Salto Dunia Wine

Salto Dunia Wine
Bab 10 : Masalah Keluarga


__ADS_3

“Jadi abang di tolak nih?”


Wine tak percaya Arka masih saja membahasnya bahkan hingga mobil yang mereka tumpangi sudah berada di depan rumah. Antara serius dan bercanda, Wine tak tahu dimana diantara keduanya yang benar. Ekspresi Arka tak memberinya jawaban sama sekali.


“Oh, jadi kamu cuman suka godain orang, tapi ngga mau diajakin serius”


Ingin sekali Wine cepat menghilang dari suasana seperti ini. maka dari itu tanpa menjawab atau bahkan mengucapkan terimakasih karena sudah diantara hingga rumah, Wine langsung ke luar dari mobil bang Arka kemudian langsung masuk kedalam rumah tanpa menoleh sama sekali.


Waw. Sepertinya, kali ini semuanya tak akan semudah seperti menghadapi bang Jaka dan bang Kenzo. Bang Arka tahu kapan dan senjata apa untuk membalas semua gombalannya selama ini.


Berdiri diambang pintu, Wine melihat mobil Arka mulai menjauhi rumahnya. Syukur setidaknya Arka tak berteriak sambil mengajaknya menikah didalam komplek perumahan ini. jika ia maka dirinya akan malu untuk menjahili para bapak-bapak yang ada di komplek ini lagi, mungkin dirinya yang akan di ledek nanti.


“Assalamualaikum”


Meski tahu tak ada yang akan menjawabnya, Wine masih mengucapkan salam kemudian menjatuhkan dirinya di sofa ruang tamu. Hari ini mengesalkan, lucu dan berakhir menegangkan. Macam permen rasa nano-nano yang sering Anya beri kepadanya. Tak jelas alur ceritanya.


“Waalaikumsalam”


Wine terhenyak kaget dan langsung merubah posisinya menjadi duduk. Baba kini sudah duduk di kursi yang berhadapan langsung dengannya sambil melemparkan secarik brosur ke atas meja.


“ Jika tidak mau dengan miss Anis. Kamu bisa ikut les di lembaga itu”


Lagi, semuanya adalah masalah matematika. Wine sudah jengah jika hal yang harus paling diutamakan bagi babanya adalah masalah nilai, nilai dan nilai.


“ Wine tidak mau”


“Sampai kapan kamu mau seperti ini terus hah? Dapat nilai buruk dan sekarang malah ngelawan guru kamu”


Wine tertawa mendengarnya. Tentu saja pak Muis atau bahkan guru lain tak akan memberi tahu apa alasannya Wine membuat keributan di ruang guru tadi. Dan naasnya babanya sendiri juga tak mau repot-repot untuk bertanya masalah sebenarnya. Memang selalu seperti ini, dan Wine benar-benar dibuat lelah oleh semua itu.

__ADS_1


“ Kamu sungguh tak suka matematika? Sungguh membencinya padahal kamu sudah dapat sederet penghargaan ini waktu kecil”


Kali ini baba melemparkan beberapa lembar kertas penghargaan lomba matematika dari tk hingga sd di atas meja. Wine sangat menyukai matematika dulu, dirinya selalu bersaing dengan Ocha untuk mengerikan soal matematika dan mengikuti berbagai lomba dengan sahabatnya itu. Namun tepat saat dirinya mulai SMP, Wine mulai membenci mata pelajaran itu. Meski ingin mengikuti lomba seperti Ocha, Wine menahannya dan memilih untuk lebih sering membaca buku biologi di perpustakaan.


“ Lalu baba harus gimana lagi buktiin ke wali kelas kamu kalau kamu saat ujian kenaikan kelas tak pernah mencontek matematika kepada temanmu. Gimana caranya lagi baba bisa meyakinkan guru kamu kalau itu adalah nilai mu sesungguhnya?!”


“ Kalau mamah bisa hidup lagi, maka Wine bakal nurutin apa yang baba ucapin”


“Wine!”


“Kenapa? Setidaknya dengan tidak bisa matematika Wine bisa ingat mamah dan baba bisa bicara sambil ngeliat Wine seperti sekarang”


Tak ada air mata yang meluncur di pipi Wine, ini bukanlah pertama kali, sudah sering mereka membahas hal ini dan akan tetap berakhir tanpa adanya solusi sama sekali. Menurut orang sikap Wine yang keras kepala sangat mirip dengan babanya. Karena itu Wine tak berniat untuk melembut sama sekali karena babanya juga akan melakukan hal yang sama.


“ Gimana rasanya selingkuh saat sedang bertugas jauh dan pulang ke rumah kehilangan istri setianya ba? Sakit kan ba? Maka dari itu jangan banyak menuntut hal pada Wine. Karena Wine bukan anak kecil lagi yang bakal nurutin semua yang baba mau!“


“Kenapa? Apa baba pikir karena baba sudah minta maaf dan sudah ngga komunikasi sama wanita ****** itu lagi Wine bakal lupa semua?”


“Jaga mulut kamu Wine”


“ Kenapa baba ngga pernah ngeliat Wine saat bicara? Malu? Jika iya maka itu pantas buat baba rasakan!. Bukan cuman malu sama Wine, baba juga seharusnya berterimakasih karena setidaknya ngga ada yang tahu jika komandannya ini pernah bermain dibelakang istrinya.”


Jika saja ada orang yang akan menarik dan memeluknya saat ini, Wine mungkin akan menangis sesenggukan detik ini juga. Namun yang berada didepannya ini adalah baba, dan Wine tak akan menunjukan semua kelemahannya didepan sang ayah.


Plakk


Satu tamparan mendarat di pipi kanan Wine.


Tanpa lagi bicara, Wine tahu ini sudah waktunya bagi dirinya untuk menghentikan semua pembicaraan ini. maka dari itu, Wine membuka laci meja yang berisi kunci mobil dan mengambil salah satu diantaranya. Mobil sport yang sudah lama tak digunakan sejak Wine berada di kelas 3 SMA itu sepertinya harus keluar dari kandangnya.

__ADS_1


Tanpa peduli dengan teriakan babanya, Wine menjalankan mobil dengan suara gagahnya ini melaju keluar dari perumahan. Tujuannya jelas satu, arena balap elit yang bisa digunakan oleh siapa aja anggota yang menginginkannya. Dan malam ini balapan liar itu akan diadakan.


Jika sudah seperti ini, maka yang ada dipikiran Wine hanya bagaimana cara agar membuat babanya semakin marah, semakin kecewa dengannya, dan semakin sakit hati karena perilaku anaknya. Setidaknya itu akan setimpal dengan apa yang Wine dan mamahnya dulu rasakan.


Hari yang sudah berganti malam tak membuat Wine mengurungkan niatnya. Tak peduli berapa kali panggilan Ocha dan Anya yang masuk, Wine tak mengangkatnya dan terus melajukan mobilnya menuju tempat yang ia tuju. Jika mengangkat panggilan kedua sahabatnya, mungkin dirinya akan luluh dan berkahir menginap disalah satu rumah temannya itu.


Tapi tidak, niatnya sudah bulat, tamparan yang ia rasakan barusan seolah membulatkan keinginannya untuk membuat sang baba semakin murka.


Satu panggilan dengan nama Kak Andi masuk kedalam ponselnya.


“Halo kak, tunggu aja, gue sebentar lagi nyampe”


“Serius lo? Ini banyak yang takut, nanti lo kesini bawa bokap lo lagi. batal balapan nanti”


” Kaga kak tenang aja”


“Lagian tumben banget sih, mau ikut segala. Kan udah lama ngga ngikut lo.”


“Berisik lo kak. Taruhan gue gede kali ini, jadi jangan banyak ngomong dan tunggu gue”


Wine memutuskan panggilan kemudian menaikan kecepatan mobilnya membelah jalan yang sukurnya cukup luas nyaris tak macet seperti sore tadi. Wine akan ikut balapan liar itu dan akan pulang hanya dengan tubuh kaku tak bernyawa dengan mobil ringseknya. Harapan tulusnya yang terus ia panjatkan seirama dengan roda mobilnya yang terus berputar.


***


***bab 11 akan di up juga nanti sore , jangan lupa likenya.


Bekasi


2 Desember 2021***

__ADS_1


__ADS_2