
"Apa sekarang sudah puas. Hem?" tanya Arinda sembari mencubit kedua pipi Dante.
"Sebenarnya masih belum cukup. Tapi kamu harus pulang kan? dan itu mebuatku sangat sedih. Masak iya kita bertemu 4 hari sekali?" ujar Dante dengan bibir mengerucut.
Arinda meraih handuk dan melilitkannya di tubuhnya. Arinda juga meraih handuk dan mengeringkan tubuh Dante layaknya seorang bayi besar. Setelah selesai, Arinda menyeret tangan Dante keluar dari kamar mandi.
Arinda kemudian mengambilkan baju untuk Dante, sementara dirinya mengenakan pakaiannya sendiri.
"Aku pulang dulu ya mas! sudah hampir jam 8," ujar Arinda.
Greppp
Dante memeluk Arinda dari belakang dengan erat.
"Rasanya aku nggak rela kamu pergi. Aku sangat kesal saat membayangkan Aditia menyentuhmu nanti," ucap Dante.
"Meskipun begitu hatiku hanya untukmu mas," ujar Arinda.
"Tetap saja aku nggak rela. Aku mohon pilihlah aku jadi teman hidupmu secepatnya. Aku janji akan membahagiakanmu," ujar Dante.
"Mas. Kita sudah membahas ini puluhan kali, aku mohon mengertilah posisiku," ujar Arinda.
"Hah. Baiklah, hati-hatinya sayang," ucap Dante sembari mengusap puncak kepala Arinda.
"Ya." Jawab Arinda.
"Kamu yakin nggak mau aku antar sampai lorong itu?" tanya Dante.
"Ndak usah mas. Aku mau sendiri saja." Jawab Arinda yang kemudian menaiki motornya.
Arinda membunyikan klakson sebanyak satu kali, sebelum benar-benar pergi meninggalkan rumah Dante.
"Aku jadi kepikiran dengan ucapan mas Dante tadi. Bagaimana kalau mas Adit meminta haknya? sekarang dia sudah kerja, bagaimana kalau dia nyuruh aku nambah momongan lagi. Aku harus berjaga-jaga," batin Arinda.
Arinda memutuskan mampir ke apotik, dan membeli alat kontrasepsi. Setelah selesai, diapun pulang.
"Baru pulang?" tanya Aditia.
"Iya mas." Jawab Arinda.
"Itu kenapa rambutmu basah? kamu habis mandi?" tanya Aditia.
Deg
"I-Iya mas. Soalnya gerah banget. Jadi numpang mandi di pabrik." Jawab Arinda.
"Sana makan malam. Aku sama ibu sudah makan duluan. Nungguin kamu lama banget," ujar Aditia.
__ADS_1
"Nggak apa-apa mas," ujar Arinda yang kemudian masuk kedalam rumah.
Sesuai saran Aditia, Arinda memang langsung pergi ke dapur untuk makan malam. Perutnya lumayan sangat lapar, karena bertempur habis-habisan dengan Dante. Mengingat hal itu, Arinda jadi mengulum senyumnya. Ini percintaan terpanjang dan terpuas selama hidupnya.
Setelah selesai makan, Arinda berganti pakaian tidur. Tidak lupa dia juga memeriksa ditubuhnya, barangkali ada bekas percintaannya dengan Dante. Tidak berapa lama kemudian Aditia masuk kedalam kamar dan mengunci pintu.
"Kamu sudah selesai haidnya?" tanya Aditia.
"Su-Sudah." Jawaban Arinda cukup membuat Aditia memiliki alasan untuk melepaskan semua kain yang ada di tubuhnya.
Ingin rasanya Arinda menolak, sebab letih ditubuhnya akibat pertempurannya dengan Dante benar-benat belum hilang. Namun karena Arinda tahu durasi percintaannya dengan Aditia tidak berlangsung lama, Arinda dengan berat hati menyetujui keinginan suaminya itu.
"Tunggu mas. Tadi aku beli ini," ujar Arinda sembari menyodorkan alat kontrasepsi kon*om pada Aditia.
"Apa maksudnya ini?" tanya Aditia tidak senang.
"Aku ndak mau hamil lagi mas. Ini sedang masa suburku. Kalau sampai aku hamil lagi, aku nggak kuat kalau kerja lagi. Aku terpaksa berhenti." Jawab Arinda.
"Gawat kalau beneran Arinda berhenti kerja. Pohon duitku bisa hilang. Sebaiknya aku pakai saja," batin Aditia.
Aditia menyambar benda itu dari tangan Arinda, dengan wajah yang berpura-pura tidak senang. Dan sesuai dugaan Arinda, Aditia hanya menjadikannya landasan pacu tidak sampai 10 menit. Arinda yang kelelahan, langsung jatuh tertidur.
*****
Satu bulan kemudian....
"Apa ini mas?" tanya Arinda.
"Gaji pertamaku. Kamu atur aja buat kebutuhan rumah tangga, dan juga mengembalikan tabungan anak-anak," ujar Aditia.
Mata Arinda berbinar, dan menghitung uang yang diberikan suaminya.
"Sampeyan kasih aku semuanya mas?" tanya Arinda.
"Ya. Nanti kalau aku yang pegang, bisa khilaf. Kamu sisakan untukku sekitar 600 untukku beli bensin dan makan sebulan," ujar Aditia.
"Makasih ya mas," ucap Arinda sembari tersenyum.
"Hampir 3 tahun aku nggak pernah melihat senyummu itu. Baru hari ini setelah diberi duit, matamu sangat terang. Bahkan kunang-kunangpun kalah terangnya dari matamu," sindir Aditia.
"Sampeyan nyindir aku toh? ya mas tanya aja sama istri-istri temanmu itu. Kira-Kira kalau suaminya ndak ngasih duit bertahun-tahun, apa dia bakal senyum-senyum terus?" ujar Arinda.
"Heleh...bilang aja semua wanita mata duitan. Giliran lihat duit, ijo tuh mata," gerutu Aditia sembari melepas kemejanya.
Aditia kemudian masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan diri. Sementara Arinda memisahkan uang yang diberikan Aditia, untuk dia tabung kembali.
Sementara itu ditempat berbeda, Dante sedang menerima sebuah telpon dari orang tuanya yang ada di kota Padang.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum pa," sapa Dante diseberang telpon.
"Wa'alaikum salam. Dante, bisa kamu pulang? kapan kamu ambil cuti?" tanya Pak Damsi.
"Ada apa pa? kok tiba-tiba suruh Dante pulang?" tanya Dante.
"Mamamu sakit. Dia selalu menyebut namamu. Pulanglah sebentar." Jawab Pak Damsi.
Dante tampak terdiam. Pria itu seolah menimbang-nimbang sesuatu.
"Tapi mama nggak apa-apa kan?" tanya Dante.
"Kita nggak tahu umur. Mana papa tahu apa yang mamamu rasakan sebenarnya." Jawab Pak Damsi.
"Ya sudah hari minggu nanti aku pulang," ujar Dante.
"Janji ya lusa kamu pulang?" tanya Damsi.
"Iya pa. Aku harus minta cuti dulu." Jawab Dante.
Setelah berbincang cukup lama, panggilan itu akhirnya berakhir.
"Mas. Aku berangkat kerja dulu ya!" teriak Arinda.
"Iya." Jawab Aditia.
Arinda yang kebagian shif malam, segera pergi dari rumahnya. Saat tiba di parkiran, terlihat Dian dan Mia tengah berbincang disana.
"Ada gosip apaan?" tanya Arinda.
"Nih," Mia memamerkan akta cerai yang dia peroleh kemarin.
"Woah...selamat ya mbak. Baru kali ini aku senang lihat teman aku resmi jadi janda," ucap Arinda sembari terkekeh.
"Kamu kapan nyusulnya?" tanya Mia.
"Ndak tahu mbak. Ditambah mas Adit sekarang sudah kerja. Ndak ada alasan buat aku minta cerai sama dia." Jawab Arinda.
"Lah udah tahu gitu kamu masih mau mempertahankan hubunganmu sama Dante?" tanya Dian.
"Ya gimana mbak? ini masalah hati'e. Mas Adit emang udah kerja, tapi aku ndak cinta lagi sama dia mbak. Hatiku sudah dipenuhi oleh mas Dante." Jawab Arinda.
"Ya ampun Rin. Sebenare aku takut loh lihat kamu menangis pada akhirnya. Biasanya hubungan seperti itu ndak akan awet. Apalagi kalian sudah sering melakukan itu toh?" tanya Dian yang membuat kepala Arinda mengangguk.
"Sebaiknya perlahan kamu mulai menjauhi Dante. Ini demi anak-anakmu Rin. Atau kamu cerai dari Aditia, dan menikah dengan Dante. Mumpung hubunganmu sama dia lagi hot-hotnya. Takut dia keburu bosan, dan mencari wanita lain," ujar Mia.
"Kok sampeyan gitu mbak ngomongnya? mas Dante itu sayang sama aku. Dia serius sama aku," ucap Arinda.
__ADS_1
Ucapan Arinda membuat bola mata kedua sahabatnya memutar dengan malas.