SALAHKAH AKU SELINGKUH?

SALAHKAH AKU SELINGKUH?
Bab.20. Dicokot Anjing


__ADS_3

"Uuugghh Ridwan sialan. Badanku jadi sakit semua," gerutu Mia sembari beranjak dari atas tempat tidur.


Wanita itu beranjak dari tempat tidur, dan melihat kertas yang sudah di tanda tangani oleh Ridwan.


"Tapi aku merasa lega, karena dia sudah menandatangani surat ini. Aku akan cepat-cepat mengurus perceraianku, agar cepat pula kelarnya," gumam Mia.


Mia segera menyimpan surat cerai itu kedalam berkas penting miliknya. Mia memutuskan membersihkan dirinya kembali dari bekas percintaannya dengan Ridwan.


Sementara itu di tempat berbeda, Arinda baru saja selesai mandi. Wanita dua anak itu membiarkan handuk masih bertumpu diatas kepalanya.


"Kenapa pulang telat?" tanya Aditia.


"Lembur." Jawab Arinda singkat, sembari mengenakan penyangga dadanya.


"Gituan yuk Rin? pingin aku," ujar Aditia sembari memeluk dan mencium pundak telanjang milik istrinya.


"Aku capek mas. Kamu ndak dengar aku baru pulang lembur?" tanya Arinda.


"Kamu mau melayani aku dengan ikhlas, atau kupaksa seperti waktu itu?" tanya Aditia.


"Kenapa sampeyan ndak punya perasaan sama sekali sih mas? kalau kamu pengen aku punya waktu luang melayani sampeyan, mbok ya sampeyan itu cari kerja dong mas. Aku janji kalau sampeyan kerja, aku akan berhenti kerja dipabrik dan cuma fokus ngurus kamu dan juga anak-anak." Jawab Arinda.


"Tunggu aku menang Slot. Kamu ndak usah kerja, kita akan buka usaha besar-besaran," ujar Aditia yang membuat telinga Arinda jadi panas seketika.


"Minggir!" Arinda mendorong Aditia sekuat tenaga.


Arinda bergegas mengenakan pakaian, dan segera keluar dari kamar itu.


"Dasar manusia utek secuil. Kenapa Tuhan ndak cepat cabut saja nyawanya," gerutu Arinda.


"Kalau lagi kesal begini, membuat aku jadi lapar nggragas. Masak opo si buk'e," gumam Arinda sembari membuka tudung saji.


"Nah mantap ini. Rebusan daun singkong, sambal terasi dan ikan asin," ucap Arinda.


Arinda segera mengambil piring dan nasi dari magicom, dan kemudian makan malam sendirian.


"Pelan-Pelan ndok," ucap Fatimah sembari menarik kursi makan.


"Laper aku buk'e." Jawab Arinda dengan mulut yang dipenuhi oleh gumpalan daun singkong.


"Suamimu mana? kok makan malam sendiri?" tanya Fatimah.


"Ada di kamar main hp. Dia ndak lapar, sudah kenyang berjudi." Jawab Arinda.

__ADS_1


"Berjudi? emang dia dapat duit darimana buat judi? kamu kasih dia uang?" tanya Fatinah.


Arinda menghentikan kunyahannya, dan seolah sedang berpikir keras.


"Benar juga kata buk'e? sudah dua bulan ini dia ndak pernah minta duit dalam jumlah besar. Paling minta duit buat beli rokok. Jadi dia dapat duit darimana?" batin Arinda.


"Aku ndak pernah ngasih buat dukung perbuatan yang unfaedah begitu. Ndak tahu dia dapat duit darimana. Apa buk'e ada simpanan uang, atau perhiasan? kalau punya coba buk'e cek. Takutnya dia ambil simpanan buk'e." Jawab Arinda.


"Buk'e ndak punya uang simpanan, apalagi perhiasan. Harta bu'e satu-satunya ya cuma rumah ini," ujar Fatimah.


"Rayana sama Radit tidur?" tanya Arinda.


"Ya." Jawab Fatimah.


"Buk'e ndak makan?" tanya Arinda.


"Bu'e masih kenyang. Tadi main ke rumah tetangga, dia kasih lemper 5 biji buat buk'e." Jawab Fatimah.


Arinda menyudahi makannya, setepah dirasa kenyang. Wanita itu langsung mencuci piring dan tangannya ditempat pencucian arah belakang rumahnya.


*****


"Aku berangkat kerja dulu buk'e," ujar Arinda sembari meraih tangan ibunya itu.


"Sudah ngomong belum sama suamimu?" tanya Fatimah.


"Ya sudah hati-hati kalau begitu," ucap Fatimah.


Arinda mengengkol motor barunya, yang suara mesinnya masih sangat halus. Tetangganya tidak perlu lagi mendengar bising dari knalpot motornya terdahulu, karena suara knalpot motor barunya nyaris tak terdengar.


"Mas Dante sudah sarapan belum ya? ckk...aku ini kenapa masih mengkhawatirkan dia. Dia itu bukan siapa-siapaku, sangat berbahaya kalau aku berhubungan lagi dengan dia. Perasaanku perlahan mulai goyah, dia selalu membuatku meleleh," batin Arinda.


Arinda semakin menambah kecepatan motornya, dia tidak ingin datang terlambat karena terlalu banyak menghayalkan Dante. Saat dirinya tiba di parkiran, Mia dan Dinda ternyata juga baru datang.


Arinda dan Dian saling bertanya lewat alisnya, saat melihat dua buah tanda kissmark di leher sahabatnya itu.


"Leher sampeyan kenapa mbak?" sindir Arinda.


"Dicokot anjing." Jawab Mia sembari mengunci stang motornya.


"Anjing jaman sak iki nggragas. Leher majikan di kecup juga," sindir Dian sembari terkekeh.


"Lah piye toh mbak? bukannya sampeyan mau cerai dari mas Ridwan? kok ngonoan?" tanya Arinda.

__ADS_1


"Yo iku lanang nggak nduwe utek. Status'e mau cerai, tapi soal urusan ranjang dia tetap mau nawarin aku buat digoyang sama dia. Apa dia pikir di dunia ini lanang cuma tinggal dia tok?" ucap Mia dengan emosi.


"Tapi kok sampeyan mau digoyang sama dia?" tanya Arinda.


"Mau bagaimana? wong aku di perkaos sama dia. Dia bilang itu syarat kalau dia mau tanda tangan surat cerai itu. Aku terpaksa menuruti kemauannya, walaupun sebenarnya aku keenakkan juga." Jawab Mia dengan asal.


""Edun tenan mas Ridwan. Tapi dia sudah tanda tangan kan?" tanya Dian.


"Sudah. Suratnya sudah aku amankan." Jawab Mia.


"Ya sudah ayo kita masuk. Bentar lagi kita sudah mulai masuk kerja," unat Arinda.


Arinda, Mia dan Dian kembali melakukan aktifitas mereka seperti biasa. Dan seperti biasa pula, Arinda jadi kepikiran tentang Dante.


"Kamu kenapa? mbak perhatikan dua hari ini sering melamun," tanya Mia.


"Mbak. Aku lupa bagaimana rasanya jatuh cinta pertama kali dengan seseorang. Dulu saat menikah dengan mas Adit, aku masih berusia 19 tahun. Aku belum benar-benar mengerti saat itu. Yang aku tahu cuma ada rasa senang, saat tiap kali jalan sama mas Adit." Jawab Arinda.


"Sebenarnya arah pembicaraanmu itu mau kemana?" tanya Mia.


"Kemarin aku ke rumah mas Dante lagi sepulang dari kerja." Jawab Arinda.


"Apa?" Arinda membekap mulut sahabatnya itu, karena mereka sudah jadi pusat perhatian buruh-buruh yang lain.


"Ckk...nanti saja pas istirahat ceritanya. Sampeyan ini bisa membuat semua orang tahu nantinya," ujar Arinda yang membuat Mia jadi nyengir.


Dan seperti yang Arinda janjikan, mereka bertiga kembali bertukar pikiran sembari menikmati makan siang di kantin.


"Jadi kamu ngapain ke rumah Dante kemarin!" tanya Mia.


"Arinda ke rumah Dante? ngapain?" tanya Dian.


"Aku khawatir sama dia. Seharian kerja kemarin kepikiran dia terus. Tapi untung saja aku kesana, ternyata mas Dante sedang pingsan dilantai." Jawab Arinda.


"Kasihan juga dia. Apa dia nggak punya keluarga?" tanya Mia.


"Keluarganya jauh, ada di Aceh." Jawab Arinda.


"Oh...jadi Dante orang Aceh? pantas saja dia gantengnya nggak ketulungan," ujar Mia.


"Iya. Dia orang Aceh, dan ibunya berasal dari Padang," ujar Arinda.


"Jadi sebenarnya apa ujung ceritamu ini?" tanya Mia.

__ADS_1


"Se-Sepertinya aku sudah jatuh cinta sama mas Dante mbak." Jawab Arinda.


Mia dan Dian saling menoleh satu sama lain, dan kemudian kompak menepuk jidat mereka.


__ADS_2