
“ Arka!!!!!!”
Layaknya ada kebakaran Alan berteriak sangat kencang hingga membuat Arka yang baru saja memejamkan matanya terduduk seketika.
Dengan kesal Arka melemparkan bantal kearah Alan yang tepat mengenai wajah pria itu.
“Gue diterima Ka. Ah…. Lamaran gue diterima Ka” teriaknya lagi.
Minggu lalu Alan memang pernah cerita jika pria itu baru saja mengajak pacarnya untuk menikah. Pacarnya meminta waktu 1 minggu untuk memikirkannya dan ternyata berakhir dengan diterimanya lamaran Alan.
Ikut bahagia, Arka menyambut Alan yang langsung berlari memeluknya. Hubungan Alan berakhir bahagia, sedangkan hubungan dirinya berakhir kandas di kota Jogjakarta.
“Terus kapan lo mau bawa orang tua lo ke rumah Dian?”
“Secepatnya” jawab Alan gembira “Gue mau ngabarin orang tua gue dulu”
“Udah malam. Ingat jam berapa ini” Larang Arka.
Jam sudah hampir menunjukan pukul 23.30, sudah cukup malam untuk mengabari hal itu. jika saja dirinya tak melarang, Alan pasti sudah menghubungi kedua orang tuanya itu.
“ Lo sama Wine gimana? Berani ngajakin nikah anak komandan ngga lo?”
Arka tak menjawab, merebahkan badannya di Kasur dan kembali menutup matanya rapat. Perihal hubungan dirinya dan Wine yang berakhir, Arka memang tak menceritakannya kepada siapapun. Arka yakin kelak Wine akan kembali pada dirinya. Menyedihkan memang, namun Arka akan mencoba untuk meyakinkan kembali gadis itu agar mau kembali padanya.
Untuk saat ini?
Mungkin tidak. Arka tahu Wine tengah menyiapkan ujian masuk ke Universitas dengan jurusan kedokteran. Arka hanya ingin memberikan ruang sejenak agar gadis itu bisa fokus terhadap cita-citanya. Tak ada dirinya maka tak ada yang menyakiti gadis itu.
“Gue denger lo diajak balikan sama mantan lo ya Ar?”
“Gossip dapat dari mana lagi lo?”
Alan mengambil posisi duduk di ranjangnya “ Bukan gossip kali. Lo yang bikin ketara. Bulan lalu lo ketemu di kafe kan? Terus beberapa minggu ini juga sering itu cewe datang ke kafe buat nemuin lo. Katanya namanya Anggi ya?”
Arka menendang Alan agar menyingkir dari ranjangnya. “Berisik gue mau tidur”
***
1 bulan yang lalu.
Arka menatap layar ponselnya tanpa bicara apapun. Hari ini seharusnya dirinya membawa Wine untuk diperkenalkan kepada keluarganya, namun nyatanya semuanya menjadi berantakan hanya karena sebuah pesan yang dikirim Wine malam tadi.
Wine:
Hai bang. Gimana kabarnya?. Maaf Wine udah balik duluan dianter pade tadi pagi. Maaf ya bang Wine ngga bisa nempatin janji. Dan maaf juga bang untuk semuanya. Terimakasih juga untuk semua yang bang lakuin buat Wine selama ini. mungkin memang lebih baik berakhir seperti ini. Wine mungkin memang bukan yang terbaik buat abang. Semoga abang bisa ketemu sama orang yang jauh lebih baik dari Wine ya bang.
Arka melempar ponselnya kedinding hingga menimbulkan suara yang begitu keras.
Dibawah ada acara 7 bulanan kakak iparnya. Arka tak perlu khawatir jika ada yang mendengarnya nanti.
__ADS_1
Arka menatap layar ponselnya yang retak masih menunjukan sederet pesan dari Wine itu. jika saja dirinya membacanya semalam, maka Arka bisa menahan Wine untuk tidak pergi darinya.
Dengan tangan yang mengepal, sebaik mungkin Arka meredakan emosinya dan mengatur deru napasnya. Jika saja tak ada acara keluarga Arka mungkin akan langsung lari mengejar Wine, meminta penjelasan dari gadis itu, atau bahkan Arka juga bersiap untuk berlutut didepan Wine.
Semua yang ada dipikirannya seakan berantakan seketika. Arka bahkan harus duduk di kursi demi menghilangkan rasa pening di kepala yang tiba-tiba menerjangnya. Tubuhnya lemas dengan air mata yang mulai meluncur perlahan.
Arka yang biasanya terlihat penuh karisma dan wibawa seolah tumbang hanya karena satu pesan dari Wine. Rasa penyesalan karena pembicaraan mereka minggu lalu muncul satu persatu ke permukaan.
Kenapa alih-alih bertanya alasannya, dirinya malah langsung marah?.
Arka yang selalu berkepala dingin membuat hidupnya hancur seketika hanya karena emosi untuk hal yang harusnya bisa dibicarakan lebih lanjut.
Tok tok tok.
“Bang didalam? Keluar dulu sebentar”
Suara ibu dari arah luar membuat Arka mengusap air matanya cepat. Arka menarik napasnya dalam sebelum akhirnya membuka pintu dan menampilkan sosok ibu yang terlihat cantik menggunakan kebaya.
“Udah selesai bu acaranya?” Arka bertanya sambil menutup pintu kamarnya cepat.
Menghindari jika ada kemungkinan ibu bisa melihat kondisi kamarnya sekarang.
Yang sudah terjadi detik ini maka biarkan terlebih dahulu, Arka perlu memikirkannya baik-baik. bukan disini, didalam rumah ibunya. Arka akan memikirkannya baik-baik setelah kembali ke skdaron.
“Udah dari tadi”
Arka mengangguk. Menggandeng ibunya kemudian menuruni satu persatu anak tangga. Benar, kondisi ruang tengah yang sebelumnya ramai oleh para tetangga kini hanya menyusahkan beberapa sanak saudara yang saling berbincang satu sama lain.
Langkah Arka berhenti seketika, dahinya berkerut dan matanya menatap sang ibu bingung. Anggi adalah mantannya dulu, perempuan yang sempat membuat Wine salah sangka kepadanya.
“Ngapain bu?” Arka menahan ibunya sebelum melewati batas antara ruang tengah dan ruang tamu.
“Ngga tahu, katanya ayahnya pengin ngobrol sama kamu. Ya tugas ibu cuman manggil kamu doang. Udah ayo keluar”
Mendengar dirinya di Jogja, mungkin kedua orang tua Anggi yang memang sudah lama kenal ingin menyapanya. Tapi bukankah seharusnya kebalikannya? Arka yang harus bertandang ke rumah Anggi untuk menyapa, bukan sebaliknya.
“MasyaAllah, gimana kabarnya nak Arka”
“Alhamdulillah baik bu” Arka menyalami ke dua orang tua Wine, kemudian memilih duduk di samping ayah.
Disana, Anggi, Wanita itu tersenyum ramah kepada Arka yang membuat Arka mau tak mau menarik senyumnya. Saat melihat wajah itu, Arka tahu ada sedikit kejanggalan dari ekspresi Anggi sekarang. Tapi entah apa, Arka bukan dukun atau peramal yang bisa langsung tahu ada apa dibalik senyuman itu.
“Ibu dan bapak gimana kabarnya?” tanya Arka balik. Basa-basi sebenarnya, karena nyatanya pikirnya kali ini kembali kacau saat mengingat pesan Wine tadi.
“Alhamdulillah bapak kabarnya baik. ibu juga alhamdulillah baik”
Arka kembali tersenyum. Dari arah tempatnya duduk, Arka bisa melihat ibu Anggi mencolek suaminya beberapa kali seolah menyuruhnya untuk cepat menyampaikan tujuan mereka datang ke tempat ini sebelumnya.
“Jadi gini nak. Sebelumnya bapak mau tanya, nak Arka udah punya pacar?”
__ADS_1
Pertanyaan yang nyatanya tak pernah terpikirkan oleh Arka akan ditanyakan oleh orang lain selain keluarganya terdengar bak sebuah batu yang semakin menekan emosi didalam tubuhnya. Tatapan Arka kini tertuju kearah Anggi yang kini menundukkan kepalanya dalam sambil meremas kedua tangan gugup.
Seingat Arka, dirinya sudah menjelaskan panjang lebar mengenai kondisi hubungan mereka yang tak akan mungkin kembali normal di kafe waktu itu. Arka bahkan juga menyebut nama Wine didepan wanita itu.
“Sebelumnya maaf bu, pak” sebaik mungkin Arka menahan agar suaranya tak meninggi didepan kedua orang tua Anggi dan kedua orang tuanya “ Saya sudah punya kekasih pak bu”
Bukan hanya orang tua Anggi yang terkejut, orang tuanya juga terkejut mendengarnya.
Awalnya Arka memang ingin mengenalkan Wine kepada kedua orang tuanya diacara malam ini, tapi nyatanya hubungannya berakhir bahkan sebelum acara dimulai.
“Pacar?” Anggi yang sebelumnya hanya menunduk dan diam, akhirnya angkat bicara.
“Bukanya hubungan kamu sama gadis SMA itu udah kandas mas?” lanjutnya lagi.
Arka mengepalkan tangganya erat.
“Pacar kamu anak SMA bang?” ibu yang duduk disampingnya ikut bertanya.
Saat matanya menatap mata ibu yang seakan meminta penjelasan, tatapan Arka yang sebelumnya tajam karena diarahkan ke Anggi melembut seketika. Arka menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Disisi lain, ibu Anggi kini tertawa berusaha untuk mencairkan suasana karena ucapan anaknya barusan. “Oh nak Arka udah punya pacar ya? syukur deh kalau begitu. Sebenernya bapak sama ibu mau minta tolong kenalin Anggi sama temen kamu, biar cepet punya pacar”
Bohong. Siapapun yanga ada diruang tamu sekarang jelas tahu ucapan ibu Anggi semata hanya untuk menutupi rasa malu. Sedangkan bapak Anggi kini menyesap kopinya dengan gerakan canggung.
“Kalian udah putus kan mas?! Kalian..”
“Anggi” potong ibu Anggi cepat.
“Maaf buk pak, saya permisi dulu. Dan Anggi bisa kita bicara didepan sebentar?”
Tanpa menunggu persetujuan dari Anggi, Arka berdiri dan langsung berjalan keluar menuju halaman. Anggi mengekor dibelakangnya.
“Sepertinya mas udah jelasin semuanya sama kamu di kafe waktu itu” Arka membalikan tubuhnya menghadap ke arah Anggi setelah merasa cukup jauh dari ruang tamu.
Dengan mata yang berair, Anggi meraih tangan satu tangan Arka dan digenggamnya erat “ Tapi kamu udah putus kan mas? Aku cinta sama kamu mas”
Arka membebaskan tangannya paksa “ Tapi mas ngga punya perasaan yang sama”
“Aku nggak peduli. Asalkan mas mau nikah sama aku, aku yakin bisa bikin mas jatuh cinta sama aku lagi”
Arka memejamkan matanya. Jika terus membahas hal ini, Arka yakin emosinya yang sebaik mungkin ia tahan akan meledak seketika. Tanpa berniat untuk menjawab kembali, Arka berjalan meninggalkan Anggi yang mulai menangis. namun, baru beberapa langkah, kakinya berhenti saat Anggi mengucapkan hal yang sedari tadi membuat kejanggalan besar di kepala Arka.
“Kamu udah putus sama dia mas.”
Arka membalikan badannya agar kembali menghadap kearah Anggi “Dengan kamu tahu mas udah putus padahal baru beberapa jam lalu dan itupun lewat pesan. Kamu seharusnya sadar seberapa banyak hal yang harus kamu introspeksi pada diri kamu sendiri”
Anggi mengusap air matanya “ Aku ngga peduli mas. Aku bisa nunggu mas bosan sama bocah itu. aku bakal bikin mas balik lagi sama aku”
Merasa jika pembicaraan ini hanya akan membuat kepala pecah. Arka benar-benar meninggalkan Anggi dan masuk kedalam. Hanya memberikan salam sebentar kepada kedua orang tua Anggi di ruang tamu, kemudian kembali masuk kedalam kamarnya.
__ADS_1
Bekasi
22 Desember 2021