
Niat awal mau nulis Mrs. Julid tapi malah nulis Wine..
***
Di skadron tidak ada yang tidak kenal dengan sosok bernama Wine. Setelah pernikahan yang digelar 1 tahun yang lalu, Wine yang mendapat gelar sebagai istri sang komandan itu sering kali diminta untuk memberikan petuah-petuah pada para calon istri anak buah suaminya. Bukan petuah seperti ' kalau jadi istri tentara harus kuat jika harus berbagi cinta suaminya dengan negara' atau ' sebagai istri tentara, harus mendukung jika suatu saat suaminya di minta negara untuk menjalankan tugas dan jauh sama keluarga' Wine jelas jarang sekali memberikan petuah-petuah yang bahkan kadang tak bisa ia lakukan.
Seperti sekarang. Dihadapanya ada gadis muda cantik mengenakan kabaya tengah duduk didepannya dengan senyuman merekah. Ayu tersenyum sambil memberikan berkas izin nikah kepada Wine.
"Izin bu. ini berkas saya dan mas Ayub"
Wine balik tersenyum sambil mengambil berkas yang di berikan Ayu. Namun bukan Wine namanya jika membuka berkas itu. Wine menumpuknya dengan berkas yang lain tanpa repot-repot mengecek kelengkapannya " Tenang nyantai aja sama saya mba. saya mah kulitnya doang istri komandan. Dalamnya masih gadis 20 tahunan"
Ayu menggangguk sambil tersenyum. Ibu komandannya ini sama persis dengan apa yang dikatakan oleh Ayub. Tak seperti suaminya yang sangat berwibawa dan terkenal galak di Skadron, Wine terlihat lebih santai.
"Mbak nya lahir tahun 95?"
"Izin bu, iya bu saya lahir tahun 95"
"Widih.. saya lebih muda 5 tahun dari mbak dong" Wine menepuk dadanya bangga. Persetan dengan petuah panjang lebar Arka di rumah tadi pagi jika dirinya harus lebih berwibawa, Wine akan melakukannya sesuai dengan kepribadiannya.
"Iya bu, saya memang nikah agak telat " Ayu mengusap belakang lehernya canggung. Tidak tersinggung, karena Ayub sempat berketa jika ucapan ibu komandannya terkadang nyelekit namun tetap memiliki hati yang baik.
"Emang kapten Ayub baru ngelamar mba sekarang?"
"Izin bu. nggak bu, udah ngelamar saya dari 2 tahun yang lalu, cuman saya masih kuliah S2 kemarin bu, jadi nyelesaiin kuliah dulu"
Jika ada yang membicarakan mengenai kuliah hingga S2, rasanya Wine begitu iri dengan mereka. bukan, bukan berarti Arka melarangnya untuk melanjutkan kuliah, hanya saja S1 Kedokteran dirinya saja masih belum selesai, dan Wine sudah mulai lelah dengan banyaknya pertanyaan orang mengenai dirinya yang terlalu sibuk kuliah hingga lupa melakukan program hamil. Masalah memiliki anak, itu adalah rahasia antara dirinya dan bang Arka.
"Bener mbak, selesaiin aja dulu mbak. Jangan kaya saya, akhirnya nggak kelar-kelar nih kuliah, ada aja yang ngulang di setiap semester. Jadi rada gimana gitu"
"Izin bu, maaf mau bertanya, ibu nggak nyesel nikah sama komandan Arka?"
Wine tertawa. Pertanyaan ini juga bukan pertama kalinya Wine dengar. Mungkin setiap kali ada calon pengantin yang mengahadapnya, Wine selalu mendapat pertanyaan ini. alih-alih langsung menjawab, Wine lebih penasaran dengan alasan apa mereka bisa menyimpulkan semuanya.
"Emeng kenapa? Saya keliatan nyesel begitu?"
"Eh, nggak bu. maaf. Cuman saya ngga pernah ngeliat ibu sama pak Arka romantis gitu, kaya usdek bu. urusan dewek-dewek"
" Lah kan mbak nya jarang ke Skadron?"
"Sebenarnya mas Ayub yang bilang begitu bu, suruh nanyain langsung juga. Kalau nanya sama pak Arka ngga enak. Sebenarnya juga cuman pengin tahu kiat-kita biar langgeng rumah tangga bu"
Seperti biasa, diluar dan hidapan banyak orang, Arka terlihat lempeng begitu saja dan dirinya yang terlihat seperti bucin dengan Arka. Namun orang-orang tidak tahu seberapa ganas dan bucinnya pria itu jika sudah di rumah dan hanya berdua.
"Saya yang keliatan..." ucapan Wine terhenti ketika Arka tiba-tiba masuk dengan tangan yang melipat didada.
"Bilang sama kapten Ayub mbak. Kalau berani suruh nanya langsung sama saya"
Melihat Ayu yang salah tingkah membuat Wine kembali tertawa namun juga kasihan padanya. Saat mengatakannya wajah Arka sangat tidak bersahabat. Jika saya Wine tidak sayang pada laki-laki ini, dirinya juga pasti ketakutan dan sudah ngibrit lari keluar dari ruangan.
"Heheh. Izin pak. Baik pak, kalau begitu saya izin keluar ya ibu, bapak"
Tak tega melihat wajah Ayu yang sudah pucat pasih. Wine mengkahiri ajang petuah-petuah dan mengizinkan Ayu keluar dari ruangan.
Setelah Ayu keluar dan pintu tertutup, Wine terkejut saat Arka tiba-tiba menarik pingganya dan memeluknya erat. Wine hanya kembali tertawa dan memukul punggung Arka beberapa kali agar melepaskannya.
"Eling bang, di Skadron ini. katanya nanti wibawa kamu ilang kalau ketahuan bucin"
"Bucin sama istri sendiri kayanya ngga bakal bikin wibawa aku ilang" Arka sedikit menjauhkan badanya, dengan tangan yang masih melingkari pinggang ramping istrinya. "Kangen"
Entah sudah tak terhitung lagi berapa kali Wine tertawa hari ini. Arka memang baru saja tiba tadi pagi setelah dinas keluar kota 1 minggu lamanya. Namun niatnya yang ingin melapas rindu dengan istrinya di rumah seharian, harus gagal saat Ayub menagih janji untuk penyerahan berkas pernikahan.
"Pulang yuk dek"
"Emang kerjaan abang udah selesai?"
"Udah"
"Tapi kerjaan Wine belum selesai. Noh belum di cek satu per satu" Wine menunjuk kearah tumpukan berkas di meja. Hari ini ada 5 orang yang mengajukan pernikahan, dan sebagai ibu komandan yang baik dirinya harus mengecek sebelum menyerahkannya.
"Itu mah gampang dek. Nanti abang suruh kapten Ayub yang urus"
"Lah kasihan bener. Mau nikah tapi suruh ngurusin semuanya sendiri"
"Abang juga dulu gitu. Itu namanya perjuangan untuk dapat wanita tercinta"
Wine yakin pipinya pasti sudah bersemu merah seperti kepiting rebus sekarang, terlebih sepanjang Arka bicara, pria itu terus saja menatap bibirnya. Adakalanya Wine ingin sekali mempertontonkan ekspresi Arka sekarang kepada anak buah suaminya ini. sang komandan yang galak dan wibawa akan berubah menjadi jelly didepan istrinya.
"Bang kalau lagi ngajak ngomong itu liatnya mata istrinya bang" goda Wine.
"Ngga usah dimaju-majuin begitu bibirnya dek. Kalau sudah di rumah habis kamu"
__ADS_1
Dengan wajah frustasi Arka melepaskan Wine dan duduk di kursi tempat Ayu duduk tadi. Persetan dengan janjinya pada baba— ayah mertuanya dulu agar tetap menjaga wibawa seorang komandan saat di Skadron, Arka pasti sudah mencium istrinya yang kini malah tertawa terbahak-bahak. Semakin hari, berjalannya bulan dan tahun, Wine semakin menjadi-jadi saat menggodannya. Bahagia sekali istrinya ini.
"Beli nampan sama main yeye. Abang tampan malu nih ye.." terlalu gemas, Wine mencium bibir Arka kilat kemudian duduk didepan suaminya.
"Jangan bikin abang kesel ya dek"
"Ciee adang kesel sama istrinya nih" Wine mengedipkan satu matanya.
"Wah, cari gara-gara kamu sama abang dek. 5 menit ini berkas bakal selesai di tangan abang. Dan kita langsung pulang"
Wine kembali tertawa terbahak-bahak. Sungguh memilih untuk menikah dengan Arka adalah salah satu keputusan paling benar selama dirinya hidup di dunia ini. harinya menjadi begitu berwarna.
***
"Aduh makasih ya bu, jadi ngerepotin saya. Bang Arka lagi di skadron soalnya bu, ngga ada orang di rumah. Cuman saya sama teman-teman saya, ngga ada yang bisa masang gas"
"Ih nggak apa-apa mbak. Kebetulan anak pertama saya libur hari ini. jadi bisa bantuin mbak"
Wine tersenyum. Meski sudah beberapa kali diajarkan Arka acara memasang gas, Wine selalu tidak berani. Karena setiap kali dirinya mencoba untuk berani, suara mengerikan yang menandakan jikaa da gas yang keluar membuat Wine selalu mengurungkan niatnya. Ocha dan Anya? Oh mereka adalah pelanggan grab food sejati.
"Ini malah di kasih makanan juga. Saya makin ngga enak bu" Wine mengambil makanan dari bu Lastri dan memberikannya kepada Anya.
"Kan lagi pada ngumpul temenya. Jadi ngga apa-apa mbak. Biar bisa di makan bareng – bareng. Mbak Ocha juga bisa makan. Pasti doyan masakan saya, jadi ngga kurus banget begini mba. kasihan saya ngeliatnya"
Saat melihat wajah Ocha yang sudah menunjukan rasa tersinggung, Wine langsung menyenggol lengan Ocha untuk menahan amarahnya. Semenjak pindah ke kawasan ini, bu Lastri memang menjadi salah satu tetangga menyebalkan dan selalu membuat Ocha naik pitam setiap berbicara dengan ibu 3 anak ini.
"Mbak sudah saya pasang ya mbak. Sudah saya coba, dan nyala juga mbak" Adit— anak bu Lastri yang masih kelas 2 SMA itu berjalan mendekat dengan Anya yang mengekor dibelakangnya.
"Sudah ya mas. Wah makasih banyak ya mas. Nanti mbak bilangin ke bang Arka buat traktir kamu ya"
Adit tersenyum sedangkan bu Lastri tertawa yang membuat kerutan di dahi Ocha semakin tercetak jelas.
"Enak loh mbak kalau punya anak. Ada yang bantuin. Mbak udah 1 tahun nikah, kapan punya anak? Adik saya yang baru satu bulan nikah aja udah belendung perutnya sekarang"
"Dikira balon kali"Jawab Ocha dengan suara yang sedikit ditahan dan disamarkan.
"Kenapa mbak Ocha?" tanya bu Lastri
"Ah ngga apa-apa bu"
"Oh, ya udah deh ya mbak. Saya pamit pulang dulu. Mbak Ocha makan yang banyak ya, biar ada yang ngelirik. Mbak Anya juga iya. Mbak Wine jangan terlalu fokus kuliah sampai lupa program punya anak ya mbak"
Wejangan bu Lastri yang selalu dijawab dengan tendangan kaki Ocha ketika sudah menghilang dibalik pagar.
"Silahkan, tapi lo ngga boleh ikut makan"
"Ngga jadi"
Ocha ikut berjalan masuk kedalam rumah.
Saat Arka keluar kota seperti kemarin, Ocha dan Anya memang diminta untuk menemani Wine setelah disogok dengan 10 lembar uang berwarna merah. Namun entah karena terlalu nyaman tinggal dan makan geratis lengkap mendapat uang bayaran, Ocha dan Anya sama sekali tak angkat kaki dari rumah ini bahkan setelah Arka pulang semalam. Kedua wanita ini malah asik dan seolah menganggap Arka adalah kakak ipar mereka.
Wine ingat sekali Anya akan menjawab 'ngapain canggung, abang baju loreng yang bantuin kita pas di kantor polisi dulu' sedangkan Ocha akan menjawab 'Kosan gue jauh, kalau lo mau nyewain rumah lo yang didepan sana dengan harga miring, gue baru mau angkat kaki' dan begitulah alasan mereka sampai belum angkat kaki hingga hari sudah mulai menjelang sore.
Perihal Arka yang kini mau tak mau harus tetap di Skadron karena ada kerjaan mendadak sedangkan Wine bisa pulang ke rumah, suaminya itu udah seperti kebakaran jenggot karena marah. Ah, Wine masih saja ingin tertawa saat kapten Ayub masuk dan suaminya berubah menjadi orang berwibawa meski dongkol setengah mati.
"Lo pada nggak mau pulang apa? Abang loreng gue bakal pulang sebentar lagi"
Anya dengan mulut penuh makan mengangguk " Gue pulang, cowo gue udah di jalan— jemput"
"Lo Cha?"
Ocha menggeleng "Kalo lo setuju nyewain rumah lo didepan sana. gue angkat kaki"
Setelah kisah cinta Ocha yang kandas seperti kandasnya saldo ditabungan wanita itu, Ocha benar-benar mengkhawatirkan jika soal tawar menawar.
"Nggak bisa. Mau di tempatin Kais— adeknya Arka"
"Oh ya udah gue ngga bakal pindah"
Wine tersenyum miring "Oh ya udah. Berarti lo siap ngeliat keromantisan suami istri yang udah ngga ketemu 1 minggu. Beuhh.. pak Komandan ngomel-ngomel tadi karena ngga bisa pulang cepet bareng istrinya"
Ocha terbatuk seketika. "Oke. Anya gue numpang di lo"
"Ngga bisa. Ini cowo gue udah dateng. Gue duluan ya, bye" Anya melambaikan tanganya kemudian langsung berlari keluar rumah.
Selang beberapa saat setelah kepergian Anya, suara mobil Arka yang terdengar membuat Ocha kalang kabut, wanita itu buru-buru memasukan semua barangnya ke dalam tas sambil ngedumel tak jelas. Wine hanya menikmati kepanikan Ocha sambil membuat minuman untuk suami tercintanya.
"Gila baru juga jam 5 sore, udah nyampai aja tuh orang, kenapa sih langsung pulang bukanya mampir kemana dulu kek"
"Lah aneh, moso pulang ke rumah sendiri nggak boleh."
__ADS_1
"Dek" saat suara panggilan itu terdengar, maka Arka pasti baru saja melewati ruang tamu.
"Ya kan gue gugup jadinya. Mana lagi Hp gue!"
"Dek, dimana?" sahut Arka lagi.
"Di dapur Bang. Ini ada yang kalang kabut nyariin Hp" Wine tertawa keras.
Ocha dengan bibir yang sudah mengerucut sebal itu semakin ngedumel saat Arka menunjukan keberdaannya dari balik pintu.
"Sabar bang. Ditahan sebentar, gue masih keilangan Hp"
Wine menyeka air matanya yang keluar karena tertawa cukup keras. Arka yang baru saja tiba mengerutkan dahinya bingung mendengar kalimat Ocha barusan.
"Kamu naruhnya dimana tadi? Mau coba abang telfon?"
Ocha mengangguk "Iya bang coba telfon. Jangan kaya istrinya yang ngga peka, malah asik ketawa"
"Lah ngapa nyalahin gue. Udah gue usir kan dari tadi" Wine memberikan secangkir teh kepada Arka. "Gue mah pekanya cuman sama suami gue doang. Iya kan babang ganteng?" sengaja memanasi Ocha— Wine mencium kilat bibir suaminya yang langsung mendapat respon teriakan Ocha.
***
"Mas"
Malam yang mulai larut, setelah menyelesaikan satu film, Wine meringkuk memeluk tubuh Arka yang tengah duduk bersandar di sandaran ranjang dengan Ipad yang ada ditangan pria itu.
Merasa jika ini sudha waktunya bed talk Arka meletakan Ipad dan balik memeluk tubuh ramping istrinya. Jika sudah memanggil dirinya dengan sebutan 'mas' pasti ada suatu hal penting yang ingin dibicarakan istrinya ini.
"Aku tadi minta tolong Adit buat pasang gas mas"
Arka merapikan rambut yang menutupi wajah istrinya " Oke, nanti abang traktir Adit"
"Mas"
"Hmm?"
Wine menatap sekilas mata Arka lalu kembali menuduk "Tadi selain Ayu ada juga beberapa yang nanya kira-kira aku nyesel ngga nikah sama mas"
"Jawabanya?"
"Nggak"
"Bagus" tanpa melihatpun Wine bisa merasakan Arka tengah tersenyum sekarang.
"Wine malah lebih penasaran mas nyesel ngga nikah sama aku?"
"Nggak. abang malah sangat-sangat bersyukur"
Wine memejamkan mata sejenak saat Arka mencium dahinya dalam, mencari ketenangan yang setidaknya bisa sedikit mengurangi rasa gugupnya.
"Tadi bu Lastri juga dateng dan ngasih makanan mas. Beliau juga.."
"Nanyain kapan punya anak?" potong Arka cepat.
Wine mengangguk. Tak berani menatap Arka karena merasa bersalah. Saat menikah Wine sudah berkata jika dirinya tak ingin memiliki anak sebelum lulus kuliah. Kuliah kedokteran jelas lebih lama dari kuliah biasanya, dan itu berarti bebanya juga jauh lebih berat. Wine tidak ingin anaknya kelak menjadi korban kurangnya kasih sayang karena kedua orang tuanya sibuk dengan tugasnya masing-masing.
Arka mempererat pelukannya, membiarkan satu lengannya sebagai alas kepala Wine " Ini mungkin bukan yang pertama kali, tapi jawaban abang tetap sama. Ini tubuh kamu dek, kamu yang berhak menentukan ingin program hamil sekarang atau nanti. Abang selalu ikut keputusan kamu"
"Tapi abang juga pasti ditanya sama temen-temen abang kapan punya anak kan?"
"Bohong kalau abang jawab nggak. tapi abang ngga peduli."
Arka menunduk agar dapat menatap langsung kemata istrinya " Kamu tau dek. Ngurusin ucapan orang lain itu nggak akan ada habisnya. Kita belum punya anak bakal terus ditanya 'kapan punya anak', dan setelah punya anak bakal ditanya 'kapan nambah lagi?' punya anak 2 bakal tetap ditanya 'kapan nih dia punya adik lagi, baru juga 2 anaknya' dan seterusnya. Abang ngga mau kita ngelakuin itu hanya untuk memenuhi keinginan orang lain. Ini tubuh kamu, yang akan hamil juga kamu. Jika kamu belum yakin untuk punya anak sekarang karena takut kurang kasih sayang, abang bakal setuju sama kamu"
Wine tersenyum, mendekatkan wajahnya dan mencium bibir suaminya dalam " Aku ngga sanggup jika nanti ngeliat anak kita seperti aku kecil yang kurang kasih sayang mas. Maaf ya mas"
"Nggak ada yang salah, kenapa harus minta maaf?"
"Karena aku keluarga kita belum sempurna"
Arka menggeleng " Karena kamu, kelak keluarga kita akan sangat sempurna. Anak-anak kita juga akan bahagia. Sekarang tidur ya."
Wine mengangguk.
"Mau abang nyanyiin?"
"Nggak mau. Aku maunya abang godain aku. Pergi ke Bangka bawa kedondong. Abang Arka godain dong"
Arka tertawa kemudian menjitak kepala Wine pelan "Jangan aneh-aneh. Tidur udah malam"
Wine tetaplah Wine dengan segudang pantunnya.
__ADS_1
***
maaf kalau banyak typo nya ya..