
Duduk di sofa ruang tamu. Wine mengepalkan tangannya sambil menundukkan kepala. Dadanya yang sesak seakan memintanya untuk diam dan fokus bernapas terlebih dahulu baru bicara. Baba dan wanita itu duduk tepat di depannya sedangkan Arka duduk di sampingnya dengan raut wajah yang cemas. Arka tahu perubahan wajah yang tampak emosional istrinya itu adalah karena wanita yang baru datang membawa makanan adalah mantan selingkuhan ayahnya dulu. Melihat wanita itu mengunjungi rumah ini dan terlihat begitu akrab pada baba, pasti membuat Wine merasa dikhianati.
“Dek”
Mata yang mulai terasa panas dipejamkan guna menghalau air mata yang siap meluncur. Panggilan Arka yang menenangkan itu hampir saja merobohkan kekuatannya untuk tak terlihat menyedihkan didepan kedua orang itu.
“Dek” panggil Arka lagi.
Bukan hanya memanggil saja, Arka juga kini membuka kepalan tangan Wine dan menggenggamnya erat.
“Sudah hampir 15 menit kamu diam aja nggak bicara apapun. Kalau kamu nggak sanggup, istirahat di kamar aja ya dek” ucap Arka lanjut.
Kepala Wine menggeleng lemah. Dia yang meminta klarifikasi sekarang juga maka dirinya pula yang tidak boleh mundur sama sekali. mengingat bagaimana mamahnya dulu selalu menangis di sepertiga malam membuat dada Wine yang sebelumnya sudah sesak kini semakin sesak, rasa sakit itu kembali muncul perlahan sejalan dengan ingatan-ingatan akan masa lalu, layaknya kaset baru yang berputar di kepalanya. Lalu bagaimana kondisi mamahnya di sana jika melihat suaminya bersama wanita itu lagi?.
“Maafin tante ya Win”
begitu suara wanita yang bernama Ajeng itu terdengar. Wine menegakkan kepalanya tiba-tiba, mata merahnya yang sudah menahan agar air matanya tak turun, kini menatap nyalang ke arah Ajeng. Arka juga melihat bagaimana mata merah istrinya menatap nyalang ke Ajeng langsung mengeratkan genggamannya di tangan Wine, mengingatkan untuk kembali menahan emosinya.
Perihal Arsya dan Aaras, kedua anak kembarnya sudah diajak bang Jaka ke rumah pria itu saat tahu ada urusan keluarga mantan komandannya yang perlu dibicarakan.
“Saya tahu saya salah. Saat itu saya tidak berani minta maaf karena kondisi saya juga yang sulit sata itu. Saya tahu tidak seharusnya saya membuat alasan seperti ini. Karena itu sekarang sayang benar-benar minta maaf kepada kamu Win”
Semakin Wine tak menjawab, maka semakin pula Arka takut jika istrinya akan berakhir dengan meluapkan semua emosinya dalam kondisi hamil muda seperti ini.
__ADS_1
“Saya tahu apa yang saya perbuat saat itu sangat salah dan membuat kalian semua terluka. Saya benar-benar minta maaf ya Win”
“Kenapa baru sekarang menyesalnya?” Wine menarik nafasnya dalam setelah kalimat tersebut meluncur tanpa terbata atau bergetar sama sekali. Wine tak ingin terlihat lemah untuk dua insan yang menjadi penyebab terenggutnya nyawa sang mamah dan adiknya.
“Kenapa baru sekarang menyesalnya, kenapa nggak dari dulu saja. Dari dulu saat aku menemui tante secara pribadi dan memohon tante agar meninggalkan baba?.”
Begitu melihat mata babanya yang membulat karena terkejut dengan fakta yang baru dia dengar, Wine tersenyum masam sambil mengeratkan genggaman tangannya pada Arka. Biarlah, biar hanya Arka yang tahu sedingin apa tangannya, dan segugup apa dirinya sekarang. “Baba baru tau kan, kenapa kakak sebenci itu sama baba bahkan sampai berniat untuk bunuh diri? Karena bukan hanya tante Ajeng yang menolak untuk mundur, tapi baba juga sama tidak mau mundur dengan hubungan salah kalian”
“Maaf” ucap Ajeng kembali.
Wine kini tertawa “Berhenti minta maaf sama saya tan. Karena nyatanya mau sejuta maaf diucapkan juga nggak bakal membuat masa kecil aku berubah. Semuanya sudah lewat. Wine uda–”
Ucapan Wine terhenti begitu melihat baba– pria dengan harga diri selangit itu kini berlutut di depannya. Pria yang dulu menjadi komandan tentara angkatan darat menekan wibawanya sedemikian mungkin dan memilih untuk berlutut di depan putri dan menantunya.
“Baba juga minta maaf sama kamu kak.” Ucapnya dengan nada serius.
Arka kini membantu baba untuk kembali duduk di kursi. Lebih baik mertuanya duduk di sofa dari pada emosi Wine semakin meningkat.
“Jadi” ada helaan nafasnya yang terdengar sebelum Wine melanjutkan kalimatnya “Apa hubungan kalian sekarang? kembali bersama?” ucap Wine lanjut.
Ajeng langsung menggelengkan kepalanya cepat. “Tidak ada apapun”
“Tidak ada” jawab Baba.
__ADS_1
“Jika ada juga tidak masalah, lebih baik ngasih tahu selagi aku tanya daripada bermain di belakang” ucap Wine.
Mata Wine kini beralih menatap suaminya. “Mas jangan kecewa ya?, sekarang aku berharap anak ketiga kita bukan perempuan. Karena jika perempuan itu sekali disakiti, rasa sakitnya bakal berbekas dan menggerogoti hatinya sampai nggak ada kata memaafkan yang tersisa” tak lagi melihat kearah Ajeng dan Baba, Wine langsung berdiri dan berjalan menuju kamarnya. Wine tak bisa lebih lama lagi menahan agar tidak menangis.
***
Begitu WIne masuk ke dalam kamar, suara alunan musik koplo terdengar menggema dari kamar Wine. Arka yang sebelumnya berada di ruang tamu kini juga memilih untuk masuk ke dalam kamar dan duduk di depan pintu kamar mandi yang kini terkunci rapat. Wine di dalam sana, menangis sesenggukkan dan Arka hanya bisa menunggu hingga istrinya itu membukakan pintu. Sesekali Arka mengetuk pintu kamar mandi saat suara muntah Wine terdengar. Dari Jakarta Arka tak pernah menyangka jika mereka akan bertemu dengan tante Ajeng. Jika tahu Ajeng juga tinggal di komplek ini, Arka juga pasti akan menolak ajakan Wine kemarin, setidaknya sampai Wine melahirkan atau jika tidak sampai usia kandungan istrinya kuat.
“Dek buka pintunya. Mas khawatir”
Tak ada jawaban, hanya kembali suara muntahan Wine yang terdengar. Arka kini berdiri dan mengacak isi laci yang berada di dekat kamar mandi, mencari kunci cadangan untuk membuka kamar mandi.
"Dek, please buka pintunya. Kalau nggak mas dobrak pintunya" ancam Wine.
Suara kunci pintu yang diputar membuat Arka langsung masuk ke kamar mandi dan menemukan Wine tersenyum lembut dari pantulan kaca. Istrinya itu kini mencuci muka guna menghalau rasa sedih meski hanya dengan melihat matanya yang merah dan sembab semua orang tahu jika Wine habis menangis.
"Apa gunanya mas di sini kalau kamu malah nangis di kamar mandi?"
ucapannya barusan sontak membuat aktifitas Wine terhenti seketika. Wanita itu membalikkan badan menatap mata Arka sayu, sebelum akhirnya berjalan pelan mendekati suaminya dan memeluk tubuh Arka erat.
Tangis itu kembali pecah didalam dekapan erat Arka. Gadis kecil yang begitu hebat dan kuat hingga mendatangi selingkuhan babanya kini kembali menunjukkan sisi lemahnya pada suaminya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Oke. Tinggal 1 bab terakhir ya. Oh ya mau promo, ini cerita masuk ke dunia novel punya aku juga.