
Hari yang sudah menjelang sore menandakan waktu mereka di rumah baba hanya tinggal hitungan jam lagi. Arka dan Wine akan kembali ke Jakarta jam 5 sore nanti, dan mereka kini tengah duduk di halaman rumah dengan Arka, Arsya dan Aaras yang bermain bola bersama Jaka.
Wine meletakan sepiring pisang goreng dengan tiga cangkir kopi di meja yang berada di gazebo, meletakkannya tepat di depan baba yang mengangguk serta mengucapkan terimakasih.
Sejak kedatangan Ajeng kemarin yang berakhir dengan Wine meninggalkan keduanya di ruang tamu. Wine berpura-pura tak ada yang terjadi seharian penuh. Arka menolak permohonan Wine untuk pergi ke rumah ibu dan meminta Wine untuk tetap di sini karena sudah terlalu lama hubungan dirinya dan baba memburuk. Arka bahkan mengejeknya seperti anak kecil yang terus menghindar dengan posisi pria itu yang memeluk tubuh Wine dalam.
Wine mendekatkan satu cangkir ke arah baba. Matanya menatap lurus ke arah suami dan anak-anaknya yang tertawa bahagia ditambah dengan hujan deras yang mengguyur tubuh mereka disana.
"Awalnya kaka takut menikah dengan abdi negara terutama angkatan udara" ucap Wine
Masih mempertahankan arah pandangannya lurus ke depan meski Wine tahu jika baba kali ini menatapnya lekat. Wine melanjutkan kembali ucapannya.
"Kakak takut kalau menikah dengan angkatan udara bakal berakhir seperti pernikahan orang tua kakak sendiri"
Wine tersenyum saat Arsya melambaikan tangan ke arahnya.
"Tapi kehilangan bang Arka juga begitu menakutkan bagi Wine. Maka dari itu saat baba berkata agar Wine membuat surat perjanjian pernikahan dengan bang Arka, ada secuil rasa yakin Wine untuk menerima lamaran dia. Dan ternyata Wine bahagia sekarang" lanjut Wine lagi. Satu senyuman tulus terbit di wajah Wine untuk babanya, meski tatapan Wine masih tertuju ke arah keluarga kecilnya itu.
"Makasih ya ba" sangat lirih, namun karena posisi mereka yang duduk berdekatan, Wine yakin baba pasti mendengar ucapannya barusan.
Untuk pertama kalinya dalam kurun waktu 20 tahun. Wine melihat baba kini meraih tangannya dan menggenggam tangan Wine erat. Tangan babanya yang dingin dan gemetar menandakan jika bukan hanya dirinya yang gugup sekarang.
"Maaf ya Kak. Cuman itu yang bisa baba ucapin"
Wine mengangguk mengiyakan. Padangan dirinya dan Arka bertemu, suami yang terlihat begitu kekar karena kaos yang dia gunakan basah hingga tercetak jelas perut kotak-kotak itu tersenyum manis ke arah Wine. Jika tidak ada baba disini, percayalah Wine pasti sudah menggoda suaminya itu habis-habisan dengan sejuta pantun yang ia koleksi di dalam kepala.
"Sudah lama tante Ajeng tinggal di kompleks ini?" dari pada mulutnya yang semakin gatal untuk menyebutkan sederet pantun pada Arka, padangannya kini ia alihkan untuk menatap babanya.
"Sekitar 3 tahun ini"
Wine menganggukkan kepalanya. Sudah hampir 3 tahun pula ia tak mengunjungi baba sehingga tak tahu jika tante Ajeng juga tinggal di kompleks ini.
"Semalaman Wine memikirkan kira-kira pertanyaan apa yang ingin mamah tanyakan jika masih hidup. Dan setelah memikirkannya matang-matang dari segi perasaan mamah yang begitu mencintai keluarganya, Wine dapat satu pertanyaan untuk baba"
"Apa?"
"Baba masih cinta dengan tante Ajeng?"
__ADS_1
Cukup lama Wine tak mendapat jawaban dari baba. Pria yang kini hampir seluruh rambutnya berwarna putih itu menatap lurus ke depan, genggaman tangannya terasa begitu erat di tangan Wine.
"Jika masih Wine baik-baik saja. Karena nyatanya melupakan cinta pertama itu begitu sulit, Jika baba ingin meminta restu dati Wine untuk—"
"Tidak ada lagi rasa yang sama Kak." potong baba. Pria itu kini kembali menoleh ke arah Wine. " Ini adalah saatnya baba menerima hukuman atas apa yang baba lakukan kepada kalian. Baba hanya ingin hidup sendiri dengan setiap detik mengucapkan kata maaf pada kamu, adik kamu dan mamah"
"Dari pada hidup tua sendiri, Wine tidak masalah jika baba ingin kembali bersama dengan tante Ajeng"
"Tidak ada Wine. Hiduplah lebih bahagia dengan Arka dan anak-anak kamu"
Wine tersenyum kemudian mengangguk. Pandangannya kembali menatap ke arah Arka yang kini malah membuka kaos yang pria itu gunakan. Mata Wine melotot seketika. Bukan melotot karena takjub, namun melotot marah karena setelahnya ia melihat Arsya dan Aaras mengikuti apa yang Arka lakukan. Hujan-hujanan sambil bertelanjang dada.
Baru hendak ingin mengomel. Baba menghentikannya dengan menahan tangan Wine agar tidak berdiri.
"Nggak apa-apa kak, sesekali. Lagi pula dulu kamu paling seneng kalau ngeliat anak buah baba nggak pake baju"
Mata Wine melirik ke arah babanya yang kini tertawa. Memang benar jika Wine dulu sangat suka melihat para prajurit yang lari di lapangan tanpa mengenakan atasan, tapi itu hanya untuk asik-asikan saja sekaligus mengamalkan pantun yang telah ia hafalin. Wine tak peduli jika para bawahan babanya itu masuk angin karena bukan Wine yang mengeriknya. Tapi jika yang masuk angin adalah keluarganya maka Wine yang akan kerepotan. Rumah akan berubah bak arena balap yang bising jika ketiganya sakit secara bersamaan.
"Mas Udahan! kalau begitu caranya anak-anak bisa sakit!" pekik Wine.
...*...
"Mas liat deh, baba nyiapin semua baju warna pink" Wine yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung ikut bergabung dengan Arka duduk di sofa ruang kerja. Sejak tahu jika jenis kelamin anak ketiga Wine adalah perempuan, barang-barang berbau pink mulai berdatangan ke rumahnya. Mbak Alin dan Anya mengirimkan bekas baju anak merek dengan alasan 'masih bagus sayang kalau nggak kepake', Ocha yang memberikan kontener berwarna pink dengan alasan 'Kalau anak lo dititip ke daycare, jadi gue nggak usah beli kontener lagi', dan baba serta ibu dan ayah memberikan hadiah box bayi yang juga berwarna pink.
Baguslah. Jadi Wine tak perlu keluar uang untuk membeli barang-barang bayi.
"Baba beli box bayi juga?" tanya Arka, matanya menatap ke arah ponsel Wine.
"Iya. Katanya liat di market place lucu. Makanya langsung pesen, eh ternyata ayah juga pesen hal yang sama"
"Wah, peran mas dalam hal menyiapkan yang di butuhkan bayi diambil semua kalau kaya gini" gerutu Wine.
Berpengalaman dari kisah kelahiran kembar waktu itu, Wine dan Arka sudah membeli semua perlengkapan bayi namun ternyata banyak kerabat dan teman kerja yang memberi hadiah dengan hal yang sama, ujung-ujungnya tergeletak tak terpakai hingga kelahiran Arun kemarin. Anya mengambil semua kebutuhan bayi yang Wine punya setelah membayarnya dengan uang Sinan.
"Mas"
"Hmm?"
__ADS_1
"Pernah denger nggak mas, kalau orang yang lagi hamil itu kalau joget keliatan ****?"
Pandangan Arka yang sebelumnya menatap ke arah Tv kini langsung menoleh ke arah Wine. Arka yakin ini pasti ajaran Alun atau jika tidka Anya, atau mungkin juga ajaran Wine yang disebar ke kedua makhluk itu.
"Mau liat?" tanya Wine lagi.
Meski tak mendapat anggukkan dari suaminya, Wine tetap berdiri dan mulai berjoget di depan Arka. Arka yang melihatnya hanya melirik sekilas sebelum pandangannya kembali melihat ke arah layar Tv.
"Mas liat dong" Wine menggeser tubuhnya ke samping menghalangi pandangan Arka ke Tv.
"Dek jangan macem-macem" ucap Arka.
Tak peduli, Wine kini malah mengedipkan matanya ke arah suaminya itu menggoda.
"Emang kenapa? Goda suami sendiri, halal hukumnya" ucap Wine sambil mencolek dagu Arka.
Arka menatap lekat ke arah istrinya untuk beberapa saat, jika sudah begini maka percayalah Arka tak akan pernah melepaskan istrinya ini, namun saat baru berniat untuk menarik tangan istrinya, dahi Arka mengerut bingung saat tarian **** itu berubah menjadi tarian koplo yang sering Aaras tarikan. Dan benar saja saat mata Arka melirik ke arah pintu. Aaras berdiri di ambang pintu dengan cengiran lebar dan mata berbinar melihat Wine joget koplo. Seketika tawa Arka pecah begitu saja, berbeda dengan Wine yang menarik senyumnya paksa namun ada helaan napas kesal yang terdengar. Gagal sudah.
"Ibu lagi joget ya. Aaras juga bisa" ucap bocah kecil itu tanpa dosa sama sekali.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Yey tamat juga akhirnya kawan 🎆🎆🎆🎆🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉
Kalau ada yang nanya:
Ada Extra part nggak kak? (Ada, nanti bakal ada extra part-nya, cuman nggak dalam waktu dekat)
Ada karya baru kak? (Ada juga, Kerangkanya lagi aku ajuin untuk ikut Event, jadi mungkin lama. Tapi kalau di tolak, bakal tetap aku up)
Siapa yang jadi pemerannya? (udah ada spoiler nya di dunia Anya, siapa yang mau aku bikin cerita)
Sekarang jadi aku mau fokus untuk DUNIA ANYA dan WANITA PERANG dulu ya.
Nanti kalau up cerita baru, aku juga bakal promosi di lapak ini juga.
TERIMAKASIH yang sudah dukung cerita aku selama ini.
__ADS_1
Tanpa kalian, pasti aku bakal malas untuk up.
Pokoknya LOVE ❤️ LOVE ❤️LOVE