SALAHKAH AKU SELINGKUH?

SALAHKAH AKU SELINGKUH?
Bab.8. Refleks


__ADS_3

Tap


Mia menarik lengan Arinda yang masih belum sadar dengan apa yang sudah dia lakukan.


"Rin. Kamu selingkuh ya?" bisik Mia setelah dia berhasil menarik tubuh sahabatnya itu untuk mendekat kearahnya.


"Sampeyan ngomong opo toh mbak? siapa yang selingkuh?" tanya Arinda.


"Terus kenapa kamu peluk-peluk cowok sembarangan? dia kan bukan suamimu. Jangan bilang matamu sudah rabun, karena nggak bisa bedain mana suamimu, mana orang asing," ucap Mia setengah berbisik.


Arinda menoleh kearah pria yang baru saja dia peluk beberapa detik yang lalu. Wajah Arinda jadi bersemu merah, karena dia baru menyadari apa yang sudah dia lakukan.


"Eh...a-anu. Maaf mas, refleks," ucap Arinda sembari tersenyum kaku.


"Mari aku antar pulang. Aku tahu kamu tidak punya kendaraan lain buat pulang kan?" tanya pria itu.


"I-Iya." Jawab Arinda.


"Ta-Tapi mas. Bagaimana dengan si jambrong? apa sampeyan sudah membawanya ke bengkel?" tanya Arinda.


"Eh? su-sudah kok. Tapi kata tukang bengkelnya butuh waktu yang lama buat benerin motor kamu. Soalnya kamu tahu sendiri kan kondisinya kemaren." Jawab pria itu.


Wajah Arinda jadi murung. Dia bingung untuk hari-hari selanjutnya tanpa motor itu.


"Tapi kamu tenang saja. Selama motor kamu di bengkel, aku akan menjemputmu setiap hari. Dan juga mengantarmu pulang setiap hari. Bagaimana?"


Wajah Arinda mendadak berseri, dengan pancaran mata yang berbinar.


"Benaran loh mas? sampeyan ndak boleh ingkar janji. Pokok'e selama jambrong di bengkel, sampeyan harus antar jemput aku setiap hari," ucap Arinda.


"Dante Antolyn," Dante mengulurkan tangannya untuk mengajak Arinda berkenalan.


"Arinda Kirana," Arinda menjabat tangan Dante dengan erat.


"Oh ya ini kenalin sahabat aku. Namanya mbak Mia Rengganis. Ada satu lagi mbak Dian Budiargo, tapi lagi cuti sakit," ujar Arinda.


Dante dan Mia bersalaman dan melempar senyum kecil satu sama lain.


"Ayo aku antar pulang. Soalnya aku juga harus masuk kerja," ucap Dante.

__ADS_1


"Maaf ya mas. Aku juga terpaksa merepotkan sampeyan. Apa tempat kerja sampeyan jauh?" tanya Arinda.


"Tidak juga." Jawab Dante sembari menahan kedua kakinya saat Arinda mulai menaiki motor sportnya.


"Mbak Mia. Aku duluan ya mbak," ucap Arinda sembari melambaikan tangannya.


Sebenarnya Mia sangat ingin berbicara dengan Arinda tentang keputusannya. Tapi dia tidak punya kesempatan, karena Arinda memutuskan pulang lebih cepat. Mia terpaksa diam, dia lebih memilih untuk bicara dengan Arinda saat shif malam nanti.


"Seger banget pagi-pagi begini lihat orang ganteng, wangi lagi," batin Arinda.


"Kamu pegangan yang kenceng ya? aku sudah hampir telat soalnya," Dante mencari alasan agar bisa mengebut dijalan tikungan, tempat Arinda kecelakaan kemarin.


Dante tidak ingin Arinda melihat serpihan motornya, yang berarti kebohongannya akan terbongkar. Namun pria itu cukup lega, karena saat melewati tikungan itu, semua serpihan motor sudah tidak ada lagi.


"Ah...syukurlah. Mungkin motor itu sudah diambil oleh pemulung. Sepertinya Arinda juga tidak menyadari apa yang aku khawatirkan," Dante tersenyum dibalik helmnya.


"Di perempatan tiang itu, belok kiri ya mas!" ucap Arinda sembari menunjuk ke arah tiang listrik yang berdiameter cukup besar.


"Oke." Jawab Dante.


Motor Dante mengambil ancang-ancang saat akan belok ke arah rumah Arinda. Namun saat mereka akan memasuki gang rumah Arinda, wanita itu menolak diantar oleh Dante.


"Nggak usah mas. Lagian mas juga mau berangkat kerja kan? nanti telat loh," ucap Arinda.


"Bisa gawat kalau mas Adit sampai lihat aku diantar sama pria lain. Bisa-Bisa digorok pas tidur," batin Arinda.


"Ya sudah kalau itu maumu. Jadi aku jemput kapan lagi?" tanya Dante.


"Nanti sore jam 4 disini aja." Jawab Arinda sembari menunjuk kearah tempatnya berdiri.


"Oke. Aku pergi ya!"


"Hati-Hati mas," ucap Arinda.


Dante kemudian berlalu dari hadapan Arinda, dan itu benar-benar membuatnya lega. Arinda lalu berjalan sejauh 200 meter untuk menuju rumahnya. Namun naas Adit yang biasa bangun siang, dipagi itu malah tengah duduk santai di depan teras.


"Kamu kok jalan kaki? motor kamu kemana?" tanya Aditia.


"Di bengkel. Kemarin aku kecelakaan, Jambrong rusak. Jadi aku titip di bengkel." Jawab Arinda sembari menjatuhkan bokongnya pada salah satu kursi kayu.

__ADS_1


"Tapi jambrong masih bisa dibenari kan?" tanya Adit yang membuat Arinda jadi menghentikan niatnya saat akan menarik tali sepatunya.


"Jambrong rusak juga duit aku yang dipakai benarin mas. Kamu sok khawatirin jambrong, tapi istri sendiri nggak kamu tanyain? apa ada tulangku yang patah? atau gigiku yang rontok barangkali?" Arinda menjawab pertanyaan Aditia dengan nada kesal.


"Kalau kamu sudah sampai rumah dengan selamat, itu tandanya kamu baik-baik aja. Tapi kalau jambrong sampai kenapa-napa, itu malah lebih gawat," ucap Aditia.


"Iya. Gawatnya karena takut aku berhenti kerja, dan ndak bisa ngasilin duit buat kamu," Arinda menyela ucapan Adit sembari berdiri dan masuk ke dalam rumah.


Tentu saja Aditia tidak menyia-nyiakan kesempatan buat melakukan rutinitasnya bersama Arinda. Apalagi kalau bukan pertengkaran sengit mereka.


"Kamu kenapa sih selalu berpikiran buruk terus sama aku? aku tahu motor itu nyawa buat kamu," ucap Aditia sembari mengekor dibelakang Arinda.


"Buat kamu lebih tepatnya mas. Kalau kuhitung-hitung pengeluaran kamu, lebih besar dari pengeluaran kami. Tapi maaf untuk bulan ini aku ndak bisa kasih kamu uang. Tiga hari lagi gajian, sedangkan jambrong lagi sakit di bengkel. Jadi uangnya harus di pakai buat benerin motor," ujar Arinda.


"Lagian pengeluaran jadi bertambah, karena untuk sementara aku harus pakai ojek langganan sampai jambrong sembuh," sambung Arinda.


"Emang bengkel minta berapa?" tanya Aditia panik.


"Satu juta." Jawab Arinda asal.


"Satu juta? harga motor itu kalau dijual pasti harganya sama dengan harga benerin motornya. Kamu pasti dibegoin orang nih! kasih tahu aku dimana bengkelnya, biar aku bawa kebengkel lain aja," tanya Aditia.


"Mana bisa gitu mas. Orang udah separuh jalan. Pasti di minta separuh harga juga. Daripada pindah-pindah nggak jelas, biarin aja jambrong disana. Aku sudah capek buat mikir keras. Kalau aku ada duit lebih, aku sudah lempar jambrong ke empang, terus aku beli motor baru." Jawab Arinda sembari melepas b


pakaiannya.


Grepppp


Aditia memeluk Arinda dari belakang, sembari meremas dada Arinda dengan wajah sudah bermain di ceruk leher istrinya itu.


"Mas. Aku capek! tangan aku juga lagi sakit," Arinda berusaha melepaskan diri dari Aditia.


"Kamu sudah terlalu sering nolak aku loh. Ngerti dosa nggak sih?" tanya Aditia dengan kesal.


"Jangan ngomongin tentang dosa sama aku mas. Kamu juga tahu judi dan ndak nafkahin istri itu dosa, tapi kamu tetap aja ngelakuin itu." Arinda menyambar handuk dan kemudian keluar dari kamar.


Brukkk


Aditia meninju lemari kayu yang ada di hadapannya. Dia sangat kesal karena hasratnya tidak terpenuhi hampir satu bulan lamanya.

__ADS_1


__ADS_2