SALAHKAH AKU SELINGKUH?

SALAHKAH AKU SELINGKUH?
Bab.29. Aku Pasti Merindukanmu


__ADS_3

Dante memberikan pelukkan pada Arinda. Saat ini dia dan Arinda tengah berada di depan lorong menuju rumah kekasihnya itu. Dante memang mengantar Arinda hingga ke depan lorong kekasihnya itu, karena waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam.


"Aku pasti merindukanmu sayang. Waktu liburmu 4 hari lagi, entah bagaimana caranya aku mengobati rasa rinduku padamu nanti," ujar Dante.


"Kita pasti sama-sama bisa mas. Aku juga pasti akan merindukanmu," ujar Arinda.


"Ya sudah pulanglah! tidur yang nyenyak ya sayang!" ujar Dante.


"Iya mas. Mas hati-hati ya!" ucap Arinda.


"Emm," Dante menganggukkan kepalanya.


Cup


Arinda mencium bibir Dante sekilas, dan kemudian segera menaiki motornya.


"Curang! mana cukup diberi ciuman sekilas begitu," ucap Dante.


Arinda terkekeh mendengar ucapan Dante.


"Biar kamu teringat selalu sama aku mas," ujar Arinda yang kemudian langsung menarik gas motornya.


Dante tersenyum menatap punggung Arinda yang perlahan menghilang dikegelapan malam. Saat wanita itu sampai di rumah, Aditia tampak tengah duduk di teras sembari bermain ponsel.


"Bagi duit buat beli paket internet," ujar Aditia sembari menadahkan tangan.


Tanpa banyak protes, Arinda mengeluarkan uang 10 ribu dari tasnya dan menyodorkannya pada Aditia. Arinda kemudian masuk kedalam rumah, yang membuat Aditia jadi menoleh kearah istrinya itu.


"Anggap saja itu uang rasa bersalahku yang sudah mengkhianatimu hari ini," batin Arinda sembari menuju kamarnya.


"Tumben ngasih nggak pakai ngomel. Biasanya juga dia akan mengoceh, hingga suaranya itu bisa terdengar ke Papua sana," gumam Aditia.


"Sepertinya pukulanku ampuh dan membuatnya takut dan tidak lagi protes. Kalau begitu lain kali aku ancam dengan pukulan saja," gumam Aditia sembari terkekeh.


Aditia kemudian pergi ke counter tempat orang menjual pulsa maupun benda yang berhubungan dengan ponsel. Setelah selesai, diapun kembali pulang dan langsung masuk kamar.


Aditia menatap Arinda yang tengah berbaring diatas tempat tidur dan memejamkan mata.


"Apa dia tidak mandi dan makan malam? apa karena terlalu lelah, jadi dia tidur lebih cepat," gumam Aditia.


Aditia kemudian ikut berbaring di samping Arinda sembari bermain ponsel. Pria itu tampak mengirim chat pada temannya.


"Pinjamin duit dong," chat Aditia.


"Maaf Dit. Kebutuhan rumah tanggaku sedang banyak. Kamu minta bantuan sama teman yang lain saja,"


"Aku pinjam nggak akan lama. Aku sedang menangani proyek besar, kalau ini berhasil kamu akan mendapat bagian 5%,"

__ADS_1


"Proyek apa?"


"Pemasangan pipa gas. Sekarang aku sudah bekerja di PT yang bergerak dibidang pembiayaan,"


"Emang kamu mau pinjam berapa?"


"50 juta ada?" chat Aditia.


"Waduh...aku memang punya tabungan pendidikkan anak. Tapi aku nggak berani kasih pinjam kamu,bkalau nggak ada jaminan,"


"Masak sama aku harus ada jaminan? kita kan teman," chat Aditia.


"Maaf Dit. Uang tidak mengenal saudara, apalagi cuma sekedar teman. Aku nggak mau ngambil resiko,"


"Jadi jaminan apa yang kamu inginkan?" chat Aditia.


"Kalau uang sebayak itu aku maunya sertifikat rumah. Atau paling kecil sertifikat mobil,"


"Oke. Aku akan mengurus semuanya dulu. Nanti akan aku hubungi lagi," chat Aditia.


"Oke,"


"Hah...teman sialan. Dulu aja lengket kayak prangko. Sekarang dipinjamin duit malah minta sertifikat. Menyebalkan!" gumam Aditia.


Aditia memiringkan tubuhnya dan tampak berpikir keras.


"Besok aku akan cari BPKB motor itu," gumam Aditia.


*****


"Aku berangkat kerja dulu mas," ujar Arinda sembari meraih tangan suaminya untuk dia cium.


"Tumben mau cium tangan suami tanpa disuruh?" tanya Aditia.


"Jangan cari gara-gara. Jangan merusak moodku yang harus bekerja pagi-pagi begini." Jawab Arinda sembari memasang sepatu di kakinya.


"Bagi duit rokok dong," ujar Aditia sembari menadahkan tangannya.


Sreettt


Arinda membuka resleting tasnya dan mengambil uang 5000 dari dompetnya. Aditia tidak protes sama sekali saat Arinda menyodorkan uang itu padanya, karena dia ingin mengambil hal yang lebih besar dari istrinya.


Setelah Arinda pergi, Aditia mengunci pintu kamarnya. Dia bergegas mencari BPKB motor di dalam lemari pakaian. Semua baju di lemari dia keluarkan, namun Aditia sama sekali tidak menemukan apa yang dia cari.


"Ckkk...dimana Arinda menyembunyikannya? Aditia kemudian mencari di bawah ranjang, dalam loker meja rias, dan juga tempat-tempat yang memungkin kan Arinda menyimpannya.


"Ckk...sial. Aku harus membereskan kekacauan ini tampa mendapatkan hasil apapun," gerutu Aditia.

__ADS_1


Aditia kembali membereskan kamar itu ke bentuk semula. Dia tidak mau Arinda mencurigainya.


"Oh...aku tahu sekarang. Dia pasti menyembunyikan itu di kamar ibu. Arinda benar-benar perhitungan sekali sekarang," gumam Aditia.


Setelah membereskan kekacauan yang sudah dia buat, Aditia bergegas keluar kamar untuk melihat situasi.


"Ayah," seru Rayana.


"Ray. Kemana mbahmu?" tanya Aditia pada putri sulungnya yang tengah bermain masak-masakkan.


"Citu...cuci piling." Jawab Rayana sembani menunjuk kearah belakang.


"Aduh...kalau cuma ditempat cuci piring, nggak akan cukup waktunya. Bagaimana caraku, agar ibu keluar rumah ya?" gumam Aditia.


Tidak berapa lama kemudian Fatimah pergi ke dapur, dengan menenteng satu baskom besar cucian piring. Satu persatu piring itu dia letakkan ketempatnya hingga selesai.


"Buk'e masak apa?" tanya Aditia yang membuat Fatimah terkejut, karena Aditia menghampirinya dari belakang punggungnya.


"Buk'e belum masak. Habis ini baru mau ke warung ujung, buat beli sayur. Buk'e titip Rayana ya? Radit masih tidur," ujar Fatimah.


"Iya buk'e." Jawab Aditia.


"Tumben Aditia mau dititipi anak-anak. Biasanya jam segini dia juga masih tidur," batin Fatimah.


"Ya sudah. Ibu pergi ke warung dulu kalau begitu," ujar Fatimah.


"Ya buk'e." Jawab Aditia.


Aditia mengintip dari tirai jendela, saat Fatimah semakin lama semakin menjauh. Setelah yakin Fatimah pergi, Aditia kemudian mengunci pintu rumah dan bergegas masuk ke kamar Fatimah.


"Huffftt...untung Radit masih tidur. Jadi aku bisa cepat cari BPKB motornya," gumam Aditia.


Aditia bergegas mencari apa yang dia inginkan. Namun dia sama sekali tidak menemukan BPKB motor itu. Justru dia menemukan hal yang lebih besar, yang membuat dirinya menyeringai puas.


Setelah itu Aditia bergegas keluar kamar, dan kembali masuk kedalam kamar untuk menyembunyikan sertifikat rumah yang dia curi dari kamar Fatimah.


Selang 5 menit kemudian Fatimah kembali dengan menenteng belanjaan. Sementara Aditia tampak berpura-pura menemani Rayana bermain.


"Radit belum bangun?" tanya Fatimah.


"Belum bu." Jawab Aditia.


"Kamu temani Rayana dulu. Buk'e mau masak sebentar," ujar Fatimah.


"Iya buk'e." Jawab Aditia.


Saat Fatimah pergi ke dapur, Aditia bergegas meraih ponselnya untuk menghubungi temannya.

__ADS_1


__ADS_2