
...Pencet VOTE dulu Yuk....
Dan jangan lupa masukin ke favorit biar ada notifnya.
...Jangan lupa komentarnya ya, karena suka aja baca komentar....
...Ketika lagi jam istirahat malah iseng up.....
...Maaf ya kalau ada typo....
...Selamat membaca ☺️...
...***...
Sejak si kembar menginjak usia 2 tahun, Ocha dan Anya selalu menolak untuk menginap di rumah Wine saat Arka ada kerjaan di luar kota. Kedua sahabatnya itu tak pernah mau meski Wine sudah menawarkan hal yang menggiurkan sebagai balasannya. Alasanya karena di rumah Wine memiliki 3 alaram yang bisa membuat orang jantungan dipagi hari. Pertama alaram yang di setel di hp Wine, kedua alaram yang disetel di hp Arka dan yang ketiga yang paling membuat jantungan adalah alaram suara drum dari lantai bawah yang Arka beli 1 tahun yang lalu. Jika yang berbunyi bass drum mungkin tidak terlalu menganggetkan, namun bagian simbal drum lah yang pertama dimainkan dan suaranya cukup untuk mengagetkan seisi rumah.
Seperti sekarang, suara simbal terdengar jauh lebih cepat ketimbang suara alaram yang Wine setel. Setelah subuh tadi, memastikan jika si kembar belum bangun Wine dan Arka memilih untuk tidur kembali. Tidur di sofa bed ruang kerja jelas tak senyaman tidur didalam kamar, maka dari itu setelah subuh Wine dan Arka kembali di kamar dan tidur. Menyetel alaram pukul 08.00 karena biasanya Aaras dan Arsya baru akan bangun dikisaran waktu itu.
Namun sepertinya kenyamanan tidur setelah subuh tak bisa berlaku jika kalian memiliki anak kembar. Alaram yang disetel Wine belum juga berbunyi, suara drum yang dimainkan tak jelas nadanya diringi oleh suara piano membuat mata Wine terbuka seketika.
"Tidur lagi aja dek. Biar mas yang bangun dan jaga anak-anak"
Saking mengantuknya Wine mengangguk dan kembali menarik selimutnya sedangkan Arka keluar dari kamar meninggalkan dirinya yang berusaha untuk kembali tidur sambil menutupi kedua telinga dengan bantal.
Suara drum masih terdengar, tapi suara piano tak lagi terdengar. Mungkin mas Arka berhasil menangani Asrya namun masih membujuk Aaras. Bukan lagi suara piano yang mengiringi suara drum, kali ini suara Aaras yang bernyanyi membuat Wine tersenyum geli. Aaras masih cadel, lirik rupa-rupa dari lagu balonku ada lima berubah menjadi lupa-lupa walnanya.
Setelah yakin tak akan bisa kembali tidur, Wine memutuskan untuk bangkit dari Kasur dan berjalan menuju lantai bawah. Lagi pula kemarin seharian Wine tak bertemu dengan anak-anak, maka hari ini Wine akan menghabiskan waktu bersama si kembar. Tepat saat menuruni anak tangga terakhir, Arsya yang berada gendongan Arka langsung minta turun dan berlari menuju Wine dengan cengiran lebar. Sedangkan Aaras hanya meliriknya sebentar, tersenyum, memberi hormat lalu kembali asik memainkan drumnya.
"Ibun"
Wine mengangkat Arsya dan menggendongnya " Gantengnya ibun udah bangun ternyata. Cepet sekali"
Arsya tersenyum. Mencium Wine mulai dari dahi, hidung, pipi kanan, pipi kiri dan berakhir di bibir.
Anak-anak seringkali melihat Arka melakukannya, dan sudah hampir 1 minggu ini, Arsya mengikuti apa yang dilakukan Arka di pagi hari.
"Oh iya, ayah belum cium ibun"
"Nggak boleh. Ini ibun Arsya ayah"
Arsya mendorong tubuh Arka yang hendak mendekat.
__ADS_1
"Iya yah. Ih ayah, ini kan ibunnya Arsya ya" ucap Wine. Tak lupa mengedipkan satu matanya ke arah suaminya itu.
Melihat Aaras yang masih asik bermain drum, Wine mendekati bocah kecil itu dan berdiri didepan Aaras " Abang nggak kangen sama ibun?"
"Kemalin kangen. Tapi sekalang udah nggak. kan sekalang udah liat ibun"
Tanpa perlu bertanya siapa yang mengajari Aaras hingga bisa bicara seperti barusan. Kais, tunangan Ocha sekaligus adik iparnya. Setiap kali bertemu dengan Kais, Aaras selalu memiliki kalimat yang terkesan dingin itu. Ocha juteknya minta ampun, Kais adalah sosok pria dingin, Wine yakin kelak anak mereka akan sedingin kutub.
"Tapi abang belum cium ibun. Ibun kangen sama abang"
Mengerti, Aaras mendekat kearah Wine kemudian mencium ibunya itu sama persis dengan yang dilakukan Arsya barusan.
"Udah cium kan bun? Aku mau main ini lagi" Aaras kembali mengambil stik drum dan kembali memainkannya.
Menyerah dengan Aaras, Wine berjalan menuju dapur dengan Arsya yang masih setia menempel ditubuhnya. Berkebalikan dengan Aaras yang sepertinya memiliki jiwa bebas, Arsya lebih lembut dan selalu menempel setiap ada Wine didekatnya.
"Mau ke Anya jam berapa?" tanya Arka yang kini tengah duduk di ruang makan dengan secangkir kopi susu ditangannya.
Bukannya membuat kopi sendiri, Wine mengambil gelas ditangan Arka dan ikut meminumnya "Setelah anak-anak mandi dan makan mas."
"Mas udah penasaran sama muka Arun"
"Sama"
"Kalau dilihat dari Arum, Arun kayanya bakal secantik cicinya ya dek"
"Mungkin" Anya meletakan Arsya di kursi meja makan dan memberikan potongan pisang pada Arsya. Tak lupa Wine juga memberikan hal yang sama pada Aaras yang masih asik bermain drum.
"Dek"
"Hmm?"
"Kira-kira kalau seminggu aja kita nyulik Arum gimana ya dek?"
"Maksudnya?" Wine menggunakan celemek berniat untuk membantu mbak Laksmi membuat sarapan pagi ini.
"Ya kan Anya udah punya anak peremuan baru, kali aja dia nggak marah kalau kita culik Arum seminggu"
Tahu kemana arah pembicaraan ini, Wine hanya memutar bola matanya " Emang kalau Aaras diculik sama Anya seminggu mas mau?"
"Nggaklah" jawab Arka tegas.
__ADS_1
"Nah itu tahu jawabannya."
"Ya udah makanya kita buat satu lagi yuk dek. Kali aja dapat anak perempuan"
Mata Wine membulat seketika. Pandangannya kini menatap horror kearah Arka yang malah menunjukan sederet gigi putihnya. Jika dikamar dan hanya ada mereka berdua mungkin tidak masalah, tapi ini di dapur dan ada mbak Laksmi yang masih gadis di sini.
"Mbak pura-pura nggak denger aja ya mbak. Bapak kalau pagi-pagi suka kumat"
Laksmi hanya bisa tersenyum mendengarnya. Bekerja hampir 4 tahun dirumah ini, membuat Laksmi tahu sifat asli kedua majikannya itu. biasanya ibu Wine yang akan menggoda pak Arka, namun satu minggu ini posisinya agak sedikit tertukar.
"Ibun aku mau telor mata sapi" Aaras yang sepertinya sudah bosan bermain drum kini ikut bergabung di ruang makan sambil membawa mangkuk berisi potongan pisang. Bocah laki-laki itu duduk di samping Arsya.
Mendengar telur mata sapi membuat Wine menghela napasnya. Pasalnya telur mata sapi yang minta Aaras bukanlah teur mata sapi biasanya, bentuknya harus bulat dan ada dua telur kuning didalam, persis seperti dua mata sapi beneran. Bukan hanya itu pinggiran dari telur tak boleh gosong sama sekali. Lagi dan lagi hal ini adalah kesukaan Kais dan sepertinya di wariskan kepada ponakannya ini.
Melirik kearah mbak Laksmi guna memberi kode, dan syukurlah wanita itu paham. Jika Aaras tahu yang membuat Laksmi, anaknya ini pasti tak mau memakannya. Tapi percayalah WIne bisa masak berbagai jenis makan, kecuali telur mata sapi dengan standar Aaras.
"Hari ini kita mau main ke rumah Arum ya bun?"
Wine mengangguk menjawab pertanyaan Arsya.
"Kita mau lihat dedek Arun ya?" kali ini Aaras yang bertanya.
"Iya kita mau liat dedek Arun" Arka menjawabnya.
Merasa memiliki pendukung pecinta bayi perempuan, Arka langsung duduk diantara Aaras dan Arsya.
"Aaras mau punya adek kaya Arun nggak?"
"Mau"
"Kalau Arsya?"
"Mau juga ayah. Kan nanti cantik kaya Arum"
"Nah kalau mau coba bil-"
"Ayah" potong Wine cepat. Sejak tahu jika Anya melahirkan anak perempuan, Arka terlihat sangat iri dan ingin memiliki hal yang sama.
***
...***...
__ADS_1
...Jangan lupa VOTE dan KOMENTARNYA ya.....