
Dante beranjak dari atas tubuh Arinda, dan meraih handuk untuk menutupi tubuh kekasihnya yang hampir polos itu. Arinda bergegas mengenakan pakaian, karena dia tidak ingin membuat Dante bertambah frustasi.
Griyyuuttt
Arinda mencubit kedua pipi Dante dengan lembut, sembari terkekeh.
"Sebaiknya mas mandi dulu ya! biar pikiran mesumnya jadi tenang," ujar Arinda.
"Mandikan aku!" ucap Dante.
"Eh? jangan ngawur sampeyan mas. Aku tunggu sampeyan di meja makan. Aku sudah masak makanan spesial buat sampeyan," ujar Arinda.
"Makanan spesial?" tanya Dante.
"Emm...anggap ini untuk merayakan hari jadian kita." Jawab Arinda.
Dante menyunggingkan senyumnya, saat mendengar ucapan Arinda.
"Kalau begitu kamu tunggu aku di meja makan! aku mau mandi dulu sebentar," ujar Dante sembari melepaskan pakaiannya di hadapan Arinda. Kini giliran Arinda yang terpana melihat bentuk tubuh Dante yang terlihat gagah dan jantan.
"Sepertinya ada yang terpesona," sindir Dante saat melihat Arinda yang terus menatap tubuhnya.
"Apaan sih?" Arinda langsung keluar kamar dengan pipi merona. Sementara Dante jadi tertawa keras.
Arinda menutup pintu dan bersandar disana sembari mengelus dadanya.
"Bagaimana mungkin aku tidak jatuh cinta sama mas Dante kalau dia sangat sempurna seperti itu. Oh ya, aku belum pernah bertanya padanya tentang masa lalunya ataupun kehidupan asmaranya. Kenapa di usia 30 tahun, dia belum berpikir buat menikah. Mungkin perlahan aku bisa mengorek-ngorek informasi darinya,"batin Arinda.
Setelah menunggu hampir 20 menit, Dante akhirnya keluar dari kamar dengan pakaian santainya.
"Cium aku," ujar Dante sembari menunjuk kearah pipinya.
"Eh?" Arinda merasa herap.
"Ayo cium aku sayang!" ulang Dante.
Cup
Arinda mencium pipi Dante, yang membuat pipinya kembali merona.
"Wangi tidak?" tanya Dante sembari menaik turunkan alisnya.
"Ih...mas Dante nyuruh aku cium, cuma buat nanya itu?" bibir Arinda mengerucut.
"Emang apa lagi. Hem? kamu sekarang lagi haid, kita nggak bisa melakukan hal lebih dari itu," ujar Dante.
"Mas. Kalau ngomong mbok ya jangan terang-terangan begitu. Aku malu mas," ucap Arinda.
"Kenapa harus malu? kita sama-sama menginginkannya," ujar Dante sembari menyendokkan nasi kedalam piringnya.
"Mas...." mata Arinda mengerling.
__ADS_1
"Hah. Ya sudahlah, ayo kita fokus menikmati makanan lezat ini. Rasanya sangat bahagia sekali kalau saat pulang kerja disambut istri yang cantik, dapat ciuman mesra, dan juga masakkan lezat setiap hari. Kapan ya aku bisa merasakan itu?" ucapan Dante membuat Arinda jadi tidak enak hati.
"Mas jangan terpaku dengan hubungan kita. Kalau diperjalanan hubungan kita mas menemukan gadis yang cocok, mas boleh menikahi dia," ujar Arinda dengan berat hati.
Dante berhenti menyuapkan makanan kedalam mulutnya, saat mendengar ucapan Arinda.
"Apa maksudmu? apa kamu pikir hubungan kita tidak punya arti apa-apa? sebenarnya kamu menganggap hubungan kita seperti apa?" tanya Dante dengan wajah tidak senang.
"Eh? a-aku ndak tahu mas, aku bingung. Yang pasti aku ingin yang terbaik buat sampeyan. Aku ndak mau egois mengekang sampeyan hanya boleh mencintaiku. Meskipun sebenarnya...."
"Sebenarnya apa?" tanya Dante.
"Aku ndak rela sampeyan dimiliki wanita lain. Aku pasti akan cemburu. Tapi aku harus tahu diri kan mas?" ucap Arinda sembari meremas jari-jarinya.
"Kalau begitu jangan pernah menyuruhku untuk mencari wanita lain. Kalau aku mau, dari dulu aku bisa mendapatkan wanita manapun yang aku mau," ujar Dante.
"Iya. Maaf ya mas," ucap Arinda.
Dante menggenggam kedua tangan Arinda, sembari menatap lekat mata kekasihnya itu.
"Aku sangat mencintaimu. Meskipun saat ini kamu masih meragukanku, tapi itu nggak masalah. Aku bisa membuktikannya secara perlahan," ujar Dante yang kemudian mencium tangan Arinda.
"Mas. Apa selama hidup mas ndak pernah pacaran?" tanya Arinda.
"Pernah." Jawab Dante sembari melanjutkan makan.
"Berapa kali?" tanya Arinda.
"Kapan terakhir mas Dante pacaran? apa saja yang mas lakukan sama dia?" tanya Arinda.
Dante kembali menatap wajah Arinda.
"Jangan menanyakan hal yang bisa membuat moodmu berubah," ujar Dante.
"Tapi aku mau dengar mas. Bukankah suatu hubungan akan berjalan baik kalau ndak ada rahasia diantara kita?" tanya Arinda.
"Jadi kamu ingin kita saling terbuka satu sama lain?" tanya Dante.
"Aku juga ingin kita jujur satu sama lain." Jawab Arinda.
"Oke. Aku setuju," ujar Dante.
"Ya terus apa jawabannya yang tadi?" tanya Arinda.
"Aku berpacaran dengan seorang gadis 5 tahun yang lalu. Namanya Farah Amelia. Kami berpacaran selama 2 tahun, dan putus karena sudah tidak cocok." Jawab Dante.
"Terus kalian pernah ngapain aja?" tanya Arinda.
"Ciuman dan minum susu cap nona." Jawab Dante yang membuat mata Arinda jadi terbelalak.
"Tuh kan. Aku sudah bilang jangan bahas masalah seperti ini. Ujung-Ujungnya hatimu jadi nggak senang," sambung Dante.
__ADS_1
"Benar kata mas Dante. Aku jadi cemburu saat membayangkan apa yang dia katakan. Padahal kan itu hanya masa lalu. Lalu bagaimana perasaan mas Dante saat membayangkan mas Adit meniduriku," batin Arinda.
"Lalu kamu sendiri bagaimana?" tanya Dante.
"Apanya?" tanya Arinda.
"Kapan terakhir kali ditiduri oleh Aditia?" tanya Dante.
"Eh? a-apa aku harus jawab mas?" tanya Arinda.
"Loh kenapa? kan kamu sendiri yang bilang kalau kita harus saling terbuka?" Tanya Dante.
"Ke-kemarin." Jawab Arinda tertunduk.
Wajah Dante sudah berubah jadi masam, yang membuat Arinda jadi tidak enak hati.
"Berapa kali bulan ini kamu ditiduri?" tanya Dante.
"Mas...."
"Jawab saja." Ujar Dante.
"Du-Dua kali." Jawab Arinda.
"Dua kali?" Dante terkejut.
"Emm." Arinda mengangguk.
"Bulan kemarin?" tanya Dante.
"Ndak sama sekali." Jawab Arinda.
"Kok bisa? apa suamimu itu sangat payah? kamu cantik dan menggairahkan, kenapa dia tidak bernafsu seperti itu?" tanya Dante.
"Mas...."
"Hah. Baiklah! aku cuma heran saja. Aku membayangkan aku yang menjadi suamimu. Pasti disetiap waktu senggang aku akan melakukannya," ujar Dante yang membuat wajah Arinda jadi merona.
Arinda menyuapkan makanan dan mengunyahnya perlahan.
"Mungkin kalau diladeni, dia akan melakukan hal yang sama seperti apa yang kamu katakan. Dulu saat baru menikah, dia juga begitu. Tapi sekarang berbeda. Aku yang menolaknya, dan itulah yang menyebabkan wajahku jadi memar-memar," ujar Arinda.
"Apa? jadi wajahmu begitu karena menolak...."
"Emm. Aku memang berdosa karena menolak ajakkannya, meskipun pada akhirnya tetap terjadi dengan cara di perkosa. Aku tidak tahu kenapa, aku merasa jijik saat dia menyentuhku. Mungkin karena aku sudah terlanjur membencinya," ujar Arinda.
"Hah. Harusnya aku ndak boleh membuka aib suamiku, tapi mau bagaimana lagi. Aku ndak lega kalau tidak menceritakannya," sambung Arinda.
"Kenapa anak menjadi penghalang untukmu bahagia? andai anak-anak sudah besar nanti, mereka pasti akan mengerti kenapa kamu mengambil keputusan itu," ujar Dante.
"Mereka memang pasti mengerti, tapi luka dihati mereka pasti akan membekas. Tapi aku ndak tahu juga sampai kapan prinsip itu bertahan mas. Aku cuma manusia biasa," ujar Arinda.
__ADS_1
Dante mengelus pipi Arinda dengan lembut sembari tersenyum.