Salto Dunia Wine

Salto Dunia Wine
Bab 12: Pria Lain


__ADS_3

Arka hanya diam mencerna hal yang baru saja ia dengar dari Alan sekarang. Hari ini skadron terlihat lebih riuh dari biasanya, terutama bagi para tentara yang mengenal sosok jelita anak sang komandan.


Entah dari mana berita ini berasal, jantung Arka seolah berhenti saat Alan menceritakan jika Wine mengalami kecelakaan di arena balap. Bukan kecelakaan namun lebih kearah rencana bunuh diri karena sengaja menabrakkan mobilnya dipagar pembatas.


Wajah riang siang tadi yang ia lihat masih tergambar di ingatannya. Bagaimana Wine yang tersenyum menjahilinya dan bagaiman raut wajah jelita itu yang berubah kikuk saat Arka balik menggodanya dengan ajakan menikah. Namun kali ini bayangan itu seolah menguap diikuti dengan Alan yang terus menceritakan segala hal yang ia dengar tadi malam.


Arka tahu memang ada yang aneh karena sang komandan tiba-tiba mengambil cuti hari ini meski mereka mempunyai jadwal pengecekan terhadap pesawat militer yang akan singgah sebentar. Semua tugas itu dibebankan kepadanya dan membuat Arka terjebak tanpa bisa pergi kemanapun. Satu yang hanya bisa Arka lakukan, menghubungi Ocha dan meminta gadis itu mengabari kondisi terbaru Wine.


Tugas adalah tugas. Negara nomor satu. Sebaik mungkin Arka membuat dirinya agar fokus terhadap apa yang harus ia kerjakan sekarang. Meski terkadang pikirannya yang tak fokus membuat dirinya sesekali menabrak benda-benda disekitar, bahkan lebih parah hingga menabrak badan pesawat saat tengah mengecek segala kondisi dengan Alan.


Hari ini, waktu seakan berjalan dengan sangat lambat. Sering kali Arka membuka ponselnya demi mengecek kali saja ada pesan dari Ocha yang mengabarkan kondisi Wine. Namun namanya juga Ocha, gadis itu hanya akan mengirim pesan jika ditanya terlebih dahulu.


“ Lo udah denger gimana kabar Wine?”


Alan menggeleng, meski ramai berita kecelakaan ini di skadron. berita tentang kondisi Wine tak terdengar desas-desusnya sama sekali. Jaka dan Kenzo orang yang paling dekat dengan Wine bahkan tak tahu apapun mengenai kondisi gadis itu kecuali kabar mengenai kecelakaan. Sedangkan Alin, wanita itu juga mengambil cuti dadakan pagi ini yang syukurnya langsung di setujui.


“ Lo punya nomor temennya kan? Coba tanya lagi”


Jari cepat Arka bergerak lincah diatas layar ponselnya. Entah sudah berapa kali dirinya mengirim pesan kepada Ocha, namun gadis itu hanya menjawabnya singkat dan seadanya.


Arka tahu, Ocha dan Anya juga pasti tak kalah terkejutnya mendengar kabar ini, mereka jelas tak akan selalu membuka ponselnya dan membalas satu demi satu pesan yang masuk.


“Sial!” satu umpatan yang keluar dari mulut Arka siang ini. jika seperti ini terus Arka tak akan pernah bisa fokus dengan pekerjaannya dan membuat semua kerjaan semakin lama selesai.


Arka mencari nomor Alin di ponselnya dan melakukan panggilan video. Ini adalah cara terakhir untuk mengetahui dan melihat langsung kondisi Wine sekarang.


Saat deringan ketiga terdengar, diseberang sana Alin mengangkat panggilannya dengan dahi berkerut.


“Siap Pak. Pagi pak”


“Pagi”


“Izin pak. Ada perlu apa ya pak telfon saya? Saya hari ini izin cuti pak”


Arka mengangguk. Sebaik mungkin dirinya agar tetap tenang dan tidak mencerca anak buahnya ini dengan berbagai pertanyaan tentang Wine “ Saya tahu. Sekarang kamu ada dimana?”


Latar belakang kamar inap rumah sakit yang Arka lihat dari layar. Alin ada dirumah sakit, itu jelas Wine juga pasti ada disana.

__ADS_1


“ Di rumah sakit pak”


“ Oh, kamu lagi jenguk Wine anak pak komandan ya?”


Alan yang berdiri di samping Arka menggelengkan kepalanya. Temannya yang sebelumnya layaknya cacing kepanasan kini berubah untuk menjadi tenang sekuat tenaga.


“Iya Pak. Izin pak. Maaf, ada apa bapak telfon saya ya pak? Ada yang bisa saya bantu”


Arka menggeleng. “ Gimana kabar anak pak Komandan?” pertanyaan itu akhirnya keluar juga dari mulut Arka sekarang.


Alin yang sebelumnya berada diruangan, kini berjalan keluar dilihat dari wanita itu yang menutup pintu dibelakangnya.


“Tidak terlalu baik pak”


Kalimat yang ia dengar barusan seakan menohok jantungnya tiba-tiba.


“Tapi masih harus disyukuri karena tidak terlalu buruk juga pak”


Arka menghela napasnya lega. Ingin sekali dirinya berlari kencang menuju rumah sakit dan melihat kondisi gadis itu detik ini juga.


***


Tepat setelah semua pekerjaan selesai. Arka langsung melajukan mobilnya ke rumah sakit tempat dimana Wine dirawat.


Jalanan disore hari yang nyaris macet total itu membuat Arka beberapa kali mengumpat kesal. Hanya tinggal berbelok kearah kanan maka mobilnya akan sampai dirumah sakit, namun jelas tak sejalan mulus pikirannya karena dirinya kini malah terjebak macet hingga tak bergerak sama sekali.


Tak sabar untuk melihat kondisi Wine. Arka langsung keluar dan berlari ke rumah sakit meninggalkan Alan yang mengomel tak jelas karena berakhir kejebak macet seorang diri.


Arka berlari kencang, setelah belok kanan bangunan rumah sakit berlantai-lantai itu berdiri tegak dihadapannya. Tanpa membuang waktu lagi, Arka langsung berlari menuju ruang kamar inap Wine yang sudah diberitahu oleh Ocha lewat pesan.


Namun belum juga sampai, suara Wine terdengar disusul dengan suara sang komandan. Tanpa perlu dilihat langsung, hanya didengar dari nada suaranya saja, keduanya pasti tengah terlibat adu mulut yang tak ada hentinya.


Arka berdiri menyaksikan semuanya, berdiri bersisian dengan seorang pria yang sebelumnya pernah ia lihat di skadron dulu.


Tak ada yang bicara diantara keduanya, tatapan Arka kini tertuju kearah Wine yang berjalan mendekat sambil mengusap air mata. Kondisi wanita itu bisa dibilang tidak terlalu baik, beberapa luka terlihat disekujur tubuh gadis ini, Wine bahkan jalan dengan bantuan tongkat.


Tepat saat pandangan mereka bertemu, Arka bisa melihat Wine menarik senyumnya paksa seolah segala hal buruk pada dirinya enggan dilihat oleh orang lain, oleh dirinya.

__ADS_1


“ Eh ada abang tua yang gantengnya ngga ketulungan disini. Kenapa khawatir sama Wine ya bang?”


Arka tak menjawab, matanya menatap miris kondisi gadis yang beberapa jam lalu sempat tersenyum dan bercanda dengannya kini hampir saja kehilangan nyawanya semalam.


“ Kamu ngga kenapa-kenapa?” Arka bertanya dengan suaranya yang bergetar. Ditariknya Wine mendekat dan memeluknya erat. Arka tahu dirinya pasti tengah mendapat tatapan terkejut dari komandannya didepan sana.


Arka memeluk Wine erat. Setidaknya biarkan kondisi dirinya membaik, menghilangkan rasa khawatir yang membuncah dengan memeluk gadis ini didekapannya ini.


“ Bang, Win.. Wine ngga bisa napas bang”


Jika saja Wine tak bicara demikian, Arka pasti akan tetap memeluk Wine erat.


“ Kamu ngga kenapa-kenapa kan?” Arka kembali bertanya.


“ Sayang sih bang. Coba kalau Wine ngga pake seatbelt, Wine pasti sudah ngga ada di dunia ini”


“Sembarangan”


Suara pria yang nyatanya memang berada diantara mereka mengalihkan pandangan Arka. Wajah pria ini sama khawatirnya dengan dirinya. Pria ini bahkan mengecek satu persatu tubuh Wine hingga memutari wanita itu.


“ Ibu hampir pisan waktu denger kabar kamu. Mas juga sama!”


Hanya dilihat dari bagaimana interaksi mereka, Arka tahu jika hubungan keduanya amatlah dekat. Terlebih saat Wine kini menunjukkan senyuman cerah kepada pria itu sambil bergelayut manja di lengan.


Sejenak Arka ingat kalimat Alin dulu.


“ Dia bukan pacarnya bang, tenang aja. Cuman posisi spesial pria itu ngga akan bisa abang rebut”


“Bang, Wine duluan ya bang. Terimakasih abang tua ganteng yang mau nengokin aku”


Arka hanya mengangguk. Menatap punggung Wine dan pria itu yang mulai semakin menjauh. Satu hari penuh kehawatirannya hanya berakhir dengan melihat Wine menjauh dengan pria itu.


***


Bekasi


3 Desember 2021

__ADS_1


__ADS_2