
“ Apa yang membuatmu tidak suka sama angkatan udara dek?”
Selama perjalanan menuju Jogja, Arka baru bersuara setelah sekian lama diam. Bahkan saat Wine study tour Arka yang biasanya rajin mengirim pesan setiap jam kini hanya kurang dari 5 pesan yang pria itu kirim dalam satu hari. Wine paham, pembicaraan Arka dengan ayah dan baba yang hingga saat ini tak Wine ketahui adalah penyebabnya.
Wine tak banyak memaksa, menuntut rasa keinginan tahuannya kepada Arka. Saat pria itu diam, maka itu memang bukan sesuatu hal yang perlu dijelaskan atau mungkin masih menunggu waktu hingga Arka menceritakan semuanya.
“ Kenapa tiba-tiba tanya begitu bang?” Wine menatap Arka lekat.
Pria yang tengah mengemudi itu menatap lurus ke depan, wajahnya terlihat serius hingga Wine merasa dirinya juga harus serius sekarang.
“ Abang pengin tahu, jadi abang tahu apa langkah berikutnya yang harus abang ambil buat kamu”
Jika saja mereka tidak dalam mode serius, Wine pasti akan tersipu malu mendengarnya dan balik menggoda pria ini.
“ Ngga suka aja”
“ Jangan lupa abang itu tentara angkatan udara dek”
Wine mengangguk. Membuka botol air mineral kemudian memberikannya pada Arka. Kali saja air ini bisa membuat adem suasana. Sogok.
“ Ya kan itu abang, kalau orang lain mungkin nggak”
“ Kalau abang ajak kamu menikah mau? Abang bisa sekalian bilang sama ibu dan abah abang saat kita sampai di Jogja”
Kepala Wine menoleh seketika. Kemarin Arka jelas berjanji hanya untuk mengenalkannya, bukan mengajaknya untuk menikah. Lalu apa ini? apa yang sebenarnya baba katakana pada Arka minggu lalu?.
“ Baba nyuruh abang buat nikahin Wine?” tebak Wine yang langsung mendapat gelengan kepala lirih Arka.
“ Terus?” tanya Wine lagi.
Arka tak langsung menjawab, pria itu diam kemudian melirik Wine dengan senyuman sebelum akhirnya kembali fokus mengahadap jalanan didepan sana. Merasa tak akan mendapat jawaban jika tak didesak, Wine memposisikan duduknya mengarah ke Arka.
“Bang”
“Hmm?”
“Jangan hmm doang. Dijawab bang. Kaya ngga punya mulut tahu ngga.” Biarlah jika Arka berpikir Wine tak ada sopan santunnya sama sekali.
Arka mengarahkan mobilnya memasuki rest area terdekat. Setelah mobilnya terparkir, pria itu kini memposisikan duduknya ikut menghadap kearah Wine.
“ Abang nanya duluan loh dek. Ko malah ditanya balik?”
__ADS_1
Tak ada sedikitpun kenaikan nada pada cara bicara Arka sekarang. Bagi Wine, Arka memang selalu halus terhadapnya.
“Abang pengin tahu alasannya?”
Arka menganggukkan kepalanya.
“Karena Wine ngga ingin apa yang terjadi pada mamah terjadi juga pada Wine”
“Maksudnya?”
“ Berkedok atas nama tugas negara diluar kota. Wine ngga bakal tahu apa yang mas lakuin disana nantinya. Mungkin memang bekerja, tapi bisa saja mas ngelakuin hal lain disana”
“ Selingkuh darimu maksudnya?”
Wine membulatkan matanya terekejut. Dirinya tak pernah menceritakan apa yang terjadi pada kehidupan keluarganya dulu, penyebab kecelakaan ibunya atau apa yang dilakukan babanya dulu. Wine tak pernah mengungkitnya sama sekali.
Berpikir jika Ocha atau Anya yang bercerita juga sesuatu hal yang mustahil. Kedua sahabatnya tahu betul jika Wine tak suka kehidupan pribadinya dulu diketahui oleh orang lain. Mbak Alin juga tak mungkin melakukannya.
“ Ayah yang cerita sama abang semuanya” lanjut Arka seolah mengerti apa yang ada dipikiran Wine sekarang.
Membicarakan hal penuh kekecewaan dulu, membuat Wine mulai mengingat semuanya. Sebaik mungkin Wine menjaga agar air matanya tak lolos didepan Arka. Bibirnya ia tutup rapat, dan pandangan yang sebelumnya terarah ke Arka ia alihkan keluar jendela. Suasana di mobil seketika berubah menjadi penuh kesedihan, Wine membenci hal ini.
Wine tak melakukannya. Namun saat tangan Arka memaksa kepalanya untuk menoleh, Wine bisa melihat kedua mata Arka menatapnya dengan tatapan lembut, tepat saat itu air mata yang sebelumnya Wine tahan keluar seketika, isakan dari mulut juga tak bisa ia tahan hingga membuat Arka menariknya kedalam pelukan pria itu.
Inilah alasannya Wine tak suka jika harus membahas perihal kejadian dulu dengan orang lain. Bukan hanya Arka, jika Wine membahasnya dengan Ocha, Anya, mbak Alin, mas Akhtar, ibu dan ayah, Wine juga akan berakhir menangis sesegukan. Tapi tidak dengan babanya, saat Wine membahas hal ini dengan babanya, bukan air mata yang keluar, namun rasa benci yang memupuk dalam hati hingga Wine juga membenci pekerjaan babanya itu.
Arka tak bicara. Tangannya menepuk Wine pelan berusaha untuk menenangkan gadis dipelukannya ini. ayah sudah memperingatinnya dulu jika Wine mungkin akan menangis jika membahas hal ini, atau paling buruknya gadis ini akan membencinya.
Wine tak suka dipandang rendah dan menyedihkan oleh orang lain.
“ Seperti yang abang bilang dulu dek. Tidak ada salahnya jika menunjukkan kelemahan kita dengan orang lain, dengan orang yang kita sayang. Dan abang berharap kamu akan cerita tentang hal ini kepada abang sebagai orang yang kamu sayangi”
Wine tak menjawab, dirinya masih terus menangis seolah ingin mengeluarkan segala hal yang mengganggunya selama ini. jika bercerita dengan kedua sahabatnya tak mengurangi rasa sakit. Wine harap dengan Arka rasa sakit itu akan berkurang.
“Dek. Maaf karena abang mengungkit hal ini lagi ya dek. Kamu ngga cerita, makanya abang tanya sama ayah”
Arka kembali mengusap punggung Wine. Seseorang yang ia kenal penuh dengan canda tawa dan tingkah lucu berubah menjadi menangis sesenggukan seperti ini, Arka tahu Wine sedang berada dititik terendah gadis ini, masalah keluarga adalah hal yang paling disembunyikan Wine dari semua orang.
Arka mengusap air mata Wine saat gadis itu kembali duduk tegak. Tersenyum lembut bersiap untuk menunggu Wine menjelaskan semuanya. Mata yang selalu tersenyum itu berubah sembab karena air mata. Dan Arka merasa dirinya sangat buruk karena menjadi dalang dari semuanya.
“ Kalau adek ngga mau cerita sekarang abang bisa tunggu sampai adek mau cerita. Kalau mau cerita sekarang, abang siap untuk mendengarkan”
__ADS_1
Wine menarik nafasnya dalam untuk menenangkan diri “ Baba bilang apa sama abang kemarin?”
Dengan masih tersenyum, Arka membenarkan anak rambut Wine yang berantakan " Komandan tidak setuju kalau abang punya hubungan sama kamu”
“Alasannya?”
“Karena komandan pikir jika kamu tidak akan pernah mau memiliki hubungan dengan angkatan udara.”
“Abang tahu bukan pekerjaan tentara angkatan udara yang salah disini kan?”
Arka mengangguk. Kembali mengusap air mata Wine yang meluncur bebas ”Abang tahu. Maka dari itu abang ingin tahu alasannya dari kamu sendiri. Dan abang bisa mengambil langkah selanjutnya”
“Kalau Wine ngga mau cerita, abang mau tinggalin Wine?”
Arka tertawa pelan “ Tidak”
“Keluar dari angkatan udara?” tanya Wine lagi.
“Tidak juga. Abang cinta sama Negara dan pekerjaan abang. Abang juga cinta sama adek. Makanya alih-alih ngelepasin salah satu yang udah digenggaman tangan abang. Abang pilih buat ngeyakinin kamu meski butuh waktu sampai 5 tahun”
“ Abang keburu tua nanti. Wine ngga mau nikah sama bujangan lapuk”
Tawa Arka disertai helaan napas lega terdengar. Jika sudah mulai bercanda, Arka tahu Wine sudah sedikit membaik. Wine dengan mulut pedasnya yang ia kenal sudah perlahan kembali.
“Bang”
“Hmm?”
Tatapan serius dari mata Wine kembali Arka lihat, membuat Arka menebak jika Wine mungkin akan menceritakannya sekarang. Arka menggenggam erat tangan Wine siap untuk mendengar semua cerita gadis ini. meski sudah mendengar dari sudut pandang ayah, Arka masih sangat berharap untuk mendengar dari sudut pandang Wine. Yang mengamati dan merasakan jelas akan memiliki perbedaan cerita.
Arka menegakkan posisi duduknya sambil tersenyum mantap. Berusaha untuk menjadi pendengar yang baik dari semua kalimat yang akan Wine ceritakan. Namun tepat saat Wine bicara, Arka hanya bisa tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
“Wine laper. Makan bang. Nanti baru Wine cerita”
Arka mengacak gemas rambut Wine kemudian mencubit pipi gadis ini.
Sudah siap mendengarkan malah ditagih makanan. Memang perut harus diisi dulu baru bisa cerita.
Bekasi
15 Desember 2021
__ADS_1