SALAHKAH AKU SELINGKUH?

SALAHKAH AKU SELINGKUH?
Bab.48. Tidak Pulang


__ADS_3

"Dit. Ini tiga hari lagi sejak tanggal perjanjian kita. Kalau kamu memang nggak sanggup banyar, kamu dan keluargamu tolong segera kosongkan rumah itu. Mending aku ngomong dulu, daripada aku mengirim orang buat memaksa kalian keluar dari rumah itu," chat Gumai.


"Akhhh...."


Aditia yang frutasi langsung membanting ponselnya diatas tempat tidur. Tentu saja dia tidak sanggup membayar, karena dia sama sekali tidak memiliki uang.


"Huffftt...bagaimana ini. Aku harus bagaimana? akh...."


Bagh


Bugh


Bagh


Bugh


Aditia yang kesal meninju tempat tidur beberapa kali, untuk melampiaskan kekesalannya. Malam ini Aditia benar-benar dibuat tidak bisa tidur oleh masalah itu. Beruntung Arinda bekerja shif sore, jadi istrinya itu sama sekali tidak tahu dan tidak melihat apa yang tengah Aditia rasakan saat ini.


"Ah...lebih baik aku keluar saja. Siapa tahu aku mendapatkan inspirasi, dan mendapat uang dengan cara cepat," gumam Aditia.


Aditia menyambar jaket hitam miliknya, dan juga menyambar kunci motor diatas meja. Pria itu memutuskan keluar rumah.


"Kamu mau kemana?" tanya Fatimah.


"Mau ke rumah teman buk. Ada pekerjaan penting." Jawab Aditia.


Fatimah tidak bertanya lagi, karena Aditia tampak pergi tergesa-gesa. Aditia tampak menyusuri kegelapan malam dengan tidak tahu arah tujuan. Dan pada akhirnya dia memutuskan untuk menginap di rumah orang tuanya.


"Belum selesai juga masalahmu itu?" tanya Marini.


"Belum bu. Padahal 3 hari lagi orang itu akan nagih kerumah. Kalau sampai hari itu aku nggak punya uangnya, berarti kami sekeluarga akan di usir. Aku nggak berani pulang ke rumah sekarang. Kalau kami diusir, kami tinggal disini ya bu!" ujar Aditia.


"Enak aja. Apa kamu pikir rumah ibu ini panti sosial? kalau anak-anakmu masih ibu bisa terima, tapi kalau istri dan mertuamu itu ibu nggak bisa menerimanya." Jawab Marini.


"Betul itu. Rumah kita ini nggak sebesar istana kepresidenan. Jadi nggak bisa menampung sembarang orang. Kakak yang buat masalah, kenapa semua orang jadi repot?" tanya Risa.

__ADS_1


"Sudahlah. Ceraikan saja istrimu itu! kamu itu masih muda dan punya gelar. Kamu bisa cari kerja yang bagus, dan punya istri setaraf. Kenapa kamu susah sekali melepaskan istrimu yang cuma lulus SMA itu," timpal Marini.


Aditia tidak mendengarkan ucapan ibu dan adiknya. Karena dia yang paling mengerti situasi dan kondisi rumah tangganya. Aditia berbaring diatas sofa panjang, dan kemudian memejamkan mata.


"Huh...pengangguran banyak gaya," gerutu Risa dan kemudian kembali ke kamarnya.


Sementara itu di tempat berbeda. Arinda, Mia, dan Dian beristirahat saat waktu sudah menunjukan jam 12 malam. Seperti biasa, tiga serangkai itu memesan kopi sembari menikmati gorengan panas.


"Aku lupa ngasih gosip terbaru sama kalian," ujar Mia setelah menyesap kopi dari cangkirnya.


"Gosip opo mbak Mi?" tanya Arinda.


"Mas Ridwan sudah di ceraikan oleh Lastri." Jawab Mia.


"Apa? bukannya Lastri baru lahiran Mi? mungkin belum genap 40 hari," tanya Dian.


"Kalian seperti ndak tahu mas Ridwan saja. Mungkin dia nggak tahan, karena Lastri tengah hamil besar, ditambah Lastri tengah masa nifas. Jadi dia menghamili anak tetangga yang jualan nasi uduk." Jawab Mia.


"Apa?" Arinda dan Dian berteriak secara bersamaan.


"Ya ampun. Edan tenan mantan bojomu itu. Jadi gimana nasib bocah itu? apa mas Ridwan akan menikahinya?" tanya Dian.


"Ibu anak itu ndak setuju. Dia lebih memilih anaknya lahir di luar nikah, daripada punya suami penjahat kelamin seperti dia." Jawab Mia.


"Kasihan sekali anak itu," ujar Arinda.


"Kalau aku malah ndak merasa kasihan sama sekali. Dia sudah 16 tahun, sudah tahu hal baik dan buruk. Sudah tahu mas Ridwan punya istri. Ini dia dengan sengaja bermain api dengan suami orang dengan mengatasnamakan cinta," ujar Mia.


"Jadi sekarang mas Ridwan kemana?" tanya Arinda.


"Aku ndak tahu tempat tinggal aslinya setelah di usir dari rumah Lastri, tapi yang aku dengar dia berkerja di tempat yang memang sesuai dengan keahliannya itu." Jawab Mia.


"Emang dia punya keahlian apa Mi?" tanya Dian.


"Genj*tin apem basi. Jadi sekarang dia kerja sebagai gigolo. Tahu sendirilah kalau jadi gigolo. Apem penyot yang di ge*jot." Jawab Mia.

__ADS_1


"Ya ampun mas Ridwan. Bukannya mikir mau insyaf, kok malah tambah gila," ujar Arinda


"Ya itu sebagai gambaran. Berarti keputusanku buat cerai sama dia sudah sangat tepat," ujar Mia


"Tapi menurutku gila aja sih. Dia sama sekali nggak mikir apa akibat kedepannya. Pekerjaannya itu sangat beresiko untuk penyebaran penyakit menular seksual," ujar Dian.


"Itulah aku ingin buru-buru cerai dari dia. Aku juga takut terkena imbasnya," timpal Mia.


"Kamu sendiri bagaimana Rin? masih bertahan sama Dante? tidak terasa hubunganmu sama dia sudah hampir 1 satu tahun loh," tanya Dian.


"Ya segitu-gitu aja mbak. Mungkin saat ini kami hanya sebatas patner ranjang, meskipun hati kami saling mencintai." Jawab Arinda yang kembali menyeruput kopinya.


"Aku jadi mikir. Kalau kamu menginginkan dia sebagai pria simpanan seumur hidup, apa dia ndak berpikir ingin punya keluarga sendiri Rin?" tanya Mia.


"Dia pernah menanyakan itu. Tapi aku ndak rela mbak." Jawab Arinda.


"Ya itu namanya egois Rin. Kamu ndak bisa toh miliki keduanya seumur hidup. Nanti ya kalau tiba-tiba dia punya wanita lain, kamu jangan marah. Dia juga berhak untuk memperpanjang garis keturuannya," ujar Dian.


"Ndak tahulah mbak. Yang pasti aku pasti akan merasa sakit hati kalau sampai itu terjadi," ujar Arinda.


Teng


Suara besi yang dipukul kembali terdengar. Ketiga serangkai itu menyesap kopi mereka hingga tandas. Mereka bergegas masuk kedalam pabrik, karena mereka ingin segera menyelesaikan pekerjaan mereka.


Dan seperti biasa. Saat waktu sudah menunjukan pukul 7 pagi, Arinda dan teman-temannya keluar dari pabrik.


"Mas Adit mana buk'e?" tanya Arinda saat dirinya pulang, dan tidak menemukan keberadaan Aditia di rumahnya.


"Semalam dia pergi, sampai sekarang ndak pulang. Katanya dia mau menemui temannya, ada pekerjaan penting. Mungkin saja dia langsung bekerja pagi ini." Jawab Fatimah.


"Ya tapi kan seharusnya dia ngabarin buk'e atau ngabarin aku. Kok sekarang kumat lagi sembrononya," ujar Arinda.


"Wes toh jangan ngomel. Yang penting sekarang bojomu wes kerjo. Itu saja lebih dari cukup, jadi kamu ndak dibuat susah lagi sama dia," ujar Fatimah.


Arinda menghela nafas panjang. Karena tidak ingin pusing, ditambah badannya sangat lelah, Arindapun memutuskan untuk membersihkan diri dan kemudian menyantap menu sarapan yang Fatimah masak. Setelah itu Arinda memutuskan untuk tidur, karena matanya sangat mengantuk.

__ADS_1


Dan sampai waktu jam pulang Aditia, pria itu tidak juga memberikan kabar. Bahkan ponsel Aditia juga tidak aktif, yang membuat Arinda sangat khawatir.


__ADS_2