Salto Dunia Wine

Salto Dunia Wine
SDW 7 : Ribut Sama Wine? Kalah pasti.


__ADS_3

Meski dengan susah payah, Wine berhasil memandikan Aaras yang menangis hingga sesenggukan. Bocah kecil ini sekarang menempel di gendongan Wine layaknya cicak yang menempel di dinding. Diturunkan hanya untuk sekedar sarapan pun Aaras tidak mau dan kembali menangis. Jika sudah ngadat dipagi hari seperti ini, gerakan Wine dan Arka untuk cepat-cepat agar tak terlambat masuk kerja terhambat sudah.


"Berangkat aja dulu deh mas. Nanti anak-anak biar aku yang antar ke daycare" ucap Wine. Hari ini adalah hari peresmian pesawat tempur baru, dan itu berarti Arka diwajibkan untuk datang lebih awal ketimbang hari biasannya.


"Yakin?"


Wine mengangguk " Yakin. mau gimana lagi"


"Kamu masuk jam berapa?"


Wine melirik jam yang melingkar di tangannya " Ganti shift jam 7, masih ada jam lagi"


"Oke. Mas berangkat ya. Arsya dan Aaras dengerin ibun yang baik ya" pesan Arka kepada kedua anaknya.


Wine mencium tangan Arka "Nggak bisa ngantar ke depan ya mas"


"Iya udah. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Setelah kepergian Arka. Berulangkali Wine mencoba membujuk Aaras agar menggunakan baju dengan banyak alasan. Dibantu mbak Laksmi agar Wine bisa bersiap-siap, Aaras tetap menolak dan tangannya semakin kencang melingkar dileher Wine.


"Berangkat ke daycare sama ibun. Tapi abang pakai baju dulu, oke? Kalau abang nggak pakai baju, nanti sama kaya laba-laba"


"Laba-laba kakinya banyak, hiks hiks, abang kakinya cuman dua ibun"


Inilah kehebatan anak-anak. Meski menangis hingga sesenggukan mereka masih bisa menjawab jika ada yang mengajak bicara.


"Iya, Abang kan bukan laba-laba, makanya pakai baju ya"


"Nggak mau" Aaras kembali menangis.


"Abang takut sama Ragi?"


"Nggak"


"Ya udah. pakai baju terus berangkat bareng ibun!" ucap Wine tegas.


Jika sudah mendengar nada suara ibunnya ya ng tegas. Baik Aaras ataupun Arsya akan langsung menurut. Wine adalah sosok ibu penyayang dan juga sosok ibu yang di takuti anak-anaknya jika sudah marah.


"Pakai baju?"


Aaras mengangguk. Wine menurunkan Aaras dan mulai mengenakan baju pada tubuh kecil bocah ini. Sedangkan mbak Laksmi diminta untuk menyiapkan segala barang keperluan si kembar, tak lupa Wine juga meminta mbak Laksmi untuk memasukan mainan laba-laba anak-anak yang baru maupun yang lama. Sudah hampir 3 hari Aaras selalu ngadat untuk diajak ke daycare, sepetinya Wine perlu memberi hadiah pada ibu Ragi.


Setalah semuanya siap. Dengan mobil yang diberikan Arka sebagai hadiah pernikahan mereka yang ke 3 tahun dulu, Wine melajukan mobilnya menuju daycare tempat dimana si kembar di titipkan. Sebenarnya memang di rumah ada mbak Laksmi yang bis menjaga anak-anak, tapi percayalah ketimbang hanya di rumah saja dengan ART, anak-anak akan jauh lebih berkembang jika ada sosialisasi dengan banyak orang. Di daycare tempat anak-anak dititipkan juga ada kelas playgroup yang bisa melatih kedua putranya.


Seperti biasa. Tempat dengan nama Pelita Daycare terlihat ramai di jam pagi seperti ini. sudah hampir 1 bulan penuh Wine tak mengantar anak-anak karena harus berangkat ke rumah sakit pagi-pagi, baru kali ini dia datang ke sini di dalam bulan ini.


Beberapa ibu-ibu terlihat menyapa Wine setelah dirinya memarkirkan mobil tak jauh dari daycare. Agak takjub mungkin, karena biasanya si kembar diantar oleh mbak Laksmi atau jika tidak Arka.


"Tumben lo disini"


Wine menoleh ke sumber suara. Anya terlihat berajalan mendekatinya dengan Arun yang ada di gendongan, sedangkan Arum digandeng oleh Sinan– suami baru Anya.

__ADS_1


Setahu Wine, Anya masih punya cuti melahirkan 1 bulan lagi, terus kenapa malah disini?.


"Lo ngapain disini? Bukanya masih cuti?" Tanya balik Wine.


"Gue ada rapat dadakan. Jadi mau nitipin Arum ½ hari"


Tatapan Wine beralih kearah Sinan " Mas gimana sih istrinya. Ngambil cuti tapi masih aja kerja"


"Tau nih. Wine di nasehatin nih si Anya. sama saya nggak mempan soalnya" jawab Sinan yang sepertinya juga tak setuju jika Anya kerja hari ini.


Anya memukul lengan Sinan pelan " Ih si Mas. Rapat itu kan udah di jadwalin sebelum aku cuti. Lagi pula ini juga rapat penting. kamu sebagai CEO aja nongol. Masa aku yang kacung nggak nongol"


"Ya elah pakai istilah kacung. Cuman lo yang kacung tapi bisa naklukin CEO" Timpal Wine sambil mengedipkan matanya ke arah Sinan. Ya. Sinan adalah CEO di tempat Anya bekerja. Kisah mereka lebih mendebarkan dari pada kisah dirinya dan Ocha.


Kembali ke pertanyaan awal, Anya menepuk lengan Wine kencang "Belum jawab. Tumben lo nganterin kembar"


"Gue?" mata Wine memicing begitu melihat Ibu Ragi melewati mereka.


"Ada yang ngajakin gue ribut." lanjut Wine.


"Sama Lo? Kalah pasti. seru nih"


"Makanya. Tonton yuk"


Wine langsung menyusul ibu Ragi. Aaras masih setia di gendongannya, sedangkan Arsya sudah bermain ayunan di halaman daycare bersama Arum.


"Win!!"


Wine mendongak sebentar saat namanya dipanggil. Ocha yang berada di lantai dua rumah penitipan anak ini menatapnya horor, seolah tahu apa yang akan dilakukan oleh sahabatnya ini. Wine itu paling badas diantara mereka.


"Selamat pagi mommy Ragi" Sapa Wine ramah begitu sampai di dekat Ibu Ragi.


"Pagi mommy Ragi" Anya juga ikut menyapa. Anya mencolek lengan Wine dan berbisik pelan. Saat mendapatkan tatapan horor dari Ocha, Anya lebih takut dari pada Wine."Lo liat kan tadi mayat hidup udah natap kita serem banget. Nggak usah cari gara-gara deh" bisik Anya pelan.


Tak memperdulikan ucapan Anya, Wine masih memasang wajah manis sebelum menjatuhkan bom.


"Pagi" Jawab ibu Ragi ketus.


Wine dibuat cengo setelah mendengarnya. Jutek bener ini ibu-ibu.


"Arsya main dulu ya sama temen yang lain. Kalau ada yang nggak mau balik minjemin mainan abang harus tetap baik ya. harus berbagi sama teman" ucap Wine pada Aaras, sengaja menyindir ibu Ragi yang kini menatapnya dengan dahi yang berkerut.


Seakan tahu jika Wine perlu kerja sama yang baik. Aaras mengangguk lalu berlari ke halaman dimana Ragi berada setelah Wine menurunkannya dari gendongan. Dan Wine semakin merasa menang saat melihat Aaras mendekati Ragi lalu meminjamkan mainan pada bocah laki-laki itu.


Anak gue tuh. Keren banget dah.


"Seneng ya mom ngeliat anak-anak berbagi" sindir Wine lagi.


Anya yang melihat Ocha muncul dari dalam rumah, langsung berjalan mendekati Ocha guna menahannya. Meski badas, Wine tak mungkin sampai menjambak rambut ibu Ragi di tempat umum. Semoga tebakan Anya benar kali ini.


"Oh ya Mom" Wine mengeluarkan mainan laba-laba dari dalam tas Aaras " Maaf ya kemarin mainan Ragi rusak karena tarik-tarikan sama Aaras. Ini saya ganti ya mom. Tenang aja, harganya mahal karena ini dari luar negeri. Jangan takut ya Mom kalau ukurannya besar. Hadiah dari omnya kembar."


Wine bersorak dalam hati saat melihat ekspresi ibu Ragi sekarang. Hanya dilihat saja, Wine tahu ibu Ragi pasti marah namun masih berusaha menjaga sikap mengingat banyak wali murid yang mengantar anaknya.

__ADS_1


1 vs 0. Wine menang sekarang.


"Nggak usah diganti mom. Nggak apa-apa. Aaras kan suka banget sama mainan laba-laba, kasihan kalau dikasih ke Ragi. Nanti di rebut lagi sama Aaras"


1 vs 1.


Wine menarik senyumnya paksa "Oh iya Mom. Aaras mungkin kecewa karena bisanya dia minjemin mainan ke Ragi. Eh pas dia mau pinjam mainan Ragi yang baru malah nggak boleh. Tapi anak saya sudah minta maafkan ya mom"


Wine melihat ibu Ragu tersenyum canggung. 2 vs 1.


"Sudah mom" Jawab ibu Ragi.


" Syukurlah. Soalnya kalau di rumah terus buat salah, dia pasti langsung minta maaf."


"Nggak usah diganti mainannya mom. Nanti Aaras nyariin lagi"


Wine menggeleng. Enak aja. kalau lo nggak mau nerima, artinya gue yang kalah. "Tenang aja mom. Di rumah masih ada kok. Om nya kalau beli pasti bukan cuman 1"


Makasih ya mas Akhtar. Karena udah beliin ini mainan. ucap Wine dalam hati.


"Nggak usah Mom" tolak Ibu Ragi.


"Nggak apa-apa mom. buat ganti mainan Ragi"


"Nggak usah diganti nggak apa-apa. Nanti biar saya beliin yang baru"


" Kalau nggak gini aja deh mom. Berhubung kembar punya banyak mainan laba-laba di rumah. Ini buat Ragi aja ya mom"


Wine langsung memaksa ibu Ragi untuk mengambilnya. Meski penuh penolakan, Wine terus mendorong mainan ke arah ibu Ragi.


3 vs 1. Wine menang telak.


Disisi lain, Ocha yang sudah merasa keduanya tidak lagi kondusif karena saling menyerahkan mainan laba-laba, langsung menyingkirkan tangan Anya dan berjalan mendekat.


banyak wali murid lain yang menyaksikannya. Meski Ibu Ragi dan Wine tersenyum, semua orang tahu jika keduanya tengah dalam perselisihan.


Ini tempat kerjanya. Tanggung Jawabnya. Enak aja pada ribut disini.


" Pagi Moms. Ini sudah hampir jam 7 loh moms. Nggak pada kerja nih?" Tanya Ocha yang memiliki makna tersembunyi. Usiran halus.


Mendapat kesempatan. Wine langsung menyerahkan mainan ke ibu Ragi lalu membungkuk memberi salam ke arah Ocha.


"Pagi miss. Ini saya baru aja mau berangkat. Titip anak-anak ya miss. Assalamualaikum" pamit Wine lalu langsung ngibrit kearah mobil nya.


Sungguh jika ini buka tempatnya bekerja, Ocha pasti sudah memberikan trofi berupa jitakan di kepala Wine sekarang.


"Saya juga pamit ya Miss. Titip Arun sama Arum ½ hari ya miss" Kali ini Anya yang berpamitan dan langsung berjalan cepat menuju mobil Sinan.


Kedua sahabatnya ini benar-benar membuat paginya berantakan. Enyah semua dari tempat kerja gue.


"Mommy Ragi nggak kerja?" Tanya Ocha.


"Kerja miss. saya pamit ya miss"

__ADS_1


"Baik mom. Silahkan"


Setelah semuanya pergi. Ocha menghela napasnya. Sungguh saat pulang nanti, Icha akan membuat perhitungan kepada kedua sahabatnya itu.


__ADS_2