SALAHKAH AKU SELINGKUH?

SALAHKAH AKU SELINGKUH?
Bab.35. Berpisah Sementara


__ADS_3

"Ya sudahlah. Kalau bahas masalah ini ndak akan pernah ada habisnya. Sekarang mending kita masuk kedalam. Sudah waktunya ganti shif," ujar Dian.


Tiga serangkai itupun masuk kedalam pabrik untuk menjalani rutinitas mereka seperti biasa. Dan setelah waktu menunjukkan pukul 12 siang, merekapun istirahat untuk makan siang.


Tring


Tring


Tring


"Mas Dante," gumam Arinda dengan bibir tersungging.


"Hallo mas," sapa Arinda.


"Sayang. Hari minggu nanti kamu shif apa?" tanya Dante.


"Emm...kalau tidak salah shif malam lagi. Kenapa mas?" tanya Arinda.


"Kalau begitu minggu pagi kamu datang kerumah ya!" ucap Dante.


"Tapi mas. Jatah liburku kan hari senin. Kenapa kita bertemu hari minggu?" tanya Arinda.


"Minggu siang aku akan pulang ke Padang. Aku ingin bertemu denganmu sebelum pergi." Jawab Dante.


"M-Mas mau pulang? kenapa mas? apa mas akan kembali?" tanya Arinda.


"Ya ampun sayang. Apa yang kamu pikirkan. Tentu saja aku akan kembali. Mana bisa aku jauh darimu terlalu lama. Aku pulang karena mamaku sedang sakit. Aku disuruh pulang oleh mereka." Jawab Dante.


"Mama sakit? sakit apa mas? kenapa harus menunggu hari minggu, kenapa ndak pulang sekarang saja? bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu sama mamamu mas?" tanya Arinda bertubi-tubi.


"Mama pasti senang, saat tahu calon menantunya sangat perhatian padanya. Aku belum tahu mama sakit apa, tapi yang pasti dia sangat membutuhkan kehadiranku saat ini." Jawab Dante.


"Justru itu mas harus pulang cepat, jangan menunggu sampai hari minggu," ujar Arinda.


"Tapi aku sangat ingin bertemu denganmu. Aku harus mendapatkan bekal darimu dulu, barulah aku akan pergi dengan tenang," ujar Dante.


"Bekal? iya juga. Perjalanan kepadang sangat jauh. Nanti aku akan buatkan bekal buat mas. Mas mau apa? ayam apa ikan?" tanya Arinda.


Dante terkekeh mendengar pertanyaan Arinda, namun dia sama sekali tidak berniat meluruskannya.


"Ya sudah kamu pasti belum makan siang kan? sekarang kami makan, aku juga mau lanjut kerja," ujar Dante.


"Iya mas." Jawab Arinda.


*****


Dua hari kemudian....


"Mas. Aku pergi kerja dulu ya! aku baru pulang besok pagi," ujar Arinda.


"Kamu lembur?" tanya Aditia.

__ADS_1


"Ya." Jawab Arinda.


"Ya sudah hati-hati," ucap Aditia.


"Uang bensin mas Adit ada diatas meja," ujar Arinda.


"Ya." Jawab Aditia.


Arindapun pergi dengan menenteng satu kotak bekal ukuran sedang untuk Dante. Pagi-pagi sekali dia sudah bangun dan memasak untuk kekasihnya itu.


Tok


Tok


Tok


Ceklek


"Sayang," Dante segera menarik tangan Arinda masuk kedalam dan menutup pintu. Setelah itu dia membawa Arinda dalam pelukkannya.


"Kangen," ucap Dante.


Arinda mengeratkan pelukannya. Bisa dia rasakan, kalau Dante sangat tulus padanya.


"Aku juga kangen sama kamu mas," ucap Arinda.


"Oh ya. Mas berangkat jam berapa?" tanya Arinda.


"Jam 2 naik pesawat." Jawab Dante.


"Makasih ya sayang. Tapi bukan bekal ini yang aku mau," ujar Dante.


"Emang mas Dante mau bekal apa?" tanya Arinda.


Tanpa banyak bicara Dante menarik tangan Arinda masuk kedalam kamar. Arinda memutar bola matanya dengan malas, karena dia baru mengerti arah pembicaraan Dante. Tanpa berbasa basi lagi, Dante langsung mencumbu dirinya. Dan pagi itu mereka benar-benar melepaskan rasa rindu mereka hingga siang menjelang.


"Apa mas pulangnya lama?" tanya Arinda sembari memainkan dada Dante dengan jari telunjuknya.


"Aku sudah minta cuti selama seminggu." Jawab Dante.


"Lama juga ya!" ucap Arinda.


"Kenapa? takut kangen ya?" tanya Dante.


"Emm." Arinda mengangguk.


"Mas jangan nakal disana! kalau ada yang godain mas, ingatlah wajahku," ujar Arinda.


"Nggak akan. Aku nggak mau wanita lain, aku cuma mau kamu." Jawab Dante.


"Oh ya nanti kunci cadangan rumah ini biar kamu yang bawa. Aku pergi ke bandara sebentar lagi. Kamu masuk malam kan? jadi masih lama waktunya. Kamu istirahat saja dulu," ujar Dante.

__ADS_1


"Iya. Hemmzz...sedih deh mau pisah sama kamu mas," ucap Arinda sembari memeluk erat Dante.


"Cuma pisah sementara sayang. Nanti pas ketemu lagi, kita bisa melepaskan rindu sepuasnya," ujar Dante.


"Ya." Jawab Arinda.


"Ya sudah aku mandi dulu ya sayang! mau siap-siap biar nggak ketinggalan pesawat," ujar Dante.


Dante beranjak dari atas tempat tidur dengan tubuh telanjangnya, Arinda kemudian menyusul pria itu dan memeluknya dari belakang.


"Sayang. Kalau seperti ini aku bisa ketinggalan pesawat. Dia jadi bangun lagi ini," ujar Dante yang membuat Arinda terkekeh.


"Ya sudah aku mandiin mas," ujar Arinda sembari meraih gayung dan menyiramkan air ketubuh kekasihnya itu.


Setelah mandi bersama, Arinda membantu Dante berpakaian yang membuat Dante merasa sangat bahagia.


"Sekarang sebelum pergi mas makan dulu ya! aku sudah masak ayam goreng balado buat mas," ujar Arinda.


"Makasih ya sayang. Kamu yang seperti ini membuatku jadi berat ninggalin kamu," ujar Dante sembari menyelipkan rambut Arinda kebelakang telinga.


"Makanya pulangnya jangan lama," ujar Arinda.


"Emm pasti. Ya sudah makan dulu yuk!" Arinda kembali melayani Dante sepenuh hati saat di meja makan. Dante menatap kekasihnya itu dengan menopangkan tangan di dagu.


"Mas kenapa lihatin aku begitu?" tanya Arinda.


"Kamu cantik, baik, dan seksi." Jawab Dante.


"Mas Dante apaan sih mas?" Arinda tersipu malu.


Dante dan Arinda mulai makan sembari berbincang. Dan setelah selesai Dantepun berpamitan pergi dengan menggendong tas ransel berwarna hitam.


"Jaga diri baik-baik ya sayang," ucap Dante sembari mengusap puncak kepala Arinda.


Grepppp


Arinda berhambur kepelukkan Dante sembari menangis.


"Kenapa aku merasa masa Dante bakal ninggalin aku. Jangan kecewain aku mas," ucap Arinda disela isak tangisnya.


"Kamu terlalu berlebihan sayangku. Aku pasti pulang lagi. Nanti saat aku pulang, aku bawakan oleh-oleh buat kamu," ujar Dante.


"Aku ndak butuh oleh-oleh mas, aku mau kamu kembali," ujar Arinda.


"Iya sayangku. Kamu kenapa jadi cengeng begini. Hem?" tanya Dante sembari menyeka air mata kekasihnya itu.


Arinda tiba-tiba mengalungkan tangan ke leher Dante, dan mereka kembali berciuman mesra. Setelah puas, Dante akhirnya benar-benar pergi.


Arinda menatap rumah Dante yang terasa sepi. Seperti saran Dante, Arinda kembali ke ke kamar dan beristirahat disana sembari menunggu waktu jam kerja.


Sementara itu Dante yang tengah berada dijalanan bersama ojek online, senyum-senyum sendiri saat mengingat kebersamaannya dengan Arinda. Namun saat ojek yang dia tumpangi berada di lampu merah, tidak sengaja Dante melihat Aditia tengah mangkal bersama tukang ojek dengan pakaian santai.

__ADS_1


"Bukankah ini jam kerja? apa hari ini Aditia tidak bekerja?" batin Dante.


Dante jadi berpikir keras saat melihat Aditia barusan. Namun Dante tidak ingin berburuk sangka, dan mengadukan hal itu pada Arinda, agat kekasihnya itu tidak bertengkar dengan suaminya.


__ADS_2