SALAHKAH AKU SELINGKUH?

SALAHKAH AKU SELINGKUH?
Bab.22. Pasti Nyesel


__ADS_3

"Ndak usah pulang-pulang lagi sampeyan ya! kalau pulang tak buyarno usus sampeyan," teriak Arinda sembari mengacungkan pisaunya kearah Aditia yang sudah berjalan menjauh.


Nafas Arinda terlihat naik turun, sementara Fatimah menarik ibu dari dua anak itu masuk kedalam rumah, karena dia sadar kalau mereka sudah jadi tontonan para tetangga.


"Hiks....." Arinda terisak sembari meletakkan pisau diatas meja.


"Sudah puas kamu melampiaskan amarahnu hingga jadi tontonan orang-orang?" tanya Fatimah.


"Arin kesal bu. Mas Adit sudah keterlaluan. Sikapnya menjadi-jadi. Aku ini bukan ATM berjalan buat dia bu." Jawab Arinda disela isak tangisnya.


"Buk'e kan sudah bilang sama kamu, ndak usah diladeni suamimu itu. Kalau kamu selagi ada kasih saja, jagan dibuat ribut uang sedikit seperti itu. Malu sama tetangga hampir tiap hari teriak-teriak," ujar Fatimah.


"Aku ndak perduli dengan omongan tetangga. Tetangga ndak ngasih aku uang saat aku susah," ujar Arinda.


"Ya sekarang maumu itu apa? suamimu sudah kamu usir. Terus kamu mau bagaimana sekarang?" tanya Fatimah.


"Buk'e boleh potong telingaku. Besok lanang ndak punya malu itu pasti pulang lagi kerumah ini. Sopo sing gelem ngopeni manusia malas naudzubillah kayak dia." Jawab Arinda.


"Hah. Ndok-Ndok, nggawe mumet ndas mbokmu wae. Sebenarnya buk'e bingung, kamu mau bagaimana kedepannya berumah tangga sama Adit. Masa iya seperti ini terus sampai tua," ujar Fatimah.


"Buk,"


"Opo." Jawab Fatimah.


"Menurut buk'e bagaimana kalau aku sama mas Adit bercerai saja?" tanya Arinda sembari menatap mata Fatimah.


"Kenapa?" tanya Fatimah.


"Kok kenapa? ya buk'e tahu sendiri penderitaanku selama ini. Aku cari duit sendirian buk, dia enak-enak menikmati hasilnya. Bukannya meringankan bebanku, dia malah membuat aku semakin sesak dengan himpitan masalah dalam hidupku." Jawab Arinda.


"Huffftt," terdengar hembusan nafas kasar dari mulut Fatimah.


"Sebenarnya buk'e sama sekali ndak masalah kalau kamu mau bercerai dari dia, toh itu pilihan dan keputusanmu sendiri. Kalau kamu siap mental dan yakin, ibu akan mendukung apapun keputusanmu ndok," ujar Fatimah.


Arinda tersenyum dan kemudian memeluk ibunya itu.


"Makasih buk'e," ucap Arinda.


"Buk'e ingin kamu bahagia Rin. Buk'e juga merasa sakit melihat kamu menderita," ujar Fatima sembari membelai rambut panjang Arinda.


Ingin rasanya Arinda bercerita pada Fatimah tentang kehadiran Dante dalam hidupnya, namun dia tahu pasti kalau hal itu tidak akan di dukung oleh ibunya. Kecuali dia melakukannya dengan cara benar, yaitu setelah bercerai dari Aditia.


"Kalau kamu ingin cerai, bicara sama dia baik-baik setelah dia pulang nanti," sambung Fatimah.

__ADS_1


"Iya buk'e." Jawab Arinda sembari melepaskan pelukkannya.


Sementara itu ditempat berbeda, suasana tetangga samping rumah Mia tampak begitu ramai. Wangi harum dari masakkan para ibu-ibu yang membantu acara hajatan di rumah Lastri bisa tercium di hidung Mia.


"Mau bikin aku panas dengan bikin hajatan besar-besaran. Apa mereka pikir aku bakal panas hati? kalian pasti nyesel buat Ridwan jadi menantu. Apa mereka pikir Ridwan keluar malam karena cari duit? mereka ndak tahu kerjanya tiap malam ge*jotin para lo*te di rumah bordil," gumam Mia.


"Mbak Mia," sapa tetangga, saat Mia akan memasuki rumahnya.


"Eh bu Siti , mbak Mila, mau rewang ya?" tanya Mia.


"Iya. Kok mbak Mia bisa santai gitu sih? yang mau menikahkan suami sampeyan mbak. Sama daun muda lagi. Apa sampeyan benar-benar ndak apa-apa mbak?" tanya Mila.


"Yo ndak apa-apa. Lagian aku sudah mau cerai dari mas Ridwan. Jadi terserah dia mau nikah sama siapa saja." Jawab Mia.


"Sampeyan ndak cemburu sama sekali mbak?" tanya Mila.


"Ndak sama sekali. Mereka belum tahu belangnya mas Ridwan. Paling bentar lagi ribut besar." Jawab Mia dengan santai.


"Yo wes aku tak masuk dulu ya," sambung Mia sembari masuk kedalam rumahnya.


Mila dan Siti langsung mencebikkan bibirnya, karena sama sekali tidak percaya dengan ucapan Mia.


"Kamu percoyo kalau dia bilang ndak cemburu?" tanya Siti.


"Yo ora toh bu. Mana mungkin ndak cemburu. Bertahun-tahun suami tidur sama kita, tiba-tiba buntingi daun muda. Tetangga samping rumah lagi. Mana mungkin ndak cemburu," ujar Mila.


"Sudah yuk kita pergi ke rumah Lastri," ujar Mila.


"Hayuk," ucap Siti.


Siti dan Mila bergegas pergi ke rumah Lastri untuk bantu-bantu pekerjaan disana.


Sreettt


Mia menutup tirai jendelanya setelah mengintip kepergian Siti dan Mila.


"Dasar tetangga laknat. Terus aja kepo dengan masalah rumah tangga orang lain. kusedot juga ntar ubun-ubun kalian," gerutu Mia.


Mia langsung berjalan masuk kedalam kamar, namun saat sedang melepas bajunya Ferdy sang putra semata wayang mengetuk pintu kamarnya.


"Ono opo Le? masuk aja!" seru Mia dari arah dalam kamar.


Ceklek

__ADS_1


Ferdy menekan handle pintu kamar Mia. Bocah kelas dua SD itu masuk ke kamar Mia dengan wajah murung.


"Ada apa? kenapa wajahmu sedih begitu?" tanya Mia.


"Bapak besok jadi menikah dengan mbak Lastri?" tanya Ferdy.


Mia menatap Ferdy. Dia masih belum tahu arah pembicaraan putranya itu.


"Kenapa?" tanya Mia.


"Apa bapak tidak akan pulang ke rumah ini lagi?" tanya Ferdy.


"Kenapa kamu harus mengkhawatirkan hal itu. Waktu ada dia di rumah ini, apa dia mengurusmu?" tanya Mia yang dijawab gelengan oleh Ferdy.


"Terus kenapa wajhmu sedih seperti itu?" tanya Mia.


"Apa kalau bapak menikah dengan mbak Lastri, itu artinya dia bukan bapakku lagi? kalau teman-temanku nanti bertanya tentang bapakku, aku mesti jawab siapa nama bapakku?" mendengar pertanyaan polos Ferdy, tentu saja membuat Mia jadi terkekeh.


Mia memeluk kepala putranya itu dan membawanya kedadanya.


"Sayangku. Nggak ada yang namanya bekas bapak atau ibu. Sampai matipun bapakmu dan ibu kandungmu tetap bapak Ridwan dan ibu Mia. Jadi meski bapakmu menikah lagi dengan mbak Lastri, dia tetap masih bapak kamu. Cuma dia nggak bisa tinggal bareng ibu lagi. Karena bapak sama ibu sudah tidak bisa tinggal bersama." Jawab Mia.


"Bapak sama ibu cerai?" tanya Ferdy yang membuat Mia terkejut.


"Haduhhh...anak jaman sekarang tahu darimana istirah cerai. Rasanya baru kemarin ada dalam ayunan, sekarang anakku sudah besar dan bertambah pintar," batin Mia.


"Iya. Bapak sama ibu cerai." Jawab Mia yang membuat Ferdy menangis sesegukkan.


"Bapak sama ibu kenapa cerai? hiks....kenapa bapak harus nikah sama mbak Lastri?" pertanyaan Ferdy cukup mengiris hati Mia. Namun masalah perselingkuhan Ridwan bukan kali pertama pria itu lakukan, dan dia tidak mungkin menceritakan hal itu pada anaknya.


"Ibu cerai karena tidak cocok lagi. Kalau kamu besar nanti, kamu pasti mengerti. Tapi kamu tidak usah khawatir, meski tanpa bapak kamu. Kamu tidak akan pernah kekurangan kasih sayang dari ibu." Jawab Mia sembari meneteskan air mata.


"Ibu jangan ninggalin Ferdy kayak bapak. Ferdy takut sendirian," ujar Ferdy.


"Tidak akan. Kemanapun Ibu pergi, kita akan selalu sama-sama," ujar Mia.


Mia dan Ferdy sama-sama menangis sembari berpelukkan erat.


"Besok ibu akan ajak kamu jalan-jalan. Kamu ingin sekali berenang toh? ibu akan ajak kamu ke kolam renang yang sangat besar," sambung Mia.


"Yang benar bu?" tanya Ferdy sembari menghapus air mata.


"Iya. Besok kita akan bersenang-senang seharian." Jawab Mia.

__ADS_1


"Horeeeee,"


Mia sangat bahagia, karena sudah bisa mengembalikan senyuman putra semata wayangnya.


__ADS_2