
“Berapa hari kamu disini dek?”
“2 hari mas. Kapt. Ayub sudah sadar, kamu bakal itu balik ke Jakarta bareng aku kan mas?”
“Nggak bisa. Mas kayanya tetap di Solo 2-3 hari lagi”
“Kalau gitu aku juga bakal tetap disini”
Wine melotot saat Arka kini malah tertawa. Mereka masih berada di ruang inap Arka dengan posisi Wine yang berbaring di ranjang sedangkan Arka duduk di kursi sampingnya. Dokter sudah visit tadi, dan itu berarti tidak aka nada yang masuk lagi ke kamar inap Arka karena para tentara lain kini tengah berkumpul di kamar kapt. Ayub.
“Lah emang kamu nggak kerja?” tanya Arka.
“Kerja. Makanya mas ikut bareng pulang” Wine menggerakkan tangan Arka memohon agar suaminya ini bersedia untuk pulang ke rumah bersama. Masalahnya meski sudah melihat kondisi Arka dan sudah mendapat kabar baik mengenai Kapt. Ayub, Wine rasa dirinya masih belum bisa tidur jika Arka tak berbaring disampingnya.
“Ya nggak bisa lah dek. Biasanya mas tinggal sampai 1 minggu juga nggak masalah”
“Ya sekarang beda mas. Anak kamu ini” Wine mengelus perutnya sendiri yang kini terasa kram “Kayanya nggak mau jauh-jauh dari ayahnya.
Lagi, Arka tertawa. Pria itu kini ikut berbaring di samping Wine. Tangannya mengelus pelan perut Wine berharap bisa mengurangi kram pada perut istrinya. “Kayanya bukan anaknya, tapi emaknya ini yang lebay”
Kali ini Wine yang tertawa. Membicarakan mengenai anak, Wine hampir lupa berjanji akan menghubungi kembar setelah bertemu dengan Arka. Diambilnya hp di meja sebelah ranjang, Wine langsung melakukan sambungan telfon ke bunda.
“Bunda?” tanya Arka bingung.
“Iya. Bunda di Jakarta. Denger anak-anak pada sakit soalnya. Tuh, neneknya aja jauh-jauh langsung terbang ke Jakarta, eh ayahnya malah ngasih kabar aja nggak” Sindir Wine.
Arka memutar bola matanya malas. Jika punya satu kesalahan, Wine akan terus membahasnya hingga wanita itu lelah sendiri “Masih dibahas aja sih dek”
“Assalamualaikum nak”
Suara salam bunda membuat Wine yang hendak membalas ucapan Arka tertahan seketika. Wine tersenyum lebar saat maat bunda kini terlihat berkaca-kaca menatap putra sulungnya ini.
“Waalaikumsalam bun” jawab Wine dan Arka bersamaan.
“Kembar mana bun?” tanya Wine.
“Sudah tidur. Habis minum obat langsung tidur tadi”
Wine mengangguk paham “Ada mas Arka bun. Bunda mau ngomong sesuatu”
“Nggak! Nanti kalau sudah sampai Jakarta biar bunda marahin”
__ADS_1
Wine melirik kearah Arka yang kini juga balik menatapnya. Wine langsung menyerahkan ponselnya pada Arka dan sedikit mundur agar wajahnya juga tidak tertangkap layar.
“Hall…”
Belum juga Arka menyelesaikan sapaannya. Bunda langsung memutus sambungan yang membuat Wine tertawa terbahak sekarang. Sepertinya janji bunda yang akan memarahi suaminya ini benar adanya.
“Dek. Kok malah dimatiin?” tanya Arka bingung.
Wine mengedikkan bahunya “Ya mana aku tahu”
“Padahal dulu waktu mas kecil bunda nggak pernah marah-marah loh dek.”
“Ya udah mas jadi anak kecil lagi aja” jawab Wine asal.
"Kalau jadi anak kecil berarti, anak kecik yang bisa bikin bayi ya dek"
Kedua tangan Wine memeluk tubuh besar Arka sebentar lalu melepaskannya lagi dan turun dari ranjang.
“Loh kok turun dek?”
“Ini rumah sakit mas. Tangan kamu udah kemana-mana” jawab Wine kemudian beralih rebahan di sofa. Tubuhnya perlu istirahat sekarang.
Tidur meski hanya di sofa bagi orang yang tak bisa tidur hingga 4 hari lamanya adalah suatu hal yang sangat menenangkan. Terlebih jika kita tertidur dalam kondisi pikiran yang jauh lebih tenang. Itu yang dirasakan oleh Wine sekarang. Wine terbangun saat suara mbak Alin dan Kais saling bersahutan satu sama sekali.
Alih-alih di sofa, Wine menemukan dirinya kini terbangun di atas ranjang Arka sedangkan suaminya itu kini tengah duduk di sampingnya dengan satu ponsel ditangannya. Pantas rasanya nyaman sekali. Karena nyatanya bukan di sofa, Arka memindahkannya ke ranjang pria itu.
“Widih mantep ya. yang sakit siapa, yang tidur di ranjang pasien siapa!” ucap mbak Alin.
Wine hanya tersenyum kemudian melingkarkan tangannya di perut Arka.
“Woy inget ini ada orang lain disini” seru mbak Alin sewot.
“Biarin aja. Yang satunya kakak sendiri, yang satunya lagi adik ipar. Bukan orang lain” jawab Wine.
“Nggak jelas. Nih kembar nelfon”
Begitu mendengar kata kembar, Arka langsung menyingkirkan tangan Wine dan turun dari ranjang, mengembalikan ponsel Kais lalu beralih mengambil ponsel Alin. Gerakannya barusan jelas membuat Wine hampir saja terjengkang kebelakang dan jatuh dari ranjang.
“Ya Allah mas. Istrimu hampir jatuh ini” omel Wine.
Arka hanya tersenyum kemudian kembali duduk di samping Wine. Suara kembar kini terdengar senang sambil terus memanggil Arka. Membiarkan Arka bicara dengan kedua anaknya, Wine memilih untuk turun dari ranjang dan duduk disebelah mbak Alin yang langsung dapat satu jitakkan dari wanita itu.
__ADS_1
“Kais. Liat nih, sahabat calon istri kamu dianiaya” Adu Wine. Alih-alih menggunakan kakak ipar, Wine lebih suka menyebut dirinya sahabat dari tunangan pria ini.
“Amit-amit lebay banget ini orang” ucap mbak Alin geli.
Wine tertawa. Tangannya melingkari leher Alin kemudian bersandar pada wanita itu. “Mbak, siapin duit yang banyak ya”
“Buat apa?”
“Buat beli kado. Pokoknya kadonya harus di atas 3jt”
Alin mengerutkan dahinya bingung “Maksudnya?”
“Buat ponakan baru, nih” jawab Wine sambil menunjuk kearah perutnya sendiri. Mata mbak Alin kini membulat saking terkejutnya, begitu juga dengan Kais yang kini langsung menarik tangan Wine meminta agar kakak iparnya ini menatapnya.
“Serius mbak?”
“Serius dek?”
Wine mengangguk menjawab pertanyaan Kais dan Alin. Kais bertepuk tangan gembira sedangkan Alin langsung memeluknya erat. Pandangannya kini menatap tajam ke arah Arka.
“Hampir ini anak lahir tanpa bapak ya dek”
Wine mencubit pinggang Alin keras. Terkadang wanita ini tak sadar jika ucapan adalah sebuah doa “Sembarangan banget sih mbak kalau ngomong!”
“Ya gimana, emang nyata. Tuh orang”Alin menunjuk kearah Arka yang masih tertawa karena mendengar ocehan Aaras “Kalau nggak pingsan juga nggak bakal mau dibawa ke rumah sakit. Noh tanya Kais”
Kais mengangguk membenarkan ucapan Alin. Begitulah karakter Arka, jika tubuhnya tak sampai oleng, maka suaminya ini akan tetap bekerja.
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu membuat mata Wine, Alin dan Kais tertuju kearah pintu yang kini sedikit demi sedikit bergeser. Begitu terbuka sempurna dan menunjukkan siap yang baru saja mengetuk pintu, Alin yang duduk di samping Wine mencolek pinggangnya. Di Sana Anggi tengah berdiri dengan tatapan yang langsung tertuju kearah Arka, tatapan lega seperti yang Wine tunjukkan beberapa jam yang lalu.
“Mbak Anggi ya?” mengingat jika wanita itu sempat memberikan kabar mengenai keadaan Arka padanya, Wine bersikap ramah dan langsung berdiri, membuat Anggi sadar jika didalam kamar inap ini juga ada Wine.
Arka yang sebelumnya fokus dengan ponselnya, menoleh sebentar kearah pintu lalu kearah Wine yang kini terlihat menatap Anggi dengan ekspresi datar bertolak belakang dengan senyuman istrinya ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Note:
Maaf ya kemarin nggak up, karena lagi ada acara dari pagi.
__ADS_1