
"Apa Dian memberimu kabar?" tanya Mia.
Hari ini Mia dan Arinda cuma berdua saja pergi ke kantin, karena Dian meminta izin untuk tidak masuk bekerja.
"Ndak ada mbak. Duh...gimana ya nasib mbak Dian?" ucap Arinda.
"Ndak tahu. Aku mikirnya juga dilema. Disisi lain kasihan, tapi disisi lain takut terseret. Terus terang aku ndak bisa bantu kalau buat jadi saksi Rin. Aku takut terlibat, dan nanti kita dikira melakukan pembunuhan berencana," ujar Mia.
"Ho'oh mbak. Semalam aku ketahuan pergi oleh mas Adit. Dia marahin aku, karena ndak mendengar larangannya," ujar Arinda.
"Aku tadi pagi sudah berusaha menghubungi Dian, tapi sama sekali ndak diangkat," ujar Mia.
"Mungkin mbak Dian sibuk mengurus jenazah yang akan dimakamkan," ujar Arinda.
"Mungkin juga. Aku ndak bisa membayangkan, bagaimana perasaan Dian saat ini. Dia pasti sedang sedih dan ketakutan yang bercampur jadi satu," ujar Mia.
"Iyi mbak. Tapi aku rasa, rasa takutlah yang paling besar menghantui dia sekarang ini. Apa setelah pulang kerja nanti kita pergi ke rumah mbak Dian lagi saja?" tanya Arinda.
"Benar juga. Ya sudah, berarti kita sepakat pergi ya!" ujar Mia.
Mia dan Arinda kembali menikmati menu makan siang mereka. Namun sesaat kemudian ponsel Arinda berdering.
"Sayang. Kamu dimana?" tanya Dante, saat panggilannya di terima oleh Arinda.
"Ada di kantin pabrik. Ada apa mas?" tanya Arinda.
"Tidak apa-apa. Aku pikir kamu pergi melayat tempat mbak Dian." Jawab Dante.
"Rencananya habis pulang kerja. Mas Dante mau ikut ndak?" tanya Arinda.
"Boleh. Nanti kita langsung ketemuan di rumah mbak Dian aja." Jawab Dante.
"Oke. Sampai ketemu nanti mas," ucap Arinda.
"Da sayang," ucap Dante.
Dante dan Arinda kemudian mengakhiri panggilan itu. Dan sesuai kesepakatan, merekapun pergi ke rumah Dian, setelah pulang bekerja. Namun Arinda dan Dian cukup heran, karena rumah itu tampak sepi. Tidak seperti pada umumnya, ketika ada orang yang meninggal, orang-orang disekitar tempat tinggal Dian akan mengadakan tahlilan. Namun rumah Dian tampak sepi dan tertutup.
Tok
Tok
Tok
__ADS_1
"Mbak Dian. Ini Arin sama mbak Mia," seru Arinda sembari mengetuk pintu rumah sahabatnya itu.
Ceklek
Dian membuka pintu rumahnya dengan wajah lesu. Arinda tahu, Dian pasti kurang tidur atau bahkan belum tidur sama sekali.
"Masuklah!" ucap Dian.
Dapat Mia dan Arinda dengar, kalau saat ini suara Dian nyaris hilang. Mungkin itu disebabkan karena kurang tidur, atau terlalu banyak menangis.
"Sampeyan baik-baik saja mbak? jam berapa mas Edi dikebumikan?" tanya Arinda.
"Aku ndak baik-baik saja Rin. Aku ketakutan, bahkan sampai detik ini aku sama sekali belum tidur." Jawab Dian.
"Tapi semuanya aman kan mbak? bagaimana dengan respon para tetangga?" tanya Arinda.
"Mereka percaya saja dengan apa yang aku katakan. Aku bilang mas Edi bunuh diri karena ditagih hutang judi dan minuman." Jawab Dian.
"Tapi aku tetap takut Rin. Aku takut ketahuan. Hiks...." Dian kemudian dipeluk oleh Mia.
Tidak berapa lama kemudian Dante datang, ikut ngobrol dengan mereka.
"Apa semuanya beres mbak?" tanya Dante.
"Bersikap santailah. Jangan perlihatkan gerak gerik apapun yang membuat mbak dicurigai," ujat Dante.
"Terus anak-anak sampeyan gimana mbak?" tanya Arinda.
"Mereka sangat sedih kehilangan bapaknya. Terutama anak perempuanku." Jawab Dian.
"Kapan-Kapan pas kamu libur, ajaklah dia jalan-jalan seperti yang aku lakukan sama Ferdi saat mas Ridwan menikah tempo hari," ujar Mia.
"Ya. Aku rasa tidak hanya anak-anak yang butuh, aku juga sangat membutuhkannya," ujar Dian.
"Ya. Sepertinya kamu memang butuh itu Di. Apa kamu mau berenang di tempat aku dan Ferdy kemarin?" tanya Mia.
"Boleh. Nanti kamu kirim alamatnya ya!" ujar Dian.
"Ya sudah kalau begitu kami permisi dulu ya mbak! sudah hampir magrib soalnya," ujar Arinda.
"Baiklah. Kalian hati-hati ya! pokoknya secepatnya aku masuk kerja lagi. Paling aku minta cuti hari ini sama besok, setelah itu aku akan masuk lagi," ucap Dian.
"Iyo mbak. Kami tunggu kehadiran sampeyan," ujar Arinda.
__ADS_1
Arinda, Dante, dan Mia pun berpamitan pulang. Karena rumah Mia satu arah dengan rumah Dian, maka Mia langsung pergi lebih dulu. Sementara Dante dan Arinda pulang dengan jalan sebaliknya.
"Sayang kita ngamar yuk!" ucap Dante dengan mepet jalan Arinda.
"Nggak mau ah mas. Jatah kamu kan lusa mas. Sabar ya! lagian ini sudah mau magrib, aku capek dan ngantuk gara-gara kurang tidur," ujar Arinda.
"Nasib...nasib," Arinda terkekeh mendengar gerutuan Dante.
Dantepun mengantar Arinda tepat di depan lorong. Dengan menoleh ke kanan kiri, Dante masih juga mencari kesempatan mencium kekasihnya itu.
"Gini amat jadi laki-laki simpanan. Mau menciummu saja harus waspada," ucap Dante dengan bibir cemberut.
"Apaan sih mas? kok ngomongnya gitu? hati aku itu punya kamu sepenuhnya mas," ujar Arinda.
"Ya aku tahu. Tapi tetap saja tidak bisa dimiliki seutuhnya. Sayang, seandainya aku punya wanita lain juga bagaimana? tapi hatiku tetap milikmu sepenuhnya," tanya Dante yang membuat senyum Arinda pias seketika.
"Aku ndak bisa mas. Kalau benar begitu, aku pasti akan mundur. Itu artinya sampeyan ndak tulus sama aku. Aku cuma sampeyan jadikan tempat pelampiasan nafsu aja kalau begitu." Jawab Arinda.
Dante tertunduk. Pria itu seolah mencerna semua ucapan Arinda.
"Apa empat hari sekali ndak cukup untuk memenuhi hasrat sampeyan?" tanya Arinda.
"Bersamamu setiap haripun nggak akan cukup." Jawab Dante yang membuat Anisa memutar bola mata dengan malas.
"Ya sudahlah. Yang pasti sampai ketemu lusa ya mas. Aku tak pulang dulu, takut mas Adit nanya yang macam-macam. Soalnya aku ndak ngomong mau pergi ngelayat," ujar Arinda.
Dante hanya bisa memandangi punggung Arinda yang perlahan menghilang dikejauhan. Setelah tak terlihat di matanya lagi, Dante bergegas pulang ke rumahnya. Sementara Arinda yang sampai di rumahnya langsung diberondong pertanyaan oleh Aditia.
"Kamu lembur?" tanya Aditia.
"Ndak mas. Tapi tadi tiba-tiba harus ngelayat. Suami temanku kan meninggal, jadi kami rame-rame pergi kesana sepulang kerja." Jawab Arinda.
Aditia tidak berkomentar lagi setelah mendengar jawaban Arinda. Sementara itu melihat Aditia yang tak lagi rewel, Arinda masuk kedalam rumah dan melihat putra putrinya tengah bermain di ruang tengah.
"Baru pulang kerja ndok?" tanya Fatimah.
"Pulangnya seperti jam biasa buk'e. Tapi habis pulang langsung ngelayat ke rumah teman. Suaminya meninggal dunia semalam." Jawab Arinda sembari melepas sepatunya.
"Buk'e masak apa?" tanya Arinda.
"Nyambel ikan tongkol, sama tumis pakis." Jawab Fatimah.
"Tak makan dululah. Laper tenan aku," ujar Arinda yang langsung pergi menuju dapur.
__ADS_1