Salto Dunia Wine

Salto Dunia Wine
Bab 10 : Ibarat Kaca Mobil


__ADS_3

Spot terbaik di rumah ibu adalah di ruang tengah. Ruangan dimana semua anggota keluarga berkumpul didepan televise yang menyala. Wine bahkan ingat jika ruangan ini juga ruangan yang emnjadi saksi bisu Wine menceritakan tentang Arka pada ibu dan ayah. Diruangan ini pula, Wine dan Alin sering kali bertengar saat kecil. Alasanya jelas karena Wine menempel dengan ibu setiap waktu dan menyingkirkan Alin yang notabennya adalah anak kandung di rumah ini.


Namun sepertinya keadaan itu terulang kembali. Bukan Alin dan Wine yang memperebutkan ibu, melainkan Aaras dan Ilham— anak mbak Alin lah yang melakukannya sekarang. Ibu duduk ditengah denga kedua bocah laki-laki itu yang menempel disisi kanan dan kiri.


“Abang, ini kan uti aku!” ucap Aaras.


Ilham yang umurnya 1 tahun lebih tua dari Aaras balik menjawabnya sewot “Bukan, ini uti aku!”


“Ini uti aku abang”


“Ini uti semua ya.” jawab umi menengahi. Kedua bocah itu kini malah duduk dipaha ibu.


“Ibu aku mau ngwarnai” Arsya yang sejak tadi diam berusaha untuk membiasakan diri setiap kali datang ke rumah ibu mulai bersuara. Arsya mulai mengambil ancang-ancang dengan duduk melantai diatas karpet.


Wine yang melihat itu langsung mengambil buku mewarnai dari dalam tas lengkap dengan pensil warna milik Arsya. Mbak Alin yang duduk melantai dengan kaki selonjoran Wine geser paksa dengan kakinya.


“Misi ya. Anak Wine mau mewarnai” ucapnya Wine.


Mbak Alin yang tengah selonjoran sambil memangku Airin— anak keduanya terpaksa duduk bersila.


“Coba dong Lin, Win. Kan anak ibu lagi pada kumpul nih, kalian yang pada masak gih sana. bantuin mbak Laksmi buat soto. Bahanya udah ada semua di kulkas” pinta ibu.


Tak menjawab, Wine kini malah rebahan disamping Arsya yang sudah asik mewarnai. Melihat itu, mbak Alin memberikan Airin kepada bang Akhtar kemudian mendekati Wine dan menarik telinga Wine agar berdiri.


“Sakit mbak ih” Wine langsung merubah posisinya menjadi duduk sambil mengelus telinganya yang sakit.


“Bangun. Mbak beliin mainan baru buat Arsya sama Aaras”


Mendengar itu membuat mata Wine berbinar seketika. Lumayan, jika jatah membli mainan baru setiap 3 bulan sekali untuk si kembar di kasih donasi oleh mbak Alin, uang jatah anak-anak beli mainan bisa masuk kedalam tabungan.


Wine bangkit dari posisi duduknya kemudian mengangguk kearah Alin “Ayok” ucap Wine semangat kemudian berjalan menuju dapur dimana mbak Laksmi dan bi Lilis berada. Namun baru sampai batas pintu yang memisahkan antara ruang makan dengan ruang tengah, Wine menghentikan langkahnya saat merasa tak di ikuti oleh orang. Benar saja saat dirinya membalikan badan, Wine malah melihat Alin malah telungkup ditempatnya Wine tadi sambil membantu Arsya mewarnai.


“Lah mbak kok malah tiduran?!” tanya Wine yang lebih kearah omelan.


“Ya kan tadi mbak udah bilang mau beliin kembar mainan”


“Tunggu, tunggu, ini maksudnya gimana sih?” Wine mengambil posisi duduk bersila disamping Alin sambil bersedekap.


“Mainan baru kembar nanti yang buat ganti tenaga kamu hari ini, jadi sonoh gih kedapur”


Wine mengangguk paham. Sogok lebih tepatnya. Menyogok Wine dengan mainan baru untuk kembar agar Alin tak ikut masak di dapur “ Oh begitu. Ya udah” kini Wine mengambil posisi ikut rebah dengan menjadikan paha ayah sebagai bantal.


“Nanti Wine beliin juga mainan buat Ilham” lanjut Wine.

__ADS_1


Ibu yang sejak tadi memperhatikan tingkah kedua putrinya itu berdehem keras. Aaras dan Ilham yang masih saja duduk dipahanya saja sudah membuat kakinya terasa kebas. Sekarang malah emaknya yang buat emosi. “Kalian itu udah pada punya anak, kelakuan masih kaya anak kecil aja. Bangun. Ibu hitung sampai 3 “Ancam ibu pada WIne dan Alin.


Hitungan baru sampai angka 1, Alin dan Wine langsung berdiri dan berjalan menuju dapur. Ingatkan? Kalau ibu marah maka akan ada sapu yang melayang.


Didalam dapur pun, Alin dan Wine masih saja ribut, hingga suara deheman bi Lilis membuat mereka berdua kicep seketika. Wine memilih untuk mensuir ayam yang sudah di goreng, sedangkan mbak Alin memotong kol menjadi potongan kecil.


“Mbak, aku liat Anggi kemarin mbak” ucap Wine memulai pembicaraan.


“Anggi—“


“Mantanya mas Arka”


“Ah, yang waktu itu sering dateng ke kafe deket sekadron ya?”


Wine mengangguk “Tambah cantik orangnya mbak”


Tertangakap oleh penglihatan Wine, Alin yang tengah memotong kol berhenti seketika. Melihat Alin menoleh kearahnya, Wine tak balik melihat, hanya tersenyum sambil terus mensuir daging ayam.


“Aku juga ngeliat di tempat kerja mas Arka. Ternyata dia juga salah satu staf yang datang buat wawancara mengenai perilisan pesawat tempur” lanjut Wine.


Alin menganggukan kepalanya. Ini alasan kenapa Wine menangis di teras tadi. Merasa jika adiknya ini sudah sedikit membaik, Alin melanjutkan aktifitasnya kembali.


“Terus kamu berantem sama Bang Arka karena masalah itu?”


“Punya. Malah ada mantanya yang 1 kantor juga”


“Terus gimana nyikapinya?”


“Biasa aja. Yang penting saling percaya aja Win”


Ibu kini bergabung bersama mereka dan duduk didepan Wine.


“Itu masalah Wine mbak.”


“Jadi ini karena Anggi?” ibu yang baru saja duduk yang bicara.


Wine mengangguk lalu kemudian menggeleng “Untuk masalah itu sudah selesai bu”


“Cuman?” tanya ibu yang kini mengupas bawang merah.


“Karena trauma yang Wine miliki, terkadang tanpa sadar malah bikin mas Arka tersakiti”


Alin tertawa mendengarnya. “Cielah bahasa lo dek. Tersakiti. Aduh..” mbak Alin pura-pura memegang dadanya.

__ADS_1


Wine mendengus sebal “Awas lo ya mbak”


“Oh jadi ini ceritanya kamu sama Arka saling takut menyakiti gitu? Sebelum kamu dateng, Arka udah telfon ibu. Awalnya sih nggak cerita, cuman akhirnya cerita juga pas ayah yang tanya”


Wine menatap ibu tak percaya. Jadi mas Arka sudah menghubungi ibu sebelumnya? Kenapa nggak ngomong apa-apa sama Wine?.


“Kalian tahu” ucapan ibu bukan hanya tertuju pada Wine, melainkan kepada Alin juga “Ibu menganggap hidup itu seperti kaca sipon mobil untuk masa lalu dan kaca depan mobil untuk masa depan. Saat mengendarai, kita hanya sesekali melirik ke spion agar aman, dan ibu juga terkadang melirik masa lalu untuk pembelajaran. Sedangkan kaca depan mobil kalian akan jauh lebih fokus kesana. Maka dari itu fokuslah untuk masa depan. Jangan lagi liat ke belakang, sesekali boleh tapi hanya untuk pembelajaran. Paham kalian?”


Wine dan Alin mengangguk bersamaan.


***


Wine terbangun saat sebuah tangan tiba-tiba melingkar di perutnya dari arah belakang. hanya dengan mencium aromanya, Wine tahu jika Arkalah orang yang kini tengah memeluknya dari belakang. Si kembar tidur dikamar ibu, membuat kasur Wine tak terlalu sempit seperti biasanya. Membiarkan Arka memeluknya dari belakang, Wine melirik kearah jam yang kini menunjukan pukul 3 dini hari. Jam 20.00 tadi saat anak-anak minta telfon ayahnya, Arka masih berada di skadron, dan itu berarti Arka langsung menyusul ke rumah ibu langsung dari skadron.


“Udah makan mas?” tanya Wine tanpa merubah posisinya sama sekali.


“Udah, tadi sempet makan roti bakar di rest area”


Wine mengangguk.


“Udah bicara sama ibu?” tanya Arka


Wine kembali mengangguk. “Maaf ya mas”


“Nggak usah minta maaf, yang penting kamu udah lega”


Wine kini merubah posisinya menghadap kearah Arka. “Yang sabar ya mas ngadepin aku”


“Dari dulu mas juga sabar. Kalau nggak sabar mana mungkin mas bisa nikah sama orang yang anggap dirinya punya tenaga dalam”


Wine tertawa mendengarnya. Wine menyandarkan kepalanya di dada Arka dan memeluk suaminya itu erat. Baru saja Arka ingin mencium istrinya, pintu kamar terbuka dan menampilkan dua sosok makhluk kecil yang langsung berlari naik keatas kasur.


“Anak-anak tadi kebangun dan nyari ibunnya.” Ucap ibu yang menggunakan mukenah.


“Makasih ya bu” ujar Wine.


Ibu hanya mengangguk kemudian menutup kembali pintu kamar Wine.


“Yah ini mah ayah tidur di bawah dong”


Dengan datangnya anak-anak, maka otomatis tempat Arka akan pindah ke bawah, tidur dengan beralaskan kasur lipat.


“Nanti nyusul ya dek”

__ADS_1


Wine mengangguk mengiyakan.


__ADS_2