
"Win itu beneran?"
Wine yang tengah membalas pesan di group 'Harta Karun Negara(HKN)' dengan pembahasan mengenai jatuhnya pesawat tempur menoleh kearah Jani yang kini menunjuk kearah layar televisi.
Pemberitaan mengenai jatuhnya pesawat F-16 ke Iswahyudi mulai di beritakan. Wine melirik sebentar ke arah televisi sebelum akhirnya kembali fokus pada ponselnya.
"Iya mbak." Jawab Wine.
Beralih dari group HKN, Wine mencari room chat suaminya. Terakhir dilihat pukul 5.15 tadi pagi, Arka sepertinya masih belum sampai di titik jatuh pesawat, atau mungkin sudah sampai namun belum sempat membuka WA karena sibuk, bisa juga karena tidak ada sinyal sama sekali.
Satu doa yang Wine panjatkan dari tadi, Tidak masalah tidak memberi kabar setiap saat, tapi setidaknya dirinya mendapat satu pesan dari Arka yang mengatakan dia sudah sampai di tempat tujuan.
"Bukan suami kamu yang bawa kan Win?" kali ini Ainan yang bertanya.
Mereka bertiga sedang berada di ruang piket sambil menunggu jam visit berikutnya. Wine hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Alhamdulillah" Ucap Ainan.
"Iya Alhamdulillah. Alhamdulillah dong Win. Bersyukur karena bukan suami kamu"
Wine terdiam cukup lama mendengar sederat kalimat Ainan dan Jani barusan. Telinganya merasa tak suka mendengar sederet kalimat barusan. " Nggak tahu gue. Dibalik gue yang bilang alhamdulillah, ada seorang istri yang menangis dan berharap bukan suaminya yang ada di pesawat itu" Jawab Wine kemudian berjalan keluar dari ruang piket, Meninggalkan Ainan dan Jani yang langsung terdiam merasa bersalah.
Memang benar, dibalik dirinya yang bersyukur bukan Arka yang bertugas membawa pesawat itu, ada Ayu yang kini menangis histeris mendengar kabar yang Wine bawa tadi pagi. Lebih buruknya lagi dirinya harus segera berangkat ke rumah sakit karena ada jadwal operasi dan meninggalkan Ayu bersama 3 persit lain.
Satu panggilan dengan nama 'Bunda' tertera di ponselnya. Ibu dari Arka pasti sudah bisa menebak jika putranya ikut terjun langsung dalam pencarian.
"Hallo, Assalamualaikum bun"
"Waalaikumsalam nak. Bunda ganggu nggak?"
"Nggak bun. Masih punya waktu 20 menit lagi sebelum visit"
Wine mengambil posisi duduk disalah satu kursi yang berada di lorong rumah sakit. Saat mendengar suara bunda, kakinya sudah langsung lemas dan Wine merasa akan jatuh jika masih memaksakan diri berjalan.
"Kamu nggak apa-apa nak?"
Wine menjauhkan ponselnya sebentar kemudian berdehem, menghilangkan suara serak yang akan sarat ketakutan karena Arka masih belum juga memberikan kabar. Setelah merasa suaranya tak serak, Wine menempelkan ponselnya lagi ke telinga " Nggak apa-apa bun. Bunda sama Ayah sehat?"
"Alhamdulillah sehat. Arka ke Iswahyudi ya nak?"
"Iya bun. Tadi pagi ngabarin Wine kalau mau bantu cari kapt. Ayub"
"Sudah kasih kabar ke kamu kalau sudah sampai Win?"
__ADS_1
Wine terdiam cukup lama, Hanya hembusan napasnya yang terdengar membuat bunda kembali bicara.
"Belum ya Win?. Si abang emang sukanya begitu kalau udah fokus sama kerjaan"
"Mas Arka suka nggak ngasih kabar begitu bun?" tanya Wine.
"Iya. Arka kadang suka lupa Win. Padahal sebelum nikah bunda udah ingetin dia buat selalu kasih kabar sama kamu"
Lagi, Wine terdiam cukup lama. Ada sebuah pertanyaan yang ingin ia tanyakan namun begitu sulit untuk diucapkan. Rasa khawatirnya kini semakin besar. Wine menarik napasnya dalam "Bun."
"Ya?"
"Dulu waktu mas Arka lupa ngasih kabar, dia tetep baik-baik aja dan sampai dengan selamat di tempat tujuan kan bun?"
"Alhamdulillah selamat Win. Kita doa disini ya. Nanti kalau udah pulang biarin bunda marahin Arka ya. Sukanya bikin istri khawatir"
"Iya bun. Mas Arka di marahin ya bun. Biar nggak bikin aku khawatir"
Suara tawa terdengar dari sebrang sana. Selain ibu, Bunda adalah sosok wanita yang luar biasa, yang membuat Wine ingin menjadi sosok seorang ibu seperti mereka.
"Doain Arka aja semoga selamat ya Win. InsyaAllah dia bisa jaga badannya sendiri. Yang penting sehat"
Jika Arka pergi dalam kondisi sehat, mungkin Wine tak akan sekhawatir ini. Masalahnya demam Arka semalam cukup tinggi ditambah pria itu yang sakit juga.
"Iya bunda. Nanti kalau mas Arka kasih kabar ke bunda, tolong kasih tahu Wine ya bun"
Memberitahu jika kondisi Arka yang tidak sehat jelas bukan pilihan ya baik. Bunda sudah dalam usia tua, tidak baik jika terlalu banyak khawatir.
"Waalaikumsalam" menutup Telfon, Wine menyandarkan punggung di sandaran kursi.
Mas kabarin Wine secepatnya ya mas. Kayanya ada adeknya kembar di perut aku mas. batin Wine.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Belum ada kabar Win?"
Wine mengangguk menjawab pertanyaan Ocha.
Setelah mencari baju untuk audisi untuk anak-anak, mereka memilih untuk duduk di area permainan anak, makan sambil menunggu ketiga anak itu bermain mandi bola.
"Udah tanya bunda?" kali ini Anya yang bertanya. Arun hari ini tidak dibawa dan dititipkan ke ibu Anya.
"Sudah dan mas Arka belum ngasih kabar juga" jawab Wine sambil kembali mengecek room chat dengan suaminya.
__ADS_1
Tanda terakhir dilihat masih menunjukkan jam yang sama. Pesan yang dikirimkan Wine tadi pagi juga masih bertanda ceklis 1.
Ocha menepuk pundak Wine 3 kali " Ya udah positif aja ya, kali aja Bang Arka sibuk banget dan emang nggak ada sinyal disana"
Wine mengangguk setuju. Lebih baik berfikir seperti itu sekarang.
"Tapi kapt. yang bawa pesawat sudah ketemu?".
Wine menggeleng menjawab pertanyaan Ocha. Kabar mengenai Kapt. Ayub juga belum terdengar hingga sekarang. Beberapa kali Wine menghubungi salah satu orang kantor guna menanyakan kabar, jawabannya hingga sekarang masih tetap sama.
" Gue titip anak-anak ya Cha, Nya"
Ocha mengangguk begitupula dengan Anya.
Setelah mencari baju untuk anak-anak, Wine memang tak berniat untuk langsung pulang ke rumah. Dirinya akan mengunjungi Ayu lagi dan tidak memungkinkan membawa kembar bersamanya.
"Adek, Abang, Sinih"
Merasa dipanggil oleh ibunnya. Kedua bocah itu langsung mendekat dan berdiri di depan Wine.
"Dengerin ibun. Ibun ada urusan sebentar, Ibun mau ke rumah tante Ayu. Kalian kenalkan sama tante Ayu?"
Arsya dan Aaras mengangguk bersamaan.
"Nanti pulangnya sama tante Ocha dan Tante Anya ya. Yang nurut sama tante. Oke?"
"Ayah mana?" Tanya Arsya.
"Abang mau ketemu ayah" tambah Aaras.
"Ayah nggak pulang hari ini, mungkin besok juga nggak pulang. Nanti kita telfon ayah ya?"
Arsya dan Aaras kembali mengangguk. Noh mas, anak kamu nyariin. Jadi cepet kabarin aku ya mas. batin Wine.
Wine mencium ke dua putranya kemudian berjalan meninggalkan mereka sambil mengusap perut. Maaf ya dek. Mamah belum sempet cek kamu. Belum benar-benar mastiin kalau kamu ada disini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩ...
NOTE:
Maaf ya untuk DUNIA ANYA nggak up hari ini. Aku kira aku masih punya draf bab yang bisa di up hari ini. Eh ternyata nggak ada.
Besok akan di up lagi jam 15.00. Semoga bisa double up DUNIA ANYA untuk ganti absen up hari ini.
__ADS_1
Yuk bisa yuk. Tinggalkan jejak di bab ini.
LIKE dan KOMENTARNYA ditn