
"Ya terus kamu mau sampai kapan begitu terus? bertemu pria itu sesuka hatimu dibelakang Aditia. Kalian berzina, berbuat dosa terus menerus. Lebih baik Aditia yang mengurus anakmu, daripada kamu tertimpa Azab dan jadi anak-anakmu juga yang terkena imbasnya," ujar Fatimah
"Berikan aku waktu berpikir buk'e. Aku mesti mikir mateng-mateng sebelum mengambil keputusan," ujar Arinda.
"Selama kamu belum mengambil keputusan, buk'e harap kamu ndak ketemu sama Dante. Disitulah kalau kamu mau menguji kesetiaan dia sama kamu," ujar Fatimah.
"Tapi buk'e...."
"Kamu itu seorang wanita. Kalau kamu mau dianggap mahal, jangan menukarkan harga diri kamu dengan mengatasnamakan cinta. Buk'e takut kamu akan menyesal pada akhirnya," ujar Fatimah.
"Apa hari ini kamu masuk malam lagi?" tanya Fatimah yang kemudian diangguki kepala oleh Arinda.
"Lebih baik kamu tidur siang dulu. Berhenti memikirkan pria yag belum tentu mencintaimu dengan tulus. Ingatlah suamimu yang saat ni sedang banting tulang mencarikan kamu nafkah. Jangan jadi istri durhaka kamu," ujar Fatimah.
"Iya buk'e." Arinda terpaksa mengiyakan ucapan ibunya terlebih dahulu. Namun tetap saja hati dan pikirannya selalu tertuju pada sosok Dante.
Arinda kemudian mengikuti saran Fatimah, untuk tidur siang. Dia memang butuh mengistirahatkan hati dan jiwanya yang tengah dilema saat ini.
*****
Empat bulan kemudian....
"Dit. Ini sudah awal bulan dari perjanjian kita. Kapan kamu mau bayar hutangmu? aku tagih kamu di tanggal 30," chat gumai.
"Kok gitu banget kamu Gu. Aku minta waktu satu bulan lagi. Soalnya proyek lagi macet ini," balas Aditia.
"Nggak bisa Dit. Sesuai dengan perjanjian, kamu harus keluar dari rumah itu kalau ndak mampu bayar," balas Gumai.
Aditia tidak lagi membalas chat dari Gumai. Dia sangat frustasi saat ini. Uang hasil menggadaikan rumah sudah habis. Sementara hasil dari driver online untuk menutupi nafkah Arinda.
"Bagaimana ini," gumam Aditia.
Pria itu tampak mondar mandir, karena pagi ini dia tidak bekerja dengan alasan libur. Saat ini dia sedang memikirkan solusi, utuk masalahnya dan Gumai, dan juga masalahnya dengan Arinda. Sudah barang tentu dia tidak bisa memenuhi nafkah untuk istrinya itu di bulan-bulan selanjutnya. Dia harus membereskan dulu masalahnya dengan Gumai.
"Ah...sial. Bagaimana ini?" batin Aditia.
Ceklek
"Mas. Sampeyan ndak kerja?" tanya Arinda yang baru saja pulang dari bekerja.
__ADS_1
"Ini kan hari minggu." Jawab Aditia.
"Oh iya lupa. Maklum, di pabrikku ndak mengenal hari minggu atau hari apa. Kami libur kalau memang sudah dapat jatah libur," ujar Arinda.
"Emmm...simpanan uang kita ada berapa?" tanya Aditia.
"Kenapa? kok mas Adit nanyain itu?" tanya Arinda.
"Temanku ada yang mengajak join bisnis. Bagaimana kalau uang itu kita pakai buat modal?" tanya Aditia.
"Bisnis apa mas?" tanya Arinda.
"Bisnis minuman kekinian, sama makanan kekinian." Jawab Aditia.
"Siapa yang mau menjalankannya? siapa yang mau membuatnya?" tanya Arinda.
"Temanku baru saja di PHK. Dia pengen buka usaha, tapi nggak punya modal. Padahal dia banyak sekali keahlian soal membuat kuliner." Jawab Aditia.
"Emmm...nanti ajalah mas. Kita ndak tahu temanmu itu seperti apa. Soalnya sekarang sulit mempercayai orang lain," ujar Arinda.
"Kamu nggak percaya sama orang lain, apa nggak percaya sama suamimu?" tanya Aditia.
"Eh? kok sampeyan ngomongnya gitu mas?" tanya Arinda.
"Kok sameyan jadi marah-marah sama aku mas? ya wajar dong kalau aku takut. Uang tabungan kita ndak banyak mas. Kalau kita ketipu, tamat sudah riwayat kita," ujar Arinda.
"Terserah kamu!" ucap Aditia yang kemudian keluar dari kamar.
"Dia kenapa sih? kok aneh sekali," batin Arinda.
Arinda tidak menggubris sikap Aditia yang aneh. Dia memutuskan untuk membersihkan diri, dan kemudian makan. Sementara itu Aditia yang tampak frustasi, duduk di teras sembari menikmati sebatang rokok.
"Dimana kira-kira Arinda menyimpan uangnya? aku harus menemukan uang itu, kalau tidak tamat sudah riwayatku," batin Arinda.
Namun satu hal yang Aditia tidak tahu. Arinda sudah waspada dari awal. Karena dia tidak mungkin menyimpan uang cash selamanya. Arinda sudah membuka tabungan di bank, ditemani oleh Dante.
"Kalau aku bayarkan uang Arinda. Arinda pasti akan marah. Tapi mungkin hanya sementara. Tapi kalau dia sampai tahu tentang sertifikat rumah yang di gadaikan, bisa mati aku. Aku nggak bisa kehilangan Arinda. Kalau aku kehilangan dia, hilang sudah sumber mata uangku," batin Aditia.
Aditia menghembuskan asap rokok ke udara. Saat ini dia benar-benar cemas. Dia sedang memikirkan kemungkinan tempat-tempat Arinda menyimpan uangnya.
__ADS_1
Waktu menunjukan pukul 11 malam, saat Aditia masuk kembali kedalam kamarnya. Pria itu tampak mengunci kamar itu, karena Arinda tidur di ruang tengah bersama anak-anaknya. Menurut Aditia itu adalah kesempatan baginya untuk mencari keberadaan uang itu.
Namun sekeras apapun Aditia mencarinya, pria itu sama sekali tidak menemukannya. Bahkan tempat tidurpun juga dia obrak abrik, namun tetap saja tidak menemukan keberadaan uang itu.
"Sialan. Apa dia menyembunyikannya di kamar ibu?" gumam Aditia yang tampak berkeringat, karena mencari keberadaan uang itu.
Karena kelelahan, Aditia memutuskan untuk berhenti mencari, dan kemudian pergi beristirahat.
"Bagaimana caraku masuk ke kamar ibu, sementara mereka tahunya besok aku pergi bekerja," batin Aditia.
Karena terlalu lelah berpikir, Aditiapun jatuh tertidur.
*****
"Loh. Sampeyan ndak kerja hari ini mas?" tanya Arinda, saat melihat Aditia masih tertidur.
"Aku sudah izin. Kepalaku sakit sekali." Jawab Aditia.
"Sampeyan sakit mas? sebentar tak belikan obat dulu," ujar Arinda.
"Tidak usah. Kamu kerja pagi kan? kamu berangkat saja," ujar Aditia.
"Tapi kita ndak ada persediaan obat di rumah," ujar Arinda.
"Nanti aku titip obat warung aja pas ibu belanja sayur," ujar Aditia.
"Ya sudah kalau gitu. Aku berangkat ya mas! " ujar Arinda sembari mencium tangan suaminya.
Aditia bisa bernafas lega, saat mendengar motor Arinda sudah pergi dari rumah. Pria itu berpura-pura berjalan lesu, saat keluar dari kamanya.
"Kamu sakit toh?" tanya Fatimah.
"Iya bu. Nanti tolong belikan aku obat warung ya bu. Ibu jam berapa belanja sayur?" tanya Aditia.
"Sekarang saja kalau begitu. Tunggu sebentar ya! buk'e tak beli sayur sama obatmu dulu," ujar Fatimah.
"Ya. Tapi nggak yang buru-buru juga bu. Kalau misalkan tukang sayurnya belum datang, ibu jangan buru-buru ngantar obat buat aku, nanti ibu jadi bolak balik. Aku juga mau tidur dulu soalnya," ujar Aditia.
"Iya sih. Tukang sayurnya datang 30 menit lagi biasanya. Ini baru jam setengah 8. Ya sudah kamu sarapan dulu sana! habis itu bisa tidur," ujar Fatimah.
__ADS_1
"Iya bu." Jawab Aditia.
Aditia menyeringai, saat melihat Fatimah sudah keluar dari rumah. Pria itu bergegas memasuki kamar mertuanya itu.