
"Kamu benar-benqr jatuh cinta sama Dante? gila kamu Rin. Kamu mau selingkuh dari Aditia?" tanya Dian.
"Siapa yang mau selingkuh mbak? aku kan cuma bilang jatuh cinta sama dia, bukan bilang mau selingkuh sama mas Dante mbak." Jawab Arinda.
"Ya jadi maumu itu opo?" tanya Mia.
"Ndak tahu mbak. Jalan satu-satunya aku harus menghindar dari mas Dante, dan nggak pernah ketemu sama dia lagi." Jawab Arinda.
"Kenapa harus menyiksa diri kalau memang kamu cinta sama dia. Kamu tinggal cerai saja dari Aditia, selesai masalah. Lagian kamu juga tidak cinta lagi dengan Aditia kan?" tanya Mia.
"Piye nasib anakku kalau aku sampai cerai dari mas Adit mbak. Lagian belum tentu mas Dante nanti baik sama anak-anakku. Sampeyan tahu sendiri, jaman sekarang berita di tv sangat aneh-aneh. Aku ndak mau anak-anakku jadi korban bapak tiri." Jawab Arinda.
"Mikirmu itu terlalu kejauhan Rin. Ndak semua bapak tiri itu predator. Siapa tahu Dante memang orang yang tulus. Kami akan mendukungmu sama Dante, asal kamu cerai dulu dengan Aditia," ujar Dian.
"Ndak tahulah mbak. Belum nekad aku, buat cerai dari mas Adit. Aku takut Dante cuma godaan dalam rumah tanggaku. Ndak tulus sama aku. Coba sampeyan pikir, lanang segateng dan single seperti dia. Kok bisa suka sama aku yang sudah punya anak dua? iya toh?" tanya Arinda.
"Iya juga sih," timpal Mia.
"Lah iku makanya. Sopo sing iso nolak di kasih lanang seganteng iku? kadang aku mikir, apa dia yang ndak waras? atau aku yang terlalu ke GR'an," ujar Arinda.
"Jadi bagaimana kamu mau menyikapi si Dante?" tanya Dian.
"Ndak tahu, aku bingung. Mas Dante bilang agar aku menemuinya satu minggu sekali atau dua minggu sekali. Kalau ndak dia akan datang kerumahku agar dia bisa melepas kangen karo aku. Endan toh?" ucap Arinda.
"Waduh. Kalau dia sampai ke rumahmu, bisa terjadi perang besar kamu sama Aditia," ujar Mia.
"Lah itu makanya aku jadi bingung harus bersikap bagaimana sama mas Dante. Aku takut dia nekad datang ke rumah, padahal aku pengen jauhin dia," ujar Arinda.
"Kamu ajak Dante ngomong pelan-pelan. Ajak dia ngomong dari hati-hati, beri dia pengertian," ujar Dian.
"Yo. Memang cuma itu yang bisa aku lakukan. Sudah dua kali dia menciumku, aku akui hatiku bergetar saat dia melakukan itu karo aku. Tapi disisi lain aku jadi ketakutan. Perasaan seperti itu sudah tidak aku rasakan lagi saat sama mas Adit," ujar Arinda.
"Wah...sepertinya kamu memang cinta sama dia Rin. Kalau aku pasti ndak kuat nahan godaan enak seperti itu. Mas Ridwan ge*jot paksa aku aja, masih sempat ngerang 3 kali aku," ucap Mia sembari terkekeh.
"Edan sampeyan mbak. Katanya ndak cinta lagi, tapi sempat-sempatnya ngerang gitu," ujar Arinda.
"Ya habis mau bagaimana lagi'e. Aku akui punya mas Ridwan memang mantap buat gituan. Tahan lama lagi. Ndak kayak suamimu itu, suka nanggung toh?" tanya Mia.
"Ah...sudahlah mbak. Kalau bahas iku suka males aku." Jawab Arinda.
Teng
Bell tanda masuk bekerja kembali berbunyi. Arinda dan teman-temannya kembali bekerja hingga jam pulangpun tiba.
__ADS_1
"Besok aku kebagian off. Mas Ridwan juga menikah besok. Kalian kebagian off lusa ya?" tanya Mia.
"Iya. Yang kuat sampeyan ya mbak," ujar Arinda.
"Aku ndak apa-apa. Nanti kalian bisa dengar sendiri kabar terbaru seputar rumah tangga kedua manusia durjana itu," ujar Mia.
"Gimana dengan anak sampeyan mbak?" tanya Arinda.
"Dia nanyain mas Ridwan. Aku sudah menceritakan semua sama dia duduk permasalahanya. Anakku laki-laki, mungkin dia juga mengerti kalau bapaknya selama ini juga kurang dekat sama dia." Jawab Mia.
.
"Syukurlah kalau begitu. Kasihan sih kalau Lastri sampai meracuni pikiran anak sampeyan. Apa sampeyan ndak ada rencana buat pindah rumah?" tanya Arinda.
"Iya Mi. Apa kamu nggak merasa terganggu dengan kemesraan suamimu dan si Lastri?" tanya Dian.
"Ndak sama sekali. Aku merasa beruntung, karena kita memiliki jam kerja yang cukup panjang. Jadi aku ndak perlu melihat manusia-manusia itu. Lagipula aku ndak merasa cemburu sama sekali. Karena rasa cintaku sudah terkikis habis buat mas Ridwan." Jawab Mia.
"Yo wes yo. Aku tak duluan dulu," sambung Mia.
"Yo sing ati-ati mbak," ucap Arinda.
"Aku juga duluan ya Rin," ujar Dian
Setelah teman-temannya pergi lebih dulu, Arinda juga pergi menyusul.
"Mas Dante sudah sembuh belum ya! bagaimana kalau dia pingsan lagi seperti kemarin?" batin Arinda.
"Kamu harus kejam Arinda. Jangan perdulikan dia lagi. Nanti kamu bisa terjebak dengan pria itu. Belum tentu dia tulus 100% sama kamu," batin Arinda.
Namun saat menuju jalan pulang, tidak sengaja dia melihat Dante keluar dari warung makan, sembari menenteng sebuah plastik putih yang berisi makanan. Arinda menerbitkan senyumnya, karena lega Dante sudah baik-baik saja.
Setelah sampai di rumah, Aditia langsung menadah tangan padanya.
"Opo sih mas? baru pulang sudah ngajak ribut?" tanya Arinda sembari turun dari motor.
"Lima ribu aja buat beli rokok," ujar Adit.
"Tadi pagi kan sudah mas?" tanya Arinda dengan gigi gemeratuk.
"Tadi kan pagi, sekarang sudah sore. Kamu jangan pelit-pelit sama suami." Jawab Aditia.
"Terserah sampeyan mau ngomong apa. Yang pasti aku ndak mau ngasih," ujar Arinda sembari masuk kedalam rumah.
__ADS_1
Tap
Aditia menahan tas Arinda, hingga terjadi aksi saling tarik menarik.
"Lebih baik aku bilang baik-baik daripada aku mencuri uangmu," ujar Aditia.
"Lepasin mas! gajian masih lama, nanti uangnya ndak cukup buat makan dan bensin selama satu bulan," ujar Arinda.
"Lima ribu aja," ucap Aditia yang masih saling tarik menarik dengan Arinda.
Brettttttt
Tali tas Arinda putus, hingga nafas Arinda naik turun karena emosi.
"Kelewatan sampeyan yo mas," ucap Arinda sembari memukulkan tas ke tubuh suaminya itu.
Para tetangga dekat rumah Arinda ngintip pasangan suami istri yang tengah bertengkar itu.
Grepppp
Aditia menarik rambut Arinda, hingga kepala wanita itu tertarik kebelakang.
"Awww...sakit mas," teriak Arinda.
"Berani kurang ajar kamu sama suamimu?" hardik Aditia.
"Aditia. Lepaskan anakku!" ucap Fatimah sembari melerai perkelahian antara Arinda dan Aditia.
"Ibu tidak usah ikut campur bu!" hardik Aditia.
Fatimah tidak mendengarkan ucapan Aditia, wanita parubaya itu masih membantu putrinya dengan cara melepaskan tangan Aditia yang mencengkram rambut Arinda.
Krauuuukkkk
Fatimah menggigit tangan Aditia, hingga Aditia reflek mendorong Fatimah dan terjatuh ke tanah.
"Buk'e," teriak Arinda dengan air mata yang meleleh di pipinya.
Arinda yang emosi dan hilang kesabaran buru-buru masuk kedalam rumah, dan keluar kembali setelah menenteng sebulah pisau dapur.
"Tak pateni sampeyan mas! tak pateni sampeyan," mata Arinda merah menyala-nyala sembari mengacungkan pisau kearah Aditia.
Aditia yang ketakutan melihat pisau ditangan Arinda, langsung pergi dulu dari rumah. Dia tidak mau karena istrinya emosi, jadi membuatnya mati sia-sia.
__ADS_1