
"Kamu dimana?" tanya Aditia.
"Di kantorlah. Ada apa?" tanya Gumai
"Aku sudah ada sertifikatnya. Kamu jadikan pinjamin aku duit?" tanya Aditia setengah berbisik.
"Maaf Dit. Semalam aku jadi berdiskusi dengan istriku. Dia tidak setuju kalau aku pinjamin kamu uang 50 juta. Itu tabungan anak kami. Tapi...."
"Kamu gimana si Gu? aku sudah susah payah loh dapatin sertifikatnya," tanya Aditia.
"Mau bagaimana lagi. Tapi kata istriku kalau 25 juta dia setuju. Lagipula sertifikat siapa yang mau kamu gadai Dit?" tanya Gumai.
"Rumah mertuaku." Jawab Aditia.
"Apa dia tahu kamu meminjamnya?" tanya Gumai.
"Tentu saja tahu. Mantunya ini mau berusaha, bukan buat foya-foya. Jelas aja dia mau meminjamkan sertifikatnya." Jawab Aditia.
"Kalau begitu datang ke rumah nanti sore, atau nanti malam. Tapi ya itu tadi, kami cuma bisa pinjamin uang 25 juta," ujar Gumai.
"Tambahlah 5 juta lagi. Aku sangat membutuhkannya Gu," ujar Aditia.
"Okelah. Jangan lupa bawa surat peryataan mertuamu, dan ditanda tangani diatas materai 10 ribu. Kami nggak mau ngambil resiko Dit. Soalnya kamu pinjam harus ada batas waktunya," ujar Gumai.
"Ya ampun Gu. Sama teman sendiri kok begitu?" tanya Aditia.
"Seperti yang aku katakan. Uang tidak kenal saudara maupun teman. Jadi kami akan memberikan waktu hingga 6 bulan, kalau 6 bulan nggak bayar, maka rumah itu jadi milik kami." Jawan Gumai.
"Ya nggak adil dong kalau rumah ini dihargai 30 juta. Harusnya uang 50 atau 60 baru pas," ujar Aditia.
"Kami mau minjamin uang, bukan buat beli rumah. Dimana-mana orang juga mau untung Dit. buat apa aku minjamin uang seharga rumah itu? mending kalian jual saja rumahnya. Bagaimana? apa kamu setuju 30 juta? kalau setuju datanglah kerumah nanti malam sambil bawa sertifikat dan surat pernyataan itu," ujar Gumai.
"Oke aku setuju," ujar Aditia.
"Kalau begitu aku tutup dulu telponnya ya! aku mau kerja dulu," ujar Gumai.
"Ya." Jawab Aditia.
Setelah panggilan itu terputus, Aditia kembali berpikir keras untuk mendapatkan tanda tangan Fatimah.
"Mana uang cuma ada 5000. Mana cukup buat beli materai?" batin Aditia.
Aditia kemudian memutuskan untuk keluar kamar dan menghampiri Fatimah.
"Buk'e," tegur Aditia.
"Ada apa?" tanya Fatimah sembari menoleh.
"Apa ibu masih ada sisa uang belanja?" tanya Aditia.
__ADS_1
"Kayaknya masih ada dikit. Untuk apa?" tanya Fatimah.
"Adit ada tawaran kerja dari teman. Tapi diminta surat pernyataan dari orang tua atau wali. Surat pernyataan itu harus di tanda tangani diatas materai. Adit tidak punya uang buat beli materai, kertas dan lain-lain. Apa Buk'e ada uang 20 ribu?" tanya Aditia.
"Yang bener Le?" tanya Fatimah antusias.
"Ya buk'e. Semoga aja di terima, namanya juga usaha." Jawab Aditia.
"Iyo-iyo betul itu," ujar Fatimah sembari meraih dompet kecil dari saku dasternya.
"Makasih ya buk'e. Nanti kalau Adit sudah kerja, tak kembalikan berkali-kali lipat," ujar Aditia.
"Ndak usah di kembalikan. Yang penting kamu cepat kerja. Ibu selalu mendo'akan yang terbaik buat anak-anak ibu," ucap Fatimah.
"Nanti Buk'e saja ya yang tanda tangan surat pernyataan itu? soalnya malam ini Adit akan mengantar surat lamaran itu. Nunggu motor Arinda, dan teman Adit pulang kerja. Kalau minta tanda tangan orang tua adit nggak punya kendaraan kesana, dan juga memakan waktu," ujar Aditia.
"Ya betul itu. Kalau tanda tangan ibu bisa, kenapa harus merepotkan orang tuamu?" ucap Fatimah.
"Makasih buk'e. Kalau begitu Adit pergi ke tempat fotokopian dulu," ujar Aditia.
"Naik apa kamu perginya?" tanya Fatimah.
"Jalan kaki. Adit juga harus berkorban juga bukan?" ujar Aditia.
"Do'a buk'e menyertaimu. Pergilah! biar cepat buat surat lamaran," ujar Fatimah yang kemudian diangguki kepala oleh Aditia.
Tanpa Fatimah tahu, Aditia menyeringai saat pria itu sudah berbalik badan.
"Nanti saat Arinda gajian, aku akan minta sepeda bekas pakai saja. Jadi enak kalau mau pergi kedepan," gumam Aditia.
Setelah pergi hampir 45 menit, Aditia kembali dengan menenteng kertas, map coklat, pena, materai dan lain-lain.
Aditia sengaja menulis surat pernyataan ditengah rumah, agar Fatimah bisa melihat kalau dirinya tengah serius ingin membuat surat lamaran palsu itu.
"Buk'e. Tolong tanda tangan disini ya!" ujar Aditia sembari menunjuk kearah materai.
"Loh. Ini kok tidak diselesaikan dulu tulisannya?" tanya Fatimah.
"Nggak apa-apa, nanti Adit selesaikan. Yang penting tanda tangan ibu dulu, takutnya Adit lupa." Jawab Aditia.
Tanpa ragu, Fatimah menandatangani surat pernyataa itu. Sementara hati Aditia sedang bersorak sorai saat ini.
"Makasih buk'e. Semoga lamaran Adit di terima ya!" ucap Aditia.
"Amiin." Jawab Fatimah.
Sementara itu di pabrik dan teman-temannya tengah istirahat di kantin sembari menikmati makan siang.
"Kamu kemarin jadi nemuin Dante?" tanya Mia.
__ADS_1
"Jadi." Jawab Arinda.
"Pasti ngecas kemarin kan? berapa ronde?" tanya Mia.
"Sampeyan ngomong apa sih mbak?" Arinda tersipu.
"Emang beneran ya Rin?" tanya Dian.
"Kok pakai ditanya Di. Apalagi yang dikerjakan antara dua orang dewasa di dalam rumah yang sepi. Bodoh aja si Dante menyia-nyiakan Arinda yang montok," timpal Mia.
"Ndak gitu. Lagipula aku lagi haid kemarin. Ndak mikir kesana aku," ujar Arinda.
"Terus ngapain aja kalian kemarin?" tanya Mia.
"Ciuman." Jawab Arinda dengan gamblang.
"Ciuman tok?" tanya Dian.
"Kepo temen sampeyan mbak. Kayak ndak pernah lebih dari itu aja," ujar Arinda.
"Ayolah Rin. Jangan buat kita penasaran. Pengen tahu yang selanjutnya," ujar Mia.
"Sudahlah mbak. Isin menceritakan aib ngono kui. Sebaiknya sampeyan cepat cari penggantinya mas Ridwan, biar ndak jablay," ujar Arinda terkekeh.
"Jangan mengalihkan pembicaraan. Yakin cuma ciuman tok?" tanya Mia.
"Iyo-Iyo dolanan susu." Jawab Arinda.
Mia dan Dian terkekeh saat mendengar ucapan polos Arinda.
"Terus awakmu ndak karokean?" tanya Mia.
"Karokean? buat apa? aku ndak bisa nyanyi juga," ujar Arinda.
"Hisssttt...bukan karokean asli. Karaokean...." Mia menaik turunkan alisnya.
"Oalahh...edan sampeyan mbak. Aku ndak pernah ngono kui sama mas Adit," ujar Arinda.
"Lah...jadi gimana nasib si Dante?" tanya Mia.
"Ho'oh Rin. Mumet pasti kepalanya," timpal Dian.
Arindan menatap kedua sahabatnya itu dengan lekat.
"Ada apa? kok kamu natap kami begitu?" tanya Mia.
"Sepertinya kalian sudah mendukung perselingkuhanku?" tanya Arinda, yang membuat Mia dan Dian saling menatap satu sama lain.
"Saat kamu resmi jadian sama Dante. Kami ndak pernah melihat wajahmu murung lagi. Dan itu artinya kamu bahagia sama dia. Caramu memang salah, tapi suamimu juga ndak benar. Jadi menurut kami, kamu berhak juga mencari kebahagiaan untuk dirimu sendiri. Tapi mulai dari sekarang, kamu juga harus pikirkan untuk kedepannya bagaimana. Dante pria single, tidak mungkin seumur hidupnya mau jadi selingkuhanmu. Iya toh?" tanya Dian.
__ADS_1
Deg
Arinda tiba-tiba merasakan ketakutan yang luar biasa. Dia sangat takut, suatu saat Dante meninggalkannya demi wanita lain.