SALAHKAH AKU SELINGKUH?

SALAHKAH AKU SELINGKUH?
Bab.24. Penuh Selidik


__ADS_3

Arinda mendekat kearah Dian dan Mia dengan langkah gamang. Terlebih tatapan kedua sahabatnya itu menatap kearahnya dengan tatapan penuh selidik.


"Emm..a-ayo kita masuk! sebentar lagi akan masuk kerja," ujar Arinda.


.


"Tunggu!" langkah kaki Arinda terhenti, saat Dian menghentikannya.


Perlahan Arinda berbalik badan, sembari meremas tali tas selempangnya.


"Kamu sudah jadian dengan Dante? kenapa dia kesini? bukannya kata kamu akan menghindar dari dia?" tanya Dian bertubi-tubi.


"Iya Rin. Kenapa dia masih nemuin kamu?" timpal Mia.


"Bagaimana caraku melarangnya buat menemuin aku? dia bilang kalau diwaktu libur aku nggak nemuin dia, maka mas Dante yang akan nemuin aku kerumah? piye kalau sampai itu terjadi mbak? bisa mati aku dihajar mas Adit," ucap Arinda.


"Jadi maksudmu bagaimana toh Rin? kamu ndak mau cerai dari Adit, tapi dibelakangnya kamu jalan sama Dante? jadi kamu mau selingkuh?" tanya Dian.


"Wah...ndak bisa begitu Rin. Meski Adit bajingan, tapi aku tahu betul rasanya dikhianati. Mending kamu minta cerai dari Adit, setelah itu baru kamu bisa menjalin hubungan dengan Dante," timpal Mia.


"Aku belum ada niat kesana mbak. Aku ndak tahu akan jadi seperti apa kedepannya. Aku juga bingung, tapi tadi mas Dante sudah bisa memaksaku buat ngungkapin perasaanku sama dia," ujar Arinda.


"Jadi kamu sudah bilang kalau kamu mencintainya?" tanya Mia yang dijawab anggukkan kepala oleh Arinda.


Dian dan Mia kompak menghembuskan nafas panjang.


"Ya sudahlah. Mau bagaimana lagi kalau kamu sudah mengambil keputusan seperti itu. Tapi percaya sama mbak. Kalau kamu sampai ketahuan Aditia, itu juga ndak akan baik untuk semuanya," ujar Dian.


"Mbak Mia sendiri bagaimana kemarin? bojo sampeyan nikah toh kemarin?" Arinda sengaja megalihkan pembicaraan.


"Ya semua berlalu dengan baik. Aku sama sekali ndak perduli dia mau ngapain aja dengan bocah itu. Sekarang aku akan fokus membesarkan anak dan juga mencari suami baru." Jawab Mia.


"Emangnya akta ceraimu sudah keluar Mi?" tanya Dian.


"Ya belum Di. Surat gugatan cerai aja belum tak kasih ke pengadilan. Rencananya pas libur nanti baru aku akan kepengadilan lagi." Jawab Mia.


"Kamu benar-benar ndak punya rencana buat pindah? memangnya kamu kuat melihat kemesraan mantan suamimu itu?" tanya Dian.


"Alah...Lastri itu bukan satu-satunya saingan cintaku. Mungkin ada puluhan di rumah bordil sana. Si Lastri sama sekali ndak membuatku terpengaruh ataupun cemburu. Aku malah bersyukur dia mau memungut laki-laki sampah itu." Jawab Mia.


"Ngomong tentang laki-laki sampah, ayo kita masuk kerja dulu. Nanti pas istirahat kita lanjut lagi gosipnya," ujar Arinda.


"Ya sudahlah ayo!" ujar Dian.


Arinda, Dian dan Mia masuk ke dalam pabrik, untuk kembali bekerja. Saat jam istirahat tiba, tiba-tiba ponsel kecilnya berdering.


"Mas Dante? kenapa dia nelpon?" batin Arinda saat dia akan pergi ke kantin bersama teman-temannya.

__ADS_1


"Ha-Hallo mas?"


"Sayang. Kamu sudah makan siang belum?" tanya Dante diseberang telpon.


"Ini baru mau ke kantin sama teman-teman." Jawab Arinda.


"Mau makan berdua di luar sama aku?" tanya Dante.


"Ndak usah mas. Aku tak pergi ke kantin saja. Ndak enak sudah di tunggui sama teman-temanku." Jawab Arinda.


"Kapan kamu libur?" tanya Dante.


"Be-Besok." Jawab Arinda.


"Ingat janjimu. Kamu harus datang ke rumahku ya! tidak perlu pagi, datang pas jam makan siang saja," ujar Dante.


"Tapi mas aku...."


"Nggak boleh ingkar janji. Atau aku jemput ke rumahmu?" tanya Dante.


"Eh? n-ndak perlu. Biar aku datang sendiri saja." Jawab Arinda.


Dante tersenyum mendengar jawaban Arinda.


"Ya sudah kamu makanlah. Aku juga mau lanjut kerja," ujar Dante.


"Jangan pikirkan itu. Biarkan itu menjadi urusanku." Jawab Dante.


"Hah. Baiklah, aku makan dulu ya mas!" ujar Flower.


"Ya. I love you," ucap Dante.


"Eh? emmm...."


"Kok nggak dijawab?" tanya Dante.


"I-I love you too." Andai Dante tahu, saat ini pipi Arinda merona merah. Dia benar-benar malu saat ini.


"Sayang. Nanti aku belikan ponsel android ya? agar aku bisa melihat ekspresimu yang malu-malu itu," ujar Dante.


"Ndak usah mas. Punya hp bagus juga buat apa. Nanti mas Adit akan mencurigaiku. Aku ndak mau ribut sama dia lagi, capek." Jawab Arinda.


"Ckk...sayang. Kapan kamu bercerai dari suamimu? aku tidak tahan melihatmu tersiksa seperti ini," tanya Dante.


"Aku ndak apa-apa mas. Yang penting anak-anakku statusnya masih punya bapak. Kalau cerai kasihan anak-anakku mas." Jawab Arinda.


Kali ini Dante terdengar menghembuskan nafas kasar. Dia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Arinda yang menurutnya terlalu lempeng menjalani hidup.

__ADS_1


"Ya sudah makanlah! da...sayang," ujar Dante.


"Bye mas," ucap Arinda.


Arinda lagi-lagi mendapat tatapan aneh dari kedua sahabatnya. Arinda segera memasukkan ponsel unyilnya kedalam saku celananya, dan kemudian dia ikut bergabung duduk bersama teman-temannya.


"Dari pacar baru?" ledek Mia.


"Jangan begitu bilangnya mbak. Sumpah isin tenan aku'e." Jawab Arinda.


"Kenapa harus malu? itu sudah jadi pilihanmu. Tapi awas saja, berani bermain api juga harus berani jika suatu saat terbakar," ujar Dian.


"Setelah ku pikir-pikir ya mbak. Mungkin ini caraku melampiaskan dendamku karo mas Adit. Yo emang carane salah, tapi rasane atiku lego legowo," ujar Arinda.


"Terus bagaimana dengan anakmu?" tanya Dian.


Ditanya soal anak, tentu saja Arinda jadi terdiam. Tentu saja dia merasa sangat bersalah pada dua buah hatinya itu.


"Hati nuraniku belum semati itu mbak. Tentu saja aku merasa beban moral kalau teringat dengan anak-anak. Tapi setelah aku pikir-pikir, aku juga berhak bahagia toh? ya...meski caraku memang ndak di benarkan." Jawab Arinda.


"Kalau begitu tanyakan sama Dante. Apa di tempat kerjanya dia ndak punya teman? kenalkan buat aku," ujar Mia.


"Kok kamu melu-melu ngawur si Mi?" tanya Dian.


"Lah. Aku kan wes cerai Di." Jawab Mia.


"Oh iya lupa," Dian nyengir.


"Itu tangan sampeyan kenapa lagi?" tanya Arinda sembari menunjuk kearah tangan Dian dengan bibirnya.


"Biasa, kena hajar maning." Jawab Dian sembari menyuapkan nasi dengan orek tempe.


"Haduh...salut aku karo sampeyan mbak. Sampeyan rajin-rajin ibadah sama baca kitab. Kalau sampeyan sesabar itu bisa masuk suargo bulet-bulet tanpa dihisab," ledek Arinda.


"Sayange ndak'e. Turun sholat pas sholat ied aja. Itupun setahun sekali belum tentu," ujar Mia sembari terkekeh.


"Neraka dong," Arinda tertawa.


"Kalian ngeledek aku, nanti di neraka kita ketemu lagi. Kita ini tiga serangkai tak terpisahkan," ujar Dian yang membuat ketiganya terkekeh.


Teng


"Yah...sudah masuk aja. Perasaan kita baru keluarnya," ujar Arinda.


"Itu perasaanmu kareka terlalu lama telponan sama Dante," ujar Mia.


"Halah...ngeledek aku terus mbak Mi. Tunggu sampai sampeyan ketemu gebetan anyar, tak ledek habis-habisan sampeyan," ujar Arinda yang membuat Mia terkekeh.

__ADS_1


Setelah selesai membayar makanan dan minuman, merekapun kembali masuk bekerja untuk menjalani rutinitas seperti biasanya.


__ADS_2