
Waw, kejutan macam apa yang ia lihat sekarang?. Wine hanya diam mengamati pria itu. Jika saja dirinya tak tahu bang Arka bahkan ketemuan dengan mantannya terlebih dahulu setelah pulang dari Solo, Wine mungkin akan berlari kearah pria itu dan memeluknya saking rindunya. Tapi nyatanya kalimat mbak Alin tadi seolah memakunya tetap berdiri ditempat.
Dibalik itu semua, setidaknya Wine bersyukur karena Arka terlihat begitu segar dan dalam kondisi sehat walafiat. Tidak seperti yang diceritakan bang Jaka kemarin, jika ada kemungkinan pesawat yang bang Arka naiki bisa jatuh dimanapun karena tergolong pesawat baru. Bahkan bang Arka orang pertama yang mengendarainya.
“Dia malah bengong. Gagal makan enak ini mah Cha. Balik lagi yuk kekantin, gue masih laper soalnya. Baikan udah sanah” Anya menepuk pundak Wine kemudian kembali meninggalkan Wine sendirian. Tujuan Ocha dan Anya jelas kantin sekolah.
Wine berjalan mendekati Arka. Tak ada senyuman sama sekali saat Arka melambaikan tangan kearahnya. Wine hanya berjalan melewati pria itu kemudian masuk kedalam mobil. Tak bicara sama sekali bahkan saat Arka sudah duduk dikursi kemudi.
“ Ngga surprise ini ceritanya? Abang kira kamu bakal lari terus meluk abang saking kagetnya”
“ Abang Arka yang Wine kenal masih di Solo. Ngapain meluk orang lain”
Dari ekor mata, Wine bisa melihat kerutan didahi Arka. Pria itu melajukan mobilnya beberapa meter menjauh dari sekolah sebelum akhirnya kembali berhenti di bahu jalan.
“ Loh ngambek sama abang ini ceritanya Dek?”
“ Pikir aja sendiri”
Arka tertawa, mengacak gemas rambut Wine sebelum akhirnya kembali merapikannya lagi saat mendapat tatapan tajam dari gadis ini “ Abang kira bakal jadi Waw kalau tiba-tiba abang udah ada disekolahmu padahal abang bilangnya masih di Solo. Tapi malah jadi bete”
“ Ya iyalah bete. Abang bilangnya pas balik dari Solo bakal ketemu langsung sama Wine kan? Eh malah ketemu sama mantannya dulu”
Wine melihat ekspresi terkejut Arka sekarang. Mulut pria itu kini membentuk huruf O lengkap dengan mata yang membulat. Layaknya seperti maling yang kepergok sama warga sekampung.
“ Ko kamu bisa tahu?”
“ Tahulah banyak mata sama telinga Wine di skadron”
“ Oh.. “ Arka mengangguk kepalanya kemudian kembali melajukan mobilnya.
Kali ini Wine yang dibuat terkejut dengan tanggapan Arka. Setelah mengatakan ‘oh..’ muka terkejutnya hilang menjadi wajah tenang dengan senyuman yang sumpah ganteng berkali lipat.
“ Cuman oh doang?”
“ Ya terus abang harus gimana?”
“ Lupakan” Wine melipat tangannya didepan dada.
Arka tertawa geli. Tangan yang sebelumnya terlipat didepan dada kini diambil alih oleh Arka dan digenggam dengan erat. Seketika rasa damai itu menjalar keseluruh tubuh Wine sekarang.
Jangan-jangan dirinya juga sudah sebucin mbak Alin sama mas Akhtar?. Oh Wine tak pernah membayangkan akan jadi bucin seorang angkatan udara.
“ Itu cuman masa lalu. Abang ketemu dia di Solo. Terus ternyata satu pesawat pas balik lagi kesini. “
“ Bukanya abang sampai semalam? Kenapa paginya masih ketemu lagi?”
“ Wah.. abang ngeri sendiri ini. banyak banget matamu di skadron ya. kamu buat mereka kepincut pake apa? Muka kamu yang jelita ini?”
“Itu mah abang”
Wine tertawa. Kalau sudah bucin memang tak bisa tahan lama untuk marah.
“ Gitu dong ketawa. Abang kangen pengin denger langsung kamu ketawa. Ngga cemberut kaya tadi. Jadi berhubung mood kamu udah balik, mau kemana kita tuan putri?”
“ Wine belum beli jajanan buat study tour besok. Jadi kayanya mau belanja aja dulu bang”
Arka menghela napasnya sedih “ Baru ketemu, besok udah pisah lagi dong. Berapa hari kamu study tour?”
Oke. Bukan cuman dirinya yang bucin. Arka juga sama bucinnya.
“ 3 hari”
__ADS_1
“ Oke deh. Siap untuk belanja tuan putri?”
“Tapi abang yang bayar ya?” jika ada Arka maka Wine akan memanfaatkannya sebaik mungkin.
“ Siap bu bos”
Perjalanan menuju pusat pembelanjaan terbilang masih lancar jaya mengingat kini masih pukul 13.00. sepanjang perjalanan baik Wine atau Arka saling berbagi cerita mengenai kegiatannya masing-masing. Wine cerita mengenai segalak apa Ocha saat mengajar dirinya dan Anya matematika namun berakhir dengan Ocha sendiri yang nangis karena emosi. Dan Arka bercerita mengenai pekerjaannya selama 4 hari di Solo. Oh cerita tentang mantannya juga tak luput dari pertanyaan Wine.
Hanya butuh sekitar 30 menit. Mobil yang mereka kendarai sudah sampai di pusat pembelanjaan. Wine langsung mengambil troli dan mulai menelusuri rak-rak yang berisi berbagai jenis makanan ringan. Mendengar Wine tengah berbelanja dengan Arka, Ocha dan Anya langsung memberikan list jajanan ringan yang mereka inginkan. Ajaibnya bang Arka menyetujui untuk membayar semuanya nanti.
Pria yang pertama kali bertemu menjadi walinya di kantor polisi, kini berubah menjadi bank berjalan mereka bertiga.
“ Kamu ngga beli coklat dek”
Wine mengulum senyumnya. Panggilan itu kali ini sudah kembali terdengar menggelikan ditelinga. Namun Wine tak masalah karena Arka juga tak berniat untuk mengganti panggilannya itu.
“ Aku ngga suka coklat bang. Tapi mungkin beli satu buat Anya”
“ Yang mana dek?” Arka yang sudah berada diposisi terdekat dengan rak berisi deretan coklat kembali bertanya.
“ Yang kecil aja bang”
Setelah Arka mengambil coklat. Mereka kembali menyusuri rak-rak yang berisi berbagai jenis Snack yang terbuat dari kentang.
“ Kamu suka yang ini kan dek”
Wine mengangguk.
“ Dek”
“ Apa?”
“ Dek”
“Dek”
“Apa sih bang?”
Arka tertawa yang membuat Wine juga ikut tertawa “ Ngga seneng aja manggil kamu adek. Kamu ngga berniat manggil saya mas”
“ Jangan mimpi bang. Bangun” Wine berjalan meninggalkan pria itu yang memanyunkan bibirnya.
Sungguh orang yang melihat mereka pasti akan berpikir dirinya adalah cabe-cabean yang masih pakai eragam sekolah sedang jalan dengan om-om.
“ Mau abang anter kemana? Ke rumah ibu apa ke rumah komandan?” Arka kembali mengajukan pertanyaan saat mereka sudah berada di luar pusat pembelanjaan dan tengah memasukan satu persatu kantong belanja kedalam bagasi.
“ Ke rumah ibu dulu ya bang”
Arka menutup pintu bagasi, kemudian masuk kedalam mobil diikuti Wine yang kini sudah duduk disampingnya.
“ Bukannya abang giman-gimana ya dek. Tapi kamu ngga pengin ketemu baba mu? Udah lebih dari 2 minggu loh dek”
Wine menggeleng “ Nanti dulu ya bang. Wine belum siap kayanya. Tapi kalau Wine ketemu baba nanti, bang mau nemenin kan?”
Arka tersenyum kemudian mengangguk. Wine sudah berada di awal memasuki usia dewasa, gadis ini sudah bisa mengetahui mana yang baik dan buruk untuk dirinya sendiri. Tugas Arka hanya perlu mengingatkan.
“ Oke. Kita jalan kerumah ibu kalau begitu”
***
Hanya butuh waktu sekitar 1 jam, pagar tinggi rumah ibu sudah berada didepannya. Namun sudah hampir 30 menit sampai. Arka masih belum melepaskan tautan tangan mereka. pria ini masih menggenggam tangannya sambil menceritakan cerita yang juga sudah tak jelas arahnya.
__ADS_1
Meski tak jelas, seperti cerita Arka nemu katak tidur di kolam depan rumah dirinya menginap, cerita tentang ada dua sejoli yang rebut dikafe Solo, bahkan hingga kuda yang suruh jalan tapi malah tiduran hingga membuat delman hampir nyungsep kedepan. Wine masih mendengarkan dengan senyuman merekah.
Cerita aneh itu hanya sebuah alasan untuk menambah jam pertemuan mereka hari ini.
“ Bang ini ngga mau dilepas? Udah ½ jam lebih cuman didepan pagar” Wine menggoyangkan tangan mereka berdua.
“ Sebentar lagi. kan besok ngga ketemu”
“Ya abang masuk aja kalau begitu”
“Abang harus balik ke skadron lagi. ada yang harus abang laporin. Kalau masuk ngga enak kalau cuman sebentar terus izin pulang”
Wine menyipitkan matanya curiga “ Ngga enak atau takut ketemu sama ayah?”
“ Kenapa takut. Kalau ayah adek nyuruh abang buat ngelamar adek sekarang abang juga siap. Abang itu pria sejati”
“ Bisa aja nyari kesempatan. Udah sana balik ke skadron, nanti abang ngga dapet cuti loh kalau kerjaannya belum kelar"
Wine langsung keluar dari mobil. Berjalan kebagian belakang mobil, kemudian membuka bagasi dan mengambil 5 kantong belanjaannya.
Namun baru 2 kantong yang ada ditangannya. Tubuhnya ditarik lembut dan berakhir dipelukan Arka sekarang. Pria itu memeluknya erat sambil menggoyangkan badannya ke kanan dan ke kiri.
“ Ini apa toh bang?”
“ Abang masih kangen. Jadi biarin abang peluk kamu sebentar”
Wine meletakan dua kantong belanja dari tangannya kemudian balik memeluk Arka tak kala erat.
“ Kangen tapi ketemunya sama mantan dulu”
“ Masih dibahas aja sih dek”
Wine tertawa saat satu jitakan pelan mendarat mulus dibelakang kepalanya.
Masih dengan posisi yang sama, Arka kembali bertanya “ Jadi gimana ajakan abang kemarin?”
“ Yang mana?”
“ Yang ke Jogja”
“ Oke”
Arka melepaskan pelukannya dan menatap Wine tak percaya “ Oke? Serius kamu mau dek?”
“ Cuman dikenalin kan? Ya ngga masalah”
Senyuman Arka merekah. Pria itu kembali memeluk Wine erat sambil mengucapkan terimakasih. Wine masih ragu memang, namun biarkan saja kali ini dirinya akan melawan keraguannya untuk pertama kalinya.
Wine ikut memeluk balik Arka “ Bang ini kalau ayah tahu anaknya dipeluk lama dan ngga dilepasin habis kamu bang”
Arka tertawa. Namun tak peduli karena tubuh mungilnya malah semakin dipeluk erat oleh Arka. Jika kalian melihat dari arah belakang Arka, mungkin tubuh Wine tak akan terlihat oleh mata kalian saking kecilnya.
tit titttttttttt...
suara klakson mobil yang sangat Wine tahu membuat Arka melepaskan pelukannya seketika.
Wine mendekat berniat untuk menjahili pria itu dengan kembali memeluknya, namun Arka dengan perlahan menghindar dari pelukan Wine.
Tentu saja pria itu tak berani, saat melihat siapa pengemudi dari mobil yang membunyikan klakson barusan. Ayah, dan yang duduk dikursi samping pengemudi adalah komandannya.
2 kali tembakan menurut Wine yang kini tertawa geli melihat tingkah canggung Arka.
__ADS_1
Bekasi
9 Desember 2021