Salto Dunia Wine

Salto Dunia Wine
Bab 16 : Masa Kelam Berakhir


__ADS_3

Setelah mendapat kabar mengenai Arka yang dilarikan ke rumah sakit. Wine langsung berangkat ke Solo diantar oleh supir pribadi Anya. Kondisinya dengan kepala yang rasanya penuh dengan segala hal tidak memungkinkan baginya untuk ke menyetir ke Solo, terlebih karena Ocha dan Anya tak akan mengizinkannya pergi kecuali membawa pak Sulaiman. Wine pergi seorang diri, Arsya dan Aaras terpaksa tak ikut melihat kedua kondisi anak itu yang masih demam tinggi. Setelah berjanji akan langsung menelfon setelah bertemu denga ayah, Arsya dan Aaras akhirnya mengangguk setuju.


Dan disinilah Wine sekarang. Berdiri sambil menatap bangunan rumah sakit tempat dimana Arka dirawat. Jantungnya kini berdetak cepat dengan tangan yang mulai gemetaran. Wine mungkin akan berada di sini selama 2 hari, maka dari itu pak Sulaiman diperbolehkan untuk kembali ke Jakarta terlebih dahulu.


Dengan air mata yang berusaha ditahan, Wine masuk ke dalam rumah sakit dan langsung menuju kamar dimana Arka dirawat. Setiap langkahnya terasa begitu berat meski Wine tahu hal yang membuat suaminya ini dirawat di rumah sakit adalah karena kelelahan, bukan karena cedera atau terbawa arus sungai.


Langkah Wine berhenti tepat didepan ruangan bertuliskan 232 dengan nama Arka Birgantara Mahesa yang berada dipapan kecil sebelah pintu. Suara beberapa orang yang memberi laporan mengenai kemajuan pencarian kapt. Ayub terdengar dari arah dalam. Saat suara Arka juga terdengar menanggapi laporan, Wine menghembuskan napasnya lega.


Diketuknya pintu 3 kali, Wine mendorong pintu agar terbuka dan penampakan Arka yang berada di atas ranjang pasien dengan selang infus ditangan kirinya membuat Wine sebaik mungkin menahan air matanya agar tidak meluncur.


Beberapa orang yang ada didalam yang Wine kenal sebagai bawahan Arka di skadron langsung berdiri dan membungkuk memberi salam pada Wine. Namun karena matanya kini hanya fokus menatap kearah Arka, Wine tak balik memberi salam dan terus melangkah masuk mendekati suaminya.


Semakin mendekat maka semakin sulit pula Wine untuk menahan air matanya. Arka yang langsung tahu perubahan raut wajah Wine, meminta semua orang yang ada disini untuk keluar dan meninggalkan mereka berdua.


Langkah Wine berhenti tepat satu langkah didepan Arka. Matanya memindai tubuh Arka dari atas hingga bawah sebelum akhinya terpejam.


“Terimakasih ya Allah” Ucap Wine lirih.


“Dek?” tanya Arka ragu-ragu.


Masih dengan mata terpejam Wine melemparkan pertanyaan “Apa sesulit dan sesibuk itu sampai kamu lupa punya istri yang harus diberi kabar mas?”


Arka turun dari ranjang dan berniat untuk mendekat kearah Wine.


“Tetap disitu mas. Jangan mendekat”


Tubuh Arka mematung seketika saat mata Wine yang sebelumnya terpejam kini terbuka, mata istrinya memerah dengan air mata yang siap untuk meluncur. “Dek”


“Aku nunggu pesan kamu sampai nggak bisa tidur mas. Apa emang nggak ada sinyal atau kamu aja yang nggak mau ngasih kabar ke aku mas? Kamu udah nggak cinta lagi sama aku mas, sampai berniat untuk membuat aku mati karena rasa khawatir?. Kamu tuh—“ Air mata yang sebelumnya ditahan meluncur juga. Satu pukulan Wine layangkan didada suaminya ini “Kamu tuh jahat mas. Anak-anak sakit, aku sakit, tapi aku masih berusaha untuk kuat karena aku percaya kamu bakal ngasih info”


Arka tak menjawab apapun, hanya berdiri pasrah mendapatkan pukulan Wine.

__ADS_1


“Kamu tuh bener-benar keterlaluan mas. Aku hari ini denger kabar kamu dari Anggi bkalau kamu baik-baik saja. Setelah aku ngerasa lega, aku kaya di jungkir balikan lagi pas dapat pesan dari mbak Alin kalau kamu masuk rumah sakit!!” satu pukulan lagi, Wine layangkan pada tubuh suaminyanya ini. air mata yang ia tahan hampir 4 hari demi anak-anak kini meluncur bebas tanpa permisi sama sekali.


Wine mencengkram kerah baju Arka dengan kepala yang masih terus menunduk “Aku takut kamu kenapa-kenapa mas. Aku berusaha untuk tegar didepan Ayu dan mengatakan jika kapt. Ayub pasti akan baik-baik saja. Padahal denger kabar kamu aja kau nggak bisa. Kamu tuh mas—” Tak lagi bicara, Wine hanya terus menangis tak snaggup untuk melanjutkan kalimatnya. Dadanya seakan penuh dengan rasa yang tak Wine ketahui juga. Rasa takut namun juga lega bercampur jadi satu.


“Sudah selesai marahnya?” tanya Arka lembut “Sinih biar mas peluk”


Wine menangis semakin kencang saat Arka menariknya dalam pelukkannya. Arka memeluk erat Wine dan membiarkan istrinya menangis terlebih dahulu, setelah ini Arka hanya perlu menjelaskan alasan dirinya yang tak menghubungi sama sekali.


Cukup lama mereka berdiri dengan posisi saling berpelukkan, beberapa tentara yang sebelumnya ingin masuk juga memilih untuk menunda kunjungan mereka dan membiarakan komandannya bersama dengan ibu komandan terlebih dahulu.


Saat dirasa tangis Wine sudah mereda, Arka melerai pelukkan mereka kemudian mengajak Wine untuk duduk ditepi ranjang.


“Lihat mas dek” ucap Arka pelan.


“Nggak mau!” jawab Wine ketus.


“Kenapa nggak mau?”


Helaan napas terdengar dari Arka. Arka kini menarik dagunnya agar menghadap kearah pria itu. begitu melihat wajah pucat Arka, Wine kembali menangis dan memeluk suaminya itu erat.


“Maaf ya mas.” Ucap Wine lirih.


“Mas yang mau minta maaf sama kamu. Hp mas hilang di hutan. Makanya nggak bisa hubungin kamu. Alin datang ke sini, cuman karena kondisi mas yang malah dilarikan ke rumah sakit, mas melarang Alin buat hubungi kamu.”


Wine melerai pelukan mereka “Kamu nggak kenapa-kenapa kan mas?”


“Mas baik. malah kayanya kamu yang kurusan ya dek”


“Ya gimana nggak mau kurus kalau kamu nggak ngasih kabar! Tapi aku masih tetep cantik kan?”


Arka tertawa “Masih. Cantik banget. Mas kangen sama kamu dan anak-anak”

__ADS_1


Wine mengangguk dan kembali memeluk Arka. Entah rasanya hari ini Wine hanya ingin terus memeluk suaminya ini. menyadarkan dirinya sendiri jika ini bukanlah mimpi semata. “Bagaimana pencarian Kapt. Ayub mas?”


Arka balik memeluk Wine erat” Kita berhasil menemukannya tadi pagi”


Wine langsung melepaskan pelukan Arka dan menatap mata suaminya terkejut. Ini adalah hal yang begitu baik untuk Ayu dan calon bayinya. “Serius mas?”


Arka mengangguk. Pencarian kapt. Ayub akhirnya mendapatkan titir terang juga. Ayub ditemukan 15 km dari titik jatuhnya pesawat. Seperti dugaan sejak awal, beberapa anggota TNI mencari Ayub mengikuti arus sungai. Kapt. Ayub terbawa arus sungai yang membuat kondisi laki-laki itu sangat tidak baik. Ayub ditemukan dalam kondisi denyut nadi lemah dan langsung dilarikan ke rumah sakit yang sama dengan dirinya dirawat.


“Bagaimana kondisinya?” tanya Wine lagi.


“Sangat tidak baik. sekarang masih dalam pengawasan dokter. Maka dari itu kita menyembunyikannya dari reporter sampai besok pagi”


“Ayu gimana mas?”


Arka mengehela napasnya berat. “Kondisi Ayub benar-benar tidak baik sekarang. Setelah dokter memberikan diagnose mereka, mas baru mau hubungi Ayu”


“Dia hamil mas”


Arka mengangguk. Hal ini juga yang membuat Arka menahan memberi info pada istri Ayub. Meski memang lebih baik diberi tahu, namun Arka tak ingin memberikan harapan palsu yang bisa saja berakhir mengerikan. Setidaknya jika Ayu tahu Ayub masih dalam pencarian, Ayu masih memiliki harapan yang ia panjatkan ke langit. “Karena itu dek. Sore ini setelah ketemu dengan dokter dan tahu hasilnya, mas akan langsung nelfon Ayu, dan nan—”


“Aku juga hamil mas” potong Wine.


Arka mengerjapkan matanya tak percaya dengan yang ia dengar seakrang. Tangannya langsung beralih memegang perut Wine “Kamu hamil dek?”


“Hmm” jawab Wine dengan senyuman mengembang. Ini adalah hadiah terbaik yang bisa ia berikan pada Arka.


Tok tok tok.


Suara ketukan pintu membuat Arka dan Wine menoleh ke sumber suara. Disana Kais dengan wajah gembira seakan ada kabar yang harus dibagi untuk semua orang berjalan masuk.


“Kapt. Ayub sadar bang”

__ADS_1


Wine kembali menangis dengan rasa bahagia yang luar biasa. Masa kelam dirinya dan Ayu berakhir sudah.


__ADS_2