
Entah apa yang menahan Arka diparkiran hingga tak kunjung tiba meski sudah hampir 10 menit berlalu.
Wine yang sudah tidak tahan untuk ke kamar mandi hanya bisa mondar-mandir didepan unit Arka, menggerutu tak jelas dan berpura-pura anggun saat berpapasan dengan penghuni gedung apartemen ini.
Wine tahu password-nya, hanya saja rasanya tak sopan jika dirinya masuk tanpa ada pemilik unit ini. sudah hampir 1 tahun tak bertemu, hubungan mereka tak sedekat dulu hingga Wine berani bertindak sesuka hati, pelajaran sopan santun yang diajarkan oleh ibu berguna disaat-saat seperti ini.
Lagi pula Wine juga tak begitu percaya jika password apartemen Arka benar-benar tanggal lahir dirinya. Bagaimana jika Arka membohonginya? Wine pasti akan sangat malu jika pintunya tak kunjung terbuka setelah menekan sederet angka itu.
Menyilangkan kaki, Wine benar-benar sudah tidak tahan, dirinya harus cepat ke kamar mandi jika tak ingin berakhir dengan sangat memalukan.
Haruskah dia menekan bel orang lain dan menumpang ke kamar mandi?.
Atau haruskah ia mencoba memasukan tanggal lahirnya? Kali aja bisa terbuka pintunya?.
“Akh…”
Wine menekan angka sesuai dengan tanggal lahirnya. Persetan dengan sopan santun yang diajarkan oleh ibu, Wine sudah tidak kuat lagi. lebih tidak sopan jika Wine mengeluarkannya didalam celana bukan?. Sangat memalukan.
Tepat setelah menekan angka terakhir, suara kunci pintu yang terbuka membuat Wine tertegun sebentar.
Password-nya sungguh tanggal lahirnya?.
Kenapa harus tanggal lahirnya?.
Mengabaikan semua pertanyaan yang ada dikepala, Wine langsung masuk kedalam dan menuju kamar mandi terdekat. Setelah menyelesaikan semua urusannya di kamar mandi, Wine keluar dan mengamati seluruh apartemen Arka. Apartemen pria yang biasanya kotor dan berantakan seperti apartemen milik kakak Anya, kini menjadi kebalikannya. Apartemen ini begitu bersih, beberapa benda tertata dengan rapih ditempatnya masing-masing, bahkan tak ada satupun piring kotor di wastafel, atau mungkin beberapa sisa snack yang berceceran dimeja makan semuanya terlihat sangat rapih dan bersih tipikal Arka yang selama ini Wine kenal.
Berjalan menuju ruang tengah, tv dengan layar yang cukup besar dilengkapi sebuah stik game dan beberapa dvd juga berada rapih ditempatnya masing-masing. 3 pot berisi kaktus berukuran kecil berada di balkon, disampingnya ada beberapa alat kebersihan dan sebuh ember yang masih berisi air dengan aroma pembersih lantai membuat senyuman Wine terbit. Arka memang orang yang sangat rapih, tapi sepertinya pria itu memang berniat untuk membawanya ke apartemennya setelah membersihkannya terlebih dahulu.
Satu kamar dengan pintu tertutup membuat Wine sedikit penasaran. Ada logo angkatan udara yang tertempel didinding pintu, ini jelas kamar Arka. Setelah yakin jika Arka tak akan datang dalam waktu dekat, Wine membuka kamar itu dan aroma mint khas parfum milik Arka tercium. Kamar Arka juga tak kalah rapih dan bersih, single bed berada ditengah yang diapit oleh dua nakas kecil, satu nakas berisi lampu dan satu nakas lagi berisi beberapa bingkai foto.
__ADS_1
Wine yang memang masih berada diambang pintu karena awalnya hanya berniat untuk melihat tanpa masuk kedalam berusaha menajamkan pandangannya untuk melihat foto siapa yang berada di sana. agak sedikit familiar dari baju dan bentuk tubuh yang sama persis dengan miliknya, Wine ragu jika foto dirinyalah yang ada disana. Pasalnya bukan hanya ada satu foto di atas nakas itu, ada 3 bingkai disana dan setiap bingkai terdiri dari 4 foto.
Demi memastikan penglihatannya, Wine berjalan mendekati ranjang. Langkahnya terhenti saat matanya sudah menangkap dengan jelas siapa wanita yang tengah tersenyum lebar didalam foto itu. Dirinya, semua foto yang ada di atas nakas adalah foto dirinya dengan berbagai pose dan baju. Foto saat tengah bermain di basket di lapangan, foto saat tengah menyantap sate, foto dengan ekspresi cemberut setelah ujian selesai, hingga foto saat dirinya sedang memilih manik-manik di Malioboro, semuanya ada disana.
Sejak kapan Arka memotret dirinya?.
Kenapa Wine tak menyadarinya selama ini?.
Dan untuk apa semuanya dipajang di kamarnya bahkan setelah hubungan mereka berakhir?.
Wine tahu bukan hanya dirinya saja yang menderita setelah putus dengan Arka, Wine tahu Arka pasti sama menderitanya, namun Wine tak tahu jika Arka mungkin jauh lebih menderita dari pada dirinya.
Wine terduduk lemas di ranjang. Tidak makan seharian ditambah dengan hal yang baru saja ia ketahui membuat kepalanya pening tiba-tiba. Sebaik mungkin Wine menahan air matanya agar tak kembali meluncur, dirinya tak ingin menangis didepan Arka hari ini. maka dari itu, dari pada jatuh pingsan dan membuat Arka khawatir, Wine akan mengisi perutnya dengan apapun yang ada di kulkas Arka.
“Kamu sudah makan mas?”
“Bukankah sudah aku bilang jangan pernah datang kesini lagi?”
Wine semakin mengurungkan niatnya saat suara Arka juga ikut terdengar, suara yang sangat dingin yang tak pernah Wine dengar sebelumnya dari Arka.
“Kamu marah pasti karena kamu belum makan kan mas? Aku masakin opor ayam kesukaan kamu ya mas”
“Anggi!”
Wine merubah posisinya menjadi duduk disamping pintu. Anggi, wanita yang ia temu di bioskop sekaligus mantan Arka ada disini. Mengunjungi apartemen Arka dan tahu jika Arka belum makan apapun.
Lalu apa yang bisa ia lakukan? Dirinya jelas kalah dengan Anggi yang sangat perhatian dengan Arka, alih-alih perhatian dirinya hanya terus membuat Arka sengsara dan sakit hati karena terus mengindari laki-laki itu.
Anggi jelas jauh lebih baik berkali kali lipat ketimbang dirinya.
__ADS_1
“Mas mau aku masakin ayam kecap juga?”
“Mas ngga mau apapun. Mas cuman mau kamu pulang dan keluar dari apartemen mas. Jangan pernah kesini lagi”
“Ah, mas udah lama kan ngga nyobain banana dan watermelon jus buatan aku? Anggi bikini ya mas”
“Kamu dengerin saya ngga sih!!”
Wine sedikit kaget saat suara Arka naik beberapa oktaf. Saat mereka bertengkar dulu, Arka bahkan hanya sedikit menaikan nada suaranya, tapi kali ini pria itu bahkan nyaris berteriak. Jantung Wine berdetak kencang, takut jika kehadirannya disinilah yang membuat Arka berbicara keras pada Anggi.
Suara pisau yang diletakan— nyaris dibanting di atas talenan terdengar, membuat Wine semakin takut jika namanya akan dibawa kedalam pertengkaran mereka. sepertinya Anggi juga sudah berada di batas kesabarannya.
“Apa karena bocah itu lagi sampai kamu teriak sama aku mas?! Sudah satu tahun tapi kenapa kamu ngga bisa ngelupain dia mas!”
Air mata yang sebelumnya tertahan meluncur seketika, rasa bersalah muncul tiba-tiba didalam hati Wine.
“Kita bicarakan hal ini lain kali. Kamu pulang aja dulu”
“Kalau aku ngga mau gimana?! Selama satu tahun aku yang ada disisi kamu mas. Aku yang ada disamping kamu saat kamu sakit setelah dicampakan sama bocah yang bahkan 9 tahun lebih muda dari kamu. Aku yang selalu ada saat kamu dirawat di rumah sakit. Aku yang selalu ada saat kamu balik ke Jogja. Tapi apa? Kamu masih aja ngga bisa lupain bocah itu”
“Kamu tahu aku ke Jogja buka untuk ketemu kamu”
Saat suara tawa Anggi terdengar, Wine meremas tangannya sendiri yang mulai gemetar.
Bekasi
31 Desember 2021
bab selanjutnya up juga sebentar lagi..
__ADS_1