SALAHKAH AKU SELINGKUH?

SALAHKAH AKU SELINGKUH?
Bab.27. Karena Aku Mencintaimu


__ADS_3

"Menangislah kalau itu bisa membuat hatimu lega dan puas," ujar Dante sembari membelai lembut kepala kekasihnya.


"Makasih mas. Sampeyan selalu bisa membuatku nyaman dan tenang," ucap Arinda sembari menyeka air matanya.


Dante meraih kedua sisi wajah Arinda, dan menatap mata kekasihnya itu dengan dalam.


"Kau tahu kenapa tadi malam aku datang kerumahmu?" tanya Dante.


Arinda menggelengkan kepalanya, karena setahunya Dante hanya ingin memberikan BPKB motornya.


"Hanya alasanku ingin memberikan BPKB motor itu. Tapi pada kenyataannya, hatiku tiba-tiba gelisah saat sedang makan malam. Aku bahkan tersedak, karena merasa kamu memanggil namaku. Namun saat aku sampai ke rumahmu, aku baru mengerti. Lebam diwajahmu sudah menjawab semua kekhawatiranku," ujar Dante.


"Mas. Kenapa sampeyan sangat baik sama aku?" tanya Arinda.


"Itu karena aku mencintaimu. Arinda, bercerailah dari Aditia ya!" ujar Dante.


"Aku masih mikirin nasib anakku mas. Cerai itu urusan gampang, tapi aku mau memberi kesempatan mas Adit buat berubah," ujar Arinda.


"Lalu bagaimana denganku? apa selamanya aku akan jadi pria simpananmu?" tanya Dante.


Arinda menatap mata Dante dengan lekat.


"Mas Dante pasti tahu pasti bagaimana posisi sampeyan dihatiku. Mas Dante ndak akan tergantikan, itu karena aku juga mencintai sampeyan. Tapi mas juga harus mengerti, kita ndak boleh egois mementingkan diri sendiri dan ndak memikirkan nasib anak-anakku. Anak-Anak memang bukan anakmu, itulah sampeyan ndak pernah mikir kesitu. Tapi itu ndak apa-apa, aku cuma ingin hatiku bahagia saat dekat karo sampeyan." Jawab Arinda.


"Jadi kita tidak akan pernah bersatu ya? jadi selamanya aku akan jadi pria simpananmu?" tanya Dante.


"Ngomongnya mbok ya jangan pria simpanan toh mas. Ndak enak didengar. Aku ndak pernah nganggap sampeyan begitu. Tapi satu hal yang aku mengerti, kalau posisi sampeyan di hati aku sangat spesial." Jawab Arinda.


"Apa kamu masih mencintai Aditia?" tanya Dante.


"Rasa cinta itu sudah lama hilang. Aku bertahan dengannya, itu hanya demi anak." Jawab Arinda.


Cup


Dante mencium lembut bibir Arinda, yang membuat hati wanita itu jadi basah dan berbunga. Semua beban yang dia rasakan saat ini terasa sudah terangkat semua.


Perlahan tapi pasti Arinda membalas ciuman Dante, dan mengalungkan kedua tangannya di leher pria itu. Dante dengan gesit membawa Arinda ke pangkuan, agar dia lebih leluasa mengeksplor apa yang dia inginkan.


"Love you," bisik Dante disela-sela ciuman mereka.


"Love you too mas." Jawab Arinda tersipu.

__ADS_1


"Boleh aku...."


Arinda menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Ada 3 alasan aku tidak mau kamu tiduri mas," ucap Arinda.


"Apa?" tanya Dante.


"Pertama. Aku sedang haid saat ini," ucapan Arinda membuat Dante menepuk dahinya.


"Yang kedua, kita baru kenal. Aku belum tahu seserius apa kamu denganku. Aku sudah merasakan pahitnya berumah tangga, aku ndak mau terluka lagi."


"Dan yang ketiga. Aku ndak mau kamu menganggap aku wanita murahan. Meskipun sekarang aku seperti wanita murahan."


"Husssttt...Dante meletakkan jari diatas bibir Arinda.


"Aku tidak pernah menganggapmu seperti itu. Kita sudah sama-sama dewasa. Bahkan usiaku 8 tahun lebih tua darimu. Kita saling mencintai, tidak ada yang salah dengan perasaan itu. Kalau kamu ragu padaku, aku akan membuktikannya," ujar Dante.


Greppppp


Arinda memeluk Dante dengan erat. Pelukkan Dante yang hangat membuatnya merasa nyaman.


"Aku takut kebahagiaan seperti ini segera berakhir. Sudah lama aku ndak merasakan hati berbunga-bunga. Aku menikah dengan mas Adit di usia 19 tahun. Aku belum terlalu mengerti apa artinya cinta. Tapi setelah diingat-ingat, sepertinya dulu aku cuma terobsesi sama dia. Tapi entahlah...aku juga ndak mau memungkirinya hanya karena aku benci sama dia," ujar Arinda.


"Emm." Arinda mengangguk.


Dante melihat jam dipegelangan tangannya, dan waktu sudah menunjukkan pukul 12.30.


"Sayang. Kamu tunggu di rumah ya? aku mau lanjut kerja lagi. Pokoknya kamu jangan pulang sebelum aku kembali. Kamu mau makan apapun tinggal masak saja. Di kulkas semua bahan lengkap," ujar Dante.


"Eh? mas Dante pulang cuma buat nemuin aku? kenapa ndak pas mas Dante libur aja," tanya Arinda.


"Aku libur cuma di hari minggu. Kadang minggupun juga masuk kerja. Jadi Jadwal kita kadang nggak pas. Nggak apa, kamu disini saja buat nenangin diri. Kamu tidur saja yang nyaman disini." Jawab Dante.


"Ya sudah. Mas Dante hati-hati ya!" ucap Arinda.


"Ya. Tunggu mas ya sayangku," ujar Dante sembari mengelus pipi Arinda dengan lembut.


Cup


Dante kembali mencium bibir Arinda dan sedikit me**matnya.

__ADS_1


"Ah...rasanya berat sekali perginya," ujar Dante sembari terkekeh. Sementara Arinda jadi tersipu malu.


Arinda melambaikan tangan sembari mengantar Dante di depan teras.


"Apa kehidupan seperti ini yang aku inginkan? mas Dante bisa memberikan segalanya demi aku. Hal yang tidak aku dapatkan dari mas Adit. Tapi rasa bersalahku tetap saja masih muncul. Apa sebaiknya aku mengajukan gugatan cerai saja? tapi bagaimana dengan ancaman mas Adit? aku sangat takut dipisahkan dengan anak-anak," batin Arinda.


Arinda memutuskan untuk tidur di kamar Dante. Saat waktu menunjukkan pukul 3 barulah Arinda terbangun.


"Ya Tuhan...ini tidur terlama dan ternyenyak dalam hidupku. Rasanya sangat nyaman sekali," gumam Arinda sembari merenggangkan sendi-sendi di tubuhnya.


"Sudah jam 3 sebaiknya aku pergi ke dapur buat masak. Mas Dante sebentar lagi akan pulang. Aku harus memasak makanan spesial buat dia," gumam Arinda sembari tersenyum.


Arinda kemudian berkutat di dapur, memasak makanan yang di sukai Dante. Setelah berkutat hampir satu jam, semua makananpun selesai dia masak.


"Jam 4 mas Dante belum pulang juga. Sebaiknya aku mandi saja dulu biar segar," gumam Arinda.


Arinda memutuskan mandi terlebih dahulu, untuk menyambut kedatangan Dante. Setelah hampir 20 menit berada di kamar mandi, Arindapun keluar setelah mandi dan mengganti pembalutnya.


Ceklek


Mata Arinda dan Dante bersitatap, saat Arinda baru akan memasangkan penyangga dada. Karena saat ini dia masih melilitkan handuk di tubuhnya.


Glekkkk


Dante menelan ludahnya, saat melihat bagian dada Arinda yang tinggi menjulang.


"M-Mas sudah pulang?" tanya Arinda dengan gugup.


Dante mendekat kearah Arinda perlahan, dan kemudian meraih kedua sisi wajah kekasihnya itu.


"Kamu sangat menggairahkan sayang," bisik Dante yang kemudian mencium Arinda dengan rakus.


Sreeeettt


Dante melepas handuk yang Arinda kenakan dan menggiring Arinda keatas tempat tidur.


"M-Mas...." Arinda melengguh saat Dante dengan rakus bermain di puncak dadanya.


Tubuh Arinda bergelinjang hebat. Dia akui Dante benar-benar mampu membangkitkan ga*rahnya yang padam saat bersama Aditia. Namun saat Dante akan menarik kain segitiga miliknya, Arinda menahan tangan pria itu.


"Ma-Mas. Aku lagi haid," ucap Arinda disela nafasnya yang memburu.

__ADS_1


"Aaakkhh...."Dante mengerang frustasi mendengar ucapan Arinda. Sementara Arinda jadi terkekeh, saat melihat wajah Dante yang memelas.


__ADS_2