Salto Dunia Wine

Salto Dunia Wine
Extra Part : Manjat Pohon


__ADS_3

Wine pikir memiliki 1 anak perempuan setelah 2 anak kembar laki-laki adalah hal yang akan membuat keadaan rumah sedikit tenang. Setidaknya ada anak yang bermain boneka atau rumah berbie dengan posisi duduk tenang di sampingnya.


Atau setidaknya ada anak yang bisa ia dandani sesuka hati dengan berbagai pernak pernik rambut atau bisa juga di kuncir karena memiliki rambut panjang.


Atau bisa juga memiliki baju yang sama dengannya bukan hanya dari segi warna namun juga model. Memiliki sepatu yang sama, memiliki gaun yang sama, dan memiliki tas yang sama


Dan segala atau-atau yang lain yang bisa menunjukkan kepada semua orang jika bukan hanya Anya yang memiliki anak perempuan, namun Wine juga memilikinya. Bukan hanya Anya yang heboh saat melihat baju-baju super lucu untuk anak perempuan dan bukan hanya Anya pula yang bisa menggunakan baju model yang sama dengan putrinya.


Namun nyatanya, sepertinya semua itu hanya harapan belaka. Ibella Erin Maudy Mahersa gadis berusia 2 tahun 9 bulan itu yang memiliki nama hasil dari mencomot nama tengah Wine dan nama belakang Arka sedangkan nama Ibella Erin tak perlu dijelaskan dari mana asalnya karena memiliki debat super panjang dengan Arka saat pemberian nama itu kini tumbuh dengan karakter yang luar biasa.


Wine ingin memberi nama Aerin, namun Arka tak setuju dan meminta menghilangkan huruf A di depannya menjadi Erin.


Erin terkadang feminim, terkadang dingin namun terkadang juga mirip dagelan jika sudah bermain dengan Aaras. Oh bukan hanya itu, terkadang juga Erin akan berdiri tegap layaknya tentara seperti Arsya saat Arka tengah menghukum mereka, namun akan joget koplo bersama Aaras jika musik dinyalakan.


Meski berulang kali Wine sengaja menculik Arum diam-diam di sore hari agar Erin bisa bersikap sedikit seperti anak perempuan biasanya, tapi itu hanya sia-sia saja karena Erin jelas lebih sering bertemu dengan Arsya dan Aaras selaku abang Erin.


Seperti sekarang. Wine nyaris menjerit saat pulang dari rumah sakit dihadiahi dengan posisi Erin yang sudah nangkring di atas pohon mangga yang berada di halaman belakang rumah. Di atas Erin ada Arsya yang kini berusia 5 tahun 10 bulan tengah memetik buah mangga sedangkan di bawah ada Aaras dengan kantong plastik tengah mendongak sambil menyuruh Erin untuk turun.


Jangan tanya bagaimana bocah perempuan itu bisa naik sampai di atas. Wine juga tidak tahu.


"Ya Allah mbak. Itu gimana Erin bisa sampai di atas?!" tanya Wine panik pada mbak Laksmi yang sejak yang sejak tadi juga sudah panik karena tiba-tiba Erin sudah ada diatas pohon.


"Itu Arsya juga mbak! Ya Allah. Abang turun!!" perintah Wine.


Arsya yang ada di atas pohon menggeleng seketika. Melirik sebentar ke arah Erin yang berada di salah satu ranting dibawahnya lalu kembali menatap ibunnya "Nggak bisa ibu. Ada Erin. Nggak bisa lewat"


Wine menepuk lengan Laksmi " Mbak panggilin Kais kalau nggak Sinan. Kalau nggak Ocha juga nggak masalah"


Tak bisa sepenuhnya menyalahkan mbak Laksmi karena jika anak-anak sudah pulang dari Daycare sedangkan Wine dan Arka belum ada yang sampai rumah, asisten rumah tangganya ini pasti sangat kesulitan.


Jika ditanya kenapa hanya ada mbak Laksmi di rumah padahal ada 3 anak yang harus dijaga?. Percayalah jika kemarin ada 2 asisten rumah tangga lagi yang menjaga si kembar namun kabur begitu saja sambil membawa perhiasan dan uang tunai dari dalam laci kamar Wine. Sampai sekarang Wine dan Arka masih belum juga menemukan penggantinya.


Tak seperti Wine dan Laksmi yang panik karena takut Erin jatuh. Anak perempuan itu malah tersenyum menunjukkan sederet gigi putihnya tanpa ada raut takut sama sekali.


"Ibun pakai ini aja"


Kepala Wine menoleh ke arah Aaras yang kini berdiri di samping tangga lipat. Wine langsung mengambil tangga itu dan menempatkannya tepat di samping pohon.


"Abang aja ibun yang naik" pinta Aaras.


"Abang nggak bisa. Erin berat"


"Abang bisa ibun"


"Abang mau bantuin ibun?"


Wine melihat Aaras yang mengangguk semangat " Abang ambilin mangga yang berserakan. Ibun mau bikin rujak yang pedes"


Ya. Super pedas untuk menurunkan tingkat stres nya ini.


Setelah mendapat jawaban anggukkan kepala dari Aaras, Wine melempar tas selempangnya dan sudah bersiap-siap untuk naik. Perihal bagaimana caranya dia bisa turun sambil menggendong Erin, itu adalah urusan belakangan.


"Astaghfirullah haladzim"


Kaki Wine yang baru saja menapaki undakan besi pertama berhenti seketika saat mendengar istighfar. Arka berdiri tak jauh dari nya, meletakan tas di kursi, menggulung lengan bajunya hingga siku, Arka langsung menapaki tangga untuk menjangkau Erin di atas.

__ADS_1


Tak ada hari tenang bagi orang tua yang memiliki 3 anak, setiap harinya selalu saja ada hal yang membuat Arka maupun Wine geleng-geleng kepala dengan tingkah anak-anak.


Wine menerima Erin yang menangis keras karena diturunkan paksa oleh Arka dan membiarkan suaminya kembali naik untuk menurunkan Arsya dari atas pohon. Begitu semuanya turun, Ocha dan Kais baru datang dengan raut wajah panik setengah mati.


"Nggak jatuh kan Win?" tanya Ocha sambil mengecek seluruh tubuh Erin.


"Alhamdulillah nggak."


"Alhamdulillah"


"Gimana cara naiknya?" kali ini Kais yang masih menggunakan seragam yang bertanya.


"Nggak tahu" kali ini Arka yang menjawabnya. Bapak 3 anak itu mengambil Erin dari tangan Wine dan disuruh berdiri tegap sejajar dengan kedua kakak kembarnya.


"Mas nanti aja kali ya, nunggu sampai Erin nggak nangis dulu" bujuk Wine karena tahu apa yang akan suaminya lakukan kepada ke tiga anaknya yang berdiri dengan raut wajah takut. Erin bahkan langsung berhenti menangis saat diminta berdiri di samping Arsya dan Aaras, seolah tahu dengan apa yang akan sang ayah katakan setelahnya.


"Nggak ada nanti dek. Kamu tahu itu, harus diselesaikan sekarang selagi mereka masih ingat" jawab Arka tegas.


Pandangan Arka kini kembali menatap ke tiga anaknya lembut.


"Bisa ayah tanya sekarang?"


Arsya dan Aaras menganggukkan kepala.


"Abang tahu kan kalau manjat ke atas pohon itu berbahaya?"


Arsya dan Aaras kembali mengangguk. Sedangkan Erin yang tadinya memasang wajah takut kini malah dengan santainya membuat barisan dengan 3 buah mangga.


"Kalau tahu bahaya, kenapa abang naik ke atas?"


"Om juga naik ke atas pohon. Om semua suka ambil mangga di kantor ayah" jawab Aaras. Om yang di maksud jelas para anak buah Arka di skuadron.


"Erin. Berdiri" lanjut Arka.


"Tapi kalau di kulkas udah di kupas ayah" kali ini Arsya yang menjawabnya.


"Lebih enak kan kalau sudah di kupas. Abang tinggal makan aja" jawab Wine. Matanya melirik ke arah Erin yang beberapa detik lalu diminta untuk berdiri oleh Arka kini kembali duduk di tanah dan memutar buah mangga.


"Kalau udah di kupas nggak bisa digigit ibun" jawab Aaras.


Wine mengerutkan dahinya bingung " Digigit gimana?"


"Makanya di gigit kaya om"


Arsya mengambil satu buah mangga dari dalam kantong plastik. "Kaya gini" ucapnya kemudian mempraktekkan cara mengupas kulit mangga dengan gigi. Meski hanya ujungnya karena tenaga Arsya yang masih belum kuat. Wine meringis membayangkan jika tak ketahuan, maka bisa-bisa Dirinya melihat Aaras dan Arsya kehilangan gigi depannya.


"Erin berdiri tegap kaya Abang" pintah Arka lagi. Bocah perempuan itu kini langsung berdiri tegap didepan ayahnya.


"Abang. Itu bukan hal yang baik. Jangan diikutin. Abang mau kalau giginya sakit?" Arka menahan lengan Erin yang hendak kembali duduk agar tetap berdiri.


Jika Wine yang berada di posisi Arka, percayalah dirinya tak akan bisa bicara lembut lagi dan akan berakhir masuk ke dalam rumah meninggalkan ke tiga bocah itu ketimbang marah-marah di depan mereka.


"Sekarang Ayah mau tanya sama adek Erin"


Ucapan Arka membuat Wine menoleh ke anak perempuannya. Jika Erin di beri hadiah antara boneka atau pistol-pistolan, maka Erin pasti akan memilih pistol lengkap dengan pertanyaan dimana baju tentaranya.

__ADS_1


"Gimana cara adek bisa naik ke atas pohon?"


Layaknya Aaras dan Arsya yang sudah amat lancar bicara dengan kosa kata yang super banyak diusia 2 tahun, Erin juga sama seperti itu. Bahkan Erin bisa mengatakannya sangat jelas tanpa cadel sama sekali. Alasannya karena Ocha sering menculiknya di sore hari saat Wine dan Arka belum pulang.


"Erin punya kaki ayah, manjat nya pakai kaki"


Wine dan Arka yang sudah memasang wajah galak menahan tawanya mendengar jawaban yang tak sepenuhnya salah itu. Ocha dan Kais bahkan langsung pergi dari pada membuat wibawa kakak ipar mereka jatuh karena tak bisa menahan tawa.


"Adek. Maksud ayah adek naiknya gimana?" Arsya mencolek lengan adiknya.


"Kaya abang. Di peluk pohonnya terus naik deh. Kaya gini nih"


Aaras langsung menarik baju Erin yang hendak kembali mendekati pohon guna menunjukkan bagaimana dia bisa manjat hingga ke atas.


Wine dan Arka hanya bisa menghela napasnya melihat tingkah putrinya ini yang nggak ada takut-takut nya sama sekali.


"Gue denger Erin manjat pohon?"


Semua pandangan menoleh ke arah Anya yang baru saja masuk ke halaman belakang. Di samping Anya ada Arum dan Arun yang sudah menggunakan baju princess dengan 1 kado di tangan masing-masing anak itu.


"Mau kemana?" tanya Wine.


"Lah anaknya pak RT ulang tahun, bukannya Erin sama kembar di undang?" jawab Anya.


"Lah emang hari ini?"


"Iya."


Wine langsung jongkok di depan Erin.  Dirinya sudah membeli pesta untuk Erin gunakan saat pesta ulang tahun ini. "Adek, ibun punya baju kaya cici Arum loh, Erin mau pakai nggak"


Tak perlu terlihat mikir terlebih dahulu. Erin langsung menggelengkan kepalanya "Nggak mau!" tolaknya langsung.


"Bajunya cantik loh deh, samaan sama Cici dan Arun. Mau ya?" bujuk Wine.


"Nggak mau ibun. Gerah"


"Di rumah Derren kan pakai AC, nggak gerah"


"Nggak mau"


"Ibun beliin ice cream"


"Mau"


"Pakai baju kaya Cici ya?"


Erin masih tetap menggelengkan kepalanya. Aaras hari ini ada les piano, bocah laki-laki itu pasti akan lebih memilih datang ke tempat les yang ia sukai ketimbang datang ke pesta ulang tahun. Sedangkan Arsya, jika kembarannya tak datang, maka Arsya juga tidak akan mau untuk datang.


"Ice cream nya mana ibun?" tagih Erin.


Anya yang mendengarnya tertawa sedangkan Wine menepuk jidatnya sendiri.


"Lagian kamu Bun, orang ayah lagi ngasih tahu anak-anak malah ditanyain baju anaknya" omel Arka. Mendisiplinkan anak hari ini gagal sudah karena kelakukan istrinya.


***

__ADS_1


ini sebenarnya ada kelanjutannya, aku ngetik bab ini hampir 3000, tapi setengah dulu ya aku up.


jadi ramaikan KOMENTAR dan LIKE ya, nanti aku up lagi selanjutnya. ❤️😄


__ADS_2