Salto Dunia Wine

Salto Dunia Wine
Bab 22: Angkatan Udara


__ADS_3

“Tapi kamu tahu setiap pribadi orang itu bisa saja berbeda kan Win?”


Arka bertanya hati-hati setelah beberapa menit terdiam mendengar semua penjelasan Wine dengan baik. meski dirinya tahu sejauh apa trauma yang dimiliki Wine, namun berpura-pura setuju dengan ketakuatan gadis ini menjalin hubungan serius dengan angkatan udara jelas tidak bisa di benarkan. Sambil menggenggam tangan Wine, Arka kembali bicara dengan nada lembut.


“Tidak semua tentara angkatan darat seperti ayahmu. Dan tidak semua hal yang ada didalam ayahmu adalah kebukurukan. Abang bukan setuju dengan tindakan babamu 6 tahun yang lalu, namun dirimu yang tidak suka hingga nyaris takut dengan angkatan udara. Abang cuman ingin berusaha agar pikiranmu itu tidak lagi berakar di kepala kamu dek”


Arka menatap lembut kearah Wine. Setelah makan tadi, Wine menceritakan semuanya yang membuat gadis ini juga kembali menangis.


“ Kamu masih takut dengan angkatan udara?”


Melihat Wine mengangguk, hati Arka sedikit sakit. Namun jika dirinya memaksakan maka hal itu juga tidak akan baik bagi Wine, gadis ini mungkin akan semakin takut dan trauma dengan status pekerjaannya.


“Abang ngga mau maksain kamu. Kita ke rumah budhe kamu saja dulu berarti, nanti kalau sudah tenang baru ke rumah abang ya dek”


“Maaf ya bang”


Arka menggelengkan kepalanya. Tidak ada yang salah disini, maka tidak ada pula yang harus meminta maaf.


“Abang antar ke rumah budhe mu saja dulu ya?”


Setelah mendapatkan anggukan dari Wine, mobil Arka kembali masuk jalan tol menuju Jogja. Sepanjang perjalanan Arka sebaik mungkin untuk tetap mengajak Wine kembali bicara. Membahas hal-hal lucu yang membuat Wine kembali tertawa. Didalam hubungan ini, dirinya jauh lebih tua dari Wine, itu berarti dirinya juga harus lebih dewasa dalam menyikapi segala hal.


3 jam setelah pemberhentian barusan, mobil Arka akhir sampai juga didepan rumah minimalis dengan pagar berwarna putih ini. seseorang wanita yang berusia kisaran 50 tahunan menyambut kedatangan mereka dengan berdiri di depan pagar. Senyuman mereka wanita itu membuat Wine langsung turun dan menghambur kepelukan budhenya. Arka tersenyum melihatnya, mengambil koper Wine dari bagasi dan berjalan mendekati kedua wanita itu.


“Siapa toh ndo?”


Budhe yang sudah Wine sebut namanya Ana dimobil tadi bertanya pada Wine kemudian tersenyum ramah ke arah Arka.


“Namanya bang Arka budhe”


“Selamat sore budhe” Arka menyalami tangan Ana.


“Sore nak Arka. Hayo pada masuk dulu. Pasti belum pada makan kan?”


Wine mengangguk antusias padahal 3 jam yang lalu mereka baru saja menyantap 2 hamburger sekaligus. Ya, hamburger Arka berakhir diperut Wine tadi. Sambil bergelayut manja ditangan Ana, Wine berjalan masuk dengan budhenya sedangkan mengekor dibelakang sambil menarik koper Wine yang super besar. Entah apa saja yang ada didalam koper ini.


“Abah ada Wine nih”


setelah suara Ana yang sepertinya memanggil suaminya. Sosok pria yang sepertinya berusia sepentaran dengan ayah Arka keluar dari kamar. Pria yang masih menggunakan sarung berwarna merah marun itu langsung memeluk Wine dan mencium pipi kanan dan kiri Wine.

__ADS_1


“Gimana kabarnya dek? Ujiannya lancar?”


“Alhamdulillah baik pade. Lancar juga ujiannya alhamdulillah”


“Itu siapa?”


Arka yang tahu jika pertanyaan itu tertuju untuk menanyakan keberadaannya, Arka langsung mendekat dan menyalami pria itu.


“Bang Arka pade” Wine memperkenalkannya pada pria itu.


“ Selamat sore pak” sapa Arka dengan senyuman sebaik mungkin.


“Sore. Kalau boleh tahu siapanya Wine ya?”


Pertanyaan pade membuat Arka dan Wine saling bertukar pandangan. Namun syukur karena budhe yang super peka itu langsung menghentikan suaminya untuk bertanya lebih lanjut sekarang. Mereka perlu makan terlebih dahulu, lebih tepatnya Arka yang belum makan sejak siang.


Beberapa makanan khas Jogja sudah terjadi manis di atas meja. Arka tahu saat pulang ke rumah nanti, bundanya juga pasti menyediakan berbagai jenis makanan khas daerah ini, tidak masalah karena makanan khas Jogja selalu memiliki tempat lebih didalam perutnya.


Arka mengambil posisi duduk di samping Wine yang kini sudah mulai melahap gudeg yang berada didepannya. Arka juga mengambil makanan yang sama, rasa manis dan gurih seketika memanjakan lidahnya sekarang.


“Jadi ada hubungan apa diantara kalian?”


“Abah, kasihan tuh jadi keselek kan anak orang”


budhe berpura-pura kasihan meski sebuah senyuman terlihat disembunyikan sebaik mungkin dari wajahnya.


Arka langsung duduk tegak, menatap satu persatu budhe dan pade kemudian tersenyum sedikit canggung “ Saya suka sama Wine pak, bu.”


Tak lagi ditahan, budhe kini tertawa sambil memukul tangan suaminya girang. Memang baru kali ini Wine mengajak seorang pria untuk menemui mereka. jadi sekali Wine membawa pria datang ke Jogja, rasa senang budhe tak bisa disembunyikan sama sekali.


“Kamu tahu Wine masih SMA kan?” pade kembali bertanya.


Arka menganggukkan kepalanya. Mungkin memang terlihat aneh karena dirinya yang sudah berumur 27 tahun malah memacari gadis SMA. Mungkin nanti reaksi kedua orang tuanya juga akan sama.


“Tahu pak.”


“Terus kamu tahu dia masih harus kuliah dulu sebelum nikah kan?”


Kali ini Wine yang memukul lengan padenya. Bukan girang karena pertanyaan itu, namun terkejut karena pade langsung membahas mengenai pernikahan.

__ADS_1


“Saya tidak ada niatan untuk memaksa Wine menikah dengan saya sekarang pak. Saya tahu Wine masih mempunyai mimpi yang harus digapai. Namun jika Wine bersedia untuk menikah, saya juga tidak keberatan kapanpun waktunya.”


Suara budhe yang bersorak gembira kembali terdengar. Wanita itu kini kembali memukul tangan suaminya berulang kali. “Mirip kamu dulu bah”


“Widih.. emang gimana dulu pade ngelamar budhe?” Wine yang seakan tahu memiliki celah untuk mengganti topik pembicaraan langsung bertanya. Wine menepuk pundak Arka dua kali, memintanya untuk kembali rileks seperti sebelumnya.


“Persis kaya Nak Arka barusan Win” budhe melirik kearah suaminya yang kini kembali asik makan dan pura-pura tak dengar.


“Waktu awal ketemu gimana budhe?”


“Budhe ketemu pade kamu di kampus. Biasa anak yang pinter kaya budhe ketemu mahasiswa ugal-ugalan kaya pade mu ini”


“Beuh.. kaya di novel aja budhe” Wine memajukan posisi duduknya. Antusias mendengarkan cerita masa pacaran budhe dan pade.


“Emang. Pade mu ini bahkan hampir di drop out karena ngga pernah masuk. Terus budhe syarat aja sama pade mu ini. kalau mau jadi pacar harus masuk 1 semester penuh”


“Terus pade setuju?”


Budhe mengangguk.” Setuju dong, siapa yang ngga mau sama kembang kampus kaya budhe ini”


Wine tergelak tawa. Dirinya akuin memang, jika budhe memanglah sangat cantik. Kakak dari mamahnya ini memiliki mata yang sama persis dengan mamahnya. “Terus waktu ngelamar ke kakek gimana?”


“Ditolak terus. Setelah dapet kerjaan baru diterima lamarannya. Oh ya ngomong-ngomong nak Arka kerja apa?”


Wine langsung menahan Arka yang hendak menjawab “ Bang Arka temennya mas Akthar budhe”


Sontak kepala Arka langsung menoleh kearah Wine. Untuk apa Wine berbohong pada budhenya mengenai pekerjaannya?.


“Oh, temen sekantornya Akhtar ya?”


Wine kembali mengangguk. Tangannya menggenggam tangan Arka dibawah meja untuk membuat pria ini tetap diam sementara “ Iya budhe”


“Syukur deh. Wine manggilnya abang, jadi budhe kira kerjaannya tentara angkatan udara”


Arka melongo seketika. Bukan hanya Wine yang tidak suka dengan profesi itu. namun seluruh keluarga dari pihak mamah Wine juga tak menyukainya.


Bekasi


18 Desember 2021

__ADS_1


__ADS_2