
“ Mbak mbak”
“Hmm”
Setelah mengantar kepergian bang Arka, Wine langsung masuk ke kamar mbak Alin dan mengganggu aktifitas wanita itu yang tengah melakukan video call dengan mas Akhtar diseberang sana.
Malam ini Wine memang berencana untuk menginap dirumah ibu. Mungkin bukan hanya malam ini, malam malam berikutnya hingga waktu yang tak ditentukan, Wine akan memilih untuk mendekam dirumah ini ketimbang harus pulang.
“ Mbak bisa dimatiin dulu ngga sih?” Wine jelas kesal. Karena meski menjawab, pandangan mbak Alin tidak sedikitpun bergeser dari layar ponsel.
“Ngapain sih? mbak lagi pacaran. Jangan ganggu!. Pacarnya sendiri udah pulang, malah gangguin orang pacaran”
Suara tawa mas Akhtar dari sebrang sana bisa didengar jelas oleh telinga Wine. Salah juga memang jika Wine masih saja mengganggu dua insan yang tak pernah ketemu ini. dalam satu minggu, bahkan bisa dihitung Wine yang lebih sering ketemu mas Akhtar ketimbang mbak Alin. Maka dari itu, mbak Alin yang mengambil cuti hari ini jelas tak akan mensia-siakan waktunya.
“Oh.. jadi pacarnya adek udah pulang nih ceritanya? Widih keren ya udah langsung ketemu ibu” ucap mas Akhtar yang diakhiri dengan tawa renyah.
“ Mas diem dulu ya. Assalamualaikum” Wine langsung menekan tombol berwarna merah yang langsung mendapat plototan mata dari mbak Alin sekarang.
Ngga sopan memang.
“ Apaan sih dek manggil-manggil mulu!”
Wine tersenyum cerah, akhirnya setelah belasan kali memanggil mbak Alin kini menatap kearahnya, lengkap dengan raut wajah kesal karena Wine merusak kegiatan pacarannya.
“Mbak taruhannya masih berlakukan?”
Satu jitakan jelas langsung mendarat didahi Wine begitu kalimat itu terlontar. Mbak Alin semakin menatapnya sebal dan kini kembali melakukan panggilan video call dengan mas Akhtar. Hanya hitungan detik suara salam pria terdengar dari seberang sana.
“Tahu ngga Yang, dia cuman mau bilang apa?” adu mbak Alin langsung tepat setelah mas Akhtar mengucapkan salam.
“Ngomong apa emangnya yang?”
“ Taruhan traktiran masih berlaku apa ngga.”
Wine mencebik tak suka. Terlebih saat mas Akhtar diseberang sana kembali tertawa tanpa jeda. Sesekali Wine melihat pria itu menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Taruhan apa emang?”
“Makan gratis” mbak Alin menjawabnya tanpa beban sama sekali.
Memang sudah salah sejak awal Wine menganggu mereka berdua. Maka dari itu dari pada mejadi bahan ledekan keduanya, Wine memilih untuk keluar dari kamar mbak Alin dan bergabung dengan ibu dan ayah yang tengah duduk di ruang tengah sambil menonton tv.
Layaknya anak kandung sungguhan. Wine tak canggung sama sekali saat dirinya kini menyingkirkan tangan ayah dari pundak ibu kemudian duduk ditengah-tengah suami istri ini. hal ini jelas tak akan pernah Wine dapatkan hingga kapanpun di rumah babanya.
Wine melingkarkan tangannya dilengan ayah kemudian bersandar pada pria yang hampir seluruh rambutnya sudah berubah menjadi warna putih ini.
“ Menurut ayah gimana mas Arka?”
“ Mas atau abang?” ibu yang tadi sempat pergi ke dapur setelah Wine ganggu kini sudah kembali sambil membawa satu piring potongan apel. Meletakkannya di meja dan duduk disamping Wine.
“ Udah jadi pacar mah ganti mas aja bu”
Tak tahu malu memang. Wine mengatakannya lengkap dengan cengiran di wajah yang membuat suami istri ini menggelengkan kepalanya.
“ Kamu beneran suka sama Arka dek?” tanya ayah sambil mengusap kepala Wine pelan.
Wine mengangguk menjawab pertanyaan ayah “ Gantengnya ga ketulungan yah. Jadi Wine suka deh”
Keduanya menganggukkan kepala sebelum akhirnya tertawa. Memang jangan pernah menganggap mendapat jawaban serius dari Wine. Anak asuhnya ini selalu menjawab serampangan apapun yang ditanya, terlebih jika membahas sosok pria yang baru-baru ini Wine sukai.
Seperti tadi saat masih ada Arka. Wine selalu menjawab pertanyaan yang tertuju untuk Arka. Jangan berpikir jika jawabannya serius, segala hal yang keluar dari mulut Wine membuat Arka bersemu. Lucu, sangat sangat lucu.
“ Babamu sudah tahu kamu suka anak buahnya?”
Ayah kembali bertanya sambil menepuk-nepuk telapak tangan Wine seakan berusaha untuk menenangkan putri kecilnya ini. setelah hampir 5 jam dirumah ini, ayah akhirnya menyebut nama baba ditengah pembicaraan ini.
“Ngga. Wine ada disini juga pasti baba ngga tahu”
“Ayah sudah telfon baba kamu barusan. Dan dimarahi habis-habisan juga”
Wine langsung menoleh menatap ayahnya. Pria yang terkenal sabarnya ini menghindari pandangan Wine segera.
__ADS_1
“ Baba yang dimarahin apa kebalikannya ayah yang dimarahin baba?”
Selama mengenal sosok ayah, Wine tak pernah sekalipun melihat ayah marah-marah. Bahkan saat mbak Alin ketahuan merokok pertama kali, ayah hanya diam sambil mematahkan satu persatu batang rokok didepan mbak Alin. Tak ada teriakan, emosinya berhasil diredam dengan baik.
“ Ibu aja kaget pas ayah ngomong ‘kalau kamu ngga bisa jaga Wine, saya bisa jaga anak kamu. Saya bisa ngambil hak asuh dan menyekolahkan dia sampai lulus’. Ibu deg-degan banget. Baru kali ini ada komandan yang diomelin sama pensiunan arsitek”
Wine mengulum senyumnya. Bergelayut ditangan ayah hingga pria itu mau juga menatap matanya. “ Makasih ya yah. Wine sayang sama ayah”
“Ayah juga sayang banget sama kamu. Jadi jangan berpikir lagi buat ngelakuin hal semalam” ucap ayah sambil menyentil penuh sayang dahi Wine.
“Cuman ayah doang yang disayang? Ibu ngga?”
Dengan tangan kiri Wine langsung menggandeng tangan ibu dan mencium wanita itu di kedua pipi “ Sayang dong. Wine aja deh yang jadi anak ibu dan ayah. Jangan mbak Alin yang sibuk pacaran padahal lagi di rumah”
Ibu mengusap pipi Wine pelan “ Lah kan emang kamu anak ibu dan ayah. Dan sekarang jadi pacarnya Arka angkatan udara”
Wine tersenyum cerah. Entah kenapa, sekarang setiap kali mengingat Arka membuat Wine tak bisa menahan senyumnya. Pria yang bahkan belum secara resmi berstatus sebagai pacarnya itu, karena memang belum ada lagi ajakan selain ajakan terakhir kali, namun selalu berhasil membuat Wine tersenyum tak jelas. Seperti sekarang mungkin.
“ Wah anak kita udah macam orang gila senyam senyum sendiri yah” goda ibu yang membuat pipi Wine semakin bersemu merah.
“ Jangan senang dulu Win, ayah belum menguji pacarmu itu. Kalau lulus baru boleh sama ayah. Kalau ngga ya jangan ngarep”
Sama seperti mas Akhtar yang dulu melalui ujian yang tak bisa dibilang mudah dari ayah. Bang Arka sepertinya juga akan mendapatkan hal yang sama. Wine tak sabar melihat bagaimana ekspresi pria itu kelak.
“ Wine!”
Teriakan mbak Alin dari lantai dua membuat ibu dan ayah tak terkecuali Wine mendongak seketika.
“Ada telfon dari ‘abang tua’!”
Teriak mbak Alin lagi yang langsung membuat Wine berlari kencang menuju tempat dimana ponselnya berada.
semua orang disini tahu siapa abang tua itu.
Bekasi
__ADS_1
5 Desember 2021