Salto Dunia Wine

Salto Dunia Wine
bab 20 : begitu doang.


__ADS_3

Duduk di sofa dengan tangan yang memegang lutut lengkap dengan kepala menunduk membuat Wine yang mengamatinya dari arah dapur ingin sekali menertawakan Arka disana. Pria yang biasanya berwibawa lengkap dengan wajah datarnya itu berubah layaknya anak kucing yang ingin di elus kepalanya. Jika saja ibu tak menariknya didapur Wine pasti sudah menggoda pria itu habis-habisan.


Dan seakan Allah mengabulkan keinginanya, mata mereka bertemu, Wine langsung berpura-pura mengikuti ekspresi Arka yang membuat pria itu menghembuskan napasnya pasrah.


Niatan untuk langsung kembali ke skdron gagal sudah saat Baba menyuruh Arka memasukan mobilnya tadi. Dengan kedok ingin diajak makan malam bersama dengan Ayah, Wine tahu pria itu tengah diintrogasi sekarang.


“Bu. Boleh ngga Wine kesana?”


Ibu menggeleng cepat dengan tatapan mematikan “ Jangan coba-coba kalau kamu ngga ingin dua ayahmu itu berubah jadi zombie”


“Tapi kasihan bang Arka bu. Noh mukanya kayak anak kucing bu, kan bikin Wine pengin ngelus kepalanya”


“Sinih ibu juga pengin ngelus telinga kamu”


Sontak Wine langsung menutup kedua telingannya. Elusan yang ibu maksud jelas berbeda arti dengan yang Wine maksud. Ibu pasti akan menjewernya hingga Wine meminta ampun.


“Bu. Bang Arka ngga bakal diapa-apain kan bu?”


“Mana ibu tahu, liat aja sendiri nanti. Lagian pake pelukan didepan pagar. Mana lama banget lagi, lebih dari 1 menit”


Mampus. Jadi mereka diawasi sejak pertama kali sampai?.


“ Loh ko ibu bisa ngira lebih dari 1 menit?” Wine menarik kursi dan duduk disamping ibunya.


“Kami liat kalian sejak pertama kali kamu keluar dari mobil. Ayah dan baba mu udah pengin langsung keluar mobil aja waktu liat kamu dipeluk. Cuman ibu ngasih tahu namanya juga anak muda dan minta nunggu sampai 1 menit. Eh malah lebih dari 1 menit”


Nyali Wine yang hendak untuk menemani Arka menciut seketika mendengar sederet kalimat ibu barusan. Jadi bukan hanya sebentar, mereka sudah melihatnya sejak Wine keluar dari mobil. Luar biasa memang.


Dan jika dirinya kesana tanpa ibu. Percayalah dirinya juga akan menjadi bahan ocehan kedua ayahnya.


“Bang bertahan dengerin ocehan ayah sama baba ya bang” ucap Wine lirih yang berharap bisa dengar oleh Arka. Teleportasi.


“ Sekarang giliran kamu yang dengerin ocehan ibu”


Wine mengangguk pelan. Dirinya dan Arka yang salah memang.


“ Kenapa ngga masuk aja? Kalau diliat orang atau wali murid kan ngga enak dek.Terus kamu itu perempuan, harus bisa jaga diri. Jangan mau diapa-apain sama laki-laki.”


Etdah buset. Mereka cuman pelukan, ngga melakukan hal senonoh yang lainnya.


“Kan cuman pelukan bu.”


“Ya ibu juga tahu. Mungkin hari ini pelukan, besok? Kan ngga ada yang tahu”

__ADS_1


Wine meraup mukannya sendiri. Kalimat ibu barusan sama persis dengan kalimat yang dilontarkan kepada mbak Alin saat pertama kali ketahuan pacaran dengan mas Akhtar.


Memang niat ibu baik untuk jaga-jaga, namun ketidak percayaan pada pria pacar anaknya sedikit mengerikan.


“InsyaAllah ngga bu, bang Arka sama baiknya sama mas Akthar ko bu. Jadi ibu jangan mikir macam-macam ya”


Ibu menghela napasnya “ ngga ada orang tua yang ngga mikir macam-macam kalau anaknya dipeluk begitu dek”


“Udah hampir 5 hari ngga ketemu bu. Ini juga baru pertama kali kok” Wine memberikan cengiran lebarnya.


“Ya sudah. Ayok keluar, bawa minumannya”


Wine langsung mengangguk. Berjalan mengekor ibu ke ruang tengah dan mengambil posis duduk disamping Arka. Entah apa yang tiga orang ini bicarakan sebelumnya. Wine hanya bisa menyadari jika wajah Arka terlihat sedikit pucat sekarang. Menghawatirkan.


“Bang ngga kenapa-kenapa kan?” bisik Wine sambil menyiku lengan Arka.


“Iya, abang baik” jawabnya dengan senyuman merekah.


“Serius? Ko abang pucat sih mukanya?”


“Abang memang lagi kurang sehat sejak pulang dari Solo?”


Wine kembali menyiku lengan Arka “ Beneran nih? Baba sama ayah ngomong apa ke mas?”


“Ih.. dapat lampu hijau ngga?”


Wine tahu kalimatnya barusan jelas tak terprediksi oleh Arka sebelumnya. Siapa juga yang akan bertanya hal seperti itu dalam kondisi seperti ini. namun namanya juga Wine, tak ada yang bisa menebak kalimat absurd apa yang akan keluar dari bibir tipisnya.


“ Udah bisik-bisiknya? Jangan seperti tadi lagi diluar, ngga enak diliatnya” ayah mulai kembali bicara.


“ Berarti kalau didalam rumah boleh dong yah”


Satu cubitan dari ibu jelas mendarat mulus dipaha Wine sekarang. Sambil mengusap pahanya dan mengaduh sakit, Wine melirik kearah babanya yang kini tak bicara apapun. Hanya duduk diam dengan raut wajah dingin.


“Baba mu mau ngomong sama kalian berdua. Dengerin yang bener. Ayah sama ibu masuk dulu ke dalam”


Tepat saat ibu dan ayah menuju ruang makan. aura dingin langsung menyelimuti ruang tamu ini. jika tak ada ayah dan ibu, Wine jelas tak berani bersikap serampangan apalagi melemparkan candaan seperti tadi. Dirinya kini ikut duduk tegak, menyamakan postur duduk nya dengan Arka.


Tatapan dingin yang sebelumnya tertuju kearah Wine kini beralih kearah Arka. Melihat tatapan dingin itu, Wine tahu betul apa yang akan dibahas ayah setelah ini.


“ Sejak kapan kamu punya hubungan sama anak saya?”


“ Belum la..”

__ADS_1


“Baba nanya sama Arka bukan sama kamu. Jadi kamu diam dulu!”


Wine mengatupkan bibirnya rapat. Kepalanya kini menoleh kearah Arka yang mengangguk kepala pelan kearahnya.


“Siap komandan. Sudah hampir 2 minggu Dan”


“Sudah hampir 2 minggu, tapi kamu berniat kucing-kucingan sama saya?”


“Baba..” Wine kembali diam saat tangannya digenggam Arka.


“ Tidak komandan. saya berniat untuk menemui komandan setelah kembali dari Solo, dan membicarakan hal ini.”


“ Jika berniat seperti itu. lalu kenapa ada kabar di skadron jika kamu menemui wanita di kafe pagi ini? jika kamu hanya ingin bercanda dengan anak saya. Mundur sekarang”


Bukan hanya Wine yang terkejut, Arka juga terkejut mendengarnya. Arka pikir gossip yang menyebar di skadron tak pernah sampai di telinga sang komandan. Namun ternyata ia salah. Mungkin gossip para prajurit mengenai komandan yang memiliki putri sedikit sengklek juga didengarnya.


“ Saya sudah menjelaskan semuanya sama Wine Dan. Wanita itu hanya kenalan saya saja”


“ Baik, saya akan coba percaya sama kamu. Ayo makan” Ucap ayah kemudian bangkit dan berjalan menuju ruang makan.


Tunggu, apa hanya Wine saja yang aneh dengan alur cerita ini?. Wine mengharapkan baba atau ayah akan marah-marah kepada bang Arka dan Wine akan coplas menjadi super hiro menyelamatkan kekasihnya, menyembunyikan Arka dibelakang tubuhnya dan akan menjadi tameng bagi pria ini untuk menghadapi kedua orang tuanya.


Tapi apa ini? Baba hanya bertanya siapa wanita yang ditemu Arka tadi pagi. Dan sudah berakhir sampai situ.


Wine melirik kearah Arka dengan dahi berkerut. Yang ditatap malah balik menatapnya bingung seolah bertanya ‘kenapa’ pada Wine sekarang.


“Udah gitu doang? Ih.. ga asyik ah”


Arka yang sudah pucat mendengar semua yang dikatakan ayah dan baba tadi hanya menggelengkan kepalanya. Dirinya sudah keringat dingin tapi Wine malah mengharapkan hal lebih.


“ Gitu doang menurut kamu yang baru duduk”


“ Ya makanya kasih tahu aku. Baba sama ayah ngomong apa ke abang tadi?”


Arka memasukan ponselnya ke saku “ Ngga usah tahu. Urusan laki-laki”


Dengan mata berbinar Wine menarik Arka lagi yang hendak berdiri “ Dapat lampu ijo yang bang?”


Satu sentilan pelan dari Arka mendarat didahi Wine “ Kamu tuh ya dek pikirannya kesana terus. Emang kalau udah dapat lampu ijo kamu mau nikah sama abang yang angkatan udara?”


“Hmm… kalau itu Wine mikir dulu deh bang, eh ngga mas” jawab Wine yang kemudian langsung berlari menuju ruang makan meninggalkan Arka yang menghela napasnya.


Bekasi

__ADS_1


14 Desember 2021


__ADS_2