
Kenyataannya apa yang ia ucapkan dan rencanakan sebelumnya tak semudah untuk dilakukan. Hari ini Wine sama sekali tidak menghubungi Arka, berdiam diri di perpustakan dengan tumpukan buku tebal dan catatan yang sudah ada dilembar ke 10 selama 2 jam di perpustakaan.
Wine masih tak berniat untuk beranjak dari tempat duduknya. Belajar dan menuliskan beberapa catatan tambahan untuk mata kuliah semester berikutnya menjadi agenda wajib Wine selama liburan ini. Persetan dengan perasaanya, belajar dan makan enak akan membuatnya melupakan segala masalah, meski hanya sejenak.
Maka dari itu Wine berniat untuk terus berada di tempat ini hingga malam menjelang.
“Gue mau makan, terserah lo mau ikut apa ngga!” Anya yang sedari tadi sudah membujuk Wine untuk makan siang akhirnya menyerah. Jika ada Ocha, gadis itu pasti akan menarik Wine paksa.
“Win ayo makan. Nanti kalau Ocha dateng terus lo belum juga makan siang. Nanti lo yang bisa dimakan sama Ocha” Anya menggoyangkan lengan Wine.
“Gue ngga laper. Lo duluan aja dulu. Nanti kalau gue laper gue bakal keluar cari makan”
“Hello Wine, ini udah jam 3. Gila aja itu perut belum laper?!”
“Lo makan duluan aja ya. nanti magh lo kambuh. Sana gih makan duluan”
“Terserah lo aja lah. Habis makan gue mau langsung balik ke kostan. Ngga balik kesini lagi!” Anya mengembalikan buku yang ia baca ke rak kemudian keluar meninggalkan Wine yang tengah serius menyalin catatan.
Rutinitas tahun lalu kembali Wine lakukan. Mungkin karena sudah sering melakukannya, berjalannya waktu hal itu berubah menjadi sebuah kebiasaan. Saat sedang belajar, perutnya sama sekali tidak lapar, Wine hanya menfokuskan pikirnya pada buku yang tengah ia baca. Lebih baik dari pada memikirkan hal-hal yang berada diluar kemampuannya.
Setelah kepergian Anya, gadis itu benar-benar tidak kembali bahkan hingga matahari mulai terbenam diarah barat. Wine masih belum beranjak dari tempatnya, buku tebal yang berada ditangannya tadi sudah berganti dengan buku lain yang ketebalannya tidak jauh beda. Kaca mata baca masih bertengger dihidungnya, pulpen masih berada diantara jari telunjuk dan ibu jari serta botol air minum yang sudah tak berisi, dan tangan yang mulai kebas karena digunakan untuk menulis seharian penuh.
5 menit setelahnya tubuhnya menolak untuk terus melakukan aktifitas yang sama. Setelah menutup pulpen, melepas kacamata dan menumpuk 3 buku diatas meja, Wine menggunakannya sebagai bantal dan merebahkan kepalanya. Matanya yang sangat lelah karena membaca seharian mulai tertutup perlahan, dirinya butuh istirahat, Wine sadar akan hal itu.
5-10 menit tidur mungkin akan sedikit mengembalikan energinya yang hilang.
“Abang traktir makanan enak mau dek?”
Tanpa membuka mata, Wine membenarkan posisi duduknya supaya lebih nyaman. Supaya dirinya bisa terlelap barang sejenak saja dan melupakan semua hal yang berhubungan dengan Arka.
“Kamu belum makan loh dek”
Suara Arka kembali terdengar. Wine membuka matanya perlahan dan menemukan Arka berada disampingnya sedang duduk dengan poisisi yang sama, kepalanya diletakan diatas tumpukan buku.
Sehebat apa efek pertemuannya dengan Arka hingga pria itu muncul kedalam mimpinya?. Sudah 3 bulan belakangan Wine tak lagi memimpikan pria itu, lalu kenapa pria itu kembali datang kedalam mimpinya?.
Wine kembali menutup matanya, dirinya pasti sudah mulai bermimpi sekarang. Kepala yang sebelumnya menghadap ke arah rak kini ia ubah menghadap tembok. Barangkali dengan mengubah posisi, pria itu akan menghilang dari dalam mimpinya. Biarkan ia tidur nyenyak 5 menit saja.
“Magh kamu juga bisa kambuh dek”
__ADS_1
Wine menutup satu telingannya dengan tangan. jika ini mimpi kenapa suara pria itu terdengar begitu jelas dan dekat?, Wine baru saja merebahkan kepalanya, masuk akalkah jika dirinya sudah tertidur dan bermimpi?.
“Dek”
Mata Wine terbuka seketika. Ini jelas bukan mimpi. Kepalanya sedikit demi sedikit menoleh ke sisi lainya dan ketika matanya menangkap sosok Arka secara nyata, Wine langsung kembali ke posisi semula, merebahkan kepalanya menghadap tembok dan menutup matanya rapat. Pura-pura tidur meski Arka jelas sudah melihatnya barusan.
“Mau bangun dan kita makan atau abang gendong kamu dek?”
Jurus pura-pura ngga dengar. Ngga dengar, ngga dengar, ngga denger Win.
“Abang hitung sampai 3 ya dek”
Wine menggigit bibir bawahnya kesal. Tidak usah diatanya siapa yang memberitahu keberadaannya pada Arka. Anya jelas yang melakukannya. Biasanya Ocha yang akan menariknya keluar, dan kini Anya menghubungi Arka agar pria ini menarik dirinya keluar dari perpustakaan.
“1”
Wine menghela napasnya sebal.
“2”
Tak bisakah Arka percaya saja jika dirinya sedang tidur dan pergi dari sini sekarang?.
“3”
Tanpa melihat Arka, Wine merapikan semua buku dan mengembalikan ke rak masing-masing kemudian keluar dari perpustakaan tanpa bicara apapun. Wine yakin, Arka yang mengekor di belakangnya ini pasti tengah tersenyum penuh kemenangan.
“Itu mobil abang”
Saat melihat lampu mobil yang berkedip yang terparkir tepat didepan perpustakaan, Wine langsung masuk kedalam mobil disusul oleh Arka yang kini duduk dikursi kemudi.
“Mau makan apa?”
“Terserah”
Terserah. Dirinya hanya perlu duduk, makan dengan cepat dan kembali ke kostan.
“Terserah ya beneran. Jangan komplain nanti”
Mobil yang mereka tumpangi mulai melaju membelah jalanan ibu kota yang selalu padat seperti biasanya. Tanpa bicara apa lagi membahas perihal kemarin, Wine terus menatap keluar jendela, tidak melirik sama sekali kearah Arka, meski tahu pria itu terus melirik kearahnya dan mengajaknya bicara.
__ADS_1
Wine tidak peduli. Perasaanya kemarin mungkin muncul karena rasa bersalah pada Arka, namun Wine yakin lambat laun perasaan itu juga akan menghilang dengan sendirinya. Hanya perlu waktu saja.
Dahi Wine mengerut bingung saat mobil Arka kini malah berbelok dan mulai memasuki basement sebuah apartemen elit yang berada tidak jauh dari salah satu mall besar di kawasan Jakarta. tanpa ditanya pun Wine tahu siapa yang tinggal di gedung apartemen ini. Arka. Pria itu membawa dirinya mengunjungi
dimana dia tinggal.
“Puter balik bang mobilnya. Kita makan diluar”
“Kata kamu terserah tadi kan?”
“Ya memang terserah. Tapi bukan berarti makan di apartemen abang juga kan?”
“Siapa juga yang mau ngajakin kamu makan di apartemen abang?”
Akhirnya, Wine menoleh juga kearah Arka “ Terus ini?”
Arka tersenyum saat melihat Wine menoleh juga kearahnya “ Abang mau ambil laporan yang ketinggalan. Soalnya nanti abang mau langsung balik ke skadron”
“Ngapain? Kerja ngga ada jamnya benget idih. Udah waktunya istirahat”
“Ini abang lagi istirahat. Lagi isi tenaga”
Wine tak paham maksud dari ucapan Arka barusan “ Maksudnya?”
“Ketemu kamu bikin tenaga abang keisi lagi”
Tunggu, ada yang punya garpu super besar? Jika ada, Wine pinjam untuk menggaruk muka tampan Arka yang mengatakannya tanpa beban sama sekali.
Jika saja Wine tahu daerah di kawasan ini, Wine jelas sudah pergi begitu saja sejak keluar dari mobil alih-alih malah mengekor Arka menuju unit apartemen pria itu.
Dua ekspresi berbeda dari dua orang yang tengah menunggu didepan lift pasti akan membuat siapa saja yang melihatnya merasa bingung. Wine menekuk mukanya sebalnya, sedangkan Arka tersenyum cerah seolah baru saja mendapat hadiah super mewah.
“Oh ya abang lupa, ada yang ketinggalan di mobil. Abang ambil dulu ya. unit abang di lantai 11 nomor 012 password ulang tahun kamu” ucap Arka kemudian langsung berjalan menuju parkiran meninggalkan Wine yang kini hanya diam karena terkejut karena sebuah password.
Sejauh apa Arka berusaha untuk kembali dekat denganya?.
Dan sejauh apa dirinya berusaha untuk menjauh dari Arka?.
Entah Arka yang bergerak cepat atau dirinya yang berjalan terlalu lambat?.
__ADS_1
Bekasi,
29 Desember 2021