SALAHKAH AKU SELINGKUH?

SALAHKAH AKU SELINGKUH?
Bab.58. Patah Hati


__ADS_3

Ceklek


"Arin? kamu kenapa kesini?" tanya Mia yang terkejut melihat kehadiran Arinda di depannya.


"Mbak Mia. Hiks...." Arinda langsung memeluk Mia.


"Aku patah hati mbak. Aku patah hati. Hiks..." Arinda segera berhambur kepelukan Mia.


"Eh? patah hati kenapa Rin? bercerai dengan Aditia kan memang pilihanmu, kenapa kamu jadi menangis sekarang?" tanya Mia yang berusaha menenangkan Arinda yang tengah bersedih.


"Bukan mas Adit mbak, tapi mas Dante. Ternyata dia sudah menikahi wanita lain sejak 6 bulan yang lalu." Jawab Arinda.


"Ap-apa?" Mia terkejut.


"Iya mbak. jadi dia sudah menipuku selama ini. Hiks..." Arinda terisak.


"Kurang ajar sekali Dante!" geram Mia.


"Iya mbak. Sekarang aku baru ngerti, kenapa dia melarangku pergi ke rumahnya. Ternyata di rumahnya itu ada istrinya. Sakit sekali hatiku mbak. Selain menikmati tubuhku, ternyata di rumah dia juga menikmati tubuh istrinya. Jelas saja aku kalah saing dengan wanita itu. Dia sangat cantik dan seksi, yang pasti dia itu masih gadis saat menikah dengan dia.


"Ya terus kamu mau bagaimana sekarang?" tanya Mia.


"Aku ndak tahu mbak. Aku bingung bagaimana dengan nasib anakku. Apa aku batalkan saja ya perceraianku dengan mas Adit." Tanya Arinda.


"Sudahlah Rin. Kenapa mesti kamu jadi ndak jadi cerai? nanti masa-masa kelammu akan terulang lagi. Lebih baik kamu hidup sendiri, daripada melihara naga seperti dia." Jawab Mia.


"Yo terus aku kudu piye mbak? kasihan sama anakku," tanya Arinda.


"Sejujurnya inilah yang aku takutkan hasil dari hubungan terlarangmu sama Dante. Dan naasnya benar-benar kejadian. Tapi apapun yang terjadi, kamu kudu menghadapi semuanya Rin. Ini sudah resiko yang harus kamu hadapi." Jawab Mia.


"Aku benar-benar nyesel sudah termakan bujuk rayu bajingan itu.Hiks...." Arinda kembali terisak.


"Tak perlu di sesali lagi. Anak itu ndak berdosa, kamu harus merawat dia meskipun tanpa seorang suami. Anggap saja itu anugrah yang diberikan tuhan, sebagai ganti dari anak-anakmu yang sudah meninggal," ujar Mia.


"Iya mbak. Sampeyan mau mbak temenin aku buat USG? soale aku lupa kapan haid terakhir. Apa 3 bulan yang lalu, atau 4 bulan yang lalu," tanya Arinda.

__ADS_1


"Oalah Rin. Kok bisa lupa sih? keasikan di ge*jot Dante, sampai lupa haid terakhir kapan. Benar-Benar kebangetan kalian ini," ujar Mia.


"Ya sudah nanti agak sorean dikit kita ke klinik. Sekalian nanti kita ambil bajumu. Malam ini kamu tidur saja disini, takutnya Dante datangin kamu ngasih sejuta alasan maut," sambung Mia.


"Iya mbak. Makasih ya mbak," ucap Arinda.


Sementara itu di tempat berbeda, Dante baru saja tiba di rumah Dian.


Ceklek


"Dante? kamu kenapa disini?" tanya Dian.


"Apa Arinda ada disini?" tanya Dante.


"Ndak ada. Dia pasti di rumahnya. Kenapa kamu ndak ngubungi dia saja?" tanya Dian.


"Dia nggak ada di rumahnya mbak. Di telpon juga nggak mau ngangkat. Di chat nggak di baca. Kira-Kira dia dimana ya mbak?" tanya Dante.


"Lah kok gitu? apa kalian sedang bertengkar?" tanya Dian.


Glekkkk


"Tanpa sengaja aku sudah mengecewakan Arin mbak. 6 bulan yang lalu aku pulang ke Padang, karena mendengar orang tuaku jatuh sakit. Tapi ternyata aku sudah ditipu oleh papa dan mamaku sendiri. Karena sangat ingin melihatku menikah, mereka sudah menggelar pesta pernikahan besar-besaran, yang tidak mungkin aku tolak karena bisa membuat keluargaku malu," ujar Dante yang membuat Dian jadi menutup mulutnya karena syok.


"Astaga...jadi kamu sudah menikah? kamu mengkhianati Arinda setelah dia puas kamu nikmati tubuhnya?" Dian jadi tersulut emosi.


"Aku nggak gitu mbak. Aku sangat mencintai Arinda. Meski kami tinggal satu atap, tapi aku tidur di kamar terpisah. Kami juga sudah membuat kesepakatan, kalau kami akan bercerai setelah satu tahun pernikahan, atau setelah Arinda bercerai. Tapi tadi belum sempat aku menjelaskan semuanya, Arinda keburu tahu tentang pernikahanku itu. Aku nggak bisa kehilangan Arinda mbak," ujar Dante.


"Ya kamu ndak bisa egois toh. Kamu mesti milih salah satu. Ndak bisa kamu milih keduanya. Jelas Arinda sangat terluka. Yang pasti dia sangat minder, karena saingan cintanya pasti masih gadis. Sementara dia sudah sisa orang lain," ujar Dian.


"Tadi aku sudah mentalak istriku. Dia sudah kembali ke Padang. Aku sangat mencintai Arinda dan lebih memilih Arinda," ujar Dante.


"Luar biasa sekali kisah cinta kalian ini. Sepertinya aku tahu Arinda ada di mana. Dia pasti ada di rumah Mia. Sebaiknya kamu temui saja dia disana. Dan...."


"Dan apa mbak?" tanya Dante.

__ADS_1


"Sepertinya kamu belum tahu ya, kalau Arinda saat ini sedang hamil. Dia pasti pergi ke rumahmu karena ingin memberikan kejutan buat kamu." Jawab Dian.


"Ap-Apa? Arinda hamil?" Dante terkejut.


Dian menatap wajah bingung di raut wajah Dante.


"Jangan bilang kalau kamu meragukan, kalau bayi yang dikandung Arinda adalah anak biologismu," ujar Dian.


"Maaf mbak. Tapi kan...."


"Arinda bilang 1000% itu anak biogismu. Karena setiap melakukan dengan Aditia, dia selalu menyuruh Adit menggunakan pengaman. Sementara saat sama kamu, dia begitu bebas. Jadi kamu jangan pernah meragukan Arinda Dante," ujar Dian.


"Benarkah?" Dante tersenyum senang.


"Ya. Pergilah! jelaskan semuanya. Mbak mohon jangan sakiti dia. Dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Dia ingin menggantungkan semua harapan hidupnya sama kamu Dante. Karena meski dia melakukan kesalahan sama kamu, tapi dia wanita yang baik dan penyayang. Mbak mendukung hubungan kalian," ujar Dian.


"Makasih mbak. Sekarang tolong minta Alamat mbak Mia," ujar Dante.


Dianpun memberikan alamat Mia, dan Dantepun bergegas pergi kesana. Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit, Dantepun tiba di kediaman Mia.


Ceklak


Ferdy yang mendengar suara ketukan pintu, segera membukanya dan mendapati Dante di depan rumahnya.


"Apa mbak Mia atau mbak Arinda ada?" tanya Dante.


"Ibu sama tante Arin sedang pergi ke klinik." Jawab Ferdy.


"Ke klinik? buat apa?" tanya Dante.


"Kayaknya tante Arin sakit. Tadi dia nangis terus, dan minta di temani ibu ke klinik." Mendengar itu Dante jadi panik. Pria itu memutuskan untuk menunggu Arinda di rumah kekasihnya itu. Karena dia punya keyakinan kalau Arinda pasti pulang kerumah. Dan sesuai dugaannya, Arinda memang pulang, karena ingin mengambil pakaian.


Saat turun dari motor Arinda tampak cuek. Bahkan dia menghempaskan tangan Dante, saat pria itu berusaha meraih tangannya.


"Tolong biarkan Arinda tenang dulu Dante," ujar Mia.

__ADS_1


"Nggak mbak. Aku harus segera meluruskan kesalahapahaman ini. Aku sudah menjelaskan semuanya pada mbak Dian. Apa bisa tinggalkan kami berdua saja mbak? aku harus menyelesaikan ini secepatnya," ujar Dante.


Mia tampak ragu. Tapi Dante meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja.


__ADS_2