SALAHKAH AKU SELINGKUH?

SALAHKAH AKU SELINGKUH?
Bab.67. Sebagai Saksi


__ADS_3

Dua hari kemudian...


Tok


Tok


Tok


Ceklek


Arinda cukup terkejut, karena di hadapannya sudah ada dua orang polisi.


"Maaf dengan ibu Arinda?" tanya Polisi.


"Benar pak. Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya Arinda.


"Ini surat peritah dari kepolisian, bahwa ibu di suruh datang ke kantor untuk memberikan keterangan di kantor polisi, untuk kasus kematian saudara Aditia." Jawab Polis.


"Baik pak, saya bersiap dulu sebentar," ujar Arinda.


Arinda kemudian masuk kedalam dengan jantung berdebar-debar. Setelah selesai berpakaian, Arinda kemudian ikut ke kantor polisi untuk memberikan keterangan.


"Mas. Kamu dimana? aku sekarang sama polisi pergi ke kantor polisi untuk memberikan keterangan," chat Arinda.


Dante yang tengah ada di kantor, sudah mengetahui hal itu.


"Aku sudah tahu. Jangan takut, kamu jawab saja apa adanya," balas Dante.


"Iya mas," balas Arinda..


Arinda cukup merasa tenang, saat mendapat balasan dari Dante. Setelah menempuh perjalanan hampir 15 menit, Arindapun tiba di kantor polisi. Dante memberikan senyuman untuk Arinda, agar pujaan hatinya itu semangat saat menjawab semua pertanyaan Polisi.


Arinda kemudian dibawa ke ruangan khusus, untuk menjawab pertanyaan.


"Ibu Arinda. Apa hubungan anda dengan saudara Aditia?" tanya Polisi.


"Dia mantan suami saya pak. Saya sudah bercerai dari dia sekitar 4 bulan yang lalu." Jawab Arinda.


"Apa penyebab dari perceraian anda?" tanya Polisi.


"Sudah tidak ada kecocokan lagi pak." Jawab Arinda.


"Kami ingin yang spesifik. Kalau itu jawaban yang umum sebagai alasan," ujar Polisi.


"Dia tidak memberikan nafkah pada saya lebih dari dua tahun pak. Dia juga memiliki kebiasaan buruk sering berjudi." Jawab Arinda.


"Kapan terakhir anda bertemu dengan saudara Aditia?" tanya Polisi.


"Sekitar 4 bulan yang lalu pak. Kami bertemu saat sidang putusan perceraian kami." Jawab Arinda.


"Apa anda pernah terlibat cekcok dengan dia akhir-akhir ini? lewat sambung telpon barangkali?" tanya Polisi.


"Tidak pak. Seperti yang saya bilang tadi, saya terakhir bertemu dengan dia saat sidang putusan perceraian kami. Setelah itu saya tidak pernah bertemu dan tidak pernah bicara lewat telpon sama dia." Jawab Arinda.


"Apa anda tahu bagaimana pergaulan beliau selama ini? apa perceraian anda tidak ada sangkut pautnya dengan orang ketiga?" tanya Polisi.


Untuk sesaat jantung Arinda terasa berhenti berdetak, saat mendengar pertanyaan itu.


"Tidak pak. Pergaulan mas Adit juga biasa saja." Jawab Arinda.


"Apa anda tahu kalau saudara Adit di curigai memiliki hubungan khusus dengan sesama pria? apa anda tahu siapa saja teman laki-laki yang dekat dengan dia? karena hasil outopsi menyatakan, ada kuman disekitar anusnya. Dan juga ada sisa sp*rma didalam anusnya," tanya Polisi.


"Ap-Apa? nggak mungkin mas Adit homo pak. Kenapa langsung kecurigaan mengarah kesana? kenapa tidak curiga, kalau dia meninggal karena aksi sodomi saat kejadian terjadi," tanya Arinda yang merasa syok dengan pernyataan Polisi.


"Ini hanya dugaan sementara. Kami juga tengah mendalami kasus ini." Jawab polisi.


"Tapi apa benar ya yang dikatakan polisi? soalnya ibu Aditia juga bilang, kalau sekarang Aditia sudah banyak uang. Bisa jadi dia mendapatkan uang dengan cara jadi simpanan om-om yang punya kelainan seksual. Tapi..."


"Ah...rasanya nggak mungkin mas Adit begitu. Aku tak percaya dia begitu," batin Arinda

__ADS_1


Sementara Arinda yang di introgasi, dilain tempat Suryo tengah murung. Meski dirinya belum sepenuhnya sembuh dari kelainan yang dialaminya, tapi Suryo sangat sedih mendengar Aditia sudah tiada. Bahkan sebelum Aditia pulang dari rumahnya malam itu, Aditia dan dirinya sempat melakukan hubungan seksual sebanyak satu kali setelah sekian lama tidak pernah melakukan hal itu. Namun dia sangat terkejut, saat keesokan harinya dia mendengar berita kematian Aditia.


"Entah siapa yang memiliki dendam sama kamu Aditia. Aku berterima kasih banyak sama kamu, karena kamu sudah mengajarkan aku banyak hal. Ternyata usia tidak menjamin cepat mati. Usiamu masih sangat muda, tapi kamu lebih dulu pergi dariku. Aku bersumpah akan menjadi orang yang lebih baik lagi dari sekarang," gumam Suryo.


"Mungkin pergi ke toko bisa membuat aku melupakan hal ini," Suryo memutuskan pergi ke toko untuk menghilangkan stres yang dia hadapi saat ini. Namun saat diperjalanan menuju toko, Tidak sengaja dia menabrak seseorang karena terlalu asyik melamun.


"Aduh maaf mbak saya nggak sengaja," ucap Suryo.


"Aduh...sakit....hiks. Bagaimana ndak sengaja sih mas? badanku sebesar ini, motor sebesar ini, masak ndak kelihatan? aduh pingganggu mesti potel ini," ucap Mia.


"Maaf ya mbak. Saya sedang melamun karena banyak pikiran. Ayo kita pergi ke rumah sakit aja," ujar Suryo.


"Ndak usah. Antar saya pulang ke rumah saya aja pak. Anak saya mesti nungguin saya di rumah. Dia belum makan soalnya," ujar Mia.


"Tapi bagaimana motorku ya? ban nya sampai penyot begini mas. Tak kira tadi aku hampir inalillahi," sambung Mia.


"Soal motor nanti biar montir langganan saya yang ambil kesini. Sekarang kita ke klinik dulu sebentar ya mbak, takutnya ada apa-apa. Setelah itu baru saya antar pulang," ujar Suryo.


Mia mencoba berdiri, namun ternyata kakinya benar-benar kesleo.


"Hiks...aku ndak bisa berdiri mas," ucap Mia sembari terisak.


Suryo dengan tangkas menggendong Mia, yang membuat ibu dari satu anak itu sedikit terkejut. Suryo meletakan Mia di kursi sebelah supir. Dan diapun membawa Mia ke rumah sakit.


"Ini ibunya kesleo. Tapi nanti akan diterapis dengan ahlinya. Mudah-Mudahan cepat sembuh," ujar dokter.


"Terima kasih dok," ucap Suryo.


"Saya sarankan istri bapak dirawat inap ya pak. Biar istirahat dulu, dan kami bisa melakukan pemeriksaan menyeluruh," ujar dokter.


"Tapi saya bukan...."


"Terima kasih dok. Biar istri saya diberi kamar yang terbaik disini," ujar Suryo yang membuat Mia jadi melotot.


"Baik. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap dokter.


Setelah dokter pergi, Mia langsung mengeluarkan taringnya.


"Kok sampeyan buat keputusan sendiri sih mas? kalau aku dirawat, aku bagaimana kerjanya? hari ini aku masuk malam. Terus anakku siapa yang ngurus kalau aku dirawat? sampeyan kok seenaknya ngomong begitu?" tanya Mia.


"Emang kalau pulang, kamu yakin bisa masuk kerja? kamu tegak saja nggak bisa. Kamu khawatir sama anakmu, emang suamimu nggak bisa gantian jaga anak kamu?" tanya Suryo.


"Aku janda anak satu. Jadi ndak ada yang ngurus anakku. Kalau aku ndak masuk kerja l, nanti gajiku di potong," ujar Mia.


"Aku yang akan menggantinya. Pokoknya kamu harus sembuh dulu, baru boleh pulang," ujar Suryo.


"Tapi bagaimana dengan anakku mas?" tanya Mia.


"Kalau kamu percaya padaku, aku yang akan mengurusnya. Apa kamu sudah tidak punya keluarga yang lain lagi?" tanya Suryo yang dijawab gelengan kepalanya.


"Mantan suamimu nggak tanggung jawab dengan anaknya?" tanya Suryo yang kembali dijawab gelengan kepala.


"Kalau begitu biarkan aku yang mengurus anakmu sementara waktu, sampai kamu sembuh," ujar Suryo.


"Tapi pasti ngerepoti sampeyan mas. Belum lagi istri sampeyan pasti keberatan," ujar Mia.


"Aku nggak punya istri, soalnya aku masih bujangan." Jawaban Suryo malah ditertawakan oleh Mia.


"Kenapa kamu tertawa?" tanya Suryo.


"Ups...maaf ya mas. Habisnya ndak masuk akal. Sampeyan terlihat kaya, ganteng lagi. Kok bisa belum menikah? sampeyan terlalu pilih-pilih pasti." Jawab Mia.


"Kalau begitu kamu mau jadi istriku?" pertanyaan Suryo yang spontan membuat Mia jadi terdiam.


"Ngawur sampeyan ngomongnya mas," ujar Mia.


"Loh kenapa?" tanya Suryo.


"Sampeyan itu punya segalanya. Masih bisa dapat gadis. Kok maunya sama janda, punya bonus satu lagi." Jawab Mia.

__ADS_1


"Lagipula mana bisa tiba-tiba begitu. Aku ndak mau menikah tanpa cinta. Kedengarannya juga lucu. Baru ketemu beberapa menit sudah diajak nikah. Kelihatan sampeyan itu modusnya. Jangan-Jangann sebenarnya sampeyan itu sudah punya banyak istri, malah ngakunya bujangan," sambung Mia.


"Tapi aku sungguh-sungguh," ujar Suryo.


"Eh? nggak mau ah mas...sampeyan itu orang aneh. Jangan-Jangan sampeyan sengaja ya nabrak aku karena pengen modus?" tanya Mis.


Suryo menghela nafas panjang, dan memasang wajah sedih. Melihat kesedihan di wajah Suryo, Mia jadi merasa tidak enak hati.


"Susah sekali mencari jodoh. Bahkan janda anak satupun nggak mau sama aku. Terus kalau dia tahu aku mantan gay? pasti dia tambah kabur. Bagaimana caraku agar bisa mendapatkan keturunan kalau seperti ini?" batin Suryo.


"Mas. Mas kenapa? maaf ya, maaf tersinggung sama ucapan aku ya?" tanya Mia.


"Tidak. Aku cuma berpikir, kenapa aku sangat sulit mencari jodoh. Dan ini pula yang menyebabkan aku...."


"Ah ya sudahlah. Aku juga memang aneh sih. Kita baru ketemu, tapi sudah bicara seperti itu. Kamu pasti ketakutan jadinya," sambung Suryo.


"Jadi sampeyan benar-benar ndak punya istri mas? kok bisa sih mas? sampeyan sepertinya banyak duit, ganteng lagi," tanya Mia.


"Dulu saya nggak percaya diri, karena saya punya kekurangan." Jawab Suryo.


"Kekurangan? kekurangan apa mas?" tanya Mia.


"Emmm...emm...a-aku kalau main nggak bisa lama." Jawab Suryo dengan wajah memerah.


"Ta-tapi sekarang nggak lagi kok. Aku sudah ngetesnya kok," sambung Suryo.


"Ngetes? ternyata meski ndak pernah nikah, tapi sampeyan penjahat kelamin seperti mantan suamiku," ujar Mia.


"Nggak bukan seperti itu. Emm...sebenarnya, a-aku mantan gay," ucapan Suryo membuat mata Mia terbelalak lebar.


"Kamu pasti memandangku sebelah mata ya? tapi aku sudah nggak gitu lagi kok. Aku sudah janji mau berubah. Karena aku juga takut terkena penyakit aneh," sambung Suryo.


"Ya bagus deh kalau sampeyan mau berubah mas. Mungkin dimasa depan ada yang mau menerima sampeyan apa adanya," ujar Mia.


"Tapi sepertinya sulit. Kamu saja menolakku," ujar Suryo yang lagi-lagi memasang wajah sedih.


"Aku bukan menolak sampeyan mas. Aku yo kaget, kalau sampeyan tiba-tiba ngajak nikah gitu," ujar Mia.


"Jadi kamu mau kasih aku kesempatan?" tanya Suryo semringah.


"Tapi aneh ndak sih mas? kita kan baru ketemu," tanya Mia.


"Nggak ada yang nggak mungkin. Siapa tahu ini memang sudah ditakdirkan Tuhan. Nanti kalau saat di perjalanan kamu merasa tidak cocok, kamu juga boleh mundur. Aku tidak akan memaksamu. Aku ingin pasanganku merasa nyaman saat bersamaku," ujar Suryo.


"Mia. Kamu tahu sendiri masa lalu kelamku. Aku berhenti jadi gay baru sekitar 4 bulan ini. Ini pasti tidak akan mudah kedepannya buat aku dan kamu. Tapi aku bisa pastikan sama kamu, kalau aku tidak akan pernah kembali ke masa lalu. Aku sudah menyadari kalau aku sudah tua, sementara kamu masih berusia 28 tahun. Itu seperti anugrah buat aku. Apa kamu bisa tahan kalau ada selentingan dari masalalu membayangi masa depan kita?" tanya Suryo.


"Kamu juga harus tahu mas. Kenapa aku bercerai dari mantan suamiku. Itu karena dia suka bermain perempuan. Bahkan dua tetanggaku juga dia hamili. Aku nggak bisa menerima penghianatan dalam bentuk apapun mas. Aku sudah trauma karena sering disakiti. Aku selalu berdo'a sama Tuhan, kalau suatu saat diberikan jodoh lagi, aku minta diberikan pria yang sayang sama aku dan anakku. Aku ndak perlu pria kaya, tapi laki-laki yang menjunjung tinggi arti pernikahan dan sayang keluarga." Jawab Mia.


"Ini masih terasa aneh sih menurutku. Pertemuan tidak sengaja ini terasa mimpi. Tapi aku setuju dengan sampeyan, mungkin saja ini takdir," ujar Mia.


"Kalau begitu bagaimana kalau kita kencan dalam sebulan. Kalau kamu yakin sama aku, kamu bisa menerima lamaranku di akhir bulan. Tapi kalau kamu merasa tidak cocok, kamu bisa berhenti meski dipertengahan bulan sekalipun," ujar Suryo.


"Ya aku setuju," ujar Mia.


"Sekarang lebih baik kamu istirahat ya!" ujar Suryo.


"Tapi mas anakku...."


"Aku akan menjemputnya sekarang, dan tinggal di rumahku," ujar Suryo yang membuat Mia terdiam ragu.


"Kenapa? kamu ragu dan takut ya? tenang aja, aku bukan penculik. Ini alamat rumahku," ujar Suryo sembari menyodorkan kartu namanya.


"Emm...bagaimana kalau mas saja yang nginap di rumahku? aku perlu bicara dengan Ferdy," ujar Mia yang masih meragukan Suryo.


"Baiklah. Berapa nomor WA mu? nanti kamu kirim saja alamat rumahmu lewat chat," ujatlr Suryo.


"Makasih ya mas," ucap Mia.


Mia kemudian memberikan nomor ponselnya dan langsung mengirimkan alamat rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2