SALAHKAH AKU SELINGKUH?

SALAHKAH AKU SELINGKUH?
Bab. Arinda Mengamuk


__ADS_3

"Andai waktu bisa diputar kembali, nyesal aku mengawinkan anakku dengan orang yang tidak berpendidikan dan tidak punya tata krama sepertimu," hardik Marini.


"Sama bu. Andai waktu bisa di putar kembali, aku juga nyesal sudah menikahi orang berpendidikan tapi pengangguran dan tidak tahu diri seperti anakmu itu," sahut Arinda yang membuat Marini semakin syok.


"Sekarang suruh saja anak ibu itu keluar!" sambung Arinda.


"Dia tidak ada disini. Pagi-Pagi sudah keluar rumah. Aku juga nggak tahu dia kemana. Ada keperluan apa mencarinya?" tanya Marini.


"Jadi ini cara orang berpendidikan mengajari anaknya yang sudah meninggalkan tanggung jawab pada menantu dan cucu-cucunya?" sindir Arinda.


"Apa maksudmu menyindirku seperti itu?" tanya Marini.


"Sudahlah bu. Dari dulu sampai sekarang ibu nggak pernah menyukaiku. Ya sudah, sekarang aku kabulkan permintaan ibu untuk menceraikan anak ibu yang tukang maling, tukang tipu itu. Bisa-Bisanya dia menggadaikan rumah mertuanya dan mengelabuhi kami. Si tukang judi itu benar-benar tidak tahu diri. Selama ini akulah yang memberinya makan. Kerjanya cuma merongrong aku, dan jatah minta dilayani."


"Apa ibu tahu sebutan apa yang pantas untuk anak ibu itu?" tanya Arinda dengan nafas naik turun.


"Mau ngatain anakku apa lagi kamu?" tanya Marini.


"Anak ibu itu keturunan Fir'aun." Jawab Arinda.


"Anak kurang ajar kamu!" hardik Marini yang kemudian menarik rambut Arinda.


Arinda yang tersulut emosi langsung membalas dengan ikut menjambak rambut mertuanya. Kedua orang itu jadi tontonan para tetangga.


Aditia yabg baru pulang karena ingin istirahat makan siang, bergegas turun dari motor dan melerai pertengkaran itu.


"Hentikan! apa kalian nggak malu jadi tontonan orang-orang!" hardik Aditia.


Arinda membenahi rambutnya yang berantakan, akibat aksi saling tarik menarik rambut dengan mertuanya. Nafas ibu dua anak itu naik turun, karena sudah terlampau emosi. Arinda sama sekali tidak lagi menjaga sopan santunnya, karena niatnya saat ini sangatlah buruk.


"Ini dia Fir'aun sudah pulang," ucap Arinda yang membuat Aditia jadi melotot.


"Jangan ngomong kurang ajar kamu sama suami. Mau jadi istri durhaka kamu?" hardik Aditia.


"Yang durhaka itu kamu mas. Kamu durhaka sama istri, sama mertua, sama anak-anak. Kok bisa-bisanya kamu menggadaikan rumah mertuamu? ini rumah mertuamu mas, bukan rumah ibu kamu. Hati kamu dimana? aku rasa kamu bukan manusia lagi mas," ucap Arinda yang membuat Aditia jadi terdiam.

__ADS_1


"Bisa-Bisanya kamu nipu aku. Pura-Pura kerja, padahal pengangguran sejati. Kamu segitu niatnya mau nipu aku mas. Bahkan uang tabungan anakpun kamu sikat juga buat beli motor. Dimana hati nurani kamu mas? dimana? hiks...." tangis Arinda akhirnya pecah.


"Kenapa kamu tega sekali sama aku. Rentenir itu ingin menyita rumah ibu, motorku sudah dia sita lebih dulu. Aku benci sama kamu mas, aku benci sama kamu! hiks...." Arinda menangis meraung. Dia tidak perduli meski semua orang menonton dirinya saat ini.


"Aku benar-benar sudah ndak tahan lagi sama kamu mas. Besok aku akan mengajukan surat gugatan cerai ke pengadilan," sambung Arinda.


"Jangan banyak omong, lakukan saja! aku senang kamu menceraikan anakku. Anakku masih bisa mendapatkan wanita yang jauh segalanya darimu," ujar Marini.


"Nggak sayang. Please ampuni aku kali ini aja! aku mohon sama kamu, aku nggak mau pisah dari kamu. Aku sayang sama kamu Rin, aku cinta sama kamu," rayu Aditia sembari menggenggam tangan Arinda.


Arinda dengan tangkas menarik tangannya, seolah dia sangat jijik dengan sentuhan suaminya itu.


"Kesabaranku sudah habis Aditia. Sudah puluhan kali aku memberimu kesempatan, namun pada akhirnya aku tetap saja kamu buat menderita. Kamu tunggu saja surat gugatan dariku," ujar Arinda.


"Nggak. Aku nggak mau cerai sama kamu, sampai matipun aku nggak mau bercerai," ucap Aditia.


"Nggak tahu diri kok kebangetan," gerutu Arinda.


Arinda dengan tangkas meraih dompet Aditia yang ada dibelakang saku pria itu. Dia kemudian mengambil STNK motor Aditia, Arinda juga menyambar kunci motor dari tangan Aditia.


"Kamu boleh membawa motor itu, tapi aku nggak mau cerai dari kamu. Katakan padaku! dimana kontrakan rumah kita sekarang?" tanya Aditia dengan tidak tahu malunya


"Aku ndak punya duit buat ngontrak. Sekarang aku tinggal di kolong jembatan. Tapi meski begitu, aku ndak mau menerima kamu lagi. Bagiku kamu itu sudah mati di giles mobil truk." Jawab Arinda.


Arinda kemudian pergi dari rumah Aditia dengan membawa tangis. Dan sesuai janjinya dengan Dante, diapun menemui kekasih hatinya itu ditempat yang biasa mereka kunjungi.


"Sayang," Dante membawa Arinda kedalam pelukannya, setelah pria itu membuka pintu dengan bertelanjang dada.


Arinda yang frustasi langsung mendorong Dante diatas tempat tidur, dan dia membuka semua pakaiannya dengan tergesa-gesa. Melihat hal itu, Dante dengan tergesa-gesa juga membuka semua sisa pakaian yang dia kenakan.


Arinda langsung duduk dipangkuan Dante, dan mencumbu dengan liar kekasihnya itu.


"Sayang. Sepertinya kamu terlampau bersemangat hari ini," ucap Dante setengah berbisik.


"Obati luka hatiku mas. Puaskan aku, sepuas-puasnya," bisik Arinda dengan suara sensualnya.

__ADS_1


"Dengan senang hati baby," bisik Dante.


Brukkkk


Dante mendorong Arinda terlentang diatas tempat tidur empuk itu. Pria itu dengn gesit mengungkung tubuh Arinda dan membenamkan wajahnya di salah satu puncak dada Arinda secara bergantian.


Arinda hanya bisa meloloskan suara merdunya, disaat kekasihnya itu mencumbunya dengan rakus. Kini Dante bahkan sudah berani meninggalkan jejak kepemilikan dikedua benda favorit pria itu.


"Ah...mas," Arinda melengguh, saat kejantanan Dante menghujamnya dengan mantap dan dalam.


Dante mulai membuat irama ranjang itu kembali terdengar. Irama yang sama karena kamar itu merupakan kamar favorit mereka setiap kali bertemu dan memadu kasih.


Arinda berusaha menyeimbangkan gerakan Dante, hingga pria itu merasakan nikmat yang sama.


"Ah...sayang. Kamu sangat nikmat," bisik Dante.


Brukkkk


Arinda membuat Dante terpaksa mencabut kepemilikannya, karena Arinda sudah membuatnya jatuh kesamping. Arinda dengan gesit menaiki tubuh Dante, dan menelan habis kejantanan kekasihnya itu tanpa sisa.


"Oh...baby...." Mata Dante terpejam, saat Arinda sudah bergerak naik turun menenggelamkan miliknya yang perkasa.


Suara keduanya saling bersahutan, memenuhi kamar itu. Berkali-kali Arinda mendapatkam pelepasan, begitu juga dengan Dante. Namun itu sama sekali tidak membuat mereka puas, dan kembali mengulangi perbuatan itu hingga tidak terhitung lagi jumlahnya.


"Emmmm" Arinda menggeliat, saat rasa kantuk dimatanya sudah sirna. Tubuhnya terasa remuk, karena percintaannya dengan Dante cukup menguras tenaga dan keringatnya. Hingga tanpa sadar merekapun jatuh tertidur.


"Mas. Bangun sayang!" bisik Arinda namun tangannya dengan jahil mengusap kejantanan Dante yang langsung bangun seketika.


"Sayang kamu jahil banget sih? dia bangun lagi jadinya. Emang kamu belum puas?" tanya Dante.


"Main denganmu nggak akan pernah puas mas," ucap Arinda.


"Jadi kamu mau lagi?" tanya Dante.


"Nggak. Sekarang sudah jam 7 malam mas. Aku harus pulang. Kita mandi yuk!" ujar Arinda yang disetujui oleh Dante.

__ADS_1


Dante kemudian menggendong Arinda, dan membawa kekasihnya itu kedalam kamar mandi.


__ADS_2