Salto Dunia Wine

Salto Dunia Wine
Bab 12 : Mas Arka Sakit


__ADS_3

Sambil memainkan ponselnya, Wine sesekali melirik ke arah tiga manusia yang kini tengah berbaring telungkup di sampingnya. Arsya dan Aaras sibuk mewarnai sedangkan Arka kini hanya tiduran setelah dikerok hingga banyak garis merah di punggung suaminya ini. karena sudah lelah dengan kegiatan sebelum perilisan pesawat yang membuat Arka beberapa kali harus lembur, hujan-hujanan ditambah lagi dengan langsung menyusul ke rumah ibu setelah pulang dari skadron, berujung dengan masuk angin dan batuk sejak tadi pagi.


meski kasihan melihat kondisi Arka, Wine sudah mengomeli suaminya sejak pagi yang selalu sok tegar dengan mengatakan tidak apa-apa dan tidak perlu ke dokter. terkadang mas Arka suka lupa jika Wine juga berprofesi sebagai dokter.


“Liatkan, merah semua begini. Lagian pake nyusul segala, padahal tahu Wine bawa mobil sendiri”


Arka hanya diam tak menjawab ucapan Wine.


“Ibun, kenapa punggung ayah? kok merah” Aaras yang sejak tadi fokus dengan gambar mewarnainya kini duduk disamping ayahnya dan mengusap punggung Arka.


“Ayah sakit. coba abang pinjetin, kali saja ayah bisa sembuh nanti”


Aaras mengangguk, bocah kecil itu kini mulai menekan-nekan punggung Arka dengan kedua tangan mungilnya. Wine tersenyum melihatnya, seajaib apapun tingkah Aaras jika dia melihat salah satu diantara Wine atau Arka yang sakit, Aaras akan sedih dan bersedia melakukan hal apapun.


“Ayah, aku ambilin minum ya?”


kali ini Arsya yang bicara. Tidak menunggu jawaban Arka, Arsya langsung lari ke arah dapur dan satu menit kemudian keluar dengan satu gelas berisi air putih. tak lupa bocah laki-laki itu juga membawa satu Vitamin bermerk abjad yang diambil dari dapur. Wine paham akan ada udang dibalik batu setelah ini.


“Ayah minum ini ya, biar ayah kuat” lanjut Arsya. dia mengambil satu butir vitamin dengan bentuk bintang dan memberikannya kepada Arka yang sudah berpindah posisi menjadi duduk. Hebatnya ARka adalah, dia masih tetap bersedia bermain dengan anak-anak meski dalam kondisi sakit sekalipun. Sosok ayah idaman Wine sejak dulu. Bukan dari babanya Wine melihat sosok itu, namun dari Arka yang


“Aku juga mau adek” ucap Aaras.


Udang dibalik batu dimulai.


“Aku juga mau abang”Timpal Arsya.


sebelum benar-benar mengambilnya, keduanya kini melirik ke arah Wine seolah meminta persetujuan dari ibunnya untuk kembali makan vitamin padahal 1 jam yang lalu sudah mereka lakukan. melihat tatapan penuh harap dari mata kedua putranya, Wine menganggukkan kepala yang langsung mendapat sorak gembira dari kembar.


setelah mendapatkan apa yang di mau, Arsya dan Aaras kembali telungkup di atas karpet dan melanjutkan mewarnai, padahal Arka memasang wajah memelas kepada kedua putranya berharap agar mendapatkan perhatian lagi.


“Udah tahu anaknya begitu, jangan terlalu ngarep” ucap Wine yang kini memijat pundak Arka. “Mas”


“Hmm?”


“Aku kemarin sudah daftarin anak-anak mas”


dengan mata yang masih terpejam, Arka menanggapi ucapan Wine “Daftarin kemana?”


“Ke kontes yang aku ceritain kemarin di rest area”


“Oh”


Wine menghentikan pijatanya, ia melirik kearah Arka sebentar karena mendapat respon yang begitu singkat barusan. Biasanya jika menyangkut anak-anak, Arka akan meresponnya panjang lebar, membahas mengenai mana yang baik dan mana yang buruk yang membua Wine seolah tengah mendengar hotbah subuh. Apa sakit Arka separah itu sampai tidak punya tenaga buat ngerespon?. Wine menyentuh dahi Arka. Kayanya cuman demam aja kok?.


“Kok Oh doang mas. Tumben.”


“Mas izinin asal memang dari anak-anak yang mau. Jangan dipaksa”

__ADS_1


Wine tersenyum lebar, lalu kembali memijat pundak Arka sekuat tenaga. Dipaksa? tidak akan mungkin mengingat bagaimana cita-cita Aaras yang ingin menjadi anggota band.


“Memang Sabtu kamu libur? jangan sampai kembar jadi anak Ocha lagi” tanya Arka.


“Libur, tenang aja mas”


“Oke. Dek pijatin mas di kepala dek. Pusing banget”


“Lagian kamu sih mas. kalau istrinya ngomong itu di dengerin. Habis hujan-hujanan, pakai–”


“Kalau kamu ngomel nggak mas izinin nih dek”


Wine langsung mengatupkan bibirnya rapat. Mending menahan omelan dari pada gagal jadi salah satu kontesan.


Pandangan Wine kini beralih pada kedua anak kembarnya yang masih asik menggambar. " Abang, mau di foto nggak?" tanya Wine. Lebih baik tanya sekarang agar Arka juga bisa mendengar jawaban kedua putranya ini.


Aaras menoleh sebentar kearah Wine, pandangannya seakan mencari sesuatu sebelum akhirnya kembali fokus ke gambar.


"Abang nggak suka di foto?" tanya Wine lagi.


Tanpa kembali menoleh, Aaras menjawabnya sambil mengambil pensil bewarna merah "Suka. Tapi ibukan nggak pegang hp"


Arka tertawa mendengar sederet kalimat polos Aaras. Tidak salah memang, karena Wine tidak memegang hp " Salah pertanyaanmu dek"


Wine mengangguk setuju. Aaras tidak tahu karena Wine memang belum membahas mengenai audisi itu. "Bukan, maksud ibu. Nanti kalau ada orang lain yang foto abang, abang mau nggak?"


"Bisa iya, bisa tidak. Abang mau nggak"


Aaras mengangguk.


"Adek mau?" Tanya Wine pada Arsya.


"Mau" jawab Arsya.


Wine tersenyum senang. Buru-buru ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan ke Anya.


Group Harta Karun Negara


^^^Wine: Gue jadi ikut. Pak komandan ngizinin nih.^^^


dalam waktu kurang dari 1 menit, Anya membalas pesannya di ikuti emot sedih dari Ocha.


Anya : Mantul dah, besok malam belanja ya.


Ocha : Gue ikut juga.


^^^Wine : Siap bu bos. Cha lo ngikut apa? nikah aja belum. mau nyulik anak orang ya?^^^

__ADS_1


Anya : Wah, jangan-jangan besok ada berita bocah ilang.


Ocha : Gila semua. Gue ngikut belanjanya, bukan audisinya.


Wine mengusap punggung Arka yang kini tidur telentang dengan kepala di paha Wine. Sepertinya suhu badan Arka semakin tinggi.


^^^Wine : Oh kirain. Ya udah ya. Kita ketemu besok malam. Nih pak Komandan sakit.^^^


Lagi Wine memegang dahi Arka " Mas nggak mau ke rumah sakit beneran? Ini tambah panas loh"


Arka yang memejamkan mata menggeleng pelan " Nggak usah, sebentar lagi juga turun. Uhuk, uhuk"


"Noh kan. Batuk juga loh mas"


"Nggak usah dek santai" Jawab Arka.


Tak tahu saja jika Wine yang mendengar kalimat barusan melotot seketika. Memindahkan kepala Arka di bantalan sofa, Wine bangkit dan berjalan menuju dapur guna mengambil termometer dan obat batuk.


"Santai!, santai! Enak banget kalau ngomong. Udah sampai batuk begitu!" Omel Wine.


Mengambil kotak P3K, Wine kembali lagi ke ruang tengah dengan satu gelas air ditangannya. Namun alih-alih menemukan Arka yang masih dalam posisi berbaring, Wine malah menemukan suaminya yang berdiri di samping jendela dengan ponsel yang menempel di telinga. Sesekali suaminya itu batuk saat menjawab telfon.


"Wah gambarnya bagus sekali" Sambil menunggu Arka yang menjawab telfon, Wine duduk di samping ke dua putranya yang masih asik dengan aktifitas mereka.


gambar salah satu kartun anak-anak yang tengah di warnai oleh Arsya terlihat sangat bagus dengan warna yang sesuai. Sedangkan gambar kartu yang di warnai oleh Aaras terlihat sangat mengenaskan, baju doraemon yang seharusnya berwarna biru, kini berubah menjadi warna pelangi. Bakat setiap anak memang beda, Wine belum saja menemukan bakat tersembunyi Aaras.


"Baik, saya ke skuadron sekarang"


Mata Wine melotot seketika mendengar ucapan suaminya itu. Jam sudah menunjukkan pukul 20.15, Arka akan datang ke Skuadron? dalam kondisi sakit pula?


"Mau kemana mas?" tanya Wine wanti-wanti.


"Mas ke skdron dulu ya dek. Ada urusan" Arka berjalan ke arah meja Tv untuk mengambil kunci mobil.


"Udah malam loh mas. Kamu juga lagi sakit, nggak bisa besok?"


"Nggak bisa. Tidur aja dulu ya sama anak-anak, jangan nungguin mas"


Wine berdiri kemudian mengekor Arka yang berjalan keluar rumah."Nggak bisa besok beneran mas. Badan kamu panas"


"Nggak bisa sayang. Abang duluan ya"


Tak menunggu jawaban lagi dari Wine. Suaminya itu masuk kedalam mobil, lalu mengendarainya keluar menjauhi rumah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_1


__ADS_2