
Suara besi tebal yang di bukul telah berbunyi. Itu tandanya para pekerja diperbolehkan istirahat, hanya sekedar makan siang dan ibadah. Semua buruh pabrik tampak melepaskan semua pekerjaan mereka. Suara mesin pabrik berangsur mereda, dan kemudian istirahat sejenak.
"Mbak Di. Ayo kita makan siang!" seru Arinda.
"Ya sebentar." Jawab Dian sembari melepas sepatu karetnya, dan kemudian menggantinya dengan sendal jepit.
Para ibu-ibu muda itu bergegas pergi ke kantin, untuk menikmati makan siang mereka.
__ADS_1
"Bagaimana proses perceraian mbak Mia sama mas Ridwan? apa mbak sudah ngajuin berkas?" tanya Arinda.
"Sudah. Pas jatah libur kemarin itu, aku gunakan buat pergi ke pengadilan. Aku sudah memberikan surat gugatan itu pada mas Ridwan agar segera di tanda tangani. Tapi dasar lanang gemblong, dia malah mengajakku tetap menjalin rumah tangga sama dia." Jawab Mia yang kemudian menyuapkan nasi dengan bantuan kelima jarinya.
"Terus mbak mau?" tanya Arinda sembari menggigit tempe goreng buatan ibunya.
"Kalau aku mau, berarti aku wes ora waras Rin. Apalagi mas Ridwan pengen kita berada di satu atap yang sama. Kamu kira aku mau melihat suamiku asyik saling ge*jot sama maduku?" ujar Mia.
"Ya baguslah mbak. Aku ndak abis pikir, darimana mas Ridwan punya pemikiran seperti itu," ujar Arinda.
"Tentu saja dapat wangsit dari syaitonirojim." Jawaban Mia yang membuat Arinda dan Dian hampir tersedak, karena ingin tertawa.
"Malang betul nasib di Lastri. Dia ndak tahu saja bagaimana perangai mas Ridwan. Kalau laki-laki saat diranjang pasti kata-katanya selalu manis yang di ucapkan. Tapi kan selama 24 jam, ndak mungkin mereka saling ge*jot terus menerus," ujar Dian.
"Bukannya aku ndak paham, kenapa mas Ridwan mau mempertahankan aku, apalagi mau satu atap denganku. Itu karena aku akan tetap jadi tulang punggung keluarga. Lah kalau Lastri ikut tinggal di rumahku, bisa-bisa nambah beban hidupku. Yo emoh aku toh," ujar Mia.
"Dasar lanang sinting! otak tarok dimana itu?" ucap Dian.
.
"Tarok di batangnya." Jawab Mia yang membuat Arinda jadi terkekeh.
"Marem bener itu si Lastri di ge*jot suamimu," ujar Dian.
"Ho'oh. Besarkan?" tanya Arinda sembari menahan tawanya.
"Besar kalau pengangguran untuk apa. Hidup itu nggak cuma begituan aja tiap hari. Masih juga perut mau diisi nasi." Jawab Mia sembari menyuapkan nasi terakhirnya, dan kemudian menjilat sisa makanan dijari-jarinya.
"Pokoknya sehabis pulang kerja nanti, aku mau menanyakan surat gugatan cerai itu. Kalau sudah ditanganku, aku pasti merasa lega," ujar Mia.
"Emang bojomu tinggal dimana sekarang?" tanya Dian.
"Di rumah si Lastri." Jawab Mia.
"Apa? apa orang tua si Lastri ikutan tidak waras? jadi mereka berada satu kamar juga?" tanya Arinda.
"Mungkin mereka mau buat hatiku panas. Padahal aku sama sekali tidak perduli. Terserah mereka mau saling ge*jot tiap malam, tiap jam, tiap detik. Toh mereka mau menikah juga hari minggu nanti." Jawab Mia.
"Duh mbak. Aku ndak bisa membayangkan perasaan sampeyan gimana. Pasti tenda hajatan si Lastri menyebrang di rumah sampeyan toh? sampeyan bener ndak apa-apa mbak?" tanya Arinda.
__ADS_1
"Alah. Apa yang harus aku khawatirkan Rin. Aku jamin, paling sebulan orang tuan Lastri ngopeni anak mantunya. Setelah itu pasti akan ada badai. Siapa yang betah memelihara mahluk yang tahunya soal urusan ranjang tok." Jawab Mia.