SALAHKAH AKU SELINGKUH?

SALAHKAH AKU SELINGKUH?
Bab.56. Positif


__ADS_3

.Para pelayat satu persatu meninggalkan rumah Arinda. Arinda sudah memutuskan, bahwa dirinya tidak akan mengadakan tahlilan di rumahnya. Terlihat sekali saat ini wajah Arinda terlihat linglung.


"R-Rin. Kami pulang dulu ya! aku sudah meninggalkan anakku semalaman. Aku takut Ferdy kebingungan," ujar Mia.


"Sama Rin. Kamu jagan larut dalam kesedihan ya Rin. Pokoknya kamu harus kuat, tabah. Ibu pasti ndak senang juga kalau kamu begini. Kamu harus makan, nanti kamu bisa sakit," ujar Dian.


"Makasih mbak. Aku pasti baik-baik saja kok. Terima kasih kalian sudah ada buat aku ya!" ucap Arinda yang kemudian kembali menangis.


Mia dan Dian memeluk Arinda bersamaan, untuk memberikan kekuatan untuk sahabatnya itu. Setelah itu mereka kemudian benar-benar meninggalkan Arinda seorang diri.


Arinda menatap disekeliling dalam rumahnya yang tampak sangat sepi. Tak ada celotehan Rayana dan Radit yang tengah bermain diruang tamu. tak ada lagi suara Fatimah yang tengah sibuk memasak di dapur. Arinda kemudian masuk ke dalam kamar Fatimah dan kembali menangis terisak disana.


"Buk'e...aku takut sendirian. Hiks...." tangis Arinda kembali pecah. Karena terlalu lelah menangis, Arindapun jatuh tertidur.


****


Satu Minggu Kemudian


"Ckkk...ini Arinda kemana sih? sudah satu minggu tidak bisa di hubungi. Nomor ponselnya sama sekali tidak aktif," gumam Dante.


Pria itu jadi gelisah, dan memutuskan akan mendatangi Arinda pada malam hari. Arinda yang baru pulang bekerja, tampak lelah dan segera membersihkan diri. Banyak perubahan dalam hidup Arinda sejak Fatimah dan anak-anaknya tiada. Arinda harus melakukan semuanya sendiri, termasuk saat akan menikmati makanan yang biasa sudah di sediakan oleh Fatimah.


Namun yang paling membuat hatinya merasa teriris, dia harus melihat pakaian dan mainan anak-anaknya yang sangat dia rindukan.


Tok


Tok


Tok


Arinda mengeryitkan dahinya saat mendegar suara ketukan diluar pintu rumahnya. Arinda melirik jam dinding, yang ternyata waktu baru menunjukan pukul 7 malam. Dengan langkah gontai Arinda berjalan kearah pintu dan membukanya.


Ceklek


Mata Arinda terbelalak, saat Dante sudah berada dihadapannya. Arinda kemudian melirik ke kiri dan ke kanan, untuk memastikan keadaan. Dengan gerakan cepat Arinda menarik Dante agar masuk ke dalam rumahnya dan segera menutup pintu.


Grepppp


"Mas. Hiks...." Arinda berhambur kepelukan Dante.


Dante yang semula ingin mencerca Arinda dengan banyak pertanyaan, jadi mengurungkan niatnya yang ingin menanyakan banyak pertanyaan pada wanita pujaannya itu.

__ADS_1


"Ada apa. Hem?" tanya Dante sembari matanya melirik kekiri kanan, karena mengura Fatimah berada di dalam rumah itu.


"Mas. Hiks...i-ibu...hiks...." Arinda tidak bisa lagi meneruskan kata-katanya, karena sesak di dadanya akibat tangisan.


"Ada apa? ibu kenapa?" tanya Dante sembari membawa Arinda duduk di salah satu kursi panjang.


Arinda menatap mata Dante, dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya.


"Kamu kenapa? kamu kemana aja? kenapa tidak bisa dihubungi. Hem? aku sangat khawatir," tanya Dante sembari membelai wajah cantik Arinda.


"Mas. Berjanjilah sampeyan ndak akan meninggalkan aku juga. Sekarang aku sudah sebatang kara mas. Aku cuma punya kamu. Hiks...." Arinda kembali terisak sembari membenamkan wajahnya di dada Dante.


"Apa maksudmu sebatang kara?" tanya Dante sembari menjauhkan Arinda dari pelukannya.


"I-Ibu dan anak-anakku sudah meninggal mas. Mereka ninggalin aku sendiri. Hiks...."


Jawaban Arinda sangat mengejutkan bagi Dante.


"Ke-Kenapa bisa?" tanya Dante.


Arinda kemudian menceritakan semua kejadian yang terjadi seminggu yang lalu. Dante benar-benar syok mendengarnya. Pria itu kemudian membawa Arinda dalam pelukannya, hingga tangis Arinda kembali pecah.


"Kenapa kamu tidak bilang sama aku? kenapa kamu menanggungnya sendirian? kamu sudah jelas punya aku, kenapa kamu malah tidak mengaktifkan ponselmu?" tanya Dante.


"Husssttt...kamu jangan sedih lagi ya! aku akan selalu ada buat kamu. Sekarang kamu tenangkan dirimu ya! apa kamu sudah makan malam?" tanya Dante yang dijawab gelengan kepala oleh Arinda.


"Lihatlah. Badanmu semakin kurus, padahal baru seminggu kita tidak bertemu. Apa di kulkas punya bahan makanan yang bisa di masak?" tanya Dante yang dijawab gelengan kepala oleh Arinda.


"Kalau begitu kamu tunggu sebentar disini! aku akan keluar membeli makanan. Kamu ingin makan apa. Hem?" tanya Dante.


"Apa saja mas." Jawab Arinda.


Dante kemudian pergi membeli makanan. Setelah menunggu hampir 20 menit, Dante akhirnya kembali membawa berbagai jenis makanan. Dante kemudian menyiapkannya diatas meja, dan mengajak Arinda makan malam bersama.


"Ayo yang semangat dong sayang!" ujar Dante, saat melihat Arinda yang ogah-ogahan menyantap makanan yang dia beli.


"Aaaa...."


Dante ingin menyuapkan makanan ke depan mulut Arinda. Arinda dengan terpaksa memakan makanan itu, karena tidak ingin mengecewakan Dante. Setelah semua makanan itu tandas, merekapun kembali mengobrol di ruang tamu.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" tanya Dante.

__ADS_1


"Apa menurut mas Aku harus melaporkan Aditia ke polisi?" tanya Arinda.


"Terserah saja. Apapun yang kamu inginkan, aku akan selalu mendukungmu." Jawab Dante.


"Rencanaku aku akan menukarkan itu dengan tanda tangan dia di surat gugatan cerai. Aku capek mas harus mengurusi manusia ndak guna itu. Ini mungkin memang ndak adil buat ibu dan anak-anakku. Tapi aku yakin, Tuhan itu ndak tidur. Dia pasti akan membalas semua rasa sakit hatiku selama ini," ujar Arinda.


"Apapun keputusanmu, aku akan dukung. Kalau," ucap Dante.


"Makasih mas. Kedatangan sampeyan cukup mengobati rasa luka hatiku, kesedihanku, dan kesepianku," ucap Arinda.


Dante kembali membawa Arinda ke dalam pelukannya, dan sesekali mencium puncak kepala kekasihnya itu.


"Sampeyan nginap disini saja ya mas!" tanya Arinda sembari mendongakan kepalanya.


"Jangan sayang. Lingkup rumahmu lebih kental kekeluargaannya daripada perumahanku. Jangan merusak citra baikmu disini. Bersabarlah! nanti saat kita menikah, kita bisa tinggal bersama selamanya," ujar Dante.


"Emm." Arinda mengangguk.


"Sudah jam 9, aku pulang dulu ya! nggak enak kalau ada yang lihat," ujar Dante.


"Iya mas." Jawab Arinda.


Dante mencium bibir Arinda, sebelum benar-benar pergi dari rumah itu. Arinda kemudian mengantar Dante hingga kedepan teras.


Perasaan Arinda cukup lega setelah Dante datang mengunjunginya. Arinda bisa tidur nyenyak, setelah seminggu kesulitan tidur.


****


Hoek


Hoek


Hoek


Arinda merasakan mual dan pusing saat akan berangkat bekerja.


"Ada apa denganku? seperti orang sedang hamil saja. Ha-Hamil?" Arinda mengingat kapan terakhir dirinya menstruasi, dan itu sudah 3 bulan yang lalu. Rasa gugup melanda dirinya saat ini. Arinda memutuskan dia akan membeli alat tes kehamilan saat pergi bekerja nanti.


"Kamu kenapa Rin? kok wajahmu ditekuk begitu?" tanya Mia.


Arinda menoleh, kanan kiri dan kemudian menunjukkan hasil test kehamilan saat mereka tengah istirahat makan siang.

__ADS_1


"Aku positif hamil mbak." Jawab Arinda.


Mia dan Dian kompak menyemburkan makanan dari dalam mulutnya.


__ADS_2