
"Ma-Mas. Kita ngapain kesini?" tanya Arinda, saat Dante memarkirkan motornya dihalaman parkir tempat sarapan.
"Tentu saja mau sarapan. Katanya kamu lapar kan? sebenarnya aku juga lapar sih." Jawab Dante sembari melepaskan helm dikepalanya. Dante bahkan melepaskan helm dikepala Arinda.
Arinda menatap wajah Dante. Kini dia sudah menyadari, bahwa sikap Dante sudah sedikit berlebihan.
"Benar yang dikatakan sama mbak Dian. Mas Dante memperlakukan aku melebihi tanggung jawab yang seharusnya. Ini ndak boleh dibiarkan! memang bukan salahnya, karena dia ndak tahu statusku apa. Tapi hari ini aku harus kasih tahu dia segalanya," batin Arinda.
"Kenapa? kamu nggak suka tempatnya ya? atau kamu nggak suka menunya? kalau nggak suka kita bisa cari tempat lain yang kamu sukai," tanya Dante.
"Ndak. Aku ndak masalah sama sekali dengan tempat dan menunya. Tapi kayaknya aku harus ngomong penting sama kamu mas." Jawab Arinda.
"Ngomong penting? kalau gitu kita ngomongnya jangan disini, disini banyak orang. Gimana kalau mampir ke rumahku aja?" tanya Dante yang membuat mata Arinda jadi terbelalak.
"Ndak-Ndak! nanti pikiran orang malah macam-macam sama aku mas. Ngobrol disini juga bisa kok." Jawab Arinda.
"Bahaya sekali kalau aku sampai diapa-apain sama dia. Meski aku ndak perawan lagi, tapi bukan berarti aku bisa ke rumah laki-laki yang bukan suamiku," batin Arinda.
"Kenapa? kamu takut ya sama aku? aku nggak mungkin berbuat macam-macam sama kamu, kalau kamunya ndak mau," tanya Dante.
"Maksudnya apa nih?" Arinda balik bertanya.
"Ya hal itu kan bisa terjadi kalau mau sama mau. Kalau kamu nggak mau, nggak bakalan terjadi. Ya kan?"
"Kenapa ndak bisa? bisa aja dengan cara pemerkosaan." Jawaban Arinda membuat Dante jadi terkekeh.
"Ya ampun Rin. Mikir kamu kejauhan tahu nggak? ya udahlah ayo kita sarapan! kalau kamu bilang bisa ngobrol disini, itu artinya apa yang akan kamu bicarakan antara penting dan tidak penting," ujar Dante sembari berjalan lebih dulu kedalam kedai.
"Kamu mau makan apa?" tanya Dante.
"Samain aja sama kamu mas." Jawab Arinda.
"Buk. Nasi uduk dua, teh hangat dua." Dante memesan makanan untuk mereka berdua.
"Ma-Mas. Aku pengen ngomong penting sama kamu," ujar Arinda yang sedikit agak ragu.
Dante menatap wajah cantik Arinda yang polos, hingga membuat Arinda jadi bertambah salah tingkah.
"Ada apa?" tanya Dante.
"A-Anu mas. Sebenarnya aku juga ndak pengen ngomong terlalu percaya diri. Soalnya takut sampeyan nertawain aku karena aku mikirnya macam-macam," ujar Arinda.
__ADS_1
"Memangnya ada apa?" tanya Dante.
"Se-Sebenarnya...."
"Ini nasi uduknya dua, sama teh hangatnya dua ya mas," seorang pelayan meletakkan pesanan Dante diatas meja.
"Makan dulu! nanti bisa dibicarakan lagi," ujar Dante yang membuat kepala Arinda manggut-manggut.
"Bagaimana ini. Kalau aku bilang sudah punya anak dan suami, ntar aku dikira kepedean alias ke GR'an. Padahal kan belum tentu dia suka sama aku," batin Arinda.
"Mau tambah lagi ayamnya?" tanya Dante yang membuyarkan lamunan Arinda.
"Ndak usah mas. Ini saja sudah cukup." Jawab Arinda.
"Ngomomg-Ngomong mas. Apa motorku benar-benar masih lama sembuhnya?" tanya Arinda.
"Iya. Maaf ya! motormu memang rusak parah. Bahkan bengkelnya sempat nolak, karena takut nggak bisa benarinnya."
"Ndak apa-apa mas. Lagi pula motorku emang butut'e." Jawab Arinda sembari mengunyah makanan dalam mulutnya.
"Habis ini aku akan ajak kamu ketempat yang enak buat ngobrol. Jadi kamu bisa menceritakan hal yang penting itu," ujar Dante.
"Eh? ndak perlu mas. Lain kali saja, soalnya aku ndak bilang sama ibuku kalau aku pulang telat. Biasanya aku setengah delapan sudah sampai rumah. Kalau aku pulang terlalu lama, nanti ibu khawatir," ucap Arinda.
"Loh kenapa?" tanya Dante.
"Soalnya hari ini jatahku libur. Aku sudah tiga kali shif malam, setelah 3 kali jatahku buat libur." Jawab Arinda yang kemudian menyesap tehnya.
"Lalu kapan kamu masuk lagi?" tanya Dante.
"Besok pagi sampeyan jemput jam 7. Selama satu minggu aku masuk pagi terus." Jawab Arinda.
"Oke. Mau pulang sekarang?" tanya Dante setelah melihat piring Arinda sudah tandas isinya.
"Ayo mas." Jawab Arinda.
Sementara itu di tempat berbeda, Mia yang baru pulang dari bekerja disambut tangisan anak gadis tetangga.
"Mbak Mia. Sampeyan harus bantuin aku mbak," ucap Lastri. Tetangga Mia yang berada disebelah rumahnya.
Lastri gadis belia berusia 18 tahun, baru lulus sekolah 3 bulan yang lalu.
__ADS_1
"Bantu opo toh Las? kenapa kamu nangis-nangis begini? ada masalah apa? orang tuamu mana?" tanya Mia bertubi-tubi.
Lastri tidak langsung menjawab ucapan Mia. Gadis itu terlalu sibuk menyeka air mata dengan lengan bajunya.
"Yo wes kamu masuk dulu. Cerita didalam saja!" ujar Mia.
"Emoh aku mbak. Ada mas Ridwan kan di dalam? aku takut mbak." Mia bisa melihat kalau Lastri memang tengah ketakutan saat ini.
"Loh kok takut? biasanya juga kamu masuk-masuk aja kalau ada mas Ridwan. Ono opo sih sebenarnya?" tanya Mia penasaran.
Lastri terlihat celingak celinguk, karena takut suami tetangganya itu mendengar obrolan mereka.
"A-Aku hamil mbak." Jawab Lastri yang kemudian tertunduk. Sementara Mia membulatkan matanya karena terkejut.
"Oalah ndok. Kamu harus bicarakan ini sama bapak dan mbokmu. Mbak ndak bisa bantu kamu, kalau orang tuamu bisa maksa laki-laki itu buat nikahin kamu. Mbak ndak bisa ikut campur, ini masalah besar. Kok bisa sih kamu melakukan itu sebelum nikah?" tanya Mia.
"Tapi cuma mbak yang bisa bantuin aku. Aku takut ngomong sama orang tuaku mbak. Tahu sendiri bapak kayak apa orangnya. Takut di bebas leherku mbak." Jawab Lastri.
"Loh. Bagaimana ceritanya mbak bisa bantuin kamu ndok? mbak ini bukan tokoh masyarakat," tanya Mia.
Lastri tiba-tiba menggenggam kedua tangan Mia dengan erat. Gadis itu bahkan kembali menangis tersedu-sedu.
"Maafin Lastri mbak. Lastri nyesel! tapi mas Ridwan ngancam aku mbak," ucapan Lastri tambah membuat Mia bingung.
"Kok omonganmu larinya ke mas Ridwan lagi? ada apa sih sebenarnya?" tanya Mia.
"Soalnya ma-mas Ridwan yang sudah menghamiliku mbak." Jawaban Lastri seperti sambaran petir bagi Mia.
Dengan emosi Mia masuk kedalam rumah dan menyeret Ridwan yang tengah tertidur berkain sarung.
"Ada apa sih? kenapa kamu nyeret-nyeret aku kayak kambing gini?" tanya Ridwan sembari menahan kain sarungnya agar tidak melorot.
Ridwan terkejut, karena sudah ada Lastri didepan rumahnya. Gadis itu tampak *******-***** jarinya karena gugup dan takut. Bahkan Ridwan bisa melihat sisa air mata di pipi gadis itu.
Bagh
Bugh
Bagh
Bugh
__ADS_1
Mia yang kesal memukul-mukul tubuh Ridwan, hingga pria itu kesakitan. Karena terdengar keributan, semua tetangga keluar rumah untuk melihat apa yang terjadi termasuk orang tua Lastri.