
...maaf kalau banyak typo nya ya.. karena memang belum sempat di edit.....
🎆🎆🎆
Sejak semalam Wine pikir hari ini akan menjadi hari dimana semua angan-angan pernikahan miliknya akan dimulai. Wine selalu memimpikan menggunakan gaun mewah yang menunjukan seberapa bagus bentuk tubuhnya, seberapa mulus kulit yang selalu ia rawat, atau juga menunjukan seberapa cantik kedua kaki jenjangnya. Wine ingin memilih gaun yang akan menunjukan salah satu keunggulan tubuhnya. Bukan, bukan berharap gaun seksi yang menunjukkan semuanya, Wine hanya menginginkan jika tidak gaun yang panjangnya diatas lutut, gaun dengan bagian atas yang menunjukan kedua pundak mulusnya pun tak masalah. Namun kenyataannya semuanya sepertinya hanya akan tetap menjadi angan seorang Wine semata.
Sudah hampir 2 jam berada dibutik tempat penyewaan gaun pengantin, semua gaun yang Wine inginkan ditolak dengan sangat tegas oleh Arka. Banyak sekali alasan pria itu hingga rasanya Wine mulai mendengar ceramah pak ustad dipagi hari. Bukan hanya Wine saja, 2 wanita pelayan butik juga sepertinya sudah mulai kewalahan dengan keinginan Arka. Satu diantaranya bahkan terang-terangan berkata jika calon suami Wine benar-benar luar biasa. Luar biasa penuh dengan penolakan.
“Ngga suka juga yang ini bang?” Wine bertanya tepat saat tirai terbuka dan menunjukan Arka yang sudah berdiri siap dengan kamera polaroid ditangannya.
“Ganti, jangan yang ini”
Wine menghela napas saat Arka memotretnya. Lagi?, berapa banyak yang harus dirinya coba sekarang sebenarnya?.
“Bang ini udah gaun ke 5 loh bang. Dikira ngga capek apa gonta-ganti mulu” terkadung sudah lelah, Wine tak peduli dengan nada suaranya yang sudah mulai menunjukan rasa tak suka dengan tindakan Arka sekarang.
“Itu kebuka loh dek. Belahan dadanya terlalu rendah, emang kamu ngga malu kelihatan begitu”
Bola mata Wine memutar jengah. Ada saja alasan bang Arka, dan dari banyaknya gaun yang sudah ia coba, bagian terbuka sana sini selalu menjadi alasan bagi Arka.
“Wine capek tahu bang. Laper juga nih. Mbaknya juga capek kan ya mbak?” Wine mengerlingkan satu matanya kearah pelayan guna mendapat dukungan.
Sejak melangsungkan acara tunangan 3 bulan lalu, Arka memang jauh lebih posesif terhadap segala apapun yang Wine kenakan, yang Wine makan, yang Wine lakukan, namun masih dalam batas wajar karena Arka tidak sampai membatasi pertemanannya.
“Bisa tolong coba aja yang lain dek, please, jangan yang ini. abang ngga suka ngeliat kamu pakai gaun dengan bagian dada rendah begitu”
Wine menghembuskan napasnya. Turun dari undakan terus berjalan mendekati Arka “ Udah 5 gaun loh bang. Sekarang Wine mau tanya, gaun pertama abang ngga mau juga kenapa?”
“Terlalu pendek, kalau diukur pakai tangan abang, panjangnya Cuma satu jengkal setengah dari pinggang kamu loh dek”
Wine mengangguk, ya memang terlalu pendek mengingat seberapa tinggi Wine sekarang. “Yang ke dua?”
Arka mengambil foto yang berada diatas meja kemudian menunjukkannya kepada Wine. “Gaunnya memang panjang, tapi abang ngga suka karena punya belahan sepanjang ini. kaki kanan kamu ke ekspos semua sampai paha”
“Yang ketiga?”
Arka kembali mengambil foto dengan gaun yang dimaksud “ Gaunnya kekurangan bahan. Kamu kaya pake kelambu dari pinggang sampai kaki”
Wine menepuk dahinya sendiri. Oh sungguh, bukan kekurangan bahan, tapi memang modelnya memang begitu. Lagi pula masih ada bahan yang tak tembus pandang, ya meski panjangnya juga hanya setengah pahanya.
“Yang ke empat?”
Kali ini Wine melihat ekspresi Arka yang terlihat ngeri dengan foto yang pria itu tunjukkan.
“Kamu tahu abang pakai seragam kan? Seragam abang hijau, gaun kamu warna kuning loh. Ngga nyambung banget”
Kali ini Wine memang sedikit setuju dengan pendapat Arka.
“Terus yang kelima? Yang sekarang aku pakai?”
Arka memutar badan Wine, kemudian membuat gerakan melingkar di punggung Wine dengan jari telunjuknya “ Bagian depan ketutup memang, tapi bagian belakang kaya setan yang suka akan sate malam-malam itu loh dek, apa namanya? Sin.. sin.. ah sindel bolong, kan nge…”
Reflex Wine menginjak kaki Arka guna membuat pria ini tak lagi melanjutkan ucapannya. Pasalnya disini masih ada dua pelayan yang kini tengah menatap mereka berdua dengan senyuman terpaksa. Tentu saja siapa yang tidka marah jika gaunnya dianggap kurang bahan dan seperti baju milik setan berambut panjang yang suka makan sate Madura malam-malam itu. jika saja Wine pemilik butik ini sekaligus perancang gaun, tak perlu pikir panjang, Wine pasti akan menendang Arka keluar dari tempat ini.
Sejujurnya Wine menahan tawanya saat Arka mengatakan gaun yang ia kenakan mirip dengan baju setan. Memang bagian depannya tertutup rapat namun bagian belakangnya terbuka dan menunjukan seluruh kulit punggungnya, namun Arka yang mengibaratkan seperti baju sindel bolong membuat Wine ingin sekali tertawa mendengarnya.
Demi menjaga kewarasan kedua pelayan itu setelah gaunnya diejek oleh Arka, Wine segera mengganti gaun dengan pakaian miliknya dan berpamitan keluar dengan janji akan memberikan kabar secepat mungkin tentang gaun yang dirinya pilih.
Dan disinilah dirinya dan Arka berada, duduk disebuah rumah makan dengan lantunan lagu balad milik salah satu penyanyi terkenal di negeri ini. sambil menunggu pesanan mereka datang, Wine melihat satu persatu foto yang diambil oleh Arka dan berakhir tertawa dengan foto dimana dirinya menggunakan gaun terakhir hari ini.
__ADS_1
“Parah banget sih kamu bang. Gaun cantik begini dikatain kaya baju sindel bolong”
“Lah emang bener kan. Punggung kamu keliatan semua. Nanti pas dipelaminan makan sate, mirip banget dah”
Wine tertawa geli. Sudah dibilang sebelumnya kan?, setelah berpisah 1 tahun lamanya dulu, isi kepala Arka sepertinya ketularan sengklek seperti kepala Wine. Setiap hari ada saja yang dilakukan pria itu yang membuat Wine tertawa tanpa henti.
“Abang ngga lihat gimana ekspresi kedua mbak tadi? Kasihan tahu”
Arka kini juga ikut tertawa “ Kalau adek ngga ijak kaki abang. Mungkin mereka bakal nangis dek”
“Parah banget ih bang Arka”
Satu hal yang Wine syukuri dengan keputusan menerima Arka yang dirinya ambil 6 bulan yang lalu, setiap hari Wine selalu merasa bahagia, lagi dan lagi terus jatuh cinta dengan pria didepannya ini dan Wine yakin jika dirinya akan menyesal jika tak menerima Arka dulu.
“Bang boleh tanya ngga?”
Pertanyaan Wine membuat Arka yang tengah menyesap kopi sambil melihat hujan diluar sana menatap balik sang lawan bicara. Wine jatuh cinta dengan tatapan setenang danau yang selalu Arka tunjukan padanya, sejuk dan nyaman.
“Nanya apa?”
“ Dulu banget pas kita ketahuan pelukan didepan rumah. Ayah sama baba bilang apa sama abang?”
“Kamu pengin tahu banget gitu?”
Wine mengangguk antusias. Sudah lama Wine ingin mengetahui apa yang mereka bicarakan sebelumnya, namun lupa tak lagi bertanya saat mereka kembali bersama.
“Yang bagian mana? Ucapan ayah apa baba kamu?”
“Ayah” jawab Wine cepat. Hal yang Wine yakini sampai sekarang, pasti ucapan baba yang membuat bang Arka pucat saat itu. dan Wine ingin mengetahuinya belakangan.
“Ayah cuman pesen jangan meluk kamu disembarang tempat seperti kemarin. Ayah juga pesen jangan ngelewatin batas sebelum abang berhasil ngeyakinin kamu buat nikah sama abang”
“Kalau… kalau baba?” tanya Wine ragu.
Arka menampilkan senyuman tenangnya “ Abang di ancam bakal ngga bisa balik lagi ke angkatan udara kalau bikin kamu sakit hati”
Wine membulatkan matanya tak percaya “ Jadi itu yang bikin abang pucat kemarin”
Arka menggeleng, menarik tangan Wine kemudian menggenggamnya erat “ Bukan”
“Terus?”
“Sekali bikin kamu sakit hati. Baba kamu bakal pastiin abang ngga bisa ketemu sama kamu selamanya. Meski abang sudah sampai sujud-sujud, satu kesalahan sedikit saja, abang ngga bakal bisa buat kamu balik lagi sama abang”
Wine terdiam mendengarnya. Saat putus waktu itu, baba memang langsung menyarankan Wine untuk kuliah di luar negeri saja, bukan menyarankan namun lebih mengarah ke pemaksaan hingga membuat Wine diam-diam mendaftar di universitas negeri yang ada di Jakarta.
“Selain itu abang juga diminta untuk tidak melakukan kesalahan yang sama seperti baba kamu. Kalau abang sampai ngelakuin hal itu, karir abang dan terutama kamu akan dijauhkan dari Abang selamanya”
“ Jadi ini yang bikin abang pucat?” tanya Wine balik menggenggam tangan Arka.
“Iya, terutama bagian abang yang ngga bisa ketemu kamu lagi”
“Abang inget ga pas setelah kita lamaran, baba minta abang nunggu diluar sementara Wine ditarik ke ruang tengah sama baba?”
Arka mengangguk.
“Wine disuruh bikin perjanjian dengan abang sama baba”
“Maksudnya?”
__ADS_1
Melepaskan tangan Arka, Wine mengambil buku catatannya dan membuka lembaran kosong dengan pulpen yang berada ditengahnya “ Kata baba Wine suruh bikin pasal perjanjian sama abang”
Arka diam tak percaya dengan apa yang ia dengar sekarang. “Terus kamu setuju?”
Wine mengangguk tegas. Tanpa disuruh baba, Wine juga sudah berniat untuk membuat perjanjian dengan pria itu demi kelangsungan hidupnya. “ Setuju banget. Jadi kita bikin sekarang ya bang. Pasal satu”
Wine siap-siap dengan pulpen yang ada ditangannya “ Tidak ada tertarik dengan lawan jenis lain sebelum salah satu dari kita meninggal dunia”
Wine mulai menuliskannya didalam secarik kertas. “Pasal dua. Jika abang ada kerjaan diluar kota, diharuskan menghubungi atau setidaknya mengirim chat kabar”
“Pasal tiga” lanjut Wine “Kenalkan semua anak buah abang yang berjenis kelamin perempuan ke Wine, baik yang lama maupun baru”
Arka mengangguk setuju “ Ini pasti banget dek. Kan kamu sebentar lagi mau jadi ibu komandan, tanpa dikenalin juga kamu bisa lihat langsung siapa aja anak buah abang, sayang”
Wine mengerutkan dahinya geli mendengar panggilan Arka barusan padanya “ Pasal 4. Biarkan Wine tetap melanjutkan kuliah. Meski lama karena jurusan kedokteran, abang harus tetap dukung Wine bagaimanapun”
“Pasal 5, ambil cuti 1 hari sebelum abang keluar kota dan seharian itu abang harus fokus ke aku seorang tanpa handphone sama sekali”
Wine tahu pasal ke 5 terlalu mengekang dan berlebihan, namun setidaknya dengan pasal itu akan membuat Wine tenang selama ditinggal Arka keluar kota.
“Kamu masih takut dek?” tanya Arka.
“Bohong jika Wine bilang nggak. Oke, ini pasal Wine, sekarang abang bikin 5 pasal versi abang"
Wine menyerahkan buku catatannya kepada Arka.
“Pasal 1” Ucap Arka “ Kamu boleh nuntut apapun sama abang selama abang mampu melakukannya”
Wine mengerutkan dahinya bingung “ Ini kan persyaratan bang, ini mah enak di aku nanti”
“Ya kan terserah abang kan?”
“Iya sih”
“Pasal 2. Setiap kali kamu berada diluar jalur semestinya, abang bakal minta 3 permintaan sama kamu, dan kamu harus menurutinya”
“Keluar dari jalur semestinya maksudnya?”
“Lebih mentingin sahabat kamu dari pada abang contohnya”
Wine tertawa “ Itu mah abangnya aja yang cemburuan”
Ada kalanya Arka terang-terangan cemburu saat Wine seharian penuh menghabiskan waktu dengan Ocha dan Anya hingga lupa memberi kabar apapun pada pria itu.
“Pasal 3. Setiap hari abang bakal selalu ngomong I love you ke kamu, baik itu bangun tidur, berangkat kerja, pulang kerja, dan saat mau tidur lagi”
“Pasal 4” lanjut Arka “ Kamu harus melakukan hal yang sama yang sesuai dengan pasal 3”
Wine benar-benar dibuat tertawa sekarang, ada-ada saja pasal yang dibuat Arka sekarang, dari 4 pasal yang sudah pria itu tulis, hanya pasal 2 saja yang bisa dianggap normal dan menguntungkan bagi Arka sepenuhnya. Sedangkan pasal ke 4, tanpa ditulis dalam perjanjian pun, Wine juga akan melakukannya.
“Dan pasal ke 5”
Arka yang sebelum nya memasang wajah tenang kini tersenyum jahil kearahnya, membuat Wine kini lebih waspada dengan apa yang ada dipikiran pria itu. “ Konsekuensi ke dua dari pasal 2 adalah siap-siap jika abang bakal minta anak sama kamu nanti diluar dari perjanjian jumlah anak yang kita setujui”
Oke, pasal ke 5 sepertinya sangat merugikan bagi Wine. Setelah lamaran mereka memang sempat membahas berapa anak yang diinginkan, dan selama Wine belum menjadi dokter 2 anak sepertinya cukup bagi mereka.
......🎉🎉🎉🎉🎉🎉......
...tamat juga ini cerita. ditunggu karya yang lainnya juga ya.. semoga tetap mendapat dukungan dari kalian semua. 😘😘...
__ADS_1