
Penjelasannya barusan jelas tak dipercaya dilihat dari ekspresi wajah khas Wine yang digunakan untuk menggoda para tentara lain perlahan mulai muncul ke permukaan. Matanya menatap jahil kearah Arka yang membuat dirinya harus mulai waspada sekarang. Kejadinya semalam jelas tak boleh terulang kembali. Maka dari itu sebelum watak aneh Wine kumat, Arka kembali menekankan alasan dirinya membeli ikat rambut ini.
“ Jangan ge'er duluan. Saya awalnya beli itu buat keponakan saya. Saya punya dua keponakan, satu perempuan dan satu lagi laki-laki. Jadi stop pikiran aneh kamu”
Mendengar sederet ucapannya barusan, Wine malah tertawa kemudian mengambil satu ikat berwana biru dan mengembalikan sisanya kepada Arka. Melihat bagiamana gadis didepannya ini tertawa. Arka tahu kalimatnya barusan tak dipercaya oleh Wine.
“Kalau kamu ngga mau percaya, ya terseran kamu saja”
“Siapa yang ngga percaya? Saya ketawa karena abang lucu aja”
“Lucu kenapa?”
“Soalnya abang sampai ngotot gitu jelasinnya. Kaya takut ketahuan perhatian sama gebetan”
Wine— anak sang komandan yang waras nyerempet sengklek itu sudah kembali sepenuhnya.
“Bang pesan saya kalau ketemu anak ini dijalan hati-hati ya bang. Jangan ikutan gila pulang-pulang” pesan Arka pada abang pelayan yang tengah meletakan nasi beserta lauknya ke atas meja.
Alih-alih tersinggung, Wine malah tertawa yang membuat sang pelayan juga ikut tertawa.
“ Saya sama ponakan saya juga suka saling ngejek mas. Persis kaya mas, padahal bedanya hampir 15 tahun sama ponakan saya.”
“ Dia bukan ponakan saya mas. Dan saya ngga setua itu sampai beda 15 tahun sama anak ini”
Mendengar kata ‘tua’, Wine malah kembali tertawa dan Arka yakin hari ini dirinya akan menjadi bahan ledekan dan sumber tawa gadis ini hingga puas.
***
“ Abang yakin ngga beda 15 tahun sama Wine. Abangnya aja sampai yakin begitu tadi”
Meski sudah menghabiskan separuh makanan dimeja. Wine jelas tak akan menyerah untuk membahas perihal ucapan sang pelayan yang menggap mereka berbeda umur hingga 15 tahun. Entah dirinya yang memiliki wajah terlalu baby face atau wajah bang Arka saja yang sudah terlalu tua untuk dianggap kaka beradik dengannya.
“Emang Abang umurnya berapa?” tanya Wine lagi meski sebelumnya tak dapat jawaban apa-apa karena Arka memilih untuk diam dan menyantap makanannya.
“Ngga perlu tahu. Diem. Makan aja” jawabnya ketus.
“ Berarti kalau ngga dijawab, bener dong beda 15 tahun. Atau malah jangan-jangan lebih bang?”
Wine tak bisa menahan tawanya saat melihat Arka kini malah menggeram kesal kemudian menegak habis es teh digelas. Tak menyangka saja pria didepannya ini sangat sensitive untuk membahas perihal umur.
“ Cuman beda 9 tahun. Abang umur 27. Ga percaya lagi? butuh KTP abang sekarang?”
__ADS_1
Tawa yang sebelumnya ditahan meledak seketika. Bukan perihal umur yang membuat Arka kesal sebenanrnya, namuan perihal bagaimana orang yang akan mempercayaiinya hanya dengan ucapan tanpa pembuktian apapun. Tadi rapot dan sekarang KTP. Sungguh hari disekolah yang hancur karena pak Kais, kini kembali tertawa karena Arka.
“ Lihat kamu ngga percaya kan? Kamu bisa lihat sendiri KTP abang”
Dan satu lagi, saat sedang marah, alih-alih ‘saya’, Arka akan memanggil dirinya sendiri dengan panggilan ‘abang’ seolah sadar seberapa tuanya dirinya dibanding Wine. Lucu dan menggemaskan.
“ Bukannya ngga percaya sih bang. Cuman muka abang kalau dijejerin sama muka Wine emang ngga sesuai sama umur”
“Maksud kamu muka abang tua?”
Wine menggangguk yang membuat Arka mendengus kesal kemudian memesan satu es teh manis lagi.
“Tenang bang, meski tua tetep ganteng kok”
“ Terus kamu mau sama abang?”
“Nggak, kalau yang namanya tua ya tetep tua”
“ Astaghfirullah, Abang aja kali yang bego, karena mikir kamu bakal ngangguk biar jadi adem suasana”
“Emang adem suasana. Ada es sama kipas angina itu. Adem kan. moso panas sih bang”
“ Cih. Udah cepet makan. Saya masih banyak kerjaan”
“Lah balik lagi pake saya, kan tadi udah pake abang”
“Kan kata kamu udah adem. Jadi balik lagi ke saya”
Wine kembali tertawa. Arka hari ini benar-benar sangat lucu. Biasanya digoda habis-habisan pria didepannya ini tak akan bereaksi apapun. Namun kali ini semuanya sangat diluar dugaan. Wine bahkan tak sanggup untuk menghabiskan makannya, karena perutnya sudah sakit menahan tawa.
“ Abang tua” panggil Wine yang membuat Arka menutup matanya kesal.
“Kata abang kan baba suka sama orang yang punya rencana masa depan. Abang tua se..”
“Bisa kamu berhenti panggil saya begitu?”
“Nggak, apa rencana abang tua diumur 27 tahu ini?"
“Menikah sama siapa saja yang dekat dengan saya diumur saya yang ke 27 tahun ini”
Wine menepuk pundak Arka tiga kali, ikut prihatin karena planning di usia 27 tahun pria ini sepertinya tak akan terkabul “Saya ikut prihatin kalau begitu deh abang tua”
__ADS_1
“Kenapa?”
“Ya karena mungkin ini planning pertama abang yang ngga akan terwujud. Soalnya kata mbak Alin bang ngga lagi deket sama siapa-siapa kan?”
“Kamu”
“Wine?”
“Iya, abang lagi deket sama kamu kan.”
Wine mengerjapkan matanya berulang kali “Maksudnya?”
“Abang lagi deket sama kamu. Bisa aja abang yang bakal nikahin kamu. Kamu juga luluskan tahun ini?”
Mati. Satu kata yang muncul tiba-tiba dipikiran Wine sekarang. Saat menggoda pria ini, Wine hanya bermain-main, hanya untuk menikmati setiap ekspresi dari lawan bicara. Bang Jaka dan bang Kenzo bahkan tak menganggap semuanya adalah keseriusan. Jadi, ada apa dengan bang Arka hari ini?.
“Jadi gimana? Mau ngga? Katanya abang ganteng?”
Wine menunjukkan cengiran bersalahnya. Sepertinya Arka terlanjur marah karena digoda habis-habisan tadi. Dan ini adalah pembalasan tergila yang pernah Wine dapatkan selama menggoda para anak buah babanya.
“ Idih, abang marah ya sama Wine?”
“ Nggak. Abang serius sama kamu sekarang. Kebetulan kamu bahas ini, makanya abang tanya sekalian sama kamu.”
“ Serius Wine janji, Wine ngga bakal kelewatan lagi buat bercandannya. Rapat tadi sama baba pasti capek ya bang. Udah nyetir, macet ditambah Wine minta makan lagi ya bang. Tambah capek deh abang. Nanti Wine yang nyetir deh ya bang, Wine dapat SIM bulan lalu. Jadi abang bisa istirahat di kursi belakang. Tiduran juga ngga papa, anggap aja Wine supir”
Seolah tak berdampak apapun dengan kalimatnya barusan, Arka masih menatapnya tajam dengan penuh keseriusan.
“Mau atau tidak?”
Wine menelan salivanya sendiri. Sungguh kali ini jantungnya bahkan sudah berdetak tak karuan. Benar kata ibu, orang yang sabar itu jika sudah sekali marah maka akan sangat menakutkan. Dan Wine melihat hal itu pada bang Arka detik ini.
“ Jadi mau atau tidak? Kalau kamu mau setelah lulus abang bisa ajak kamu ke Jogja buat kenalan sama orang tua abang.”
***
***tahu rasa dah tuh Wine, hahaha
Bekasi
30 November 2021***
__ADS_1