
Terhitung sudah hampir 1 jam Wine berada di rumah baba namun masih belum juga keluar dari kamar. Dirinya lebih memilih ikut berbaring di samping Arsya, sedangkan Arka sudah kembali ke teras karena ada Aaras yang perlu di awasi. Arka juga membantunya untuk mengobrol terlebih dahulu dengan baba, membiarkan Wine berbaring di kamar sambil menatap langit-langit kamarnya.
Merubah posisi berbaring miring, Wine mencium pipi Arsya gemas.
Jangan sepertinya, anaknya kelak harus seperti Arka yang amat mudah memaafkan hingga hidup tanpa dendam sama sekali. Syukur saja karena nyatanya kembar memang jauh lebih mirip Arka baik fisik maupun kepribadian.
Suara pintu yang dibuka membuat Wine menoleh. Arka berdiri diambang pintu dengan senyuman yang super menenangkan bagi Wine.
“Belum mau keluar?” tanyanya.
“Nanti tunggu Arsya bangun ya mas.”
Arka mengangguk, lalu kembali menutup pintu kamar meninggalkan istri dan anaknya tetap disana.
“Noh mah liat, gentleman banget suami kakak kan mah?” ucap Wine sambil menatap foto mamah yang tersenyum disana. Tuhan masih menyayanginya karena dipasangkan dengan Arka. Sosok suami dan ayah yang Wine butuhkan ada didalam tubuh abdi negara itu. meski kadang suka sekali lupa memberi kabar jika sudah bekerja membuat Wine uring-uringan setiap hari.
“Ibun”
Wine tersenyum menatap Arsya yang terbangun kemudian langsung merapat memeluknya. “Jagoan ibun udah bangun ya, aduh pinter sekali tidurnya”
“Ibun, abang?”
“Abang ada diluar. Adek mau keluar?”
Arsya mengangguk. Bocah laki-laki itu merentangankan tangannya meminta untuk digendong. Dengan sigap Wine bangun kemudian menggendong putranya keluar dari kamar. Suara tawa Aaras terdengar dari arah ruang tamu begitu Wine keluar. Bocah laki-laki itu tertawa setelah suara bang Jaka yang berpura-pura kesakitan. Mereka tengah bermain crocodile dentist yang sepertinya dibawa bang Jaka dari skadron.
“Mau makan dulu?” tanya Arka begitu Wine duduk disamping pria itu.
“Adek mau makan?” pertanyaan itu Wine tanyakan kembali pada Arsya yang masih berada di pelukanya. Tak seperti Aaras yang mudah bergaul dimana saja, Arsya lebih kearah akan memindai dulu tempat sekitar sebelum akhirnya mau turun dan bermain sendiri. Arsya menggeleng pelan.
“Kalau Arsya nggak mau makan, kamu aja dulu ya makan Win. Kasih Arsya ke Arka”
Wine menatap sekilas ke arah baba yang baru saja bicara. Padangannya kini ia alihkan kearah Arka karena hanya dengan menatap mata sang ayah membuat debaran jantungnya terasa tidak normal. Dengan sebuah senyuman yang lagi-lagi menenangkan, Arka mengambil Arsya dan mengangguk pada Wine.
“Temenin ya mas” pinta Wine.
“Ini yang menantu di rumah kayanya Arka deh Win, kenapa jadi lo yang canggung buat gerak di rumah lo sendiri” bang Jaka lah yang menjawab.
“Berisik” ucap Wine sambil memberi tatapan tak suka kearah Jaka.
Arka yang melihat itu hanya tertawa sambil memukul punggung Jaka, tidak tahu saja pria ini kalau istrinya bisa berubah layaknya kucing garong jika sudah berhubungan dengan rumah dan baba.
“Ayo mas temenin”
__ADS_1
“Ciellah sok romantis banget lo. Gue jadi kangen bini gue nih ya”
“Apa sih bang. Berisik banget lo” omel Wine lagi. Jaka seketika mengatupkan bibirnya tak berani bicara. Gadis yang dulu otaknya miringnya minta ampun, kini berubah menjadi kucing garong.
Dengan Arka yang mengekor ikut ke ruang makan, Wine duduk di kursi bersebrangan dengan Arka yang menatapnya dengan tatapan anehnya. Wine tahu dirinya yang aneh disini, bukan Arka ataupun baba.
“Kamu kesini niatnya buat bicara sama baba kan dek”
“Wine ngisi perut dulu biar nggak ngereog” mengambil satu piring, Wine mulai mengisi piring itu dengan nasi dan lauk yang ada di atas meja. Arka sudah makan dengan bang Jaka dan baba tadi.
“Habis ini beneran mau ngomong sama baba?”
“Mungkin”
“Loh kok mungkin sih dek?”
“Mas nanti malam kita tidur di rumah ibu aja ya mas” bukannya menjawab, Wine malah berbicara hal lain.
Arka memutar bola matanya, ia duduk bersandar sambil memangku Arysa yang kini kembali menguap. Selalu seperti ini, dulu saat kembar 5 bulan dan Arka memaksa untuk mengunjungi baba, Wine selalu meminta tidur di rumah ibu meski kadang setelah sampai di sana, ibu akan mengusir mereka dan menyuruh agar menginap di rumah baba. “Nanti diusir lagi sama ibu” jawab Arka.
“Lah emang ibu tahu kita ke sini?”
“Tahu. Mas ngasih tahu barusan”
“Ya udah, makanya tidur disini. Mau menghindar terus dari baba?”
Bukan mas Arka yang menjawab, melainkan baba yang kini malah menjawab sambil berjalan mendekat kearah mereka. begitu baba duduk di samping Wine, Arka langsung berdiri dan kembali ke ruang tamu dengan Arsya digendongannya. Suaminya itu bahkan sama sekali tidak melirik ke arah istrinya meski Wine sudah memasang tatapan memohon agar tidak ditinggal.
“Berapa bulan usia kandungan kamu?” baba kembali bertanya.
Sosok ayah yang selama ini Wine hindari, kini menuang air kedalam gelas dan memberikannya pada Wine. Baba kembali menuangkan air ke gelas lainnya untuk dirinya sendiri.
“Terhitung sudah mau 2 bulan ba” jawab Wine tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali. Menatap lurus kearah nasi di piringnya yang kini ia anggap sebagai Arka.
“Sehat?” baba kembali bertanya.
“Alhamdulillah”
“Sudah pernah periksa?”
Wine mengangguk.
“Kamu juga sehat?”
__ADS_1
Wine kembali mengangguk.
“Rutin minum susu?”
Kali ini Wine tak mengangguk. Susu yang Arka beli yang katanya harganya hampir setengah dari gaji pria itu sebulan nyatanya dianggap bau kaki biawak menurut Wine, dan berakhir diminum oleh Arka karena terlalu sayang jika harus di buang. Tak seperti hamil kembar dulu yang membuat Wine mampu menelan apapun, hamil anak ke 3 ini rasanya begitu beda. Wine bisa menghabiskan waktu 2 jam di kamar mandi setiap pagi hanya untuk memuntahkan isi perutnya.
“Nggak diminum ya, baba sering tanya sama Arka dan katanya kamu nolak minum karena kata kakak bau kaki biawak”
“Iya, bau kaki biawak”
“Emang pernah liat biawak?”
“Pernah, waktu aku masih kecil dan maksa untuk ikut ke hutan pas pelatihan tentara”
Mata Wine melirik kearah babanya yang kini tersenyum. Mungkin babanya merasa senang karena ada hal baik yang masih diingat oleh Wine.
Dulu Wine inget betul saat usianya baru menginjak 8 tahun, Wine membolos sekolah 1 hari hanya karena ikut ayahnya ke hutan, itu pun setelah dirinya berguling dilantai selama 1 hari penuh. Wine juga ingat, dirinya pergi ke skadron dan memohon untuk diajak kepada siapapun tentara yang ia liat. Tapi namanya juga pelatihan resmi, Wine hanya diajak setengah hari lalu menurut pulang ke rumah setelah melihat biawak dengan ukuran besar di hutan. Wine setuju pulang karena hampir semua abang tentara saat itu mengatakan jika biawak hutan sangat suka memakan daging anak-anak.
“Baba inget kamu nangis kejer saat semua anak buah baba bilang biawak suka makan daging anak-anak”
Wine ikut tersenyum mengingat kejadian saat itu. dari banyaknya ingatan menyedihkan masa kecilnya, syukurlah ada ingatan kejadian itu yang membuat Wine masih bisa bertahan dulu.
“Setelah hari itu, biawak menjadi hewan yang paling kamu benci”
Wine mengangguk setuju. Karena itu saat Arka memohon untuk memelihara biawak di rumah, Wine menolaknya mentah-mentah. Bahkan dirinya membuat pilihan kepada Arka, memilih dirinya atau memilih memelihara biawak. Syukurlah Arka memilih dirinya, karena jika tidak, tidak mungkin ada janin didalam tubuhnya sekarang.
“Demi kesehatan anakmu. Paksa untuk minum obat ya kak”
Lagi, Wine kembali mengangguk.
“Ba ada tamu di depan”
Ucapan Arka yang menyumbulkan wajahnya dari pintu dapur membuat baba berdiri dari posis duduknya. Wine yang juga sudah menyelesaikan makanannya, ikut mengekor baba keluar.
Seorang wanita yang berusia sekitar 50 tahunan itu berdiri dengan satu nampan ditangannya. Nampan yang berisi dua piring makanan yang berisi jajanan basah diberikan kepada Arka yang berdiri di samping Wine. Arka menerima nampan itu dengan senyuman tanpa tahu wajah istrinya yang kini mulai berubah pucat.
“Ada Wine ya mas” ucap wanita itu pada baba.
Wine masih berdiri tegak di tempatnya. Saat Arka kembali lagi berdiri di sisinya setelah meletakan nampan itu di dapur. Wine langsung mencengkram lengan Arka hingga Arka merasa kuku istrinya itu menekan kulitnya keras hingga sedikit merobek kulitnya.
“Hai Win. Apa kabar?” tanya wanita itu.
Dia, wanita selingkuhan babanya dulu.
__ADS_1