SALAHKAH AKU SELINGKUH?

SALAHKAH AKU SELINGKUH?
Bab.65. Resmi Bercerai


__ADS_3

Tok


Tok


Tok


Hakim mengetuk palu sebanyak tiga kali, saat Aditia dan Arinda resmi bercerai. Arinda bisa bernafas lega, namun tidak dengan Aditia. Kini dia baru menyadari, bahwa Arinda begitu sangat berarti baginya.


"Aku berjanji. Akan membawamu kembali, saat uangku sudah banyak. Dan aku juga bersumpah, aku tidak akan pernah berjudi lagi. Aku sudah menyadari betapa aku bodoh selama ini. Aku menyia-nyiakan wanita luar biasa sepertimu, hingga anak-anak kita yang menjadi korbannya," batin Aditia.


Aditia menyeka air matanya, saat semua orang satu persatu meninggalkan ruang sidang. Arinda bisa melihat kesedihan diwajah Aditia, dan menghampiri mantan suaminya yang sudah dia ceraikan beberapa menit yang lalu.


"Maafkan akun ya mas. Mungkin selama kita menikah, aku sudah jadi istri durhaka. ndak pernah nurut sama sampeyan. Aku belum bisa jadi istri yang baik untuk sampeyan, hingga kita harus kehilangan anak dan harus berakhir dengan perpisahan," ucap Arinda dengan mata berkaca-kaca.


Srakkk


Aditia tiba-tiba berdiri dan memeluk Arinda sembari terisak. Arinda melirik kearah Dante yang diam-diam juga hadir ke persidangan putusan itu. Sementara Dante sendiri sudah resmi bercerai, karena prosesnya lebih cepat usai Dante mentalak tiga istrinya itu.


Arinda bisa melihat, kalau saat ini Dante tengah diliputi rasa cemburu yang besar.


"Maaf mas. Ndak enak kalau di lihat orang kita begini," ucap Arinda yang melepaskan diri dari dekapan Dante.


Aditia bergegas menyeka air matanya, dan menatap mata mantan istrinya itu.


"Aku juga minta maaf Rin. Kamu sama sekali tidak salah. Akulah yang sudah menghancurkan keutuhan rumah tangga kita. Akulah yang sudah menyia-nyiakan kamu, dan jadi pembunuh anak-anak kita. Terima kasih karena kamu sudah berbesar hati, tidak melaporkanku ke polisi. Andai kamu tahu seberapa besar rasa bersalahku sama kamu, anak-anak dan juga ibu. Rasanya kalau membayangkan kesalahanku sama kamu dan mereka, aku rasa tidak ingin hidup lagi," ucap Aditia.


"Kamu mau kan memaafkan aku?" tanya Aditia.


"Ya mas. Jadikan perceraian kita menjadi pelajaran berharga untuk kita kedepan. Jangan ulangi kesalahan yang sama, kalau suatu saat mas berumah tangga lagi." Jawab Anisa.


"Ya. Aku do'akan kamu selalu berbahagia kedepannya," ucap Aditia.


"Tunggu aku sebetar lagi sayang. Aku pasti akan membuatmu kembali sama aku," batin Aditia.


"Mas juga ya! ya sudah kalau begitu aku pulang dulu," ucap Arinda.


"Ya." Jawab Aditia.


Arinda kemudian pergi dari ruang sidang itu. Namun dahi Aditia mengerut, saat melihat Arinda naik keatas motor sport milik Dante. Sayangnya saat itu Dante menggunakan helm, jadi dia tidak bisa melihat siapa yang sudah membonceng Arinda dengan motor itu.


"Siapa pria itu? sepertinya aku pernah melihat motor itu, tapi dimana ya?" gumam Aditia.


"Arinda tidak mungkin selingkuh selama ini kan? kalau itu benar, apa itu alasan dia selalu menolakku saat berhubungan? bahkan 6 bulan terakhir dia selalu menyuruhku menggunakan pengaman. Nggak! nggak mungkin Arinda selingkuh. Dia wanita yang baik dan setia, Arindaku tidak mungkin seperti itu," gumam Aditia.


Tring


Tring


Tring


"Ya,"


"Apa sidang perceraianmu sudah selesai?" tanya Suryo.


"Sudah." Jawab Aditia.


"Pulanglah! aku menginginkanmu," ujar Suryo.


Tanpa menjawab, Aditia langsung mengakhiri panggilan itu dan kemudian pergi ke rumah Suryo. Dan jangan ditanya, apa yang mereka lakukan setelah Aditia sampai disana. Suryo kembali menjadikan Aditia sebagai landasan pacu.


"Aku merasa sangat cocok denganmu. Apa kamu mau menikah denganku?" tanya Suryo setelah percintaan itu berakhir.

__ADS_1


"Aku belum berpikir kearah situ. Kamu tahu sendiri aku melakukan ini demi uang. Tidak ada niatku untuk menikah dengan sesama laki-laki. Aku masih menyukai wanita."Jawab Aditia sembari memantik rokoknya.


"Coba kamu pikirkan lagi. Aku sudah tua, mungkin umurku tidak akan lama lagi. Aku hidup sebatang kara di dunia ini. Kalau kamu menikah denganku, kamulah yang akan mewarisi semua hartaku. Aku benar-benar jatuh cinta sama kamu Aditia," ucap Suryo.


"Ugghh...sungguh kata-kata itu terdengar menjijikan di telingaku," batin Aditia.


"Meski aku menyukai uang, tapi bukan berarti aku tergila-gila sekali, hingga terlalu melampaui batas. Kalau kamu sudah merasa tua, dan segera mati. Apa sebaiknya kamu bertaubat saja? kamu bisa menikah, dan punya anak. Jadi keturunanmu bisa panjang. Minimal saat mati, ada yang mendo'akanmu tiap kali diziarahi," ujar Aditia.


"Kamu tahu sendiri kelemahanku. Kamu juga sudah tahu masa laluku Apa menurutmu ada wanita yang mau menerima kekuranganku ini?" tanya Suryo.


"Aku juga punya kekurangan yang sama. Tapi bedanya kamu punya uang, sedangkan aku miskin. Kalau cuma ejakulasi dini, banyak klinik-klinik tradisional atau pengobatan medis yang bisa menyembuhkannya. Kamu punya banyak uang untuk apa kalau tidak untuk berobat?" tanya Aditia.


"Aku malu." Jawab Suryo.


"Perduli amat dengan omongan orang. Toh jadi gay juga hal yang memalukan," ucap Aditia yang membuat Suryo terdiam.


"Apa kamu mau berobat juga?" tanya Suryo.


"Mau kalau punya uang." Jawab Aditia.


"Aku akan bayari. Kita cari tempat berobat sama-sama," ujar Suryo.


"Boleh. Sudah waktunya kamu berhenti juga. Kaum gay ini sebenarnya sangat rentan terkena penyakit menular seksual. Kalau bukan terpaksa, aku juga tidak mau melakukannya," ujar Aditia.


"Hartamu sangat banyak. Sayang kalau kamu tidak punya keturunan," sambung Aditia.


"Kamu benar. Aku pikir aku akan mati dalam kubangan hitam seperti ini. Tapi aku tidak menyangka akan bertemu denganmu yang bisa membuka jalan pikiranku. Terima kasih Aditia," ucap Suryo.


"Tak perlu berterima kasih, karena aku juga bukan orang benar. Aku juga sudah jadi suami dan ayah yang gagal. Dan aku malah akan mengulang semuanya dari nol lagi. Itu semua karena kebodohanku, yang sudah menyia-nyiakan istri dan anak-anakku. Sekarang aku malah kehilangan segalanya." ujar Aditia.


Sementara itu di tempat berbeda Dante hanya diam membisu saat tiba di rumah Arinda.


"Kamu kenapa mas? kok cemberut!" tanya Arinda yang berpura-pura tidak peka dengan apa yang Dante rasakan saat ini.


"Sayang. Kamu cemburu ya?" ledek Arinda sembari mengalungkan kedua tangan di leher pria yang tengah dilanda cemburu itu.


"Sudah tahu nanya," ucap Dante sembari memalingkan wajahnya.


Arinda meraih wajah Dante, dan mencium bibir pria itu sekilas.


"Aku senang karena mas cemburu sama aku. Itu artinya mas Dante sayang sama aku. Mas tenang aja, tadi itu aku anggap pelukan perpisahan. Lagian kenapa aku mau sama dia lagi? sekarang kan aku sudah punya kamu dan anak-anak kita mas," ujar Arinda.


"Tapi tetap saja aku nggak mau kamu dekat-dekat dengan pria lain, termasuk mantan suamimu itu," ujar Dante.


."Iya. Aku janji nggak akan dekat-dekat dia lagi. Ataupun dekat dengan laki-laki manapun. Aku cinta mati sama kamu mas," ucapn Arinda.


Dante tersenyum mendengar ucapan Arinda.


"Sekarang kamu istirahat ya! kamu pasti sangat lelah hari ini," ujar Dante.


"Mas Dante mau kemana?" tanya Arinda.


"Aku mau antar papa mama ke bandara. Mereka mau pulang hari ini." Jawab Dante.


"Mereka pulang?" tanya Arinda.


"Ya. Kamu mau makan apa? nanti pas pulang dati bandara biar aku belikan," tanya Dante.


"Aku nggak mau apa-apa mas. Aku mau istirahat aja. Rasanya hari ini capek banget." Jawab Arinda.


"Ya sudah aku pulang dulu ya!" ujar Dante sembari mencium kening kekasihnya itu.

__ADS_1


"Emm."Arinda mengangguk, dan kemudian mengantar Dante kedepan pintu.


Setelah Dante pergi, beberapa tetangga datang menghampiri Arinda.


"Siapa cowok ganteng tadi Rin? kamu sudah cerai dari Aditia.


"Itu calon suami saya. Ya aku sudah cerai. Baru tadi ketok palu." Jawab Arinda tanpa perduli apa yang akan dikatakan para tetangganya itu.


"Ya ampun Rin. Kan belum selesai masa iddah kamu,"


"Saya juga tahu. Saya baru pacaran, belum menikah. Nanti kalau saya nikah, pasti kalian akan kuundang. Saya masuk kedalam dulu ya ibu-ibu. lagi capek soalnya," ujar Arinda.


"Kami perhatikan badan kamu tambah berisi Rin. Kamu lagi hamil?"


"Iya. Saya lagi hamil. Sudah tiga bulan." Jawab Arinda.


"Ya ampun. Kamu kok cerai kalau tahu lagi hamil,"


"Ya mau gimana lagi? soalnya saya hamil anak pacar saya." Jawab Arinda yang kemudian langsung menutup pintu rumahnya. Sementara para ibu-ibu itu hanya bisa melongo mendengar ucapan Arinda.


"Ya ampun. Jadi begitu aslinya si Arinda. Kita kira dia cerai karena Aditia gila judi dan nggak mau kerja. Jadi ternyata karena selingkuh?"


Suara bisik-bisik itu masih bisa Arinda dengar, karena dirinya masih berada dibalik pintu itu.


"Tidak usah dengarkan apa kata orang Arinda. Meski caramu salah, tapi kamu juga berhak bahagia. Nikmati hidupmu, jaga keluargamu yang ada di masa depan nanti," gumam Arinda yang kemudian masuk kedalam kamar.


Setelah hampir menunggu Dante selama 2 jam, pria itu kembali lagi dengan membawa berbagai jenis makanan dan juga rujak buah.


"Tadi kamu tidur siang kan?" tanya Dante.


"Iya mas." Jawab Arinda sembari menikmati rujak buah yang Dante bawa.


"Baguslah. Aku ingin kamu dan anak-anak sehat. Kamu harus makan dan istirahat yang teratur," ujar Dante.


"Iya sayangku yang cerewet," ucap Arinda sembari menarik hidung mancung milik Dante.


"Sayang,"


"Hem?"


"Aku merasa saat hamil kamu bertambah cantik dan seksi." Jawab Dante.


"Apa sih mas?" Arinda tersipu.


"Sungguh. Terutama ini," Dante menunjuk kearah dada Arinda yang bertambah padat dan berisi.


"Mas Dante mesum aja kerjaannya," ledek Arinda yang membuat Dante melotot. Sementara Arinda jadi terkekeh.


*****


"Kalian siapa?" tanya Aditia saat ada dua orang pria menghadang jalannya.


"Aku peringatkan kamu! jauhi Suryo. Dia itu milikku,"


Mendengar itu tentu saja Aditia jadi tertawa.


"Ambil saja kalau mau. Soalnya saya juga tidak tertarik untuk bergaul dengan laki-laki seumur hidup. Saya masih menyukai wanita." Jawab Aditia.


"Dasar pembohong! aku melihatmu selalu kencan sama dia,"


"Jalan bersama bukan berarti kencan. Aku dan dia hanya teman. Kalau tidak percaya, kamu tanya langsung saja sama dia." Jawab Aditia.

__ADS_1


"Banyak mulut!" Dua pria itu langsung menyerang Aditia secara bertubi-tubi. Karena dikeroyok Aditia kualahan dan babak belur.


Setelah melihat Aditia tidak berdaya, kedua pria itu meninggalkan Aditia begitu saja.


__ADS_2