Salto Dunia Wine

Salto Dunia Wine
Extra Part : Alasan Abel menjadi Erin


__ADS_3

***


"Wih, anak tentara siapa nih yang dateng?"


Anya tersenyum mendengar pertanyaan Ocha sedangkan Wine mendelik seketika ke arah Ocha. Jika ada acara ulang tahun anak-anak maka pasti akan ada Ocha sebagai pembawa acara namun wanita itu nyaris tak pernah hadir di acara ibu-ibu komplek bahkan jika ada acara ibu-ibu persit yang ngumpul,Wine harus menarik sahabatnya itu agar mau hadir di acara.


"Anaknya mukanya girang banget, tapi muka emaknya ditekuk" celetuk Ocha lagi.


Bagaimana tak ditekuk jika Erin kekeh tak mau menggunakan dress dan malah memilih menggunakan baju tentara angkatan udara milik Arsya untuk datang ke acar ulang tahun. Nyaris hampir semua anak perempuan disini menggunakan dress dengan berbagai macam gaya rambut, namun Erin malah menggunakan celana dan topi loreng-loreng biru langit.


"Kembar kemana?" tanya Ocha lagi.


Wine duduk di samping Ocha dengan Erin yang langsung duduk di pangkuannya " Aaras ada les piano, Arsya malah ikut bapaknya nganterin Aaras"


Ocha dan Anya mengangguk bersamaan.


"Dek liat deh, temennya pada pakai dress, ibun bawa loh, adek nggak mau ganti?" tanya Wine, kali saja dengan melihat anak-anak lain menggunakan dress maka Erin juga akan mau menggunakan dress miliknya.


Bukan anggukan kepala yang Wine dapatkan, melainkan lagi-lagi gelengan kepala sebagai tanda penolakan.


"Assalamualaikum"


Suara salam diiringi dengan anak perempuan yang di kepang dua dengan menggunakan dress berwarna peach itu terdengar. Wine, Anya dan Ocha menoleh bersamaan. Wanita sepantaran usia mereka masuk dengan anak perempuan didalam gendongannya.


"Warga baru" bisik Anya.


"Tapi kok gue pernah liat ya?" tanya Ocha.


Bukan hanya Ocha, Wine juga merasa pernah melihat wanita itu. Cukup lama Wine mengamati wanita yang kini tengah bersalaman dengan ibu RT, sebelum akhirnya matanya membulat seketika saat kepalanya kembali mengingat wajah itu.


Kalian tahu kehebatan seorang istri selain mengurusi rumah tangga dan sebagai wanita karir sekaligus?


Jawabannya adalah ingatan jika berkaitan dengan wanita yang dekat dengan suaminya itu akan tetap teringat walau sudah bertahun-tahun lamanya.


"Dia bukannya yang dateng ke acara nikahan lo ya Cha?" tanya Wine memastikan.


"Oh iya bener. Gue denger dari Kais katanya dia dokter tentara"


"Hah? Di skadron maksud kamu?"


"Dulu sih nggak, kayanya baru 1 bulanan ini dia di halim. Itu pun gue liat saat ngaterin makan siang buat Kais"


Arka tak pernah cerita apapun karena  Wine juga tak pernah menanyakan hal itu.


"Selamat sore ibu komandan"


Kepala Wine yang sebelumnya menoleh ke Ocha kini menoleh ke arah sebaliknya. Wanita itu sudah duduk di sampingnya sedangkan Erin sudah bermain dengan putri wanita itu.


"Sore."


"Sore mbak Ocha, mbak Anya"


"Sore" jawab Ocha dan Anya serentak.


Wine mengerutkan dahinya bingung. Jika wanita ini mengenalnya maka dia pasti sudah mencari tahu terlebih dahulu.


"Mbaknya baru pindah ya? Saya nggak pernah liat soalnya" tanya Anya.


"Iya mbak. Baru pindah di blok G. Oh ya mbak. Nama saya Abel, kebetulan saya juga kerja di skadron sama pak Arka dan kapt. Kais"

__ADS_1


Mendengar nama Abel membuat Wine menarik senyumnya paksa. Ocha dan Anya yang tahu drama dibalik pemberian nama Erin saling menatap satu sama lain.


"Kenapa mbak?" tanya Abel yang bingung sendiri melihat ekspresi wanita yang pertama kali ia liat dulu saat di acara pernikahan yang heboh karema mau melahirkan.


Wine menggelengkan kepalanya. "Nggak, saya dulu mau kasih nama Abel sama anak saya, eh sekarang jadi Erin karena bapaknya nggak mau ada huruf A di depannya" jawab Wine.


Acara ulang tahun Darren putra pak RT kini di mulai, berjalan meriah seperti biasanya dengan Erin yang menempel layaknya Cicak di samping Arum. Kemana pun Cicinya pergi, Erin dan Arun terus mengikutinya, bahkan hingga acara selesai.


***


Sepanjang acara Wine hanya terus menghela napasnya kesal karena perihal nama Abel. Dulu setelah dirinya melahirkan Erin dan menanggih penjelasan kepada Arak, suaminya itu terus saja mengucapkan kata cinta dan menciumi seluruh bagian wajah Wine dengan tangis harunya. Wine jadi tak tega untuk menagih jawaban dan berakhir dengan menangis bahagia bersama saat Erin di letakan di atas dadanya.


Kelupaan itu berlanjut hingga sekarang. Alasan Arka kenapa tidak mau memberi nama Abel karena semua anaknya berawalan huruf A. Katanya nggak asik jika nanti saat di bagikan rapot sekolah dan Arka atau Wine datang terlambat harus menunggu lama hingga selesai sampai huruf Z baru di ulang ke huruf A. Mereka bisa amat bosan untuk menunggunya.


Dan setelah hampir 3 tahun, Wine baru tahu jika Arka tak mau memberi nama Abel karena bisa menjadi bencana rumah tangga di kemudian hari.


Dengan Erin yang berada di gendongannya setelah menangis karena malah rebutan kado mobil-mobilan milik Darren yang berulang tahun. Wine berjalan memasuki rumah. Sepi. Itu yang Wine rasakan sekarang. Begitulah ke adaan rumah jika ke dua anak kembarnya pergi, sangat damai namun terasa aneh bagi Wine yang setiap harinya mendengar teriakan anak-anak nya.


"Mbak. Mbak Laksmi"


Tak ada sautan, Wine berjalan menuju dapur dan tetap tidak menemukan mbak Laksmi di sana. Berjalan menuju ruang tempat cuci baju, mbak Laksmi juga tidak ada di sana.


"Lagi ke warung kali ya?" tanya Wine pada dirinya sendiri.


"Adek. Kita cari ayah di ruang kerja yuk" ajak Wine yang malah kembali mendapat tangisan Erin.


Duarr.


Baru menaiki satu anak tangga langkah Wine terhenti seketika saat terdengar suara balon yang meletus. Buru-buru ia berbalik arah dan berjalan cepat menuju halaman dimana suara tangis Aaras terdengar setelah suara balon yang meletus.


Aaras sedang ada di tempat les. Kenapa jadi di rumah?.


Jika dilihat dari posisi duduknya, suaminya itu pasti terpleset saat sedang membawa kue. Erin yang sebelumnya menangis kini malah tertawa melihat wajah ayahnya yang penuh dengan kue.


Mbak Laksmi yang sepertinya benar-benar dari luar karena ada dua buah lilin di tangannya langsung menghampiri Aaras dan menenangkannya.


"Selamat ulang tahun dek. Ibun anak-anak" ucap Arka.


Ah, Wine sampai lupa jika hari ini dirinya juga ulang tahun.


Menurunkan Erin dari gendongannya. Dan bocah itu langsung mengambil tisu lalu mengelap wajah ayahnya, Wine langsung mendekati Arsya dan menghentikan anaknya itu yang malah bermain-main dengan jus yang tumpah di meja.


Aaras yang nangis karena kaget langsung minta di gendong oleh Wine dan beginilah adanya. Menggendong Aaras sambil membersihkan baju putih Arsya yang sudah memiliki banyak noda kuning jeruk. Syukur ada Erin yang bisa mengurusi Arka karena gadis kecil itu masih setia membersihkan wajah Arka dengan tawa geli yang keluar.


Mendengar tawa geli Erin membuat Arka ikut tertawa, Arsya juga ikut tertawa dan berkahir dengan Wine yang juga tertawa geli mendengar tawa putrinya itu.


Ya lebih baik tertawa dari pada di buat stres sendiri.


"Nggak ada kuenya. Ibun nggak bisa tiup lilin dong?" canda Wine.


"Tiup lilin doang ka dek, masih bisa" Arka mengambil lilin dari mbak Laksmi dan menancapkannya di kue yang bentuknya sudah tak karuan, bahkan tidak layak untuk dimakan karena ada beberapa rumput yang menempel di sana.


"Ih jadi suami nggak romantis banget"


"Romantis kok. Sini" Arka langsung menarik Wine dan mencium bibirnya sekilas lalu beralih mencium bibir ketiga anaknya bergantian.


"Ini berarti Aaras nggak les mas?"


Arka menganggukkan kepala " Nggak. Tadi keluar beli kue sama beli barang-barang buat kejutan, eh malah berantakan semuanya. Gagal udah"

__ADS_1


Wine tertawa melihat ekspresi Arka. Semakin hari Wine sadar cintanya untuk suaminya ini tumbuh semakin besar. Terlebih dengan kehadiran ke tiga anaknya yang membuat hari Wine terasa semakin berwarna.


"Kamu tuh kayanya nggak bisa kalau nggak hidup sama aku ya mas. Nggak beres semua kerjaan yang begini begini"


"Emang, makanya jangan jauh-jauh dari aku" jawab Arka.


Mbak Laksmi yang juga ada di halaman memilih untuk langsung masuk ke dalam rumah. Membiarkan keluarga majikannya itu memiliki family time yang amat jarang didapatkan karena sama-sama sibuk bekerja.


Wine duduk di kursi bersisian dengan Arsya dan Erin yang tengah asik makan makanan ringan di meja. "Mas"


"Iya sayang"


Wine memutar bola matanya. "Kenapa dulu nggak mau kalau nama Erin itu Abel"


"Karena lama nanti kalau ngambil raport"


"Yakin?"


Arka mengangguk. Suaminya itu memangku Erin dan menciumi pipi putrinya gemas.


"Erin" panggil Wine pada putrinya.


"Iya sayang" jawab Erin.


Wine dan Arka yang mendengarnya terkejut seketika. Arka tertawa terbahak-bahak mendengar Erin yang mengikuti kalimatnya sebelumnya. Anak seusia Erin memang sedang cepat merekam apa yang dilihat dan didengar.


"Ibun" ucap Wine.


Erin tertawa menunjukkan gigi-gigi kecilnya tanpa salah "Iya ibun"


"Adek suka nama Erin atau Abel?"


Bocah 2 tahun itu nampak bingung menjawabi pertanyaan sang ibu karena tak tahu arti dari pertanyaan barusan. Erin hanya mengangguk kemudian kembali melanjutkan makannya. Salah juga Wine karena menanyakan sesuatu yang tak akan diketahui artinya untuk anak usia 2 tahun 9 bulan ini.


"Bukan karena teman kamu yang aku tanya pas lahiran itu namanya Abel mas?"


Arka tampak mengingat-ingat lagi kejadian waktu Erin lahir. Dan tertawa saat ingatan itu terlintas di kepalanya. "Kamu udah ketemu sama dr. Abel jadinya?"


"Udah. Di tinggal di Blok G" jawab Wine.


"Salah satu alasannya juga itu dek. Karena kamu pasti bakal nangis dan mikir yang nggak-nggak kalau mas setuju aja pas kamu pengin kasih nama Abel"


"Jadi beneran itu juga alasannya?"


Arka mengangguk " Nanti kalau mas setuju kamu pasti bilang 'oh pantesan langsung setuju biar namanya sama kaya perempuan itu'. Gitu kan?"


Wine tertawa melihat suaminya itu yang bicara dengan logat yang sama dengan dirinya. Marah? Tidak. Percayalah, sejak awal di acara ulang tahun tadi, Wine sangat bersyukur karena Arka mengganti nama Abel menjadi Erin.  "Tahu aja"


Arka juga ikut tertawa.


"Ibun liat abang"


Suara Aaras yang memang sejak tadi minta duduk dengan saudaranya, membuat Arka dan Wine menoleh ke arah Aaras. Tawa keduanya muncul saat Aaras tertawa dengan dua gigi dibagian depannya ditutupi oleh coklat yang membuat bocah super tampan itu seperti kakek-kakek yang kehilangan giginya.


Sungguh kocak anak dr. Wine dan komandan Arka ini.


***


__ADS_1


__ADS_2