SALAHKAH AKU SELINGKUH?

SALAHKAH AKU SELINGKUH?
Bab.72. Bahagia


__ADS_3

Ceklek


Mata Arinda dan Dante saling bersitatap satu sama lain, saat pria itu memasuki rumah. Sementara Arinda baru saja keluar kamar, setelah mendengar deru motor suaminya.


Klontangg


Ting


Ting


Sebuah cincin mendarat di lantai, setelah Arinda melemparkan sebuah cincin pada Dante yang tengah menggunakan seragam Polisi itu. Dante kemudian memungut cincin itu, dan mendekati Arinda perlahan.


"Berikan alasan yang masuk akal, agar aku bisa menerima alibimu mas. Katakan padaku! kenapa cincin kawin mas Adit bisa ada di tanganmu," tanya Arinda.


Dante terdiam sesaat, sebelum akhirnya Arinda kembali bersuara.


"Jangan lagi kamu kasih alasan, kamu mendapatkannya saat pengambilan mayat mas Adit dari parit itu. Karena aku ingat dengan jelas, kalau saat itu mas Adit tidak mengenakan apapun dijarinya sebelum polisi datang," sambung Arinda yang membuat Dante terhenyak.


"Katakan mas! katakan kalau apa yang ada dalam pikiranku tidak benar. Katakan mas!" ucap Arinda dengan air mata yang sudah meleleh dipipinya.


"Kamu benar Rin. Aku yang sudah membunuh Aditia." Jawaban Dante seperti sambaran petir bagi Arinda.


"Ap-Apa?" bibir Arinda bergetar.


"Ya itu benar. Tapi aku tidak sengaja melakukannya. Percayalah padaku," ujar Dante sembari memegang erat kedua bahu Arinda.


Arinda bergegas menghempaskan kedua tangan Dante.


"Dasar pembunuh kamu mas! setelah apa yang terjadi? setelah aku mendapat tuduhan dari mantan mertuaku? setelah aku diintrogasi puluhan pertanyaan? kamu nggak jujur sama aku mas? tega kamu mas!" hardik Arinda.


"Sayang. Dengarkan dulu penjelasanku. Aku tidak sengaja melakukannya," ucap Dante sembari mengekor dibelakang Arinda yang bergegas masuk kamar.


"Aku ndak bisa hidup sama pembunuh berdarah dingin seperti kamu mas. Kamu melakukannya karena cemburu toh? keterlaluan kamu mas!" Arinda segera mengambil koper dalam lemari, dan bermaksud ingin memasukan semua pakaiannya kedalam lemari.


Grepppp


Dante memeluk Arinda dari belakang.


"Tidak. Jangan tinggalkan aku! aku bersumpah demi Tuhan demi nyawa anak-anak kita aku sungguh tidak sengaja melakukannya. Ini sebuah kecelakaan sayang," ucap Dante sembari mengeratkan pelukannya pada Arinda.


"Lepasin mas. Berbulan-Bulan kamu membohongiku, bukan tidak mungkin kalau sekarang kamu berbohong lagi. Terus aja kamu bohong sampai nyusul Aditia mas. Yang pasti aku ndak mau hidup serumah dengan seorang pembunuh yang mengerikan sepertimu. Waktu itu kamu bisa membunuh Aditia, mungkin tidak lama lagi aku dan anak-anak yang kamu bunuh," ujar Arinda.


"Tidak sayang. Please jangan katakan itu. Aku tidak bisa jauh dari kamu dan anak-anak," ujar Dante sembari menangis.


"Lepasin aku mas! aku ndak perduli. Dasar pembunuh! pembohong!" Arinda kembali berontak, agar lepas dari pelukan Dante.


Setelah berhasil lepas, Arinda bergegas memasukan pakaiannya dan juga pakaian anak-anak. Setelah semua sudah siap, Arinda segera memesan taksi Online.


"Sayang. Aku mohon kita bicarakan dulu ini baik-baik ya. Aku akan jelaskan semuanya tanpa ada kebohongan. Tapi aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku sungguh-sungguh tidak sengaja," Dante terlihat memohon dan berlutut di lantai.


"Harusnya kamu malu sama seragam kamu mas. Kamu yang seharusnya mengayomi rakyat, kok kamu malah membunuhnya. Aku sarankan keluar saja dari pekerjaanmu!" ucap Arinda yang membuat Dante merasa dapat pukulan besar.


Setelah mobil online datang, tidak menyurutkan niat Arinda untuk pulang ke rumahnya sendiri. Tinggalah Dante merasa frustasi seorang diri.


Air mata Arinda merebak, mengalir, menemani sepanjang jalan kepulangannya.


"Kenapa nasibku begini? kenapa aku tidak bisa bahagia seperti orang-orang. Kenapa aku harus melalui cobaan seberat ini? aku harus apa sekarang. Hiks...." Arinda terisak.


Supir yang mengantar Arinda hanya bisa diam, dan tidak berani bertanya saat melihat kesedihan Arinda. Namun Supir itu yakin, kalau itu semua ada hubungannya dengan urusan rumah tangga.


Setelah sampai di rumah, Arinda segera meletakkan anak-anaknya di kamar. Sementara dirinya duduk di ruang tamu untuk merenungi nasibnya.


"Aku menyesal berhenti kerja waktu itu. Sekarang aku harus kerja apa, agar bisa menghasilkan uang. Terus anakku bagaimana?" Arinda memijat kepalanya, karena dia pusing harus melakukan apa.

__ADS_1


"Kenapa semuanya jadi begini sih? aku pikir menikah dengan mas Dante, dia bisa memberikan kebahagiaan. Tapi ternyata...."


Arinda kembali terisak. Namun ditengah kegalauannya, Arinda kemudian membuat panggilan untuk Mia dan Dian. Mereka ngobrol bertiga lewat sambungan telpon. Setelah menceritakan duduk masalahnya, tentu saja Mia dan Dian sangat terkejut.


"Tapi Rin. Menurutku kamu juga perlu memberikan kesempatan sama dia untuk menjelaskan. Kita kan ndak tahu bagaimana situasi yang dia hadapi saat itu. Siapa tahu dia memang ndak sengaja melakukannya," ujar Mia.


"Benar kata Mia. Aku percaya Dante ndak mungkin sengaja menghilangkan nyawa Adit. Kamu harus memberikan kesempatan sama dia untuk menjelaskan semuanya Rin. Takutnya kamu salah ngambil keputusan besar, dan malah membuatmu menyesal. Ingat Rin! ada kedua anakmu yang masih sangat butuh kasih sayang kedua orang tuanya," timpal Dian.


Arinda terdiam setelah mendengar penjelasan kedua sahabatnya itu.


"Baiklah nanti akan aku berikan dia kesempatan untuk menjelaskan. Tapi bagaimana kalau ternyata motifnya memang cemburu?" tanya Arinda.


"Jangan menduga-duga. Bebaskan dulu beban dihatimu itu," ujar Dian.


"Oh ya mbak, bagaimana kabar rumah tangga kalian? apa suami-suami kalian sudah berubah jadi orang baik?" tanya Arinda.


"Kalau aku iya Rin. Habis pulang dari toko, dia langsung pulang ke rumah. Untuk meyakinkan aku, aku selalu melakukan panggilan video call dijam-jam tak terduga. mas Suryo juga dak pernah keluar rumah saat malam hari," ujar Mia.


"Wah...selamat ya mbak. Semoga suami sampeyan istiqomah. Terus mbak Dian piye?" tanya Arinda.


"Suamiku juga sudah berubah Rin. Dia kalau pulang dari toko langsung pulang dan nyerahin pendapatan toko sama aku. Dia juga sayang sama anak-anak." Jawab Dian.


"Dan yang pasti puas ya Di, saat tempur sama dia," timpal Mia yang membuat Dian tersipu.


"Iya juga ya. Punya mas Ridwan kan gedong," ujar Arinda sembari terkekeh.


"Nggak cuma besar aja Rin. Durasinya itu loh, bikin pinggangku pegel. Tapi sumpah sih, puas pake banget," ujar Dian.


"Sudah terlatih soalnya dia Di," ujar Mia.


"Iya. Dia juga bilangnya gitu," ujar Dian.


"Hah. Ikutan seneng kalau kalian sudah bahagia," ujar Arinda.


"Sampeyan kok jadi nakutin aku mbak?" tanya Arinda.


"Siapa yang nakutin? lah wong kamu sendiri yang minta pisah dari dia. Jangan gegabah kamu. Emang kalau kamu cerai, Aditia bisa hidup lagi?" tanya Dian.


"Lah piye toh mbak? jadi kesannya aku kayak mendukung pembunuhan?" tanya Arinda.


"Aku nggak bilang kamu dukung loh. Tapi terkadang hukum juga bisa ngawur menurut kita orang awam," ujar Dian.


"Maksudnya piye toh?" tanya Arinda.


"Apa kamu pernah dengar ada kasus bapak-bapak yang dihukum karena membunuh pencuri yang saat itu membawa senjata tajam?" tanya Dian.


"Belum." Jawab Arinda.


"Bapak itu dihukum, karena tidak sengaja membunuh pencurinya. Padahal kalau pencurinya ndak mati, maka bapak itu yang mati. Lucu toh? coba kamu bayangin, kalau saat itu posisi Dante juga gitu? Dante itu seorang Polisi, bukan penjahat. Dia punya alasan apa buat bunuh Adit? lah wong kamu sudah berhasil dia dapatkan. Lalu bagaimana kalau sebenarnya Aditia yang menyerangnya lebih dulu, karena dia tidak rela Dante menikahimu?" ucap Dian.


"Benar juga. Berarti kamu memang harus pastikan dulu Rin. Takutnya kamu nyesel," timpal Mia.


"Makasih ya mbak. Nanti aku...."


Tok


Tok


Tok


"Sudah dulu ya mbak. Ada tamu soalnya," ucap Arinda yang kemudian mengakhiri panggilan itu.


Arinda kemudian pergi membuka pintu, dan mendapati Dante dihadapannya dengan wajah memelas.

__ADS_1


"Sayang," Mata Dante berkaca-kaca.


Arinda menghela nafasnya, dan membiarkan. Dante masuk untuk menjelaskan semuanya.


"Sekarang kamu ceritakan, kenapa semuanya bisa terjadi. Tapi aku harap kamu jujur ya mas! aku ndak mau ada kebohogan lagi dalam rumah tangga kita," ujar Arinda.


"Apa kamu ingat saat malam kamu ngidam minta dibelikan kerak telor?" tanya Dante.


"Ya." Jawab Arinda.


"Saat pulang dijalan sepi itu, Aditia tiba-tiba menghadangku. Dia tidak terima karena aku dekat denganmu. Dia juga tahu, kalau selama ini kita berselingkuh. Saat sidang terakhirmu waktu itu, dia melihat kita berboncengan dan mulai menyelidiki semuanya. Saat dia minta aku putus denganmu, tentu saja aku nggak mau. Dia lalu memukulku, dan aku membalas pukulannya."


"Namun tiba-tiba dia ingin memukukku dengan balok kayu, dan aku berhasil merebut kayu itu. Saat aku ingin mengayunkan balok itu, dia mencoba menghindar. Namun kakinya berbelit dan menyebabkan dia terjatuh dengan pososi terlentang. Naasnya kepalanya membentur trotoar, dan Aditia mati di tempat. Sungguh aku tidak sengaja melakukannya sayang, itu sebuah kecelakaan,"


"Aku tidak mungkin sengaja membunuh orang. Aku sadar punya tanggung jawab besar sama kamu dan anak-anak," sambung Dante.


"Apa itu sungguh-sungguh kejadiannya?" tanya Arinda.


"Ya. Aku tidak berani jujur, karena aku tidak bisa kehilangan kamu sayang. Dan sesuai dugaanku, kamu meninggalkan aku. Aku memang berencana akan memberitahumu, tapi menunggu waktu yang tepat." Jawab Dante.


Greppp


Arinda berhambur kepelukan Dante, dia sangat lega karena Dante bukanlah sengaja untuk membunuh.


"Itu artinya bukan kamu yang membunuhnya mas. Itu sebuah kecelakaan kan?" tanya Arinda.


"Benar. Tapi kalau kita menceritakannya pada segelintir orang, belum tentu orang akan mengerti dengan posisi kita. Aku tetap akan merasa bersalah selamanya pada Aditia, tapi aku tidak mau di cap sebagai pembunuh." Jawab Dante.


"Maafin aku ya mas! karena aku sudah salah paham sama kamu. Padahal kamu tidak bersalah," ucap Arinda.


"Tidak apa. Aku mengerti persaanmu. Aku mengerti ketakutanmu. Sekarang kita jalani rumah tangga kita dengan harmonis ya!" ucap Dante.


"Iya mas." Jawab Arinda.


"Sayang. Kata orang penyelesaian terbaik dalam masalah rumah tangga saat diatas ranjang. Main yuk?" ucap Dante yang membuat Arinda tersipu namun menganggukan kepalanya.


Tanpa basa basi lagi, Dante langsung membopong Arinda ke dalam kamar yang dulu di tempati Fatimah. Dia tidak mau suara-suara nakal mereka mengganggu kelelapan tidur putra putri mereka yabg sedang tertidur nyeyak.


Dan untuk bulan-bulan berikutnya, Mia dikaruniai seorang putri yang cantik. Suryo sangat bahagia, karena itu merupakan keturunan pertananya. Suryo bahkan tidak menyuruh Mia untuk menggunakan kontrasepsi, hingga Mia hamil kembali saat usia anaknya baru berumur 6 bulan.


Sementara Dian. Dia baru diberikan kesempatan hamil setelah 9 bulan pernikahannya. Dian dan Ridwan memang merencanakan kehamilan itu, sebagai bentuk pemersatu hubungan mereka yang sama-sama mendatangkan anak dari perkawinan sebelumnya.


Dan untuk Lastri dan Indah, kini mereka sudah diberikan Tuhan tambatan hati mereka masing-masing, yang bisa menerima mereka apa adanya.


Hoekkk


Hoekkk


Hoekkkk


"Sayang. Kamu hamil lagi?" tanya Dante.


"H-Hamil?" Arinda terkejut.


"Tapi kan kamu pakai kon*om mas," sambung Arinda.


"Maaf sayang. Kon*omnya sengaja aku lubangi, agar aku punya anak yang banyak sama kamu," bisik Dante.


"Tapi aku kan lahir cesar mas. Sudah tiga kali lagi," ujar Arinda panik.


"Aku sudah konsultasikan ini sama dokter. Kata dokter ini yang terakhir."


Jawaban Dante membuat Arinda cemberut. Sementara pria itu tertawa penuh kemenangan.

__ADS_1


TAMAT


__ADS_2