SALAHKAH AKU SELINGKUH?

SALAHKAH AKU SELINGKUH?
Bab.50. Murka


__ADS_3

"Maksud sampeyan digadai bagaimana mas? ini...."


"Sebaiknya kita bicara di dalam saja. Ndak enak kalau jadi pusat perhatian tetangga," ujar Fatimah.


Arinda dan Fatimahpun mengajak Gumai dan orang suruhannya masuk kedalam rumah, untuk membicarakan masalah itu. Setelah menyodorkan tamunya air putih, Arinda kembali membuka pembicaraan.


"Ini maksudnya mas Adit gadai rumah ini apa ya mas? gimana mungkin dia bisa gadai rumah ini, kalau sertifikatnya aja ada sama kami dan rumah ini juga atas nama ibu saya," tanya Arinda.


Gumai tersenyum kecut. Kini dia baru mengerti, kalau temannya itu sama sekali belum berubah. Kini dia juga mengerti, kalau Aditia sudah mengelabuhi istri dan mertuanya sendiri.


"Siapa bilang sertifikat itu ada sama kalian?" tanya Gumai sembari mengeluarkan sertifikat itu dari dalam tas ransel yang dia bawa.


Mata Arinda terbelalak, saat melihat sertifikat atas nama Fatimah terpampang nyata di depannya.


"Tapi saya ndak pernah merasa memberikan sertifikat itu sama Aditia. Saya juga ndak pernah merasa memberikan persetujuan sama dia buat menggadaikan rumah ini," ujar Fatimah.


"Saya percaya ucapan kalian, tapi suami dan menantu ibu itu yang sejak dulu memang tidak bisa dipercaya. Coba ibu lihat ini," ujar Gumai sembari memberikan kopian surat pernyataan yang sudah dibubuhi tanda tangan Fatimah.


Arinda meraih kertas itu, dan matanya kembali terbelalak saat melihat tanda tangan Fatimah sudah berada diatas materai 10 ribu.


"Bu-Buk'e. Ini benar tanda tangan buk'e kan?" tanya Arinda dengan tangan gemetar.


Fatimah meraih kertas dari tangan Arinda, dan matanya terbelalak saat melihat tanda tangannya itu. Air mata Fatimah merebak, saat dia teringat ketika Aditia meminta tanda tangannya itu untuk meminta persetujuan kerja dari wali.


"Berarti dia menipu ibu waktu itu.


Dia bilang mau minta tanda tangan persetujuan kerja dari wali. Waktu itu dia memang minta tanda tangan di kertas kosong," ujar Fatimah sembari menyeka air matanya.


"Berapa yang dia pinjam?" tanya Arinda.


"Total bersama bunga 40 juta." Jawab Gumai yang membuat Arinda jadi syok.


"Dia bilang pinjam uang untuk proyek kerjaannya. Tapi sepertinya kalian sudah di tipu sama dia. Jangan-Jangan sebenarnya dia nggak kerja, dan uangnya dipakai buat judi," sambung Gumai.


"Kok mas ngomong gitu? mas Adit memang diterima bekerja selama 6 bulan ini.Tiap bulan juga ngasih uang gajinya sama aku," ujar Arinda.

__ADS_1


"Aku ini sahabatnya. Aku tahu betul siapa suamimu itu. Dulu aku pernah bekerja di bank yang sama sama dia. Kamu pasti belum tahu kan kenapa dia berhenti bekerja di bank itu?" tanya Gumai.


"Memangnya kenapa?" tanya Arinda.


"Dia dipecat secara tidak hormat, karena kasus pencucian uang. Dia menggelapkan dana nasabah yang jumlahnya tidak main-main. Dan kamu tahu sendiri uang itu habis untuk apa kan? sejak dia belum menikah denganmupun, dia sudah gila judi." Jawab Gumai.


"Ja-Jadi...."


"Jadi aku rasa dia berbohong tentang diterima bekerja itu. Uang gaji yang kamu terima, adalah uang dari menggadaikan rumah sendiri. Tapi kamu masih untung diberikan gajinya tiap bulan. Jadi seharusnya kamu masih menyisihkan uang buat kamu tabung bukan?" ujar Gumai yang diangguki Arinda dengan lelehan air mata.


Arinda jadi teringat saat Aditia mengelabuhinya, saat ingin dibelikan motor bekas pakai.


"Keterlaluan kamu mas. Sekarang aku ndak ragu lagi buat minta cerai dari kamu," batin Arinda sembari menyeka air matanya.


"Sekarang bagaimana ini urusannya? kalau kalian benar-benar nggak punya uang, aku terpaksa menyita rumah ini. Aku juga nggak mau rugi. Uang aku pinjamkan adalah tabungan masa depan anakku. Aku meminjamkannya, karena aku pikir Aditia sudah bekerja dan berubah. Tapi ternyata tidak sama sekali," ujar gumai.


"Kami belum bisa bayar sekaligus mas. Saya benar-benar minta tolong sama sampeyan minta diberikan waktu, minimal satu bulan lagi," ujar Arinda.


"Kamu ada uang berapa?" tanya Gumai.


"Kemarikan uangnya!" ujar Gumai.


"Uangnya aku simpan di bank mas. Besok aku ambil, dan aku transfer ke rekening sampeyan saja," ujar Arinda.


"Itu artinya sisa 15 juta lagi. Itu motormu kan? motormu aku hargai 5 juta. Jadi motormu aku bawa sekarang," ujar Gumai.


"Tapi mas, kalau motor itu di bawa, aku kerja pakai apa?" tanya Arinda.


"Aditia kan punya motor juga kan? kamu ambil saja motor itu. Dan satu lagi, aku nggak bisa memberikan waktu selama itu. Aku beri waktu selama seminggu buat kamu melunasi semuanya. Jadi kamu kirim uangnya pas seminggu lagi saja. Untuk sementara motor saja yang aku sita. Tolong serahkan BPKB motor dan STNK nya," ujar Gumai.


Arinda menyeka air matanya yang meleleh deras di pipinya. Wanita dua anak itu kemudian beranjak dari tempat duduk, dan pergi ke kamar Fatimah untuk mengambil BPKB motor, dan pergi ke kamarnya untuk mengambil STNK.


Dengan berat hati Arinda menyerahkan BPKB motor, STNK, serta kunci motor pada Gumai.


"Ya sudah kami pulang dulu. Ingat! seminggu lagi lunasin sumuanya," ujar Gumai.

__ADS_1


"Kami minta alamat rumah sampeyan mas. Aku pengen nyerahin langsung uangnya," ujar Arinda.


Gumai kemudian menyerahkan alamat rumahnya pada Arinda. Setelah itu dia pergi dengan membawa motor Arinda.


Prangggggg


Arinda menghancurkan gelas yang ada diatas meja. Dia benar-benar murka saat ini.


"Buk'e dukung kamu buat menceraikan Aditia. Dia sudah sangat keterlaluan kali ini," ujar Fatimah dengan berapi-api.


"Aku mesti ke rumah mertuaku dulu. Aku mau menyita motor yang dipakai mas Adit, karena itu haknya anak-anak. Rasanya aku ingin mencekik mas Adit sampai mati," nafas Arinda naik turun dan kemudian tangisnya pecah.


"Tapi dimana kita dapat uang buat melunasi itu?" tanya Fatimah.


"Akkkkhhh...." Arinda menangis sembari berteriak.


Namun ditengah rasa sakit, sedih, dan kecewa yang dia rasakan saat ini. Arinda teringat akan Dante, pria yang selalu ada untuknya.


"Baiklah aku akan mencari peruntungan kali ini bu. Biarkan aku jadi wanita gila sekali ini saja. Disinilah waktunya membuktikan, seberapa besar cinta mas Dante sama aku," ujar Arinda.


"Apa maksudmu ndok?" tanya Fatimah.


Arinda kemudian menghubungi Dante, dengan jantung yang berdebar. Dante yang tengah berada di counter pulsa, menerima panggilan itu.


"Ada apa sayang? kita jadi ketemu nanti kan?" tanya Dante.


"Mas. Hiks...."


"Sayang. Kamu kenapa?" tanya Dante.


"Tolong aku mas. Tolong aku! hiks...." Isak tangis Arinda semakin menjadi, yang membuat Dante jadi panik.


"Kamu dimana sekarang?" tanya Dante.


"Ada di rumah. Hiks...." Jawab Arinda.

__ADS_1


Dante segera mengakhiri panggilan itu, yang membuat Arinda jadi kebingungan dan tangisnya mereda. Sementara itu tanpa berpikir panjang, Dante segera pergi untuk mendatangi rumah Arinda.


__ADS_2