
"Duh...kayaknya diluar pabrik lagi hujan deras deh," ujar Arinda, saat melihat ada percikkan hujan di kaca lipat yang berada di dinding pabrik.
"Ya terus kenapa kalau hujan?" tanya Dian.
"Ini sudah hampir jam pulang kerja kita. Kalau mas Dante sudah nungguin di luar bagaimana?" tanya Arinda.
"Ciyeee...yang mulai perhatian," ledek Mia.
"Apaan sih mbak. Jangan ngawur sampeyan itu," ucap Arinda.
"Tapi kalau beneran dia nungguin kamu diluar sampai basah-basahan gitu, luar biasa sekali tandanya. Dan fiks, cowok itu punya perasaan sama kamu Rin," ujar Dian.
"Ini lagi mbak Dian. Sama ngawurnya sama mbak Mia. Kalian jangan begitu, aku ini masih waras." Arinda geleng-geleng kepala mendengar ucapan kedua temannya itu.
"Tapi suwer ya! mbak ngerasa kalian itu bakal ada sesuatu kedepannya," ujar Mia.
"Mboh! gila semua kalian ini," ujar Arinda yang dijawab kekehan oleh kedua sahabatnya itu.
Satu jam sudah berlalu. Jam kerja Arindapun telah berakhir. Arinda bergegas mengambil tasnya di loker penitipan barang, dan keluar dari pabrik tanpa menunggu teman-temannya terlebih dahulu. Sesuai dugaannya, Dante menunggu di parkiran sembari hujan-hujanan.
Melihat hal itu Arinda nekad menghampiri, meskipun harus ikut basah terkena air hujan.
"Ya ampun mas. Kenapa kamu hujan-hujanan begini? nanti sampeyan sakit. Kenapa ndak berlindung dulu atau nunggu hujannya reda?" tanya Arinda.
Dante mentap wajah cantik Arinda dengan rambut basah terurainya. Ditatap seperti itu, tentu saja Arinda jadi gugup. Dante kemudian melihat suasana sekitar, yang membuat Arinda mengikuti arah pandang pria itu.
"Disini pohonnya baru dipangkas, jadi nggak ada tempat berlindung. Pabrik kalian juga tidak dilengkapi dengan kanopi ditiap sisinya. Jadi aku menunggumu disini saja. Aku takut kalau aku menunggu sampai hujannya reda, kamu akan kebingungan nantinya." Jawab Dante sembari menatap lekat mata Arinda.
"Ta-Tapi kalau mas sampai sakit, siapa yang akan mengantar jemputku nanti. Jadi mas harus selalu sehat, sampai motorku diperbaiki," ujar Arinda.
"Kalau kamu ingin aku sehat terus, apa tidak sebaiknya kita cepat pergi dari sini? aku sudah kedinginan," tanya Dante dengan wajah memelas.
"I-Iya. Ayo! ayo mas!," Arinda segera memasang helm dan segera menaiki motor itu.
Haaaccciimmmm
Haacciimmmmm
__ADS_1
Dante berkali-kali bersin, dan itu membuat Arinda khawatir.
"Arin. Maukah kamu menemaniku pulang dulu? sepertinya aku akan demam, kalau aku tetap pakai baju basah seperti ini. Dirumahku ada jas hujan, aku bisa mengantarmu pulang dengan jas hujan itu?" tanya Dante.
"Ya sudah mas, ndak apa-apa kita mampir saja." Tanpa pikir panjang Arinda menyetujui permintaan Dante, karena dia sangat khawatir ojek pribadinya itu akan sakit.
Arinda menatap rumah-rumah disekitar rumah Dante. Semua pintu tampak tertutup, dan tidak ada kesan kekeluargaan.
"Masuklah!" ujar Dante.
"Aku nunggu diluar saja mas. Bajuku basah soalnya, nanti lantai rumah sampeyan basah dan kotor." Jawab Arinda.
"Tidak apa-apa, nantikan bisa di pel," ujar Dante.
Arinda memasuki rumah itu, dan duduk di salah satu kursi plastik.
"Keringkan rambutmu dengan handuk ini, nanti kamu masuk angin," ujar Dante.
Arinda meraih handuk itu dari tangan Dante, dengan mata fokus pada tubuh pria itu yang tidak mengenakan pakaian atas.
"Ya ampun. Apa ini yang orang-orang bilang roti sobek?" batin Arinda yang segera mengalihkan pandangannya.
"Ndak usah mas. Takutnya jadi masalah dikeluargaku." Jawab Arinda.
"Jadi masalah? kenapa bisa begitu?" tanya Dante.
"Ya maklum saja. Aku inikah wanita bersuami dan punya dua anak mas. Bagaimana kalau suamiku cemburu, kalau lihat aku memakai baju laki-laki lain." Jawaban Arinda membuat Dante tertegun. Sementara Arinda yang semula terkekeh, tawanya itu lenyap seketika saat melihat mata sendu dari pria dihadapannya itu.
"Kenapa aku melihat raut sedih diwajahnya? dia ndak mungkin sedih mendengar aku bersuami kan?" batin Arinda.
"Emmm...mas cepatlah pakai bajunya, sebentar lagi malam. Aku takut keluargaku khawatir," ujar Arinda tanpa mampu menatap Dante kembali.
Tanpa banyak bicara Dante berbalik badan, dan berganti pakaian. Pria itu juga meraih jas hujan dan jaket tebal.
"Pakailah jas hujannya!" ujar Dante.
"Lalu mas pakai apa?" tanya Arinda.
__ADS_1
"Aku pakai jaket saja." Jawab Dante.
Arinda bergegas mengenakan jas hujan, dan keluar dari rumah itu bersama Dante setelah pintu rumah itu di kunci. Tak ada obrolan selama diperjalanan pulang, seperti yang sering mereka lakukan. Mereka seolah mengalami kecanggungan.
"Tidak usah dilepas. Kamu bawa saja sampai rumah, jalan kedalam lumayan jauh kan? atau aku antar saja sampai rumah?" tanya Dante.
"Eh? ndak usah mas. Antar sampai sini aja. Makasih ya mas! hati-hati sampeyan pulangnya," ucap Arinda.
"Ya." Dante menatap punggung Arinda yang semakin lama semakin menjauh.
"Hah...istri orang ya?" Dante terkekeh dan kemudian kembali pulang ke rumahnya.
"Darimana saja kamu? kenapa jam segini baru pulang?" tanya Aditia.
"Apa sampeyan itu ndak lihat kalau sekarang lagi hujan mas? tadi saja aku terpaksa nerobos hujan. Kalau ndak diterobos, mungkin besok baru pulangnya." Jawab Arinda sembari melepaskan jas hujan dari tubuhnya.
"Itu jas hujan siapa?" tanya Aditia.
"Dipinjami tukang ojeknya. Dia rela basah, agar aku ndak sakit. Kalau aku sampai sakit, aku ndak bisa kerja dan ngidupin sampeyan." Arinda menjawab sembari masuk kedalam rumah.
Arinda yang sudah kedinginan bergegas melepas pakaiannya. Aditia yang sejak tadi mengekor dibelakang Arinda, tentu saja sangat bernafsu melihat pemandangan yang sudah nyaris dua bulan tidak dia lihat dan nikmati.
Greppppp
Aditia langsung menangkup dan meremas kedua mainan favoritnya dari arah belakang, dengan wajah yang sudah bermain diceruk leher istrinya itu.
"Mas. Kamu apa-apaan sih mas? aku ini capek, kedinginan. Ini sudah hampir magrib, jangan edan kamu mas!" Arinda menggeram, karena takut pertengkarannya di dengar oleh Fatimah.
"Pingin aku Rin. Hampir dua bulan kita nggak ngelakuinnya. Tolong jangan nyiksa aku lagi," bisik Aditia.
"Ndak mau aku mas. Bisa-Bisanya kamu tersiksa cuma ndak dikasih jatah dua bulan? lah aku kamu siksa batin hampir 3 tahun ndak kamu pikirkan? jadi ndak usah banyak nuntut kamu mas," ujar Arinda sembari berusaha melepaskan tangan Aditia yang bermain dikedua aset berharganya.
"Nggak bisa! aku sudah nggak tahan lagi Rin," Aditia menyeret tangan Arinda, dan mendorong istrinya itu ke atas tempat tidur.
Aditia bergegas melepaskan semua kain yang ada ditubuhnya, dan segera mengungkung istrinya itu.
"Mas lepasin mas!" hardik Arinda.
__ADS_1
"Diamlah! apa kamu mau ibu mendengar dan masuk ke kamar saat aku menunggangimu? tidak ada salahnya melayani suamimu. Cuaca hari ini sangat dingin, kamu dan aku akan sama-sama menikmatinya nanti," ucap Aditia setengah berbisik.
Tanpa pemanasan yang cukup, Aditia memasuki Arinda dengan paksa. Bahkan karena Arinda berontak, pria yang tengah diliputi hawa nafsu itu memberikan pukulan keras diwajah Arinda. Arinda hanya bisa pasrah, hingga Aditia menyelesaikan hajatnya.