Salto Dunia Wine

Salto Dunia Wine
Bab 11 : Daftar Audisi


__ADS_3

"Jadi adek mau nya gimana?"


Arsya yang ditanya kini makin mengerucutkan bibirnya. Jika saja tidak ada Arka, Wine pasti sudah mencubit bibir gemas putranya ini.


Setiap kali datang ke rumah ibu memang selalu aja ada drama yang terjadi jika ingin kembali pulang ke Jakarta, dan asalnya pasti dari Arsya.


"Aku nggak mau pulang ayah, Huaaa"


saat Arka melirik ke arahnya untuk minta bantuan, Wine mengedikkan bahunya. Salah sendiri semalam Arka menjanjikan Arsya untuk bermain di sungai yang tak jauh dari rumah ibu dan ternyata seharian penuh hujan turun deras hingga membuat mereka tak bisa keluar sama sekali. Dan beginilah jadinya, Arsya tak mau diajak pulang dan berakhir menangis kencang.


Agak sedikit bersyukur karena Arsya yang ngambek. Jika Aaras maka gagal sudah.


"Terus adek maunya gimana? Itu abang udah dibawah, udah siap. Ayo pulang" ajak Arka lagi.


Wine kembali melirik ke Arsya guna melihat ekspresi bocah itu. Masih belum menjawab anggukan, Arsya menggeleng tegas sambil terus menangis.


"Adek nggak mau pulang?"


Kali ini Arsya mengangguk. Wine yang kembali mendapat lirikan dari Arka— menghela napasnya.


Semalam saat anak-anak pindah ke kamar, alih-alih kembali tidur, Arka malah mengajak ngobrol Arsya hingga pagi. Janjinya batal karena hujan ditambah ngantuk, beginilah jadinya. Arsya yang bisanya sangat mudah untuk di rayu saat nangis, kini tak bisa sama sekali.


Salah kamu itu loh mas. batin Wine.


"Ayah sama ibun sama Aaras mau pulang. Adek mau tetep di rumah nenek?"


lagi Arsya mengangguk.


"Dek bantuin apa" keluh Arka.


Wine tertawa mendengarnya. Meletakan ponselnya di nakas, Wine memposisikan dirinya menghadap ke arah Arsya.


"Sekarang ibu mau tanya, Adek mau nangis dulu terus baru bicara sama ibun, atau kita sudah bisa bicara sekarang?"


Arka yang mendengar kalimat Wine barusan melebarkan matanya tak percaya, terlebih saat Aaras kini mulai diam menahan tangisnya. Jika Arka yang mengatakan kalimat barusan untuk kedua putranya tak akan ada gunanya, tapi jika Wine yang mengatakannya hal itu langsung ampuh membuat si kembar berhenti menangis.


"Ibun mau tanya lagi, Adek masih mau nangis atau kita sudah bisa bicara?"


Bibir Arsya yang sebelumnya sudah normal kini kembali mengerucut "Nangis" ucapnya lucu.


"Oke. Silahkan. Nangis dulu, Ibun tungguin" sebaik mungkin menahan agar dirinya tak tertawa sekarang, pasalnya jika dirinya tertawa maka Arsya akan semakin menjadi-jadi nangisnya. Maka dari itu Wine masih menjaga ekspresi tenangnya dengan baik.


Namun kenyataannya disaat kita sudah berusaha dengan baik, tetap saja ada godaannya. Wine mendelik ke arah Arka yang kini malah tertawa.

__ADS_1


Melihat Arsya yang semakin menangis, Arka langsung memunggungi anaknya dan Wine langsung menghadiahi pukulan di punggung suaminya itu.


Jika sudah di izinkan untuk menangis, maka biasanya Arsya tak akan terlalu lama menangis. Dan benar saja, hanya dalam waktu kurang dari 3 menit, suara tangisan Arsya sudah mulai mereda.


"Sudah selesai nangisnya?" kali ini Arka yang bertanya.


"Belum" jawab Arsya dan kembali menangis.


Bukan menangis dengan banjir air mata seperti biasanya. Arsya hanya berpura-pura menangis yang membuat Arka kembali tertawa.


"Mas ih" Ucap Wine kesal.


"Ibun aku udah selesai nangisnya"


Arka yang mendengar kalimat barusan kembali tertawa, daripada mendapat pukulan lagi dari Wine, Arka memilih untuk keluar dari kamar yang langsung disambut dengan teriakan Aaras dari lantai bawah.


Satu kelar, satu lagi mulai.


Wine yang juga mendengar teriakan Aaras hanya menghembuskan napasnya. Biaralah, dibawah juga ada Mas Akthar. Akra dan suaminya mbak Alin itu pasti bisa mengurusi masalah Aaras dan Ilham.


"Ibun boleh tanya kenapa adek nggak mau pulang?" Kembali ke Arsya, Wine menggendong bocah laki-laki itu lalu berjalan ke luar kamar. Semakin Siang mereka pulang, maka akan semakin malam pula mereka sampai rumah.


"Aku mau main di kali ibun" jawab Arsya jujur.


"Tapi adek tahukan tadi hujan?"


Tangan kiri Wine gunakan untuk menopang tubuh Arsya di gendongannya, sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk berpegangan pada pembatas tangga.


"Nah itu adek tahu. Hujan jadi kita nggak bisa ke sungai. Kalau adek sudah tahu, nangis dan memaksa itu bukan perbuatan yang baik. Adek ngerti sekarang?"


Melingkari leher Wine dan bersandar di bahu ibunnya, Arsya mengangguk paham meski dengan bibir yang kembali mengerucut lucu.


"Assatagfirullah haladzim"


Suara istighfar ibu dari arah dapur, membuat Wine yang sebelumnya hendak ke ruang tengah memutar tubuhnya dan berjalan ke arah dapur.


sesampainya di dapur, bukan hanya Ibu saja yang istighfar Wine juga langsung istighfar di susul dengan suara mbak Alin yang kini berdiri di sampingnya dengan Airin yang terlelap di pelukan sang ibu.


Pojok dapur yang sebelumnya bersih, kini sudah layaknya kapal pecah dengan tepung yang tersebar dan Aaras duduk tepat di atasnya, disebelahnya ada Ilham yang mencolek lantai penuh kecap kemudian memasukan jarinya ke mulut. Dari arah kamar mandi, berdirilah sosok Arka dan Akthar dengan baskom berisi air ditangan masing-masing.


Wine dan Alin kini saling bertukar pandang sebelum akhirnya langsung melesat pergi meninggalkan dapur sebelum sang suami meminta untuk bertukar tugas.


Lagi dan lagi, ibu yang melihat kelakuan anak dan cucunya hanya bisa menghela napasnya sabar.

__ADS_1


***


Group Harta Karun Negara.


Anya : (send gambar audisi foto majalah anak-anak). Wine ikut yuk. Gue ajak Arum, lo ajak Aaras.


Ocha : gue ngajak siapa?


Anya : Ajak anak tetangga.


Ocha : Asem.


Anya : Mana nih ibu sultan? tumben nggak nongol.


Wine melirik kearah kaca spion. Dibelakang mobilnya ada mobil Arka yang mengiringi dibelakangnya. Memberi sen kiri, Wine memasuki rest area terdekat padahal mereka baru saja beristirahat di rest area sebelumnya.


Setelah memarkirkan mobil, Wine langsung mengambil ponselnya dan mengirim balasan di group.


^^^Wine : Kapan acaranya?^^^


Anya : Audisinya Sabtu ini. Mau nggak?.


Keluar dari mobil. Wine langsung berjalan menuju mobil Arka dan menutup pintu bagian kemudi. Lebih tepatnya, menahan Arka agar tak turun dari mobil. Percayalah, jika Arka tahu Wine berhenti hanya untuk membalas pesan group, suaminya ini pasti akan menjitaknya.


"Mas jangan marah-marah dulu ya. Ini demi masa depan Aaras" Ucap Wine.


Arka yang kini berada di dalam mobil dan tidak bisa keluar karena Wine mengganjal pintu dengan tubuh hanya bisa memasang tatapan curiga.


"Jangan bilang kamu berhenti cuman buat balesin group kan Dek?"


"Betul sekali. Mas dapet hadiah bisa dapat oksigen geratis karena tebakannya bener" jawab Wine dengan cengiran lebar. " Eits, buka kacanya jangan lebar-lebar, dikit aja. Yang penting suara Wine kedengeran" Wine membuka pintu sedikit agar tangannya bisa masuk dan menekan tombol untuk menaikan kaca pintu. Lalu menarik tangannya keluar dan kembali menutup pintu.


Arka yang sudah tahu dan hapal dengan sikap Wine menghela napasnya sebal.


"Mas liat deh, ada audisi model cilik. Anya mau daftarin Arum, aku daftarin kembar ya mas"


"Asstagfirullah. Nanti di obrolin pas nyampai bisa kan dek?"


"Nggak bisa. Pendaftaran terakhir jam 6 sore. 30 menit lagi, Boleh kan mas?"


Arka membuka pintu namun langsung kembali tertutup karena Wine kini mendorongnya dengan 2 tangan. Cengiran lebar ia tunjukkan kepada suaminya ini.


" Ada tamu bawa kabar, Jangan lupa di kasih sekuteng. Aduh Abang Arka yang sabar, udah pasti bakal ganteng"

__ADS_1


Ucap Wine kemudian langsung melesat kembali me mobilnya.


Meski belum mendapatkan anggukan dari Arka, Wine akan tetap mendaftarkan si kembar. Jika tak diizinkan Wine hanya tinggal mundur dan tidak datang saat Sabtu depan. Yang penting sekarang sudah terdaftar.


__ADS_2